
Selesai makan, Niza terus saja bergerak-gerak dalam dekapan Alvi. Sembari meraih pakaian Alvi berusaha memasukkan tangannya kedalam.
"Mas, kayaknya Niza mau minum susu" ucap Alvi.
"Uhuk uhuk, apa? Gak boleh, kamu kan gak ada asi nya. Kita pulang aja ya, ayo ayo" sahut Arfi sambil menarik tangan Alvi. Ia meminta salah seorang karyawan nya untuk menghitung makanannya dan bill dikirimkan padanya.
Alvi sudah berusaha menolak, tapi Arfi seolah kelabakan seorang diri. Ia meminta Alvi segera masuk mobil agar mereka bisa langsung pulang. Selama perjalanan, Alvi sibuk menenangkan Niza yang merengek. Lagu pengantar tidur beberapakali Alvi nyanyikan, berharap keponakan kecilnya akan segera tertidur.
Memang usaha tak pernah mengecewakan hasil, Niza pun akhirnya tertidur dengan begitu pulas.
"Akhirnya tidur juga dia, susah ya urus anak" celetuk Arfi.
"Dasar kamu, aku yang ngurusin dia kamu yang capek. Nanti kalau kita punya anak gimana? Kamu juga harus bisa jagain mereka"
"Kamu mau punya anak sayang? Mau berapa?"
"Maunya sih cowok cewek, tapi apa aja boleh deh hahaha"
Akhirnya mereka tiba di rumah. Suasana rumah tampak hening dan sepi, seolah tak ada siapapun disana. Hal ini membuat Alvi terpaku di depan pintu, menunggu Arfi yang masih memarkirkan mobil.
"Kenapa gak masuk sayang?" Tanya Arfi seraya merangkul pundak istrinya.
"Takut"
Masih sama, istrinya masih saja penakut seperti biasanya. Ketika mereka melewati kamar Bani, terdengar suara berisik dari televisi. Mereka hanya saling tatap dan tertawa kemudian melanjutkan jalannya naik ke lantai atas, kamar Alvi.
Alvi menidurkan Niza di atas tempat tidur, lalu ia berganti pakaian tidur. Sedangkan Arfi yang juga merasa lelah, mengganti pakaiannya dan pergi tidur lebih dulu. Hanya beberapa detik ia memejamkan matanya, ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari salah satu manager restoran nya.
Arfi bangkit dan membuka leptopnya, mengecek seluruh laporan keuangan yang dikirimkan. Ia kembali terpaku ketika fokus pada pekerjaannya, hingga melupakan suasana di sekitar.
"Mas, mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Arfi seraya memijat pundak suaminya.
"Hahaha, ini pertama kalinya kamu pijitin aku. Kamu sekarang lebih dewasa ya, gak semanja dulu"
"Karena aku gak mau kehilangan Mas Arfi. Dulu mantan pacarku putusin aku Karen mereka bilang aku manja dan semaunya sendiri. Ya mau gimana, aku kan anak sultan"
"Iya iya sayang, dan aku dulu bilang, kamu boleh bersikap manja atau apapun. Karena aku yang akan manjain dan perhatiin kamu. Udah sana tidur, besok ikut aku keluar kota ya"
Tanpa pertanyaan, Alvi mengangguk dan berdiri. Namun, Arfi menahannya lalu menarik Alvi untuk duduk kembali di sofa. Ia memegang kedua tangan Alvi, mengelusnya lalu menciumnya.
__ADS_1
Ketika hati mereka sudah tersentuh hanya dengan menatap. Arfi mengutamakan keinginannya, walau ada perasaan ragu. Ia mencoba memberanikan diri sebagai seorang suami, agar tak terus di katakan pengecut oleh kedua Kakak Iparnya.
"Aku tidak akan memaksa, aku juga tidak akan mengatakan apapun tentang keputusan mu. Tapi jika bisa, aku ingin kamu tidak memakai pakaian yang ketat dan terlalu pendek saat di luar rumah"
"Jadi kamu gak suka aku apa adanya? Kamu mau merubah aku seperti apa yang kamu inginkan?"
"Tidak, aku tidak memaksa. Itu hanya sebuah permintaan dan saran"
"Terus semua bajuku gimana? Kamu suruh aku buang itu dan berpakaian seperti Kak Zahra? Huft memang semua cowok itu...."
Arfi membungkam mulut istrinya, ia menghembuskan napasnya perlahan menahan amarah. Alvi selalu saja mengoceh dan tak mau mendengarkan hal yang tak ia sukai. Perlahan Arfi kembali menjelaskan jika ini adalah permintaan, dan bila Alvi tak mau melakukan nya pun Arfi tak masalah. Setidaknya Arfi sudah mengungkapkan keinginannya sebagai seorang suami.
"Terus bajuku yang pendek, ketat, seksi gimana? Dibuang?"
