
Alvi mengerutkan dahinya, ia melihat pesan masuk dari nomor lain. Ambar benar-benar memiliki tekat untuk mendapatkan Arfi. Pantas saja Arfi membiarkan pesan Ambar masuk dan tak memedulikannya.
"Assalamualaikum Alvi"
"Hm..."
"Jawab salam itu wajib, dosa loh ya"
"Waalaikumsalam Mas Arfiii"
Arfi mengganti pakaiannya dan duduk disamping Alvi. Memandangi istrinya yang masih fokus bermain ponsel. Ketika Alvi tersadar, ia menaruh ponselnya dan berbalik memandangi Arfi. Keduanya saling berpandangan dan tanpa sadar tersenyum lebar.
"Mas Arfi, makasih ya, udah buat aku gak galau"
"Kalau kamu galau, itu namanya bodoh. Dia cowok brengsek kan hahaha"
"Hahahaha iya, aku melepas sampah terus dapat berlian deh. Kenapa Mas Arfi suka aku? Aku bukan cewek suci, Mas Arfi gak tau semua tentang aku"
"Kau benar, aku tidak tahu tentangmu. Tapi kenyataannya aku mencintaimu"
Deg...
Pernyataan itu membuat Alvi terdiam tak berkutik. Jantungnya kembali berdebar kencang dan napasnya naik turun tak karuan sebab gugup. Benar, siapa yang tak jatuh cinta pada sosok Arfi? Kini Alvi tahu jika suaminya memiliki banyak hal yang patut untuk di cintai.
"Dih, kenapa kamu?"
"Apa sih Mas, aku gak apa-apa kok. Makan yuk, laperr"
"Iya sayang"
"Ih ew"
"Tadi katanya boleh"
Alvi tertawa kecil dan bergidik ngeri mendengar perkataan Arfi. Ia lebih dulu melesat keluar kamar dan menuju meja makan. Semua orang sudah berkumpul disana, Tuan Salim, Pak Kyai, juga keluarga Arfi turut ikut bergabung.
"Kak Alvi, Kak Alvi, aku boleh naik motor Kakak gak?" Tanya Arka.
Arka adalah adik Arfi yang masih duduk di bangku kelas dua SMP.
"Boleh dong, ntar Kakak ajak muter-muter ya"
__ADS_1
"Jangan Vi, kalian harus istirahat untuk acara nanti malam" sela Maya.
"Gak apa-apa Bund, keliling kompleks aja. Lagian aku juga bosen di dalam rumah terus. Boleh kan Mas?"
Arfi mengangguk. Tuan Salim dan Pak Kyai menggoda Alvi yang kini terlihat begitu dekat dengan sang suami. Alvi hanya bisa menatap kedua Kakek itu dengan kesal. Andai saja Kakek Alvi yang lain masih hidup, pasti beliau akan memarahi Tuan Salim dan Pak Kyai.
Karena tak ingin terus menjadi bahan candaan. Alvi menyelesaikan makanannya dengan cepat dan dalam diam. Selesai makan, ia membawa piringnya ke dapur untuk diberikan pada Bibi.
"Apa Alvi baik-baik saja? Kenapa dia membawa piringnya ke dapur?" Tanya Tuan Salim keheranan.
"Ini karena kau terus mengejeknya. Aku harap dia baik-baik saja" timpal Pak Kyai.
"Pak Kyai, apa dia ketempelan sesuatu? Atau ada yang merasuki dirinya?" Sahut Ardi tak kalah heran.
Bani dan Oddy menertawakan perbincangan konyol itu. Karena mereka tahu apa yang menyebabkan Alvi bertindak baik.
"Kalian memberi sesuatu pada cucuku ya?" Ucap Tuan Salim seraya menatap Bani dan Oddy.
"Tidak, bukan kami tapi Arfi" jawab Bani cengengesan.
"Arka, ayo. Udah selesai makan belum?" Ajak Arfi yang turun sambil membawa kunci motornya.
Setelah Arka naik di boncengan nya, Alvi meminta Arka untuk pegangan yang erat. Awalnya mereka terlihat perlahan masuk kedalam kompleks. Lalu berputar setelah lumayan jauh, saat sampai di depan rumah Tuan Salim, ia menambah kecepatan dan melesat keluar kompleks. Bani, Oddy dan Arfi yang melihat saling menatap bingung.
Setelah beberapa saat, para lelaki itu tersadar. Mereka segera mengambil mobil untuk mengejar Alvi.
