
Di hotel....
Pukul 21:00...
Hadiah kejutan untuk Arfi belum selesai, kini hadiah dari kedua orangtuanya. Maya dan Hasyim memesankan hotel untuk Arfi serta istrinya. Mereka juga menghiasi kamar hotel khusus untuk pengantin baru ini. Tak hanya Arfi, Alvi bahkan lebih terkejut melihat hadiahnya.
"Cantik banget pemandangannya" seru Alvi ketika melihat pemandangan kota dengan banyak lampu.
"Kamu lebih cantik" bisik Arfi seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Masss"
"Iya sayang"
"Aku capek, mau bobo"
Arfi berdehem, ia melepas pelukannya dan memandangi wajah istrinya sesaat. Alvi memang terlihat lelah, pasti karena teman-teman Arfi terus mengajak nya berbincang. Walau keinginan Arfi sudah diatas puncak, ia tak ingin menyakiti istrinya. Ia meminta Alvi untuk tidur sedangkan dirinya akan membersihkan diri sebelum menyusul sang istri.
Cukup lama Arfi berada di dalam kamar mandi, Alvi sampai bosan menunggunya seorang diri. Ia pun berniat menghampiri Arfi, tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Suara desa han Arfi membuat Alvi sedikit terkejut. Mungkin suaminya tengah mencari cara lain untuk menyalurkan keinginannya.
Ttok... Ttok...
"Mas, kamu masih lama? Aku pingin pipis"
"Iya sayang, udah kok, ini lagi pakai baju"
Ceklek....
Pintu kamar mandi terbuka. Ah, wajah pemuda itu terlihat lusuh. Alvi mencoba menahan tawanya, ia pun bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk berdandan. Menggunakan dress merah hadiah dari Arfi waktu itu, ia juga menyikat gigi dan membersihkan semua tubuhnya. Kemudian menyemprotkan parfum yang biasa Alvi kenakan.
Perlahan Alvi membuka pintu, ia mencari keberadaan suaminya. Arfi yang tengah fokus menonton sepak bola dengan raut wajah datarnya. Alvi menyelinap menghampiri sang suami, jelas sekali jika Arfi kecewa sebab dirinya tak sadar bila istrinya mendekat.
Alvi merangkak ke atas tubuh suaminya, hal itu membuat Arfi terkejut karenanya.
"Fokus banget nonton televisi nya, aku sampai gak diperhatikan" oceh Alvi. Tangannya begitu berani mengelus pipi sang suami.
"Ka..kamu? Katanya capek?"
"Iya sih, tapi mana mungkin aku biarkan suamiku memuaskan dirinya sendiri? Masih kuat gak?"
"Ah, ma..maaf, ka..kamu dengar ya sayang?"
Alvi tak menjawab, ia memulai ciuman bergairah bersama suaminya. Mereka saling membalas sambil membuka pakaian satu sama lain. Tak jarang Arfi memuji betapa cantiknya Alvi mengenakan gaun malam merah itu. Alvi tak pernah tak berhasil menggoda dirinya.
Setelah berciuman, bibir Arfi berjalan menyusuri leher istrinya. Bermain sejenak disana sebelum menemui dua buah gunung kembar menggemaskan itu. Terkadang ia tak mengerti, kenapa Alvi begitu menyukai memakai sumpelan bra. Padahal, Arfi selalu tergoda apapun yang ada dalam diri Alvi dan bagaimana bentuknya.
__ADS_1
Suara desa han Alvi semakin menggila dibuatnya, Arfi sebaik mungkin memuaskan istrinya dengan penuh cinta.
"Aah, sakit Mas" celetuk Alvi. Tangannya begitu erat mencengkram pundak suaminya.
"Tahan ya, karena udah lama, jadi kayak perawan lagi kamu sayang"
"Aaahhh, malu tauuu"
"Masih aja malu, gadis nakal"
Arfi meyakinkan Alvi untuk menahannya sebentar lagi. Sebelum merasakan kenikmatan yang selama ini tak pernah Arfi rasakan. Ini adalah awal kisah hubungan mereka, sekali lagi takdir mencoba membuat hubungan awal yang indah.
Semakin malam, kesunyian kian mendominasi. Namun suara televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola, menepis kesunyian. Ditambah suara cinta pasangan yang kembali terjalin setelah perpisahan panjang. Arfi terus mendorong hasratnya sambil tangannya terus meremas gunung kembar sang istri.
"Ahhh, kenapa kamu senyum gitu? Enak ya?"
"Hehehe, iya"
"Kamu tuh emang gadis nakalku"
"Kamu juga cowok mesum"
"I love you, hahahha" ucap mereka bersamaan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Alvi terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan mendapati suaminya tengah duduk menonton pertandingan sepakbola. Arfi memang sangat suka sepakbola, beberapa Alvi sering melihatnya bermain futsal dengan Bani dan Oddy. Itu juga menjadi alasan Alvi bisa menemui Arfi selain di sekolah.
