Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 64


__ADS_3

Pada akhirnya Alvi membungkus semua sisa makanan yang ia pesan. Di dalam mobil, Alvi terus memandangi Arfi yang diam tanpa kata. Semenjak kembali dari toilet, Arfi menjadi aneh. Ia bahkan tak memperbolehkan Alvi bertukar sosmed maupun nomor telepon dengan Diana. Itupun ia utarakan tanpa mengatakan alasannya.


"Mas ada apa?"


"Gak apa-apa, lagi capek aja. Aku antar kamu pulang ke rumah Papa ya"


"Mas Arfi mau kemana?"


"Kafe"


Alvi hanya berdehem dan kembali duduk diam. Sesekali ia melirik suaminya yang fokus menyetir. Hingga mereka sampai di rumah Ardi, Arfi mengucap salam lalu masuk menaruh koper di dalam kamar. Kemudian ia berpamitan pergi kepada Bani yang duduk di ruang tamu.


"Kamu ngapain disini? Sana masuk!!" Pinta Arfi saat masuk kedalam mobil. Ia melihat Alvi yang duduk memandangi dirinya.


"Maaf kalau aku salah, tapi tolong jangan diam kan aku seperti ini"


"Bukan salahmu, sana masuk" ucap Arfi begitu dingin. Ia bahkan tak menatap Alvi sama sekali.


"Aku benci Mas Arfi"


Brakkk ....


Alvi membanting pintu mobil dan pergi masuk ke dalam. Ia tak mengerti apa kesalahannya, kenapa Arfi marah tanpa alasan padanya. Alvi mengunci pintu kamar dan berbaring diatas tempat tidur. Hanya sesaat sebelum ia berjalan mendekati jendela dan melihat mobil Arfi pergi dari rumah.


Kekesalan Alvi semakin memuncak, ia kembali berbaring diatas tempat tidur sambil bermain ponsel. Hingga sore menjelang, Alvi masih sibuk bermalas-malasan diatas kasur. Memainkan game kesukaannya, beberapa pesan masuk begitu ramai di ponsel Alvi. Grup chatnya kembali aktif setelah sekian lama.


Para teman-teman Alvi mengajak mereka semua bertemu, untuk merayakan kesembuhan Alvi tentunya. Karena berpikir tak ada yang bisa dilakukan dirumah, Alvi pun bersiap-siap dan memakai pakaian terbaiknya. Ia masih ingat jika para teman sultannya ini suka menyombongkan ini dan itu.


Alvi menaiki motor baru yang Tuan Salim belikan. Ia melajukan motor itu perlahan untuk mengingat medan jalanan setelah sekian lama. Setelah sampai di sebuah kafe, gadis itu terdiam sesaat. Sebab kafe yang dituju adalah milik suaminya. Terlihat ada banyak mobil mewah yang terparkir di luar kafe.


"Yoo, sang Ratu datang" teriak salah seorang teman Alvi. Mereka begitu ramai memesan meja di sudut kafe.


Alvi tersenyum miring lalu ikut bergabung bersama teman-temannya. Mereka tampak begitu angkuh dengan berisik dan berbicara keras. Menunjukkan sikap sombong anak sultan tentunya. Bahkan membuat beberapa pengunjung tak nyaman dan akhirnya berpindah tempat.


"Nona Alvi, anda ada disini? Apakah mencari Bos Arfi?" Tanya salah seorang waiters yang mengantarkan makanan ke meja Alvi.

__ADS_1


"Tidak perlu, saya bersama teman-teman" jawab Alvi.


Gadis itu kembali bermain ponselnya, dan sesekali menjawab pertanyaan dari temannya. Masih sama seperti dulu, mereka mulai berlomba-lomba menyombongkan sesuatu yang mereka miliki. Alvi sebenarnya bosan mendengar ocehan sampah mereka, tapi ia juga tak ingin memutus hubungan secara sepihak.


"Alvi, loe disini?" Tanya seorang waiters yang menyajikan makanan.


"Vita, loe kerja disini? Kok gak bilang gue sih?"


"Iya, lumayan buat uang jajan"


"Temen loe Vi? Cantik juga, duduk sini aja" celetuk salah seorang teman lelaki Alvi. Ia memegang tangan Vita dengan senyuman mesumnya.


