Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 9


__ADS_3

Arfi dan Alvi pergi ke makam menggunakan mobil Bani. Selama perjalanan, Alvi terus saja menatap suaminya itu. Dan saat Arfi menoleh, senyuman lebar terlihat di wajah Alvi. Hal itu membuat jantung Arfi berdetak kencang, wajahnya bahkan memerah karena malu.


"Ada apa?"


"Mas Arfi ganteng ya ternyata, aku baru sadar"


"Baguslah"


"Mas Arfi, beneran kan kita gak dijodohkan?"


"Dijodohkan? Aku harus menunggu selama dua tahun baru bisa menikahimu. Kau tahu, saat aku memintamu pada Papa dan Kakek. Kakek langsung saja mengambil Al-Qur'an dan memintaku membaca satu Juz"


"Seperti Papa dulu?"


"Tidak, beliau memintaku mengkhatamkan Al-Qur'an selama satu Minggu"


Mata Alvi terbelalak lebar, tak ada yang memberitahunya kebenaran akan hal itu. Tapi Arfi benar-benar melakukannya? Ia bahkan menunggu Alvi lulus selama itu. Dan Alvi? Apa yang Arfi rasakan saat Alvi memiliki kekasih lain?


"Aku memintamu tepat setelah aku lulus sekolah. Kakek dan Papa menyetujuinya, asal aku menunggu sampai kau lulus dan tidak mendekatimu sama sekali. Aku menerima semua syarat mereka"


"Maaf, aku tidak tahu"


"Bukan salahmu sayang, ini bukti aku sungguh-sungguh dengan perasaan ku padamu"


"Aaahhh Mas Arfi lebih so sweet daripada Papa"


Perbincangan singkat itu, entah kenapa membuat senyuman indah di wajah Alvi. Ia memalingkan wajahnya menatap jalanan sore itu, indah, semuanya terlihat indah.


Sebelum memasuki makam, Alvi membeli beberapa bunga untuk makam Mama dan Kakeknya. Setelah itu barulah ia masuk kedalam pemakaman. Langkahnya begitu ringan, ia lebih dulu datang menemui sang Kakek. Air mata Alvi menetes ditengah doanya, Kakeknya akan selalu marah kala Alvi meninggalkan sholat dan pergi bermain saat waktunya mengaji. Tapi beliau akan berdiri paling depan kala siapapun menyakiti cucu kesayangannya.


"Arfi, Kakek menyayangi aku melebihi Tuan Salim. Kau tau kenapa?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena beliau yang paling sering memarahi aku, hahaha. Aku dulu sangat nakal, aku sedih, harusnya aku mendengar Kakek"


"Kau memang sangat nakal"


Alvi terkekeh kecil, ia berdiri dan menuju makam Mamanya. Sekali lagi air mata Alvi mengalir begitu deras. Ia merindukan Mamanya, sangat, kasih sayang seorang Ibu.


"Mama, lihat suamiku. Dia adalah suami idaman yang selalu Mama cerita kan. Pintar mengaji, Soleh, rajin sholat, baik, pandai dalam segala hal, dan dia juga tampan"


Alvi menyeka air matanya, ia menggenggam tangan Arfi yang ada didepannya.


"Mama bilang, jika aku tidak menjadi anak baik, aku tidak akan mendapatkan suami idaman kan? Berarti sekarang aku anak baik kan Ma? Iya kan Mas?"


"Dia sangat baik Ma, sangat baik walau sedikit nakal"


"Ih Mas Arfi, aku gak nakal Ma. Oh iya, bukan aku yang suka Mas Arfi dulu, tapi dia. Sudah kubilang kan? Aku ini istimewa Ma, karena aku anak Mama. Aku sayang Mama"


"Terimakasih sudah melahirkan pendamping hidupku Ma. Aku akan menjaganya dengan baik"


Di rumah Tuan Salim..


Hari menjelang malam, Alvi tengah bersiap-siap untuk pesta resepsi pernikahan nya malam ini. Kini temannya akan tahu siapa suami Alvi yang sebenarnya. Tasya dan Vita pasti akan kesal sebab mengetahui jika Alvi yang mengirim pesan pada mereka dan bukannya Arfi.


"Kok gue deg-degan ya?" Gumam Alvi seraya memegangi dadanya.


