
Alvi kembali menuju kafe di lantai dua. Baru saja kakinya menginjak lantai atas, sebuah tangan tiba-tiba menutup matanya.
"Sialan" umpat Alvi kesal. Ia berusaha memberi pelajaran pada seseorang yang berani mengerjainya. Sayangnya orang itu terlalu lihai dan tak berhasil ia dapatkan.
"Masih galak aja loe cil, ngapain disini? Berat badan loe nambah ya? Tuh pipi kayak bapao, bikin gemes"
"Wah, cowok nyebelin, ngapain loe disini?"
"Masih ingat loe sama gue? Wajah gue emang gak bisa di lupain sih"
"Hooeeekkk"
Alvi melengos pergi meninggalkan pemuda yang menyebalkan itu. Oddy dan Bani menyapanya secara bergantian, sudah lama sekali mereka tak pernah bertemu. Di sela tegur sapa itu, mereka juga membahas Alvi tentunya.
"Adik kalian makin lucu aja"
"Jangan cari perkara deh, jangan usik tuh anak" ucap Bani mewanti-wanti.
"Kenapa? Masih suka gigit ya dia? Hahaha minta nomor dia dong, gak nyangka bisa ketemu disini"
Suara deheman Arfi membuat Oddy dan Bani menoleh kearahnya. Mereka sudah memperingatkan pemuda dihadapannya itu untuk tidak mengganggu Alvi lagi. Sebab kini, gadis nakal itu sudah menjadi istri seseorang.
"Istri? Alvi udah nikah? Yang bener aja kalian, sama siapa? Cowok brengsek itu?"
"Wow wow wow, santai Lif" ucap Oddy menenangkan.
Pemuda bernama Alif itu terus menuturkan banyak pertanyaan pada Bani dan Oddy. Seakan ia tak rela bila Alvi menikah secepat ini. Sedangkan teman-teman Bani yang lain menatap iba pemuda itu. Mereka tahu kebenarannya, sedangkan para wanita disana sekali lagi mencibir Alvi yang memiliki banyak pengagum. Susah memang menjadi Alvi yang di benci dan di cintai banyak orang.
Brraakk...
Arfi bangun dari duduknya, membereskan semua barang bawaannya sebab pembahasan mereka telah usai.
"Sayang, kita pulang" teriak Arfi dengan nada dinginnya.
"Sekarang? Sebentar lagi ya" rengek Alvi.
"Aku mau pulang, kalau kamu mau bisa pulang sendiri" ketus Arfi kemudian berjalan pergi.
"Mas, Mas, Mas Arfi kenapa sih? Mas lagi PMS ya?"
Melihat Alvi yang berjalan melewatinya, Alif terduduk lemas di kursi Arfi. Ia tak menyangka jika pemuda dingin seperti Arfi yang menjadi suami Alvi. Sebagai sesama ketua OSIS saat SMA, Alif juga sudah mengetahui tentang Arfi tentunya. Ia sungguh masih tertegun tak percaya.
"Dia sama Arfi? Kok bisa Ban, Dy?"
Bani dan Oddy hanya tertawa lepas. Raut wajah terkejut Alif sungguh hiburan tersendiri untuk mereka. Kedua pemuda itu berpamitan pergi karena ingin melihat drama pengantin baru di rumah mereka.
Disisi lain, Alvi dan Arfi dalam perjalanan pulang. Suasana mobil begitu sunyi dan hanya terdengar senandung dari bibir Alvi. Sebab Arfi tak menjawab satupun pertanyaan yang dilontarkan gadis itu, jadilah Alvi diam dan tak lagi bertanya.
__ADS_1
Mobil akhirnya berhenti di rumah Alvi, Arfi langsung turun dan membawa semua barang mereka masuk kedalam tanpa kata apapun. Alvi kebingungan, ia butuh penjelasan, tapi Arfi tak mengatakan apapun.
Tak lama, motor Bani dan Oddy memasuki pekarangan rumah. Mereka menatap Alvi sambil cekikikan menggoda.
"Kak, Mas Arfi kenapa?"
"Cemburu" jawab keduanya bersamaan dan diselingi tawa.
Alvi masih tak memahami, ia meminta penjelasan lebih lanjut. Karena tak tega melihat adiknya sedih, Bani menceritakan semua yang terjadi setelah Alvi pergi meninggalkan Alif di kafe. Gadis itu malah tertawa nakal, jika Arfi ingin diam, baiklah, Alvi akan melakukan sesuatu yang tak akan bisa suaminya tolak.
Mereka melaksanakan sholat berjamaah dan makan malam dalam diam. Bani dan Oddy sebenarnya sedikit terusik, namun mereka tak ingin ikut campur. Begitu selesai menonton bola bersama, Arfi berpamitan pergi pada kedua iparnya sebab dirinya mengantuk. Pemuda itu sekuat tenaga menghindari Alvi, ia bahkan berani masuk ke kamar setelah menerka jika istrinya telah tidur.
Ini memang bukan kesalahan Alvi, tapi tetap saja hati Arfi terluka. Ia tak ingin lebih terluka dengan menatap istrinya lebih lama.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, langkah Arfi terhenti kala tak sengaja matanya berpapasan dengan Alvi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hooeeekkk" Alvi kembali masuk kedalam kamar mandi.
