Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 57


__ADS_3

Arfi dan Rama ikut bergabung duduk di pos ronda. Arfi menarik Alvi agar duduk di depannya, menarik tubuh sang istri agar bersandar di pelukannya. Mereka kembali bercerita tentang masalalu, hal itu membuat senyuman di wajah Alvi tak pernah pudar.


"Oh iya Vi, loe dulu pernah suka Rama? Mereka berdua bilang loe sering banget ngikutin Rama kemana-mana" seru salah seorang pemuda.


"Rama? Gak kok, gue ngikutin dia karena Ambar bilang kalian udah taken tapi diam-diam. Terus dia nyuruh gue ngikutin loe karena dia pikir loe selingkuh" jelas Alvi dengan polosnya.


"Gila emang tuh cewek. Dia juga ngikutin gue kemana-mana buat nanyain tentang Arfi" timpal Rama.


"Hm .... aku sayang kamu" celetuk Arfi tiba-tiba sambil mendekap istrinya.


Semua orang disana tertawa terbahak-bahak kecuali Alvi yang tak mengerti situasinya. Arfi dan Rama sempat berdebat karena mereka pikir Alvi menyukai Rama. Hampir saja Arfi menyerah dan merelakan Alvi untuk Rama. Namun Rama merasa sedikit janggal, karena saat ia dan Alvi berdua, gadis itu tak menunjukkan ketertarikan padanya.


Akhirnya mereka hanya membiarkan waktu yang menunjukkan, untuk siapa hati Alvi berlabuh sebenarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka masih betah menikmati waktu berkumpul bersama. Namun ada seseorang yang sudah tak bisa menahan kantuknya lagi. Arfi tersenyum melihat Alvi yang berusaha menahan matanya agar tak terpejam.


Dari kejauhan terlihat para Bapak yang tengah berkeliling dengan senter dan kentongan. Alvi tak akan pernah menemui hal seperti ini di. daerah rumahnya, tapi ia sudah terbiasa dengan suasana perkampungan. Sebab ia bisa menginap dirumah teman-teman wanitanya.


"Fi, menantuku sudah mengantuk, bawa dia masuk" ucap Hasyim.


"Ayah? Aku gak ngantuk kok, hoaamm... Eh, itu anak kecil dua kenapa lari-lari gak pakai baju?" Celetuk Alvi setengah sadar.


Semua orang memalingkan wajah menatap ke arah yang Alvi tunjuk. Tapi disana tak ada siapapun, hanya jalanan yang gelap dan kosong. Salah seorang teman Arfi hanya tertawa kecil, sepertinya Alvi melihat sesuatu sebab setengah tersadar.


"Astaghfirullah, ada tuyul Pak RT" jelas teman Arfi tersadar. Sebab ia memang bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata, namun karena ia sudah terbiasa baginya hanya sekedar candaan saja. Ini pertama kalinya pemuda itu melihat tuyul di kampung mereka.


Untungnya Alvi sudah tertidur dan tak mendengarkan obrolan mereka. Arfi sempat khawatir jika Alvi ketakutan karena hal ini. Setelah memastikan istrinya tertidur pulas, Arfi berpamitan untuk masuk kedalam rumah. Menidurkan Alvi dikamarnya kemudian menyelimuti gadis itu.


"Mas, mau kemana?" Lirih Alvi.


"Gak kemana-mana sayang. Kamu ngantuk banget ya hm? Tidur aja!"

__ADS_1


"Maaf ya, besok aku layani kamu kok. Tunggu satu hari lagi, hari ini aku ngantuk banget"


"Hahaha kamu itu ngomong apa? Aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun. Sudah jangan mikir macam-macam" jelas Arfi sembari mengelus rambut istrinya. Ia bisa menunggu selama apapun itu asal Alvi ada bersamanya, disisinya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Pagi menjelang....


Alvi baru saja terbangun dari tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan rasa malas kakinya melangkah keluar kamar. Ia melihat Mata yang tengah menyiapkan sarapan untuk menantunya.


"Bunda, kok aku gak dibangunin sih?" Rengek Alvi manja.


"Arfi yang suruh, katanya kamu lagi capek"


"Yang lain kemana Bund?"


"Ayah kerja, Arka sekolah, dan Arfi pergi ke Masjid sama teman-temannya. Bantuin renovasi disana, Bunda juga mau kesana"


"Aah, nanti aku nyusul deh Bund. Aku mau mandi dulu ya"


Sedangkan Alvi masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Ia memilih pakaian yang ia sukai, jumpsuit pendek berwarna kuning cerah. Dengan bandana kuning yang menghiasi rambut hitam panjangnya. Tak lupa juga sendal jepit kuning kesayangannya. Alvi selalu suka memakai semua hal dengan warna senada, baginya itu terlihat cantik.


