Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 22


__ADS_3

Arfi kembali masuk kedalam kamarnya, ia mendapati sang istri yang tengah duduk diatas kasur sambil mengucek mata.


"Pagi cantik"


"Ciuuum" rengek Alvi seraya merentangkan tangannya ingin dipeluk.


Gadis manja yang Arfi sukai. Arfi memeluk istrinya dan memberikan kecupan selamat pagi di kening, kedua pipi, hidung dan berakhir di bibir.


"Mas, diluar ada apa kok ramai?"


Dia sudah kembali ya, sepertinya dia lupa apa yang terjadi, batin Arfi.


"Kerja bakti. Kamu istirahat aja disini, aku temenin kamu ya"


"Aku juga mau ikut kerja bakti, ayo Mas"


Arfi mencegahnya, ia tak mau jika istrinya kelelahan lagi dan jatuh sakit. Namun Alvi berusaha meyakinkan suaminya jika dirinya baik-baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan. Sebab tak ingin melihat Alvi sedih, Arfi menuruti permintaannya. Namun dengan catatan, Alvi hanya boleh melihat dari pos ronda.


Setelah Arfi setuju, ia menggendong istrinya keluar rumah. Ia dudukkan di pos ronda agar bisa melihat semua orang yang tengah kerja bakti. Tak lupa ia balutkan sarung pada tubuh Alvi agar tak kedinginan.


Usai memastikan Alvi aman, Arfi melanjutkan pekerjaannya menyapu jalanan. Arka dan teman-temannya terlihat asik membersihkan daun kering sambil bercanda. Alvi tak pernah melihat ini selain di sekolah. Sebab kompleks rumahnya selalu bersih dan jarang ada orang yang berlalu lalang.


"Ayaaah, aku mau pisang" teriak Alvi langsung melesat menghampiri Hasyim yang baru saja dari kebun pisang miliknya. Beliau membawa tiga tandan pisang dibantu oleh warga lainnya.


Arfi kembali menjatuhkan sapunya dan mengejar Alvi. Padahal ia sudah bilang untuk tidak kemana-mana, tapi gadis itu malah berlari kencang seolah tengah mengikuti lomba lari.


"Sudah sembuh Vi? Coba Ayah cek" Tanya Hasyim sembari memeriksa suhu tubuh menantunya. Beliau mengangguk dan mengacak pelan rambut Alvi.


"Ayah aku mau pisang satu sisir"


"Eh? Buat apa?"


"Alvi suka pisang Yah, kenceng banget lari kamu. Capek aku ngejarnya"


Alvi tertawa cengengesan, ia sudah mengulurkan tangannya menunjuk pisang berwarna kuning yang besar dan cantik. Hasyim hanya bisa tertawa dan memberikan apa yang menantunya inginkan.

__ADS_1


"Itu untuk pengajian, dasar nakal" ujar Tuan Salim seraya mencubit pipi cucunya gemas. Beliau baru saja tiba dengan mobilnya membeli beberapa kebutuhan.


Tuan Salim memberikan satu kotak susu pisang kesukaan cucu perempuannya. Beliau juga membawa hadiah yang akan sangat membantu Alvi nantinya, Bani. Pemuda yang akan menjadi pelayan Alvi hari ini. Bani akan melakukan apapun yang diminta oleh adiknya sesuai perintah Tuan Salim.


"Gak mau ah, Kakek bawa aja dia, suruh bersih-bersih di pesantren. Ayo Mas kita pergi, daaahhh"


Setelah Alvi dan Arfi menjauh, Pak RT yang ikut membantu membawa pisang bertanya pada Tuan Salim. Hubungan apa yang beliau miliki dengan Alvi. Hasyim tersenyum, ia menjelaskan jika Alvi menantunya adalah cucu Tuan Salim.


Seketika pula Pak RT terbelalak lebar, menganga tak percaya. Ia mulai teringat sikap kasarnya dan sang istri pada Alvi kemarin. Tuan Salim pun berpamitan pergi seraya mengajak Bani bersamanya untuk pergi menuju pesantren.


Disisi lain, Alvi kembali ke pos ronda dengan hati riang. Ia mulai memakan pisangnya sambil terus memperhatikan Arfi yang tengah menyapu jalanan. Semua warga tampak sibuk bekerja, bahan para gadis disana masih saja terlihat mencuri pandang pada Arfi.


Terutama Aisya dan kawan-kawan, mereka bahkan menatap Alvi dengan sinis. Sayangnya Alvi sudah biasa, ia tak peduli walau ada orang yang menatapnya dengan pikiran jahat. Alvi tentu akan melawan bagaimana pun caranya.


Di sela kegiatan kerja bakti, para warna sejenak beristirahat dan menikmati gorengan dan es buah yang dikirim oleh para Ibu-ibu. Maya juga membawakan makanan khusus untuk menantunya. Ia berikan bubur abalon dan susu hangat untuk Alvi.