Vita menepis tangan itu dan menolak, walau seorang pelayan bukan berarti dia tidak punya harga diri dan mau diperlakukan seperti ini. Melihat Vita yang menolak, pemuda itu malah menggila, mencaci Vita dan memintanya untuk memanggil manager kafe.


Ini salah satu kelakuan buruk teman Alvi, sombong karena berpikir mempunyai segalanya.


Vita terkejut dan pergi untuk memanggil manager kafe. Sedang teman Alvi kembali mengoceh tak karuan hingga menarik perhatian pelanggan kafe. Sampai di batas ia menghina Vita karena berada di kalangan bawah, Alvi berdiri lalu menonjok pemuda itu tanpa basa-basi.


Bbukkkk...


"Mentang-mentang loe punya uang, bisa seenaknya gitu?"


"Itu namanya pelecehan, gue sudah bilang kan kalau gue gak suka sama yang namanya pelecehan"


"Cuma pegang tangan"


"Tapi orang yang loe pegang gak nyaman, itu namanya pelecehan brengsek. Loe pergi sekarang juga atau gue hajar lagi sampai tangan loe patah!!!" Sentak Alvi kesal.


"Loe kok jadi gak asik gini sih Vi? Udah untung kita masih mau temenan sama loe. Yuk cabut, biarin cewek gak tau diri ini gak punya teman" sela teman Alvi yang lain. Mereka memutuskan untuk pergi setelah melempar beberapa uang ke arah Alvi sebagai pembayaran.


Melihat teman-teman nya sudah pergi, Alvi memungut uang-uang yang terjatuh ke lantai.


"Alvi, maaf ya, karena gue loe jadi dijauhi teman-teman loe" lirih Vita sambil membantu Alvi.


"Kenapa minta maaf? Lebih baik gue gak berteman sama orang-orang brengsek macam mereka. Loe gak apa-apa kan? Jangan nangis, cengeng!!"

__ADS_1


"Alviii, gue sayang loee" rengek Vita memeluk sahabatnya.


Alvi memberikan semua uang itu untuk pembayaran. Ia juga mengemasi semua barang-barangnya karena hendak pergi.


"Sayang" panggil Arfi yang datang dengan tergesa-gesa. Ia mendengar dari salah seorang karyawan jika istrinya ada di kafe.


"Hm..."


"Kamu gak apa-apa sayang?"


"Iya. Vita gue pulang dulu ya, semangat kerjanya, bye"


Gadis itu berlalu pergi begitu saja tanpa peduli apapun. Arfi mengejarnya hingga ke parkiran, meminta penjelasan karena Alvi mengabaikannya tanpa alasan seperti ini.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba diemin aku kayak gini? Aku salah apa?"


"Gak enak kan di diemin? Terus kenapa kamu ngelakuin itu ke aku?"


Arfi menarik tangan Alvi untuk masuk ke mobilnya. Lalu mereka pulang bersama-sama menggunakan mobil Arfi. Selama perjalanan Arfi masih diam, sedangkan Alvi juga tak peduli lagi. Akhirnya mobil berhenti di depan komplek rumah Ardi. Arfi menatap istrinya, lalu meminta maaf atas sikap konyolnya, marah tanpa alasan yang jelas.


"Aku cuma lagi kesal aja, maaf ya"


"Kamu anggap aku apa? Kalau ada masalah, cerita sama aku. Bukannya suami istri itu harus berbagi banyak hal? Suka dan duka"


"Iya kamu benar, maaf aku cemburu" lirih Arfi sembari menjatuhkan dirinya ke pelukan Alvi.


Alvi tertawa kecil, cemburu? Pada siapa Arfi cemburu? Apakah ada pria yang lebih sempurna darinya? Kenapa harus cemburu pada pria yang bahkan tak bisa dibandingkan dengan dirinya?


"Sayang, kita kan gak bisa mengendalikan perasaan kita"


"Hahaha, aku jadi penasaran, cowok seperti apa yang bisa buat kamu cemburu?"


"Semua cowok, Bani bilang kamu gampang banget jatuh cinta. Terus ada banyak cowok yang berusaha rebut kamu dari aku"


"Itu memang benar, jadi kamu harus satu langkah di depan biar aku gak berpaling"

__ADS_1


Plakkk ....


Arfi menepuk jidat istrinya, ucapan konyol apa yang di utarakan Alvi. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran sang istri.


__ADS_2