Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 30


__ADS_3

Pagi menjelang..


Ardi baru saja pulang ke rumah dan langsung duduk di meja makan bersama putra serta menantu laki-lakinya. Mereka tengah sarapan sambil menunggu Alvi yang berdandan begitu lama.


"Mas Arfi, aku gak mau kalau kamu menikah lagi" cecar Alvi begitu turun dari tangga.


"Apa? Arfi mau menikah lagi?" Tanya Ardi keheranan.


"Gila loe Fi, baru nikah mau nikah lagi?" Seru Bani yang sudah mencengkram kerah baju iparnya.


Arfi yang kebingungan menatap mereka semua dengan tanda tanya. Ia bahkan meminta penjelasan atas apa yang Alvi katakan. Pasalnya, Arfi sendiri pun tak tahu jika dirinya akan menikah lagi.


Alvi memberikan ponsel Arfi pada pemiliknya. Ia menunjukkan beberapa pesan masuk di sosmed Arfi. Pesan yang mengatakan jika mereka mau menjadi istri kedua Arfi.


Mendengar penjelasan Alvi, Arfi dan Bani menghela napas lega. Dasar gadis bodoh ini, bisa-bisanya berulah pagi-pagi tanpa alasan yang jelas. Belum saja Arfi mengatakan apapun, Alvi sudah bergelayut manja di lengan suaminya. Ia terus mewanti-wanti Arfi agar tak menikah lagi selagi dirinya masih hidup.


"Inget ya, kalau Mas Arfi nikah lagi, aku juga nikah lagi"


"Mana boleh punya dua suami sayang"


"Mas Arfi boleh punya dua istri, kenapa aku nggak?"


"Cukup, aku gak bilang mau nikah lagi. Sekarang duduk dan sarapan, sstt diem Alvi, makan"


Melihat Alvi yang begitu penurut, Ardi dan Bani sampai tak sanggup menahan tawa mereka. Dulu hanya Levia yang bisa mendiamkan Alvi, tapi sekarang suami Alvi bisa membuat gadis itu menjadi anak penurut.


Alvi menghabiskan sarapannya dengan cepat karena ada kelas pagi hari ini. Selesai makan, ia berpamitan pada sang Papa dan Kakaknya, mencium pipi kedua pria itu. Ia lalu menatap suaminya dengan kesal dan pergi tanpa berpamitan pada Arfi.


Tak habis akal, Arfi mengikuti istrinya yang hendak pergi. Ia mengambil kunci motor Alvi dan menahannya.


"Jangan kayak anak kecil"


"Aku emang anak kecil, mana kuncinya?? Aku terlambat ke kampus"


Arfi mencubit pipi Alvi, ia meminta ponsel istrinya. Awalnya Alvi menolak, tapi setelah Arfi bersikeras, sekali lagi Alvi mengalah. Arfi terlihat mengotak-atik sesuatu disana, sembari sesekali menatap istrinya yang memandangi dirinya dengan penasaran.

__ADS_1


"Ini, semua sosmed aku ada disini. Dan kamu juga bisa lacak aku, senang sekarang?"


"Aaah, Mas Arfi yakin aku boleh ngakses semuanya?"


"Boleh lah, kan kamu istriku. Sudah ya jangan marah lagi, hati-hati berangkatnya"


"Aku sayang kamu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Arfi seraya mencium kening istrinya. Ia terus menatap Alvi hingga tak lagi terlihat olehnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Alvi sangat amat bosan mengikuti kegiatan di kampus. Walau sebenarnya ia tak ingin kuliah, tapi Ardi memaksa, sebab seorang wanita juga harus berpendidikan. Padahal Tuan Salim tak mempermasalahkan hal itu.


Selepas kelas, Alvi duduk di kantin bersama teman-temannya. Hanya untuk sekadar makan dan berbincang mengenai kegiatan mereka selanjutnya. Ia sangat suka jalan-jalan dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


Alvi memang seperti itu, hari ini pun ia sudah memiliki janji akan pergi ke acara ulang tahun teman SMP nya. Alvi memang sangat humble dan suka berteman, tapi circle pertemanan Alvi sangatlah beragam. Ia memiliki circle teman bermain, belajar, hangout dan sebagainya dengan orang-orang yang berbeda.


