
Alvi menuruni tangga dengan koper ditangannya. Bani menarik gadis itu untuk duduk di kursi dan mulai mengintrogasi nya.
"Jawab jujur, loe darimana? Kenapa semaleman gak pulang? Arfi sampai gak tidur nungguin loe. Loe itu jangan kekanakan deh, dia selalu nungguin loe setiap hari" omel Bani dengan amarahnya.
"Dia ada dirumah gue Ban, dari semalem" jawab Oddy yang datang bergabung. Ia langsung duduk di meja makan dan mengambil beberapa makanan untuk sarapan.
"Jangan belain dia Dy"
"Lah, loe lihat aja cctv. Mobilnya aja masih di garasi rumah gue"
Bani menatap adiknya yang masih tertunduk. Arfi mendekat dan meminta Bani untuk mengakhiri drama di pagi hari. Sebab mereka harus segera berangkat untuk menata barang-barang disana.
"Kamu mau ikut sayang?"
"Mauuuu"
"Eh, apa? Bukannya tadi kalian bertengkar?" Sela Bani kebingungan.
Alvi mengatakan jika Bani tak mengerti hubungan suami istri sebab dirinya belum menikah. Bani hanya mendengus kesal, sedangkan Arfi dan Oddy menertawakan adegan tersebut.
Selesai sarapan, Alvi langsung mandi dan bergegas untuk menemui suaminya. Karena Alvi ingin ikut, Arfi akhirnya berangkat terpisah menggunakan motor Alvi. Namun mereka berangkat bersama sebab masih belum begitu hafal dengan jalan menuju area desa.
"Oh ini, gue tau jalannya kok. Tapi ini lumayan jauh, kalian yakin mau kesana naik motor? Kalau naik mobil sih gak masalah, dan kalian kan bawa anak cewek" tutur Alvi setelah mendengar tempat tujuan mereka.
"Loe pernah kesini dek?" Tanya Bani penasaran.
"Pernah, Tuan Salim kan punya yayasan panti jompo disana. Gue sering diajak kesana, kenapa kalian gak bilang gue sih?" jawab Alvi seraya menaiki motornya. Ia mengusulkan untuk menjadi penunjuk jalan untuk semua. Ia bahkan menyarankan Arfi untuk naik mobil sebab suaminya baru saja sembuh. Alvi tak ingin Arfi sakit lagi.
__ADS_1
Benar saja, gadis itu mengendarai motornya dengan lihai. Seolah dirinya begitu hafal jalanan disana. Melewati jalanan yang cukup sepi dan penerangan yang minim, desa itu juga jauh dari pemukiman. Alvi tak mengerti, kenapa mereka memilih tempat seperti itu untuk melaksanakan tugas. Walau masih bisa diakses dengan mobil, tapi perjalanan yang jauh dan sepi itu pasti berbahaya.
Akhirnya merekapun tiba di desa ketika sore menjelang. Sampai di depan pintu masuk desa, Alvi menepikan motornya. Ia menghampiri mobil Bani sambil meminta ijin sebentar. Langkahnya dengan pasti menuju sebuah patung yang di berikan sesajen di hadapannya. Terlihat Alvi menunduk seakan memberi salam jika dirinya datang bertamu.
"Alvi ngapain?" Tanya para Kakaknya kebingungan.
Belum saja Alvi kembali, kepala desa datang bersama dengan seseorang yang sudah di kenal sebagai kuncen desa tersebut. Beliau menyambut kedatangan Arfi dan teman-temannya. Melihat kepala desa dan kuncen mendekat, mereka semua keluar dari dalam mobil untuk memberikan salam.
"Mbah, Pak Kades, Assalamualaikum" sapa Alvi ikut bergabung. Mereka semua menjawab salam Alvi, bahkan kuncen tersebut yang biasa di panggil Mbah menunduk memberikan salam pada Alvi. Bukan padanya, tapi pada sesuatu yang menjaga gadis itu.
"Nona Alvi, aku sudah mendengar kau akan datang kemari. Apa kau datang seorang diri?" Tanya Mbah.