"Wajar sayang" sahut Arfi yang baru saja masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


Langkah Arfi terhenti kala memandangi Alvi yang menoleh ke arahnya. Cantik, istrinya terlihat amat sangat cantik malam ini. Jantungnya bahkan tak bisa terkontrol, Arfi mulai gugup dan salah tingkah karenanya.


"Waaah, Mas Arfi ganteng banget sih, gemes" puji Alvi dengan senyuman lebarnya.


Pujian itu membuat Arfi semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ia hanya berusaha mengalihkan perhatian dengan mencari ponselnya yang seolah tak terlihat. Karena melihat Arfi yang begitu sibuk, Alvi juga ikut membantu walau sedikit kesulitan sebab menggunakan gaunnya.


Dduk....

__ADS_1


Kepala mereka saling terbentur kala hendak mengambil ponsel Arfi. Mata mereka kembali memandang, dan Arfi berpaling menghindar. Alvi tak merasa aneh, tapi ia menarik tangan suaminya.


"Mas Arfi nanti di acara bakal cium aku gak?"


"Em... emang boleh?"


"Ya boleh lah, kan aku istri Mas. Mas Arfi pernah ciuman gak sih? Kok kaku gitu jawabnya"


Arfi menggeleng. Alvi terkejut mendengar kebenaran, itu berarti dirinya akan menjadi first kiss Arfi? Pemuda idaman para wanita yang tak pernah mengecewakan penggemarnya. Ah, semakin dipikirkan, rasanya menyebalkan harus berbagi Arfi dengan yang lainnya. Jika saja hanya Alvi yang bisa melihat wajah tampan itu, ah itu mustahil.


Alvi menarik tangan Arfi sekali lagi. Ia ingin mengajarkan pada Arfi cara yang romantis untuk memulai sesuatu yang indah. Ia mengelus pipi Arfi yang memerah, mata Arfi bahkan tak bisa menatap mata Alvi.


"Mas, tatap mataku dong, hm...."


"I..iya, tapi Vi, ini, anu.. aku nanti cuma cium kening aja kok"


"Tetap aja, kita harus saling memandang, biar suasananya romantis. Tapi kenapa dikening? Dibibir aja loh Mas, sini aku ajarin"


"Gak usah, aku udah telat, harus pergi. Ketemu nanti ya"


Arfi berlalu pergi tanpa menoleh kebelakang sekalipun. Tak berselang lama setelah Arfi keluar, Mama Oddy datang menghampiri Alvi. Beliau menggoda Alvi sebab Arfi keluar dari kamar dengan wajah yang memerah. Bukan malu atau apa, Alvi mengira jika suaminya tengah sakit, karena itulah wajah Arfi memerah.


Mama Oddy hanya tertawa dan membantu Alvi untuk pergi. Sebenarnya Alvi memiliki tiga Bibi lagi, tapi Tuan Salim mengatakan dengan tegas jika mereka tak boleh mendekati Alvi. Kecuali, hanya saat mereka bersama Tuan Salim barulah boleh berbicara dengan cucu perempuannya itu.


Tuan Salim sangat menyayangi Alvi, ia tak ingin pikiran polos cucunya dipengaruhi oleh ocehan sang Bibi. Sebagai seorang mertua, ia hanya mempercayakan Alvi kepada Mama Oddy setelah kepergian mendiang Mama Alvi.


Acara sudah dimulai, beberapa sambutan sudah terdengar. Para tamu begitu antusias ingin melihat kedua mempelai. Bahkan kedua sahabat Alvi sudah menyiapkan ponsel mereka untuk merekam.


Setelah sambutan dari MC, Alvi masuk dengan sang Kakek dan Papa di kanan kirinya. Vita dan Tasya tampak begitu heboh, begitu juga teman-teman Oddy dan Bani. Mereka tak pernah menyangka jika Alvi bisa terlihat secantik ini. Kini mata mereka menatap ke arah lain, menunggu sang mempelai pria.


Alvi sudah tak bisa menahan tawanya. Ketika Arfi keluar bersama Ayah dan Bundanya, semua orang terkejut bukan main. Vita dan Tasya bahkan menjatuhkan ponsel mereka.


"Alvi, jangan tertawa terus. Cepat jalan" bisik Tuan Salim seraya mendorong cucunya agar berjalan mendekati Arfi.

__ADS_1


__ADS_2