Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 61


__ADS_3

Setelah dokter memperbolehkan Alvi pulang, Arfi berpamitan pada keluarganya untuk pergi ke restoran. Ia tak tahu kenapa sedari tadi pegawai nya terus saja menelpon. Ini masih pukul empat sore, tapi jalanan sudah begitu ramai kendaraan.


Arfi terdiam di depan restoran nya yang sepi, bahkan tak ada seorang pun disana. Ia masuk kedalam memanggil para karyawan namun tak ada jawaban. Ia pun mendial nomor manager yang sedari tadi menelepon dirinya.


Sura begitu riuh terdengar, nyanyian selamat ulang tahun. Para karyawan dan teman-temannya mulai berkumpul dengan kue dan konfeti serta beberapa balon. Arfi hanya bisa tersenyum melihat semua ini, ia bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya.


"Selamat Ulang Tahun Bos" ucap karyawan Arfi bersamaan.


"Terimakasih, kalian semua, terimakasih"


Mereka meminta Arfi berdoa sebelum meniup lilinnya. Pemuda itu dengan lantang mengatakan, " Saya harap istri saya kembali ke pelukan saya"


Semua tepuk tangan riuh terdengar, beberapa orang tampak terkejut dengan permintaan itu. Pasalnya, tak semua orang disana tau jika Arfi telah menikah. Sebab pemuda itu tak pernah membicarakan masalah pribadinya pada orang lain selain teman dekatnya. Hanya mereka yang pernah bertemu Alvi, mengetahui jikalau Arfi telah menikah.


Arfi mempersilahkan semua orang untuk duduk, hari ini dia yang mentraktir semua orang. Para teman-teman Arfi yang lama tak bertemu pun ada disana karena undangan dari Rama. Ada banyak hadiah, namun tak satupun yang menarik perhatian Arfi.


"Pak Bos, selamat ulang tahun" ucap seorang wanita dengan pakaian seksinya. Ia adalah sekretaris dari manager restoran.


Wanita itu mendapat banyak tatapan jahat dari wanita lain yang ada disana. Sebab ia begitu berani mendekati Arfi secara terang-terangan. Arfi hanya mengangguk dan berterima kasih atas hadiah yang diberikan padanya.


"Fi, buka hadiahnya, kita lihat hadiah siapa yang terbaik" celetuk salah seorang teman Arfi. Semua begitu antusias dan semangat, tapi hadiah terbaik hanyalah khayalan Arfi tentang malam ini. Ia membuka satu persatu hadiahnya, ponsel baru, jam tangan mahal, dan berbagai item lain yang high class. Namun tak satupun dari semua itu mampu menarik perhatian Arfi. Ia terus memandangi jam tangannya berharap acara ini cepat berakhir.


"Fi, sorry nih, gue kok gak tau kalau loe udah nikah?"


"Banyak yang gak tau kok, soalnya Arfi gak mau kalau orang lain dekat sama istrinya" jawab Rama dengan nada mengejek. Ia senang melihat sahabat kecilnya tersipu malu seperti sekarang ini.


Semua orang mulai berbisik, mereka tak yakin Arfi sudah menikah. Karena mereka tak pernah melihat satu wanita pun yang dekat dengan Arfi selama dua tahun terakhir. Para wanita terus bergantian mendekati Arfi dan memberikan hadiah mereka. Walau teman-teman pria Arfi juga bergosip tentang beberapa wanita seksi yang menarik. Tapi tak satupun mampu mengalihkan pikiran Arfi dari istrinya.


"Kalian have fun ya, gue mau pulang" ucap Arfi tiba-tiba.

__ADS_1


Semua mengeluh, mana mungkin bintang utama pulang lebih dulu. Mereka merasa ini seharusnya tak terjadi dan menahan Arfi agar lebih lama disana.


"Hadiah dari kami kan belum" celetuk Rama mewakili teman-teman sekampung Arfi. Ia menutup mata Arfi dan membawanya berdiri ke tengah restoran.


"Apa'an sih Ram, jangan kayak anak kecil deh?" Ucap Arfi kesal.


