Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 25


__ADS_3

Hari semakin larut malam, jam menunjukkan pukul 22:00 malam..


Alvi tengah bersandar pada tubuh suaminya di pos ronda depan rumah Arfi. Arka dan beberapa temannya juga ada disana bermain game.


"Mas, jika nanti aku pergi lebih dulu. Apa Mas Arfi akan mencintai wanita lain lagi?"


"Tidak"


"Kenapa? Pasti nanti walau sudah tua Mas Arfi masih tetap gantteeeng banget, aku yakin"


"Aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidupku, dan aku ingin kelak di Surga kau adalah pendamping ku"


"So sweeeettttt"


"Sayang, aku harap bisa menghabiskan setiap malam denganmu. Aku selalu ingin kau tidur dengan tawa bahagia bukan kesedihan. Saat itulah aku merasa jika aku adalah suami yang pantas untukmu"


Alvi tertawa bahagia mendengar penuturan itu. Ia melingkarkan tangan Arfi di tubuhnya, dinginnya malam membuat Alvi ingin dekat. Mereka hanya diam sambil memandangi langit malam yang kosong tak ada bintang sama sekali. Sedang sunyinya malam tergantikan oleh suara bising dari ponsel para pemuda yang tengah bermain game. Bahkan kata-kata kasar tak jarang keluar dari bibir muda itu.


"Oe, pengantin baru, lengket benerrr bikin ngiri aja" celetuk Rama yang datang bersama pasukannya. Mereka mengambil alih pos ronda dan menggeser keluar para bocil yang tengah bermain game. Alhasil para anak kecil itu pindah menuju teras rumah Arfi.


Rama duduk tepat di hadapan pengantin baru itu, ia memandangi Alvi dengan kagum. Entah bagaimana ia harus memulai rasa terimakasihnya. Sebab hadiah yang Alvi berikan sangat membantu dirinya. Operasi usus buntu sang Ayah, tak ada hadiah yang lebih istimewa daripada kesehatan Ayah Rama.


"Apa Ram? Jangan lihatin gitu dong, gue ada yang punya" sentak Alvi.


"Istighfar loe Ram, istri gue nih"


"Iya gue tau, anak sultan emang terbaik.. Eh maksud gue, istri Arfi memang istimewa. Hahahah, makasih ya Alvi..."


"Yang jagain Nona Alvi besar ya" celetuk salah seorang pemuda.


Alvi menatap pemuda itu dengan bingung, sedangkan Arfi memelototkan matanya lebar. Para pemuda itu langsung mengerti dan mengalihkan topik lain. Berkata jika Arfi adalah pemuda gagah, bahkan mereka pun mengakui jika Arfi amat sangat cool.


"Apanya yang besar? Punyanya Mas Arfi kan kecil, iya kan Mas?"

__ADS_1


"Mana ada, ngaco kamu. Udah ngerasain juga"


"Tahan tahan, obrolannya bikin yang bawah bangun" ujar Rama seraya menutup telinganya.


Arfi menjitak kepala Rama dan mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal tak senonoh. Apalagi di depan Alvi, atau Arfi tak akan pernah mengampuni mereka semua. Alvi hany tertawa menganggap pembicaraan itu amat sangat lucu. Ia menyelimuti dirinya dengan sarung milik Arfi dan tidur dipangkuan sang suami.


"Sayang, ngantuk ya? Mau masuk ke kamar?"


"Gak mau, mau sama Arfi aja disini"


"Yaudah tidur gih, ntar aku gendong masuk ke dalam" ucap Arfi sembari mengusap-usap kepala istrinya. Ia menepuk-nepuk kepala Alvi perlahan sambil berbincang dengan para temannya.


Setelah memastikan Alvi tidur, Arfi mulai bertanya mengenai penjaga Alvi. Pemuda itu menatap ke area depan rumah Arfi, di tempat duduk yang tak jauh dari Arka dan kawannya berkumpul. Penjaga Alvi tengah duduk disana memandangi ke arah pos ronda. Tak hanya Alvi sebenarnya, Bani pun juga turut di jaga, sebab penjaga itu adalah warisan dari leluhur Alvi dan akan menjaga keturunannya sampai kapanpun. Hanya saja, ia lebih menyukai Alvi sebab anak sultan itu terlalu berbaik hati pada semua orang.