"Boleh dipakai, tapi di dalam dikamar. Cuma aku yang boleh lihat kamu dengan pakaian pendek, ketat, seksi bahkan tanpa pakaian sekalipun. Hanya aku yang boleh"
Alvi tertegun mendengar penuturan Arfi, wajahnya memerah tersipu malu. Ia tak langsung setuju, ia meminta waktu untuk memikirkan semuanya. Dan sebelum Alvi pergi ke kasurnya, Arfi menahannya untuk kedua kali. Kali ini, permintaan yang selalu Arfi katakan pada istrinya. Alvi harus mau sholat berjamaah bersama sang suami, tak ada bantahan atau alasan apapun itu.
Ini adalah perintah, bukan permintaan yang bisa ditawar. Gadis itu terlihat hendak mengeluh, namun Arfi sekali lagi menegaskan jika ini adalah perintah. Ia ingin istrinya melakukannya dengan paksaan agar semakin lama Alvi bisa terbiasa. Jika kita ingin merubah sesuatu, harus ada seseorang yang memulai mengawali perubahan itu.
"Sayang, ingat ya, semua perkataan ku itu harus kau turuti"
"Dasar gadis nakal. Selamat malam, I love you" ucap Arfi lalu mencium bibir istrinya.
"I love you too. Nanti kamu tidurnya disamping aku ya, peluk aku dari belakang, oke?"
"Oke sayang, sudah sana tidur"
Alvi berjalan dan berbaring diatas kasurnya. Dia memejamkan matanya yang sudah terserang rasa kantuk.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Adzan subuh berkumandang, Arfi langsung terbangun dari tidurnya. Ia mencoba membangunkan Alvi dengan menciumi pundak sang istri, sesekali ia meniup telinga Alvi agar terbangun.
"Hm ... apa sih Mas?" Rengek Alvi. Ia membalikkan badannya dan memeluk sang suami. Matanya masih terpejam karena mengantuk.
"Sudah adzan, ayo sholat dulu. Jangan berisik, Niza masih tidur" bisik Arfi seraya mengangkat tubuh istrinya agar bangun dari tidur.
Bibir Alvi sudah manyun begitu panjang seperti pinokio. Karena Arfi terus memaksa, Alvi pun mengikuti permintaan nya. Mereka bergantian mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selepas sholat, Alvi kembali tidur sambil memeluk Niza. Sedangkan Arfi memilih untuk berolahraga seperti biasanya.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 07:00 pagi...
Alvi terbangun karena Zahra membangunkan nya dan Niza. Ini sudah waktunya untuk kedua wanita itu mandi.
"Aku aja yang mandiin, Kak Zahra siapkan bajunya Niza ya" ucap Alvi kemudian menggendong Niza masuk kedalam kamar mandi. Ia begitu senang mandi bersama Niza di dalam bathtub. Dengan air hangat yang membuat keduanya betah bermain-main disana.
"Ta...tavi" oceh Niza yang terus memanggil nama Alvi. Hal itu membuat Alvi sangat senang sebab keponakannya mulai mengingat nama itu.
Selesai mandi, Alvi memakaikan pakaian Niza lalu mengenakan pakaiannya. Ia mencoba membuat Niza berdiri selama beberapa detik di lantai. Kemudian perlahan berjalan menjauh dan menarik perhatian Niza agar mendekati dirinya.
Wajah Alvi sangat terkejut melihat Niza bisa berjalan ke arahnya. Ia langsung menggendong Niza dan membawanya turun ke bawah. Sambil berteriak-teriak memanggil nama Kakaknya.
Semua orang tengah duduk di meja makan sambil berbincang singkat. Kehadiran Alvi membuat mereka terkejut dan khawatir.
"Ada apa dek?" Tanya Bani panik.
"Niza Kak, Niza"
"Dia kenapa?"
"Kakak jongkok disana, lihat ya" jelas Alvi. Ia berdiri tak jauh dari Bani. Lalu melepaskan Niza yang berjalan perlahan ke arah Bani tanpa bantuan.
Gadis kecil itu berjalan dengan tawa di wajahnya. Bani bahkan sampai tak bisa menutup mulutnya karena terkejut. Ia memeluk putrinya begitu sampai di hadapannya.
"Anak Papa sudah bisa jalan sendiri, pinter anak kesayangan Papa" ucap Bani yang terus mencium pipi putrinya.
"Aaaa. .. aah O..fi" ujar Niza seraya mengulurkan tangannya ke arah Arfi.
"Ofi?" Tanya Bani heran.
Arfi mengambil alih Niza dan ikut memujinya seperti Bani. Ia juga memberikan ciuman ke pipi Niza. Mereka semua bergantian menggendong Niza dan mengucapkan selamat. Bani langsung menghubungi Tuan Salim atas kabar baik ini, berita bahagia kembali di sebarkan. Tuan Salim bahkan hendak mengadakan pesta untuk ini.
"Iya Kek, terserah Kakek aja. Aku mau telepon Papa dulu dan mengabari mertuaku juga. Assalamualaikum Kakek" kata Bani mengakhiri teleponnya.
"Tunggu, Ofi tadi apa?"
"Ofi itu, Om Arfi. Kakak mah kuno, ew"
Mendengar penuturan Alvi, Bani dan Oddy tertawa terpingkal-pingkal. Sambil melirik Arfi yang cengengesan.
__ADS_1