Arfi menutup pintu kamar dan ikut masuk kedalam kamar mandi. Ia takut terjadi sesuatu pada Alvi. Cukup lama Arfi menunggu sebab Alvi menutup kamar mandinya.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" Tanya Arfi seraya terus mengetuk pintu kamar mandi.
Akhirnya Alvi keluar dari kamar mandi, ia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu hamil?? Sayang maaf ya, kamu gak apa-apa kan? Mual banget ya? Ada yang sakit?"
Alvi menatap suaminya sejenak kemudian melengos pergi. Kedua sudut bibir Alvi tertarik naik, ia tahu rencananya berhasil. Ia berpura-pura marah dan langsung tidur memunggungi Arfi tanpa kata apapun. Min giliran Arfi yang khawatir dan terus menanyakan keadaan Alvi.
"Sayang, jangan diem gini dong, aku khawatir"
"Gak enak kan di diemin? Kenapa kamu diemin aku? Aku salah apa?" Cecar Alvi dengan kesal.
Glek..
Arfi menelan ludahnya dan tertunduk. Ia menggenggam tangan Alvi dan menidurkan kepalanya di dada sang istri. Ia tahu jika sikapnya kekanakan, tapi Arfi tak bisa mengendalikan rasa cemburunya.
"Ya kan aku cemburu"
"Psst, dasar bodoh, kenapa kamu cemburu? Kamu udah lihat semua punya ku dan masih cemburu dengan pria lain? Suamiku memang bodoh"
"Tapi kan, ya gimana dong. Aku gak suka kalau ada cowok lain yang sok akrab sama kamu selain aku. Aku gak suka Alviiiiii"
"Udah sana tidur, aku ngantuk"
"Kamu beneran hamil Vi?"
__ADS_1
"Gak Mas, cuma pura-pura biar kamu khawatir. Habisnya kamu nyebelin, aku gak suka di diemin gitu. Nanti kalau aku cari yang lain kamu nyesel deh"
Arfi menyentil bibir istrinya, beraninya kalimat menyakitkan itu terlontar dari bibir Alvi. Ia tidur di samping sang istri sembari memandangi Alvi dengan seksama. Gadis itu memalingkan tubuhnya dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Arfi melanjutkan menonton pertandingan sepak bola.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Alvi keluar menggunakan lingerie hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Glek...
Arfi menelan ludahnya, bibirnya ternganga menatap sang istri yang mendekat dengan penuh gairah. Tanpa sadar Arfi melepas pakaian nya sendiri, ia menyingkirkan selimut diatas tempat tidur dan bersiap menunggu istrinya datang.
Semakin dekat, Arfi bisa melihat tubuh indah istrinya yang menggoda hasrat untuk kembali bercinta.
"Ngapain kamu Mas?"
"Aku udah siap sayang"
"Aku mau tidur, ngantuk. Jangan macem-macem deh"
Lhaarr...
Seolah ada suara kilat yang menggelegar, Arfi tertegun tanpa kata diatas tempat tidur. Ia benar-benar melihat sang istri berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. Ia tidak mengerti, kenapa istrinya selalu menggoda dirinya seperti ini.
Arfi menghela napasnya kasar, ia duduk bersandar di tempat tidur melanjutkan menonton pertandingan sepak bola. Sekeras apapun ia mencoba fokus, matanya sesekali melirik ke arah Alvi yang masih bersembunyi di bawah selimut.
"Astaghfirullah, tahan Fi, istriku memang menggoda, astaga" lirih Arfi gusar. Jika Arfi saja bisa terus tergoda seperti ini, bagaimana dengan pria lain yang melihat Alvi nantinya.
"Eh, ada apa sayang?" Tanya Arfi terkejut kala merasakan ada yang memegang tangannya.
"Mas Arfi ternyata juga bisa tergoda ya. Aku pikir..."
"Aku kan juga laki-laki. Kalau sama yang lain aku bisa tahan, kalau sama kamu, aku mana tahan sayang" jelas Arfi. Ia menyibakkan selimut dan langsung menggerayangi tubuh istrinya.
Astaga, tubuh istrinya, begitu mulus. Pemuda itu melihat senyuman di wajah istrinya, penyambutan yang amat sangat ramah.
"Ah, gatel banget Mas" celetuk Alvi seraya menggaruk dadanya.
Arfi mengehentikan tangan istrinya, perlahan ia buka lingerie sang istri. Ia menatap gundukan kecil itu lalu melahapnya. Kini bukan rasa gatal yang Alvi rasakan, namun nikmat yang membuatnya melayang.
"Vi, inget ya, jangan jadi cewek murahan di depan pria lain"
"Sial kamu Mas, kasar banget omongan kamu. Aku dandan gini cuma saat ada Mas Arfi aja kok" cibir Alvi seraya menjambak rambut suaminya.
"Kamu memang gadis yang nakal, aku mencintaimu sayang"
"Hm...."
Arfi mengigit pu ting istrinya yang hanya berdehem tak membalas pernyataan cinta itu. Alvi yang terkejut juga reflek menjambak rambut suaminya tanpa ampun. Keduanya saling berpandangan dan tertawa, Arfi merapikan kembali pakaian istrinya dan tidur dalam dekapan sang istri.
__ADS_1