
"Sayaaaang" teriak Alvi dengan ceria.
Arfi tersenyum menoleh ke arah istrinya, wanita memang tak bisa ditebak. Padahal baru beberapa menit yang lalu Alvi sedih, kini ia terlihat begitu riang gembira.
"Tangan kamu kenapa Vi?" Tanya Arfi kala melihat tangan putrinya yang di perban.
"Oh, gak apa-apa. Bibi, nanti kaca di kamar mandi kamarku diganti ya. Kita pergi dulu ya semuanya, ayo Mas"
Arfi mengangguk, ia berpamitan pada semua orang tua disana. Sebab melihat Arfi berpamitan, Alvi juga melakukan hal yang sama. Setelah itu mereka pergi menggunakan mobil Alvi.
Di dalam mobil, Arfi terus menggandeng tangan istrinya. Menunjukkan skill mengemudi yang sangat lihai. Alvi hanya bisa tersenyum melihatnya, entah mengapa rasanya Arfi benar-benar miliknya. Ia merasa sangat dicintai oleh sang suami.
Sebab hari masih pagi, mereka memutuskan untuk sarapan lebih dulu. Singgah di salah satu kafe dan memesan beberapa hidangan. Arfi tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya pada Alvi, ia begitu manis hingga terus menyuapi Alvi.
"Vi"
"Apa?"
"Kamu mau gak jadi pacarku?"
"Pfft.. Aku kan istri Mas Arfi. Hm, tapi karena Mas Arfi belum pernah pacaran. Boleh deh, ah, lucu banget sih kamu"
Semoga aja semua yang Bani dan Oddy ajarkan semalam bisa bikin gue dan Alvi dekat, batin Arfi.
Alvi masih asik menikmati makanannya, ia sesekali melirik ke arah Arfi yang tampak gelisah. Gadis itu menarik tangan Arfi dan menciumnya. Dengan manis Arfi mengelus pipi istrinya.
Pandangan mata Arfi teralihkan, ia menatap seseorang yang tengah memandangi mejanya dari belakang sang istri. Seorang pemuda yang menatap Alvi dengan kecewa. Jika pemuda itu menatap Alvi dengan kecewa, ia menatap Arfi dengan penuh amarah dan rasa benci.
"Arif" panggil Arfi kala pemuda itu hendak pergi menjauh.
Alvi menolah menatap Arif yang terpaku disana. Dengan ceria Alvi melambaikan tangannya. Arif berjalan menghampiri pengantin baru itu. Sembari basa-basi menyapa menanyakan kabar.
__ADS_1
"Arif, kok gak datang ke pernikahan kita? Bukannya dulu kalian dekat banget ya, Rama yang bilang" celoteh Alvi.
"Ah, sorry, gue sibuk. Selamat ya, loe pasti kelihatan cantik banget ya Vi" puji Arif.
Alvi terdiam dan tersenyum tipis membalas pujian itu. Ia sejenak melirik ke arah Arfi yang menatap dirinya dengan raut wajah datar. Suasana tiba-tiba saja terasa canggung, Alvi beralasan untuk pergi ke kamar mandi dan membiarkan dua teman lama itu berbincang.
Tak benar-benar pergi, Alvi bersembunyi dibalik dinding yang tak jauh dari tempat duduknya. Ia memperhatikan dua pemuda yang saling memandang tanpa kata itu. Raut wajah kesal diantara keduanya terlihat sangat jelas. Alvi yakin, ada sesuatu diantara mereka, sesuatu yang merusak hubungan pertemanan itu.
"Gue tau loe datang"
"Gue cuma mau mastiin, ternyata itu beneran loe. Cih"
"Relakan Alvi, dia istri gue sekarang"
"Harusnya loe sama Aisya, gue gak akan melepaskan Alvi gitu aja. Gue yakin, dia belum menjadi milik loe sepenuhnya. Dia gak suka sama loe. Buang waktu, gue cabut"
Arfi menghela napasnya panjang, ia memandangi Arif yang benar-benar pergi menjauh darinya. Alvi masih berusaha mencuri pandang, sayangnya ia tak bisa mendengar apapun. Tapi jelas ada pertengkaran besar diantara keduanya.