"Bunda, ini untukku?"


"Iya, kau harus makan yang banyak. Lihat kau sangat kurus, Bunda ingin selalu mencubit pipimu"


"Aku gak ngomel Bund, aku cuma bilang kalau dia berat"


"Tuh kan, nyebeliiiin, cowok nyebelin"


Maya menjewer telinga Arfi, ia meminta putranya agar tak mengganggu menantunya lagi. Beliau pun pergi kembali ke pesantren bersama dengan ibu-ibu lainnya.


Alvi menyuapi Arfi bubur abalon itu, ia jadi rindu sang Mama. Sebab dulu Levia selalu membuatkan bubur abalon saat ada yang sakit dirumah. Arfi bisa melihat jika istrinya merindukan sang Mama, karena raut wajah Alvi selalu terlihat sama.


"Adik, sini" panggil Alvi pada seorang anak kecil yang melintasi mereka.


Anak laki-laki itu terlihat bingung dan ragu saat hendak mendekat. Ia menatap sekitar dan ingin melanjutkan jalannya, namun Alvi malah menghampirinya.


Alvi membawa anak laki-laki itu dan memberinya beberapa makanan. Termasuk susu pisang yang Tuan Salim berikan.


"Kamu lucu ya, kamu mau pergi kemana?"

__ADS_1


"Ibu, Ibu, Ibu" ucapnya berulang kali. Siapapun yang melihat akan tahu jika anak kecil itu memiliki kekurangan. Bahkan air liurnya terus menetes di pakaiannya. Beberapa warga tampak acuh dan tak peduli, bahkan ada yang menatapnya jijik. Tapi tidak dengan Alvi yang memang sudah terbiasa bertemu dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus.


Alvi meminta anak laki-laki itu untuk menunggunya, ia berlari masuk kedalam rumah dan mengambil sapu tangan. Ia ikatkan saputangan di leher bocah kecil itu. Terlihat sangat indah dan modis.


"Nih cewek emang ya, tuh saputangan mahal masih aja di kasih ke orang. Loe emang anak sultan" seru Rama seraya mengacungkan kedua jempol nya.


"Alvi, aku akan ambilkan sapu tangan lain"


"Kenapa Mas? Biarkan saja, sapu tangan itu sama saja. Pria bodoh itu yang berlebihan" celoteh Alvi sembari menatap Rama dengan mata melotot.


"Terimakasih, Kakak, aku pergi dulu ya" ucap anak lelaki itu kemudian pergi menjauh meninggalkan pos ronda.


Setelah anak itu pergi cukup jauh, Arka dan teman-temannya mengerubungi Alvi. Arka menarik tangan Alvi dan mencucinya dengan berbagai hal, air, sabun, pasir dan apapun yang ada disana. Hal itu tentu membuat Alvi keheranan, ia tak mengerti dengan semuanya.


"Kak Alvi jangan dekat-dekat dia. Orang-orang bilang dia anak pembawa sial"


Alvi menatap Arka, sedih rasanya anak sekecil itu bisa berbicara hal yang menyakitkan.


"Arka, tidak ada anak pembawa sial. Itu hanya karangan orang-orang, semua anak adalah keberuntungan untuk keluarganya"


"Iya loe ngomong gitu kan karena gak tau ceritanya" sela salah seorang teman Aisya.


"Lagian anak sultan kayak loe tau apa sih? Pasti hidup foya foya dan suka ngedeketin cowok semaunya. Segala pacar orang lah direbut, dih.." perkataan salah seorang wanita itu terhenti kala Aisya mencoba menengahi.


Aisya mencoba membela Alvi dan memarahi temannya agar tak berpikir sembarangan. Ia juga setuju dengan apa yang Alvi katakan mengenai seorang anak.


"Yah gimana ya, anak sultan kayak gue tuh.. hm... levelnya terlalu tinggi buat gaul sama kalian"


"Alvi cukup, kau tidak punya hak merendahkan orang lain. Walau kami tidak memiliki banyak uang seperti mu, tapi kami masih punya sopan santun" teriak Aisya.


"Hahahah, merendahkan? Kalian meremehkan aku lebih dulu. Apa bedanya aku dan kalian? Kita sama, hanya pola pemikiran kalian yang membedakan antara aku dan kalian"


Aisya dan teman-temannya bungkam saling memandang. Mereka tak tahu harus menjawab apa sebab perkataan Alvi memanglah benar.


"Sayang sudah jangan bertengkar. Nanti kamu sakit lagi, sini duduk aku pijitin" sela Arfi mengakhiri perdebatan konyol yang membuat suasana menjadi canggung.

__ADS_1


__ADS_2