Gadis nakal itu masih saja berbuat nakal dihari pentingnya. Karena tak ingin terkena marah okeh para orangtua, ketiga lelaki itu menyembunyikan hal tersebut.
Alvi tertawa lebar melajukan motornya menyusuri jalanan. Ia sangat merindukan hak ini, sebab sudah lebih dari tiga hari tak bisa keluar rumah karena alasan dipingit. Arka juga tampak asik menikmati perjalanan bersama Kakak iparnya.
Cukup lama Alvi melajukan motornya, ia memutuskan untuk berbelok ke salah satu kafe remaja yang ada di dekat sekolah Arka.
"Kak Alvi keren banget, kayak pembalap" puji Arka dengan senyuman lebar.
"Arka?" Panggil seseorang.
Sebab merasa namanya dipanggil, Arka tentu menoleh ke asal suara. Ada tiga teman sekelasnya disana. Mereka terlihat seperti tengah reuni kecil-kecilan. Arka menyombongkan diri menaiki motor sport milik Kakak iparnya, sedangkan para temannya ikut terkesan mendengar cerita itu.
"Masuk yuk, Kakak traktir" tawar Alvi.
"Serius boleh Kak?"
__ADS_1
"Wah, Kakaknya Arka baik ya, cantik lagi"
"Makasih ya Kak Alvi" ucap Alvi seraya memeluk Alvi.
Mereka jalan lebih dulu memasuki kafe. Sedang Alvi menghubungi suami dan Kakaknya agar mereka tak terlalu khawatir. Ia pun pergi masuk kedalam kafe dan memesan beberapa camilan juga minuman. Alvi tampak senang melihat adik-adiknya yang berbincang dengan sangat seru.
"Alvi, hai" sapa seorang pemuda.
"Hm .... loe ..." ucapan Alvi terhenti, sebab dirinya berusaha mengingat siapa pemuda dihadapannya ini.
"Gue Brian, masih belum ingat nama gue ya? Hahaha, loe ngapain disini? Ini adik-adik loe?"
"Aaahh, iya adik-adik gue. Biasa mereka mau jajan"
"Gue gabung boleh gak?"
Mendengar pertanyaan Brian, Arka dan teman-temannya menyetujui. Sedangkan Alvi tampak tak nyaman karena hal ini. Walau tak hanya berdua, tetap saja, Alvi adalah istri seseorang sekarang. Ia mencoba menyikut Arka, tapi pemuda itu malah tak menghiraukan dirinya.
Sebab terlanjur Brian ikut bergabung, Alvi hanya menjawab pertanyaan Brian dengan singkat dan jelas. Ia tak ingin berbasa-basi, tapi Brian tak kunjung mengerti. Brian malah terus mengajak Alvi berbincang.
Beberapa menit berlalu, rasa canggung Alvi entah mengapa perlahan menghilang. Ia mulai menikmati berbincang bersama dengan Brian yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Kini mereka malah asik tertawa dan bercanda dengan berbagai topik pembicaraan.
"Sayang, hei, nakal banget sih gak bilang aku kalau mau kesini?" Oceh Arfi seraya mengelus rambut istrinya.
"Loh, sayang? Kak Arfi kan Kakaknya Arka juga" sela salah seorang teman Arka.
"Sebenarnya Kak Alvi itu Kakak ipar gue, dia istri Kak Arfi" jawab Arka menjelaskan.
Brian tiba-tiba saja tersedak, jelas terlihat raut wajah terkejutnya. Perasaan Brian sangat hancur, ia bahkan gugup dan salah tingkah tak tahu harus bagaimana.
"Vi, gue balik dulu ya, lupa kalau ada urusan. Lain kalau ketemu lagi ya" ucap Brian kemudian berlalu pergi.
"Yah kok pergi? Kalian belum kenalan kan? Ternyata Brian anaknya asik loh Mas, aku suka bicara sama dia"
"Benarkah? Lain waktu kalian bisa berbincang lagi, sekarang kita pulang ya. Kakek akan marah jika tahu kau ada disini"
"Tapi Mas, aku lagi traktir adik-adik"
"Gue yang urus, kalian pulang aja bareng Bani tuh. Sana buruan, mau ke makam Tante kan?" saran Oddy.
Alvi mengangguk, ia kemudian berlalu pergi bersama Bani dan Arfi. Sedangkan Oddy dan Arka masih menghabiskan waktu di kafe bersama teman-teman Arka.
__ADS_1