"Tidak, aku bersama dengan mereka. Ini kedua Kakakku, dan yang paling tampan adalah suamiku"
Para warga terkejut lalu tersenyum bahagia, mereka baru mengetahui pernikahan Alvi. Sebab sudah lama sekali Tuan Salim maupun Pak Kyai tak datang berkunjung.
Sebab dulu, ketika pertama kali Alvi datang kesana. Ia sakit selama beberapa hari karena ada banyak penunggu desa yang ingin mendekati dirinya. Sebab sesuatu yang menjaga Alvi menarik perhatian mereka. Walau tak bisa mendekati Alvi, tapi tenaga gadis itu juga terserap karena banyak yang mendesak ingin mendekat.
"Nak Alvi sudah lulus sekolah ya? Sekarang sudah besar ya, makin cantik" puji Pak Kades.
Setelah Bani dan Mbah kembali, Pak Kades meminta mereka untuk masuk ke dalam desa. Karena sebenarnya Pak Kades dan beberapa warga hendak pergi ke kampung sebelah untuk menghadiri sebuah acara. Pak Kades sudah meminta beberapa warga lain untuk menyambut kedatangan Arfi.
Sebelum pergi, Mbah memberikan sirih pada Alvi dan Bani. Jika Alvi memakannya tanpa ragu, Bani terus mengeluh dengan rasa asing itu. Arfi memilih duduk di boncengan sang istri ketika mereka masuk kedalam desa.
Mereka semua menuju sebuah rumah yang terletak lumayan jauh dari pintu masuk desa. Rumah itu adalah bangunan paling besar di desa itu, dan di depannya ada sebuah yayasan panti jompo yang ramai dan asri. Di sekelilingnya juga banyak rumah penduduk desa.
"Nona Alvi ada disini?" Celetuk salah seorang warga.
__ADS_1
"Saya hanya mengantar mereka, tolong jaga mereka ya Bapak-bapak Ibu-ibu. Ini Kedua Kakak saya dan ini suami saya"
Para warga begitu heboh mendengar Alvi telah menikah. Mereka segera pulang kerumah untuk membawakan makanan menjamu cucu Tuan Salim. Jasa Tuan Salim lagi-lagi tak bisa dilupakan. Kebaikan beliau sudah menjadi rahasia umum dimana-mana.
Arfi dan teman-temannya menurunkan barang bawaan mereka. Sedangkan Alvi berbincang dengan beberapa remaja di desa itu. Tak lama, para ibu-ibu datang dengan berbagai makanan di tangan mereka. Dengan dalih ingin menjamu cucu Tuan Salim dan merayakan pernikahan Alvi. Gadis itu sungguh kesayangan semua orang, terlebih saat mereka tau ia adalah cucu Tuan Salim.
Para remaja itu menyantap makanan dengan lahap. Sebab perjalanan jauh membuat perut mereka keroncongan.
Hari menjelang malam, selepas sholat Isya' mereka semua berkumpul di rumah besar yang rupanya adalah milik Tuan Salim. Pak Kades dan Mbah juga hadir untuk mengantar kepulangan para remaja itu.
"Jangan nakal dan keras kepala. Dengarkan apa yang suami katakan, kau mengerti? Dan jangan terlalu percaya pada orang lain, kau hanya akan terluka nantinya" pesan Mbah pada Alvi. Beliau juga memberikan pesan untuk Bani agar tidak terus menyakiti hati perempuan sebab adiknya juga seorang perempuan.
Setelah berbincang sejenak, mereka pun memutuskan untuk pergi karena hari semakin larut. Kali ini Arfi yang membawa motor dan membonceng istrinya. Mereka berpencar kala mendekati kota rumah tempat tinggal mereka. Arfi mengehentikan motornya di depan minimarket sebab sang istri mengeluh haus, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Fi, apa sih yang loe punya sampai semua cewek-cewek itu suka sama loe, heran gue"
Pletakk..
Arfi memukul pelan kepala istrinya dengan botol minum.
"Bicara yang sopan, aku suamimu"
"Kan enak Fi kalau bicaranya santai, loe mah formal banget bosen tau gak manggil loe Mas mulu"
"Iya oke boleh, tapi jangan pakai loe gue, aku kamu"
"Nah gitu dong, itu baru Arfinya Alvi"
__ADS_1