Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 52


__ADS_3

Tak lama setelah dokter memeriksa, Alvi membuka matanya. Sekali lagi ia melihat pemuda itu menangis. Tapi kali ini Alvi menatapnya dengan penuh kebencian. Ia tak peduli alasan apapun itu, yang ia rasakan hanyalah kebenciannya pada Arfi.


"Jangan menatapku seperti itu sayang"


"Bisa tinggalkan gue sendiri? Ku mohon" pinta Alvi lalu memalingkan tubuhnya.


Dokter meminta semua orang agar tidak membuat Alvi merasa tertekan. Karena sebenarnya Alvi masih berada dalam masa pemulihan. Harusnya mereka semua tidak gegabah mengambil keputusan yang akan memperburuk keadaan Alvi.


Atas permintaan dokter dan Alvi, semua orang pergi keluar, kecuali Zahra. Ia duduk di samping Alvi sambil mengelus rambutnya penuh kasih sayang.


"Kau tahu Adik ipar, Bani tak pernah sekalipun tak membicarakan mu ketika kau koma. Dia bercerita padaku, wanita terkuat setelah Mama kalian adalah dirimu"


"Kakak setuju dengan pernikahan itu?"


"Tidak, dia sangat marah. Bahkan dia memutuskan untuk meninggalkan rumah jika mereka semua memaksa Arfi menikah kembali"


"Arfi benar-benar menolak?"


Zahra mengangguk, seperti kata Bani, Alvi tak pernah gegabah. Ia selalu mau mendengar penjelasan orang lain. Hanya saja hatinya begitu mudah terluka, ia terlalu cepat merasa kecewa. Zahra memainkan tangan Alvi, tangan yang suka memukul orang jahat demi membela orang lain.


"Kakak Ipar, apa aku harus memberinya kesempatan? Jika itu terjadi pada Kakak ipar bagaimana?"


"Aku akan memberinya kesempatan. Alvi, perceraian itu tidak baik, bukankah kau sangat mencintainya? Aku bisa melihat itu dimatamu"


"Aku sangat membencinya. Aku lelah, ingin istirahat"


Zahra tak berniat memaksakan kehendak adik iparnya. Ia menyelimuti tubuh Alvi kemudian pergi menghampiri yang lainnya. Mereka berharap banyak hal, namun Zahra tak bisa memberikan informasi apapun. Tapi satu yang pasti bisa Zahra katakan, ia sangat yakin jika Alvi akan memberikan kesempatan kedua untuk hubungannya dengan Arfi. Jelas. sekali terlihat bila Alvi sangat mencintai suaminya itu.


Tuan Salim, Ardi, Oddy dan Bani lagi-lagi harus menginap di rumah sakit. Papa dan Mama Oddy harus pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka yang bermasalah. Pak Kyai tentu harus pulang ke pesantren. Sedangkan Hasyim, Maya dan Aisya juga pulang ke rumah mereka. Mencari informasi dibalik kebenaran yang terjadi.


"Fi, tidur dulu. Biar Papa yang jagain Alvi"

__ADS_1


"Tidak Pa, aku akan menjaganya. Papa istirahat saja, kalian semua juga"


"Fi, kabari gue ya kalau Alvi bangun, gue sama Oddy mau ke hotel terdekat. Lebih baik Papa dan Kakek merenungi kesalahan kalian, atau Alvi akan benar-benar membencinya" tutur Bani begitu dingin. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk marah, tapi berdebat dengan Tuan Salim maupun Ardi, selalu saja membuatnya lepas kendali.


Waktu berjalan begitu lambat bagi Arfi, namun tak pernah sedetikpun ia pergi dari samping istrinya. Hingga matahari menjelang, Oddy dan Bani kembali ke rumah sakit untuk menemani Arfi. Kini mereka juga didampingi Zahra yang membawakan sarapan. Tuan Salim dan Ardi sudah pulang untuk mengganti pakaian mereka. Juga mengurus beberapa pekerjaan tentunya.


Selesai sarapan, Arfi kembali duduk disamping istrinya. Menggenggam tangan Alvi dengan begitu erat, sembari terus memanggil namanya.


"Sayang hei" ucap Arfi kala melihat istrinya membuka mata.


Alvi tampak tak nyaman kala terbangun dari tidurnya. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri seolah merasa tak nyaman. Akhirnya ia pun menarik tangan Arfi agar bisa bangun dari tidurnya. Tanpa kata apapun, Alvi memuntahkan semua isi perutnya. Oddy, Bani dan Zahra tertegun melihat tubuh serta pakaian Arfi penuh dengan muntahan. Begitu juga dengan Alvi yang menatap suaminya dalam diam.