Ttokkk.... Ttok....


Suara ketukan pintu terdengar, Alvi bergegas membuka pintu rumah. Ia terkejut kala mendapati Ardi yang ada disana. Papa Alvi memberikan sebuah tas pada putrinya, bukan sembarang hal, ini adalah apa yang akan Alvi butuhkan nantinya.


"Assalamualaikum anak Papa, cantik banget"


"Waalaikumsalam, Papa kok disini? Katanya keluar kota? Udah pulang ya?"


"Cuma sebentar mau anterin barang kamu, ponsel keluaran terbaru dan dompet. Papa sudah isi banyak uang cash, habisin ya sayang hehehe"

__ADS_1


Alvi mengangguk senang, Ardi memang tak pernah pelit jika mengenai uang. Ia selalu memberikan banyak uang pada Alvi bahkan tanpa diminta. Sebab ia sangat menyayangi Alvi lebih dari apapun di dunia ini. Tapi sayangnya, beliau hanya singgah sesaat karena harus pergi lagi ke bandara. Ardi sedang sibuk merintis usaha barunya di Provinsi lain.


"Hati-hati Pa, aku sayang Papa" ucap Alvi dengan lambaian tangannya. Ia memastikan mobil Ardi pergi menjauh dari rumah mertuanya. Lalu ia kembali masuk dan membongkar bingkisan dari Ardi. Senyuman lebar dimata Alvi mendapatkan ponsel keluaran terbaru yang bermerk, Samsung galaxy Z fold4. Serta ada begitu banyak uang di dalam dompetnya, serta identitas Alvi yang lainnya.


Alvi membawa semua barang miliknya menggunakan tas kecil berwarna kuning. Langkahnya begitu riang keluar rumah menuju Masjid. Ia terus melangkah lurus dengan gembira, namun satu hal yang Alvi lupa. Ia tak tahu dimana Masjid itu berada.


"Kan kemarin gue gak lewat Masjid ya, ah bego, harusnya tadi bareng Bunda" gumam Alvi sambil celingak-celinguk.


Brrmmm....


Suara motor perlahan mendekat, motor itu berhenti tepat di samping Alvi.


"Alvi" sapa seseorang dengan wajah bahagia.


"Arif? Wah lama gak ketemu ya, loe kok ada disini?"


"Aku dengar kamu udah sembuh, gak nyangka bisa ketemu disini. Kamu mau kemana? Kelihatan cantik banget hari ini"


"Hahaha loe bisa aja Rif. Gue mau ke Masjid, tapi gak tau jalannya, habisnya gue kan gak pernah kesana hehehe"


Arif terdiam mendengar jawaban Alvi. Tidak pernah? Bukankah Alvi sering kesana? Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi Arif.


"Hm.. kamu gak apa-apa kan Vi? Dulu kan kamu sering pergi kesana"


"Aah, mungkin gue lupa Rif. Dokter bilang, gue amnesia, tapi cuma sementara kok. Gua aja gak inget kalau udah nikah sama Arfi ahahahha"


Arif berdehem, ia membalas dengan senyuman kaku. Seandainya saja ada kesempatan dan pilihan, Arif ingin bisa memiliki Alvi. Tapi mungkin, takdir tak mengijinkan mereka untuk bersama. Tak ingin hilang kesempatan, Arif menawarkan akan mengantarkan Alvi ke Masjid. Sebab memang tak tahu jalan, Alvi pun menerima tawaran itu.


Selama perjalanan, Arif menceritakan bagaimana ia mengunjungi Alvi setiap bulan dengan membawakan satu dus susu pisang. Namun karena tak kunjung bangun, Arif mengganti hadiahnya menjadi voucher berwarna kuning dengan gambar pisang.


"Ini, setiap kali kamu mau susu pisang, kasih ke aku ya voucher nya, aku langsung belikan. Satu voucher dapat satu susu pisang" jelas Arif. Ia mengehentikan laju motornya dan merogoh sakunya, memberikan voucher itu pada Alvi.

__ADS_1


"Hahah, kebetulan banget ya, loe lagi bawa voucher nya dan ketemu gue. Rejeki gue nih Rif"


Tidak Vi, aku tidak pernah meninggalkan voucher ini dimanapun. Aku selalu membawanya setiap waktu agar aku mengingatmu.


__ADS_2