"Sayang, pergi yuk ke taman, terus nonton, belanja, main di Timezone. Sayaaaang ayo"
Arfi menggenggam tangan Alvi, menatapnya sejenak sebelum berdiri dari kursinya. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menuju taman. Tempat dimana Arfi dan Alvi menghabiskan waktu bersama untuk pertama kalinya. Alvi yang tadinya ceria tiba-tiba saja terdiam, sebab terlintas sesuatu dalam pikirannya. Aisya, ia baru ingat nama itu. Gadis yang membuat hubungan Arfi dan Arif berjarak. Walau nyatanya itu bukan kesalahan Aisya.
Perkataan Rama terus terngiang dalam pikiran Alvi. Terlebih saat itu Arka juga membenarkan jika Kakaknya menyukai Aisya. Hati Alvi kembali bimbang, rasanya begitu menyakitkan seperti saat ia melihat pacar dan sahabatnya berselingkuh.
"Mas"
"Iyya sayang"
"Kamu kenal Aisya?"
"Iya. Ada apa? Katakan apa yang ingin kau katakan"
__ADS_1
"Kenapa kamu dan Arif bertengkar?"
"Hanya salah paham, jangan dipikirkan"
^^^Alvi semakin curiga, ia terus mendesak Arfi untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi pemuda itu terus menolak, walau Alvi memohon. Arfi tak ingin masalah sepele ini membuat Alvi merasa tak nyaman. Itu yang ada dalam pikiran Arfi, namun Alvi adalah seorang wanita, ia selalu ingin penjelasan dalam setiap pertanyaan nya.^^^
Karena Arfi tak kunjung menjawab, Alvi meminta untuk pulang. Ia sudah tak ingin lagi melakukan apapun. Disinilah, Arfi mulai bimbang. Ia mencoba membuat Alvi mengerti, tapi istrinya tak mau mengerti. Hingga saat Arfi menyerah, Alvi tetap tak peduli lagi. Baginya, saat laki-laki menolak mengatakan yang sebenarnya, pasti laki-laki itu berbuat kesalahan.
Mau tak mau Arfi menuruti permintaan Alvi, merekapun melaju ke arah pulang. Selama perjalanan, sekalipun Alvi hanya menoleh ke arah jalanan. Tak pernah menatap Arfi sedikitpun.
"Kok udah pulang, ada apa Vi?" Tanya Arfi kala melihat putrinya masuk kedalam rumah.
Alvi tak peduli, ia melewati ruang keluarga begitu saja. Hal itu membuat semua orang yang tengah berkumpul menghela napas. Pasti Alvi berulah lagi, terlebih kala mereka menatap Arfi yang masuk dengan lesuh.
Bani dan Oddy dengan sigap berdiri, menyeret Arfi keruang tamu. Mereka yakin, Arfi berbuat kesalahan selama kencan. Padahal semalam Bani dan Oddy mengajarinya dengan sangat serius.
"Sekarang apa Fi? Loe buat salah ya?" Cecar Bani tak sabar.
"Salah paham, dia tanya tentang Arif dan Aisya. Gue gak mau bahas itu Ban"
"Bodoh, dia pasti cemburu. Jelas dia salah paham karena hubungan kalian"
"Tapi Dy, gue gak pernah cerita apapun"
Oddy menepuk pundak Arfi, ia menceritakan segalanya. Tentang Rama dan Arka, juga apa yang kedua pria itu katakan pada Alvi. Oddy tak pernah berpikir jika hal ini rupanya mengusik Alvi. Sebab ia sangat yakin Alvi tak akan mengingat perkataan tak penting itu.
"Terus gue harus gimana?"
"Biarin aja, beri dia waktu. Sayang banget anjir, semalam kan loe udah belajar ciuman sama tembok hahahah" celetuk Bani.
"Bauahahah, ngakak gue. Loe sih jadi cowok kaku banget. Udah biarin aja, ntar juga balik lagi si Alvi. Mending kita main PS, besok kan udah masuk kuliah lagi" sela Oddy.
__ADS_1
Walau Bani dan Oddy mengatakan semua akan baik-baik saja. Tapi dalam hati Arfi masih tak tenang. Ia tak ingin ada jarak yang semakin jauh antara dirinya dan sang istri. Namun Arfi tak begitu mengerti cara untuk membuat wanita tak lagi marah.