Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 38


__ADS_3

Alvi tak bisa tidur dengan tenang, ia memikirkan malam-malam yang akan dilewati tanpa suaminya nanti. Pikiran itu membuatnya terbangun di pukul dua pagi. Ia memandangi suaminya yang terpejam lelap.


"Arfiii"


"Arfiiii"


"Ada apa sayang?" Jawab Arfi seraya menarik istrinya dalam pelukan.


Alvi terkejut mendapati jawaban dari suaminya. Ia kembali bermanja-manja di dalam dekapan Arfi. Tubuh suaminya memang indah dan menawan. Alvi memainkan pu ting suaminya dengan gemas, menariknya dan mencubit.


"Mas, aku gigit boleh gak?"


"Jangan, kamu aja sini yang aku gigit. Ayo sini sayangkuuu"


"Cowok mesuuummmm"


Alvi mencoba pergi, namun Arfi mencegahnya dengan begitu mudah. Mereka seperti anak kecil yang bermain-main diatas kasur. Berguling-guling kesana kemari menunjukkan perasaan cinta itu.


Dengan napas yang naik turun, Alvi memandangi wajah suaminya. Mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Mereka kembali terbawa suasana dan memulai adegan cinta penuh gairah.


"Kamu kalau dekat gini ganteng banget tau gak"


"Kamu harus periksa mata Vi, bahkan dari jarak satu kilometer. Mereka yang lihat aku pasti ngomongnya aku ganteng"


"Kamu gak berubah ya, masih nyebelin dan kepedean. Ohh, aku ingat kamu pernah ajak aku jalan kan?"


"Iya pernah, tapi kamu nolak aku dan bilang aku cowok paling menyebalkan di dunia ini. Kamu pergi setelah berkata tak ingin melihatku lagi. Tapi kenyataannya, kita justru lebih sering bertemu"


Benar, Alvi mengingat semua itu. Arfi adalah pemuda yang membuatnya marah setiap kali ada kesempatan. Mereka tak henti-hentinya beradu mulut setiap kali dipertemukan. Tapi kini, mungkin sudah saatnya mereka akan selalu merindukan. Padahal dulu hanya Alvi yang membenci pertemuan mereka, tapi kini keduanya terikat dengan cinta.


Alvi menarik bahu Arfi untuk mendekat, ia memeluk nya dengan sangat erat. Arfi membalikkan tubuh mereka, memposisikan sang istri berada diatasnya. Ia tak ingin istrinya menahan berat badannya. Ia juga meminta istrinya kembali tidur dan tak memikirkan apapun.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di rumah Ardi...

__ADS_1


Alvi tengah duduk di kamarnya, memandangi foto pernikahan dirinya dan Arfi. Satu hal yang Alvi sadari, ia tak pernah merasa sedih sama sekali dengan pernikahan itu. Justru wajahnya terlihat bahagia tanpa alasan.


Dengan langkah lunglai, Alvi berjalan turun dan duduk di meja makan. Kini rumahnya terasa begitu sepi seperti sedia kala, hanya ada Bi Inah yang menemani dirinya.


"Bibi, kita berdua lagi deh" ucap Alvi sedih. Ia sadar jika kehadiran dua orang Kakaknya yang menyebalkan memang bisa mengusir rasa sepi itu. Tapi kini, sekeras apapun Alvi merengek dan meminta kedua kakaknya pulang, itu tak akan terjadi.


"Tumben Non Alvi bangun pagi-pagi?" Tanya Bi Inah keheranan. Pasalnya ini masih jam setengah enam pagi, dan pantang bagi Alvi bangun sepagi itu.


"Kangen sama cowok-cowok tampan aku Bi, hikss"


"Non, Non, Bibi udah bilang kan, kalau nanti mereka pergi, Non Alvi pasti kesepian. Padahal kalau ada mereka kalian berantem mulu dari pagi sampai malam"


Gadis muda itu mendengus kesal sambil memakan sarapannya. Ia semakin merindukan sosok Ardi yang bahkan jarang sekali terlihat di rumahnya sendiri. Harusnya hari itu Alvi meminta agar Ardi tak pergi lagi, lagi pula Tuan Salim sudah memiliki banyak uang, kenapa Arfi masih saja bekerja keras.


Dasar gadis bodoh, jika Ardi tak berkerja keras, Alvi tak akan bisa berleha-leha seperti sekarang ini. Ardi ingin kedua anaknya memiliki hidup terjamin kala suatu hari nanti ia pergi menyusul Levia. Itu adalah hal terbaik yang masih Ardi ingat, pesan terakhir dari Levia. Ia ingin kelak anak cucunya tak kekurangan apapun di dunia.