"Kau baik-baik saja? Masih mual? Atau terasa sakit di bagian lain? Keluarkan semuanya sayang" ucap Arfi seraya mengusap punggung istrinya. Ia tak peduli dengan muntahan sang istri yang menyelimuti dirinya, hanya kesembuhan Alvi kini prioritas nya.


Alvi menggeleng, Arfi dengan sigap membersihkan bibir istrinya dengan tisu. Ketelatenan Arfi merawat istrinya, membuat Bani dan Oddy tersenyum tanpa alasan. Keduanya tersipu melihat Arfi dan Alvi akur seperti ini.


"Maaf"


"Karena mengotori pakaian loe. Dan terimakasih sudah khawatir, tapi bisakah loe pergi dari hadapan gue? Dada gue sesak lihat loe disini" jelas Alvi begitu dingin menatap Arfi. Ia ingin menunjukkan pada Arfi jika gadis yang duduk dihadapannya bukanlah gadis sembarangan.


"Aah, tidak masalah. Aku akan pergi setelah membersihkan ini ya"


Alvi memalingkan wajahnya ke arah lain, hatinya seolah kembali luluh dengan perlakuan manis Arfi. Sebuah bayangan kembali terbesit dalam pikiran Alvi. Dulu, kala ia bersin di dekat Baim, pemuda itu akan langsung marah dan memarahinya. Tapi hari ini, ketika Alvi muntah tepat di pakaian Arfi, pemuda itu malah memikirkan Alvi lebih dulu dan bukannya pakaian itu.


Helaan napas panjang dan berat bisa mereka dengar. Mereka ikut terluka kala melihat Alvi yang memegangi dadanya, pasti kenyataan ini membuat gadis itu sesak.


Dokter datang dan mulai memeriksa Alvi, semuanya baik-baik saja. Tapi kali ini, dokter tak memperbolehkan Alvi pulang. Para dokter tak ingin mengambil resiko lagi, mereka menyarankan Alvi untuk menginap selama satu Minggu dibawah pengawasan dokter.


Bani dengan cepat menyetujui hal itu, ia juga tak ingin Alvi masuk rumah sakit lagi. Tempat yang paling adiknya benci ini, menjadi tempat paling sering Alvi datangi.


"Mau aku kupasin buah? Mau minum susu atau yang lain?" Tanya Arfi.

__ADS_1


Alvi hanya diam.


"Aku pijitin ya? Atau kamu mau nonton sesuatu?"


Alvi masih diam.


"Aku ganggu kamu ya? Aku pergi dulu ya kalau gitu. Kamu jangan nakal-nakal, jaga diri baik-baik ya"


Kali ini Alvi tak diam, ia menahan tangan Arfi dan menanyakan kemana pemuda itu hendak pergi. Kalimat itu mampu mengusik pikiran Alvi rupanya.


"Maaf ya, aku gak bisa jadi suami yang baik buat kamu. Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu. Akupun sesak melihatmu seperti ini"


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan kedua. Tapi jika kamu membohongi aku lagi, apapun alasannya, kita akan berpisah"


"Sungguh? A..aku akan melakukan yang terbaik Alvi. A..aku janji...."


"Stop, jangan menjanjikan sesuatu dengan mudah. Masih ada syarat lain, jika anak Aisya adalah putramu, aku akan langsung minta bercerai tanpa berpikir dua kali"


Maaf Aisya, tapi gue juga gak mau kalau perhatian Arfi terbagi. Perasaan cinta ini memang mengalahkan akal sehat, maaf jika gue terlalu egois.


Arfi menyetujui semua syarat yang Alvi berikan padanya. Apapun syarat itu, asal hubungannya dan Alvi kembali lagi akan Arfi lakukan. Walau nyatanya perceraian sangat dibenci oleh Allah, tapi perbuatan Aisya menjadikan alasan kuat Arfi menceraikannya.


"Mas, semua yang kau katakan tentang Alvi itu benar. Aku hanya menasihatinya sedikit dan dia langsung berubah pikiran" bisik Zahra.


"Alvi sudah terobsesi dengan Arfi, kau lihat betapa egoisnya dia meminta Arfi dan Aisya berpisah?"


"Memang kenapa? Istri mana yang mau di madu tanpa sepengetahuannya Mas?" Jawab Zahra kesal.


"Oh Nyonya, kenapa kau marah? Aku hanya mengutarakan pendapat ku"


"Cukup, diam kalian. Sepertinya Alvi merencanakan sesuatu" sahut Oddy menengahi. Mereka bertiga begitu berisik membahas Alvi dengan berbisik-bisik.

__ADS_1


__ADS_2