"Fi, kalau istri loe tiba-tiba jadi dewasa dan berpikir luas, maka penjaga itu ada didekatnya. Tapi jika dia bermanja-manja seperti ini, penjaga nya menjaga jarak darinya"


"Kenapa?"


"Jangan katakan apapun padanya, dia tak tahu apapun. Nanti dia bisa takut memikirkan hal itu" pinta Arfi pada teman-temannya.


"Gue gak pernah nyangka sih, cowok cool kayak Arfi bisa luluh di hadapan gadis manja ini yang nakal ini. Tapi, gue pernah lihat Nona Alvi lagi berantem ngelawan 3 cowok" sela salah seorang pemuda lain. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita yang membuatnya terkagum saat itu. Terlebih kini ia melihat sendiri jika wanita pemberani itu adalah gadis yang manja.


Ditengah obrolan mereka, malam semakin sunyi dan sepi. Beberapa orang dewasa melintas melakukan ronda malam. Hal ini memang selalu dilakukan setiap malam untuk menjaga keamanan kampung. Dan hari ini, Hasyim mendapatkan giliran untuk meronda bersama beberapa warga lainnya.


"Fi, menantu ku pasti kedinginan. Bawa dia masuk" perintah Hasyim kala melintas di depan rumahnya.


"Dia tidak ingin aku tinggal Ayah, dia ingin bersamaku"


"Arfi, jika menantuku sampai sakit lagi, Papanya akan membawa dia pergi"


"Apa yang Ayah katakan? Tidak bisa seperti itu, Alvi istriku. Apapun yang terjadi..."


"Hahahha, Ayah hanya bercanda. Lihatlah putraku, dia sangat mencintai istrinya. Mari kita lanjutkan jalannya" ujar Hasyim seraya tertawa ria. Ia begitu puas sudah menggoda putranya. Para Bapak-bapak itu terpingkal-pingkal mendapat hiburan dari rengekan Arfi.

__ADS_1


Karena kebisingan itu, Alvi terbangun dari tidurnya. Dengan setengah sadar, Alvi bangun dari tidurnya dan berpindah duduk di pangkuan suaminya. Ia kembali menjatuhkan dirinya di pelukan Arfi.


"Mas Arfiii" lirih Alvi yang masih memejamkan erat matanya.


"Iya cantik, ada apa hm? Kamu lapar? atau kedinginan?"


"Aku sayang kamu"


Arfi tersipu malu mendengar pernyataan itu. Belum sempat Arfi membalas, tapi istrinya kembali terlelap dalam mimpi. Ia memutuskan untuk membawa Alvi masuk ke dalam rumah sebelum istrinya bertindak yang tidak-tidak. Para pemuda disana kecewa, namun mereka mencoba mengerti sebab kini Arfi sudah tak sendiri lagi.


Setelah membaringkan Alvi diatas tempat tidur. Arfi mencoba membangunkan istrinya, memainkan pipi Alvi dengan cara mengigit dan menciumnya.


"Iiih, apa sih Mas? Aku ngantuk tau"


"Eh, bukannya kamu mau itu?"


"Apa?"


"Anu, itu, gitu ini loh"


"Dasar cowok gak jelas"


Alvi memiringkan tubuhnya memunggungi sang suami. Ia kesal dengan Arfi yang mengatakan hak tak jelas itu. Sedangkan Arfi malah bingung, ia pikir istrinya meminta jatah malam ini. Namun sepertinya Arfi salah mengartikan pernyataan cinta itu.


Arfi mematikan lampu kamar dan ikut berbaring di samping istrinya. Karena tak ingin mengganggu Alvi, ia memilih untuk tidur ke arah sebaliknya. Tetapi hal itu justru mengusik Alvi, ia berbalik dan memeluk suaminya dari belakang.


"Kau belum tidur?"


"Kenapa memunggungi aku? Katanya mau lihat aku tidur sambil tersenyum?"


"Aaah, aku malu. Aku pikir tadi kamu mau anu itu.. apa.. begituan" jelas Arfi dengan nada lirih.


Terdengar suara tawa kecil dari Alvi, gadis itu semakin memeluk erat suaminya dan kembali tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2