"Udah tambah tua harusnya tuh gak gampang marah" celetuk Bani yang baru saja datang bersama dengan Oddy.


"Kenapa loe senyum-senyum gitu? Jangan berharap yang tinggi, nanti kecewa" timpal Oddy setelah melihat senyuman di wajah Arfi.


Mereka semua yakin Arfi tengah berpikir hadiah yang diberikan adalah hadiah terbaik dalam pikirannya selama ini. Walau Bani dan Oddy sudah memperingatkan untuk tidak berharap lebih, Arfi malah tersenyum semakin lebar. Senyuman yang mampu membuat semua orang terdiam tak percaya.


Ketika Rama membuka tangannya dari mata Arfi, senyuman perlahan menghilang. Arfi kecewa sebab hanya melihat Bani dan Oddy didepannya.


"Sudah gue bilang kan, nih tiket bulan madu. Kabari gue ya kalau mau pergi dan tujuannya" ucap Oddy seraya memberikan dua kertas kosong sebagai formalitas.


"Gue juga kasih hadiah yang sama. Ya gue pikir emang ini yang loe butuhin hahaha" sela Bani sembari memberikan dua kertas kosong sebagai formalitas.


"Fi, hadiah dari kami nih" teriak Rama.


Arfi membalikkan badannya, ia sedikit tersentak melihat seorang wanita yang membawa bunga dan menutupi wajahnya. Dengan dress merah selutut, serta rambut panjang yang terurai. Arfi masih diam memperhatikan, ia menoleh ke arah Rama meminta penjelasan.


"Selamat ulang tahun Arfi"


Hanya dengan satu kalimat itu, senyuman lebar kembali terukir di wajah Arfi.


"Jadi kamu hadiahnya? Kenapa ada disini? Kenapa tidak istirahat di rumah? Dokter memintamu untuk tidak melakukan hal yang akan membuatmu kelelahan" oceh Arfi. Ia bahkan tak mengalihkan bunga dari wajah wanita dihadapannya itu.


"Kok kamu tau ini aku?" Tanya Alvi seraya menurunkan buket bunga dari hadapannya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku tidak tau istriku sendiri, suaramu terlalu indah sayang"


"Gombal, selamat ulang tahun Mas Arfi. I love you"


"I know"


Alvi tersenyum mendengar jawaban itu, sedangkan Bani malah memukul kepala adik iparnya dari belakang. Bukan itu jawaban yang harusnya Arfi ucapkan. Tapi bagi Arfi dan Alvi, itu adalah jawaban yang sempurna.


Semua orang kembali bertepuk tangan riuh melihat hadiah terbaik yang dipersembahkan oleh Rama dan kawan-kawan. Hadiah yang tak pernah bisa menghilangkan senyuman di wajah Arfi. Istrinya terlihat begitu cantik dan mempesona hari ini. Dengan gaun berwarna merah kesukaan Arfi.


"Sayang, kamu kan gak suka warna merah"


"Tapi Mas Arfi kan suka"


"Gemes banget sih kamu, istri siapa sih ini, lucuunyaaa"


"Buciiiinnnn" teriak para teman Arfi. Mereka yang baru melihat ini, hanya bisa melongo tak percaya. Arfi yang terkenal cuek dan dingin, rupanya sebucin ini pada istrinya.


Arfi dan Alvi duduk berdampingan, tangan Arfi melingkar ke bahu sang istri.


"Mas Arfi mau hadiah apa dari aku?"


"Hm ... kamu gak boleh sakit lagi, jangan pergi dari aku, harus selalu cinta sama aku. Dan, kamu cuma milik aku"


Plakkk ....


"Enak aja loe, dia adek gue" sentak Bani kesal.


"Dia juga adek gue Fi" timpal Oddy tak mau kalah.

__ADS_1


Arfi mendengus kesal, ia menatap tajam kedua iparnya itu. Jika saja disini tidak banyak orang, Arfi akan memberi pelajaran pada mereka berdua.


__ADS_2