"Sayang aku kebangun ya, lucu banget sih" goda Arfi. Ia sungguh menjadi pria berbeda di hadapan Alvi. Pria dengan banyak cinta dan penuh perhatian lebih.
"Laper Mas, mau sashimi"
"Tapi habis makan ronde kedua ya" ucap Arfi seraya mengedipkan sebelah matanya. Ia lalu mendial nomor hotel dan memesankan sashimi untuk sang istri.
Alvi kembali memejamkan matanya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Baru saja ia ingin terlelap, tapi Arfi yang nakal mulai bermain lagi menggoda dirinya. Menarik selimut Alvi hingga membuat tubuh polos istrinya terlihat. Alvi menatapnya dengan kesal, tapi Arfi malah memberinya ciuman. Mereka kembali bergulat diatas kasur, diselimuti rasa cinta yang amat besar diantara keduanya.
"Mas, itu bel nya bunyi, sana ambil"
"Iya nyonya"
"Jangan lupa pakai baju, kelihatan berdiri tuh yang bawah hehehe"
Arfi menyambar pakaiannya kemudian berjalan menuju pintu kamar hotel. Ia mengambil pesanan dan memberikan tip karena sudah begitu baik melayani dirinya dini hari. Ia pun kembali menuju tempat tidur, namun tak menemui sang istri disana.
"Sayang, kamu dimana?"
__ADS_1
"Dari kamar mandi, ada apa?"
"Loh kok pakai baju sih sayang, kan ronde keduanya belum"
"Sssttt.."
"Apa sih? Ayo lepas bajunya, sini aku bukain"
"Hahahaha, halo Arfi, Alvi? Kalian mau lanjut ronde kedua?" Celetuk seseorang dari ponsel Arfi.
Alvi menatap tajam suaminya, sambil mengatakan jika yang menelepon adalah Ardi. Pemuda itu meraih ponselnya, dan menjawab pertanyaan Ardi dengan canggung. Ia tak tahu jika Papanya menelepon selarut ini.
Arfi : "Assalamualaikum Papa"
Ardi : "Waalaikumsalam, maaf ya Papa telepon malam-malam. Cuma mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, tadi Papa sibuk jadi gak sempat. Ternyata kalian lagi, ehem..."
Arfi : "Gak kok Pa, kita lagi jeda sebentar. Iya kan sayang?"
Terdengar suara Alvi memakai suaminya dengan kesal. Ardi meminta maaf atas itu dan memberikan doa terbaik untuk menantunya. Hadiah Ardi akan menyusul setelah beliau kembali dari luar provinsi.
"Papa juga jaga kesehatan ya, Waalaikumsalam" ucap Arfi menutup teleponnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada sang istri yang menikmati sashimi sambil memandangi keluar jendela.
"Mas, tau gak, Papa aja gak pernah ngucapin selamat ulang tahun ke aku. Dia sayang banget ya sama kamu?"
"Massa sih? Papa tuh sayangnya sama kamu sayang"
"Iya Papa emang selalu kasih hadiah telat, tapi dia gak pernah sekalipun telepon aku dan ngucapin selamat ulang tahun. Tapi aku sudah terbiasa, Papa melakukannya bahkan sebelum Mama tiada. Tapi Mas, Papa selalu ingat ulang tahun Kakak, kenapa?"
"Hahaha, kamu tuh lucu"
"Kok malah ketawa sih Mas, tau ah bete"
Arfi berjalan mendekati istrinya, duduk di hadapan Alvi sambil mengutak-atik ponselnya. Ia menunjukkan sebuah foto pada Alvi, foto Ardi dengan dua kue dan lilin angka yang berbeda.
"Foto Papa, kenapa?"
"Kamu ingat tanggal lahir Papa?"
"Gak lah, kenapa juga aku harus ingat? Lagian Papa juga gak ingat ulang tahunku kan?"
"Sama sepertimu, tanggal lahir Papa sama seperti mu. Papa selalu merayakan ulang tahunmu dan ulang tahunnya. Sedangkan kamu? Inget aja gak, jangan-jangan kamu gak tau ya?"
"Aaahhh Papa sweet banget sih, jadi Papa sayang aku ya? Kakak nyebelin, dia selalu bilang kalau Papa cuma sayang dia. Bani sialan"
Plakk....
__ADS_1
Arfi memukul pelan kepala istrinya, lalu mencubit pipinya gemas. Padahal ia sudah memperingatkan untuk tidak berkata kasar lagi.
Setelah menyelesaikan makanannya, Arfi membawa istrinya kembali ke tempat tidur dan mereka menghabiskan malam panjang itu dengan penuh cinta.