Walau begitu, Alvi tak pernah menolak siapapun yang ingin dekat dan berteman dengannya. Entah orang kaya ataupun miskin, semuanya setara, Alvi hanya akan mengikuti bagaimana cara mereka bermain. Karena sejatinya ia tak suka memimpin kecuali jika itu perkelahian atau sebuah perlombaan.


"Vi, udah ijin suami loe? Ntar dia marah lagi loe mau ke club"


"Hahaha, ntar gue cari cara deh. Lagian loe mah ngadain ulang tahun di club, di hotel VIP napa biar bisa lebih privasi"


"Iyadeh cucunya Sultan Salim mah beda. Ntar gue dimarahin bonyok gue kalau booking disana, apalagi setelah tau gue gak bisa masuk Universitas pilihan mereka. Ribet njing" tutur pemuda yang tengah berulang tahun itu. Ia bernama Vino, anak seorang pengusaha yang kaya raya tapi tetap tak bisa dibandingkan dengan kekayaan Tuan Salim.


Alvi tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita konyol itu. Ia berpamitan pada ke empat temannya karena harus pulang sebab suaminya terus menelepon. Dua orang pemuda dan dua orang wanita itu merelakan Alvi pergi sambil menggodanya.


Motor Alvi melaju kencang, ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Sebab Alvi terus menelepon padahal ia sudah bilang dalam perjalanan pulang.


Sampai dirumah, Alvi langsung masuk kedalam dan memanggil-manggil suaminya. Bukannya Arfi yang terlihat, ia dikejutkan oleh teman-teman suaminya yang tengah berkumpul diruang tamu termasuk Bani dan Oddy.


"Wow wow, ada apa sih dek teriak-teriak?" Tanya Bani keheranan.


"Mas Arfi mana? Dia nelepon gue mulu, gue lagi nongkrong sama anak-anak"

__ADS_1


"Di kamar, sana samperin, jangan teriak-teriak nanti Papa bisa jantungan" ucap Bani kesal.


"Bani, uang jajan kamu Papa potong" teriak Ardi yang duduk di ruang keluarga. Ia mendengar apa yang putra sulungnya katakan, bisa-bisanya anak nakal itu.


Alvi tertawa keras dan berlari menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar namun tak menemukan siapapun disana. Ia kembali berteriak memanggil nama suaminya.


"Di kamar mandi"


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, Alvi menatap suaminya yang tengah buang air kecil. Ia menahan tawanya melihat pemandangan itu, Arfi tak peduli dengan apa yang dilakukan istrinya disana. Arfi sudah meminta Alvi untuk keluar, namun gadis itu malah bersandar didinding dan menatap milik suaminya.


"Kecil banget sih" cibir Alvi.


"Diam kamu, ada apa cari aku?"


"Gimana caranya biar besar ya? Hm..."


"Alvi, kamu periksa mata sana. Ini udah lebih dari cukup, nanti kalau kebesaran gak bisa masuk"


"Buahahaha, anjir kamu Mas. Oh iya, kenapa kamu telepon aku? Aku tuh lagi main sama teman-teman, ada apa sih? Kamu juga kelihatannya lagi sibuk disini kan?"


Arfi menyelesaikan buang air kecil, ia membersihkan miliknya dan pergi keluar kamar mandi. Ia merasa tak pernah menelepon Alvi sama sekali, bahkan dirinya lupa dimana menaruh ponsel.


"Papaaaaaaa" teriak Alvi berjalan turun ke bawah.


Ardi tengah sibuk dengan leptopnya di ruang keluarga. Di atas meja itu Alvi melihat ponsel suaminya. Benar, Ardi yang terus menelepon Alvi menggunakan ponsel Arfi.


"Ada apa Pa? Kenapa telepon aku pakai hp nya Mas Arfi?"


"Ahahah maaf deh, habisnya kamu gak pulang-pulang. Papa kan kangen"


"Hooeeekk, Pa, please, aku udah besar. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil"


"Kelakuan kamu masih kayak anak kecil, udah sana duduk disamping Papa" pinta Arfi seraya mendorong istrinya ke arah Ardi.

__ADS_1


Alvi langsung merebahkan dirinya dipangkuan sang Papa. Ardi menepuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Melihat semua ini, Ardi sepertinya benar-benar merindukan sang putri bungsu. Beliau bahkan rela menghentikan pekerjaannya demi berdiam diri bersama putrinya.


__ADS_2