Usai sarapan, Alvi pergi ke kampusnya. Ia ingin sekali berbicara dengan Arfi, namun pemuda itu bilang jika Alvi tak boleh menghubungi nya selain ada hal yang darurat. Jadi Alvi hanya bisa menunggu telepon dari suaminya saja. Alhasil, Alvi sangat kesal menunggu telepon dari Arfi.


Hari-hari Alvi kembali seperti dulu, kala sebelum dirinya mengenal sosok Arfi. Namun yang berbeda adalah kali ini, ia akan menerima telepon di jam yang sama setiap harinya. Arfi akan terus mengingatkan nya untuk sholat dan tak lupa makan. Juga mewanti-wanti untuk tidak keluar rumah sampai larut malam.


Hari ini pun, Alvi mengabaikan panggilan Arfi dan memilih menonton drama bersama dengan kedua sahabatnya, Vita serta Tasya.


Seharian penuh Alvi menginap di kamar Vita selepas pulang kuliah. Ia bahkan tak mengabari Bi Inah yang menunggunya di rumah dengan khawatir.


Ponsel Alvi berdering, ada panggilan masuk dari suaminya.


Arfi : "Assalamualaikum, Alvi"


"Waalaikumsalam Kak Arfiii" jawab Vita dan Tasya begitu kompak.


Arfi : "Alvi dimana? Kenapa kalian yang angkat? Dia baik-baik aja kan? Apa lagi tidur?"


"Wow, Wow, calm down Kak Arfi. Alvi lagi ngembek tuh katanya" ucap Vita.


"Iya, dia lagi kesel soalnya habis lihat snapgram nya temannya Kak Arfi. Waktu Kak Arfi foto berdua sama cewek, dia cemburu" imbuh Tasya menggoda Alvi.

__ADS_1


Alvi merampas ponselnya dan mematikan panggilan dari Arfi. Ia kesal, sungguh, padahal foto itu ia lihat kemarin, tapi cemburunya sampai saat ini. Terlebih kemarin Arfi sama sekali tak mencoba menelponnya. Kini giliran Alvi yang tak mau tau lagi tentang Arfi lagi.


Para gadis itu kembali fokus menonton drama kesukaan mereka. Sambil ditemani banyak makanan ringan yang mengenyangkan. Tak terasa hari semakin sore, Alvi sudah memberitahu Bi Inah jika ia akan menginap di rumah Vita sampai besok sore. Terlebih karena akhir pekan, Alvi juga bosan dirumah sendirian.


Ketua OSIS Annoying Calling...


Lagi, Alvi hanya menatap layar ponselnya. Tak ada keinginan untuk menerima panggilan itu. Ia sungguh sedang tak ingin berbicara dengan sang suami apapun alasannya.


Vita dan Tasya terus mendesak Alvi agar mengangkat panggilan itu. Mereka juga ikut gemas karena kemarahan bodoh teman mereka ini. Bagi kedua gadis ini, tak ada pria yang lebih baik daripada Arfi dari segi manapun.


Dengan hati kesal, Alvi pun mengangkat panggilan masuk dari suaminya itu.


Alvi : "Apa?"


Arfi : "Assalamualaikum Alvi"


Alvi : "Hm... to the point"


Arfi : "Jawab salam itu wajib, kalau kamu gak jawab dosa loh"


Alvi : "Iya aku memang perempuan pendosa, puas!!"


Arfi : "Lagi haid ya kamu? Keluar, aku ada di depan rumah Vita"


Alvi sejenak terdiam, ia memandangi Vita dan Tasya bergantian. Langkah kakinya berjalan cepat begitu saja tanpa aba-aba. Dan kala pintu itu terbuka, Arfi sudah berdiri disana dengan motor kesayangannya.


Lambaian tangan Arfi seolah magnet yang mampu menarik istrinya untuk mendekat. Siapa sangka jika Alvi langsung memeluknya tanpa kata apapun. Aroma itu, Alvi merindukan nya, hanya Arfi yang mampu membuat nya begitu tertarik.


"Assalamualaikum" bisik Arfi telinga istrinya.


"Waalaikumsalam, iih sebel, kenapa kemarin gak telepon aku sama sekali? Kamu seneng ya berduaan sama cewek gatel itu? Nyebelin banget sih kamu Mas"


"Aku kesini karena merindukanmu. Tapi kamu hanya akan memarahiku seperti ini?"


"Aku juga kangen kamu tauuu. Tapi, no, aku sebel, marah sama kamu. Udah sana pulang" sentak Alvi kemudian melepaskan pelukannya. Ia sudah dapat apa yang diinginkan, memeluk Arfi menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Kini Alvi tak lagi gusar sebab rasa rindunya terobati, tapi sayangnya rasa cemburu itu mengalahkan segalanya.


__ADS_2