
Ardi bergabung dengan para anak-anak nya. Ia tampak gusar menerima telepon yang terus saja masuk ke ponselnya. Ingin sekali Ardi mematikan ponsel di hari bahagia ini.
"Kalian berdua, jangan punya anak cepat-cepat ya. Repot loh ngurus anak" celetuk Ardi dengan santainya.
"Massa sih Pa? Kan bahagia punya anak cantik kayak akuuu"
"Hm... anak Papa ini emang cantik banget. Papa serius nih ya, punya anaknya ntar-ntar aja. Tapi kalau kebobolan ya Alhamdulillah aja deh punya cucu" ujar Ardi seraya mencubit pipi Alvi.
"Kebobolan? Apa sih bahasanya Papa aneh, kayak main bola aja kebobolan"
"Fi, ajarin putriku ya, aku sudah lelah mengurusnya. Papa pergi dulu" kata Ardi kemudian pergi keluar rumah sebab teleponnya terus saja berdering.
Alvi menoleh ke arah Arfi, menatapnya dengan senyuman lebar. Sama seperti Ardi, ponsel Alvi juga terus berdering. Banyak sekali pesan masuk disana, hingga membuat Arfi penasaran. Tapi sebelum Arfi sempat bertanya, Alvi lebih dulu bangkit dari duduknya dan hendak pergi ke kamar.
"Bibi, piringnya di meja, aku sudah selesai makan" teriak Alvi.
Bibi yang ada di dapur menyahut dan mengiyakan panggilan itu. Tapi Arfi menahan tangan istrinya yang he dak pergi. Ia meminta Alvi untuk membawa alat makanannya kebelakang. Walau Alvi sudah menjelaskan jika Bibi akan mengambilnya, Arfi tetap tak mau mengerti.
"Sekalian, kamu mau ke kamar kan? Kasihkan Bibi sana"
Alvi menatap mata Arfi, untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani memerintah nya seperti ini. Tapi entah dorongan dari mana, Alvi mengangguk dan membawa alat makannya ke dapur. Bibi bahkan sampai heran melihat kejadian itu, begitu juga dengan Bani dan Oddy.
Sebelum Alvi naik ke kamarnya, ia sejenak menoleh ke arah Arfi yang kembali berbincang dengan kedua Kakaknya. Ada perasaan aneh yang Alvi rasakan kala menatap mata Arfi. Perasaan yang membuat jantung nya berdetak kencang, tapi Alvi tak menyadari tanda-tanda itu.
Karena tak suka berpikir yang rumit, Alvi kembali masuk ke kamarnya. Berbaring sambil memainkan ponselnya. Ia mengecek sosmednya, dan mendapati Arfi yang ternyata juga mengikuti sosmed Alvi. Tak lama ada panggilan masuk dari Vita dan Tasya, mereka bertiga pun melakukan video call.
Rupanya kedua teman Alvi tengah bingung memilih pakaian apa yang akan mereka pakai nanti di acara resepsi Alvi. Alvi hanya mengundang beberapa teman terdekatnya saja, ia tak ingin mengundang seseorang yang bahkan tak pernah berbicara dengannya.
Vita : "Vi, kenapa gak jadi ikut sih? Gak boleh suami loe ya?"
Alvi : "Gue ikut survei bareng Kakak"
Tasya : "Ooh, kirain suami loe ngelarang, gak banget deh. Oh iya, mana lihat foto suami loe, gak ada foto akad kalian ya?"
Vita : "Ahaha seganteng apa sih kok di sembunyiin. Paling juga ganteng Kak Arfi"
Tasya : "Iya, Kak Arfi mah bikin hati gue meleleh. Beruntung banget kita bisa lihat dia seminggu yang lalu, makin ganteng aja"
Vita : "Loe lihat gak? Badannya Kak Arfi makin oke aja, jadi pingin lihat dalemnya, pasti kayak Oppa"
Tasya : "Ah loe mah mancing-mancing. Gue juga pingin sih. Vi, loe kok diem aja sih? Masih gak suka sama Kak Arfi? Padahal dia ganteng bingits say"
Alvi hanya tersenyum kecil, ia berpamitan menutup telepon dengan alasan sang suami memanggil. Ia berjanji akan menelepon lagi setelah urusannya selesai, Vita dan Tasya hanya bisa menyetujui permintaan itu. Sebab Alvi kini sudah menjadi milik orang lain.
Gadis itu berlari turun menghampiri Alvi yang tengah bermain catur dengan Ardi.
__ADS_1
"Mas Arfii"
"Ada apa?"
"Pinjem hp nya dong"
Tanpa basa-basi, Arfi memberikannya pada Alvi. Gadis itu naik lagi ke kamarnya, beberapa menit kemudian ia turun kembali.
"Mas Arfi"
"Iya"
"Pinjem sosmed boleh?"
"Boleh, pakai aja"
Alvi kembali ke kamarnya, beberapa menit kemudian ia turun kembali.
"Mas Arfi"
"Alvi, bisa langsung gak ngomongnya? Papa gak bisa konsentrasi ini" sela Ardi yang kesal karena hampir kalah.
"Ada apa Vi?"
"Aah Papa sih, aku jadi lupa kan"
Benar saja, setelah ia mengirim pesan itu, Vita dan Tasya begitu heboh di grup mereka. Saling mengirim screenshot satu sama lain, bukti jika Arfi mengirim pesan pada mereka. Alvi juga ikut bergabung, tapi ia mengatakan tak mendapat pesan apapun dari Arfi. Keduanya saling berdebat dan berpikir mungkin Arfi memiliki perasaan pada mereka.
Di tengah-tengah candaan itu, Alvi juga melihat beberapa pesan masuk di ponsel suaminya. Ada banyak sekali chat masuk dari cewek lain. Bahkan ada yang beberapa kali menelepon Arfi. Entah kenapa rasanya menyebalkan melihat banyak pesan masuk dari wanita di ponsel suaminya.
Ceklek....
Pintu kamar Alvi terbuka, Arfi masuk dan langsung mengunci pintunya. Ia langsung saja melepas pakaiannya dan duduk di samping Alvi yang memandangi dirinya.
Bener kata Vita dan Tasya, si Arfi kenapa kelihatan seksi gini sih, batin Alvi.
"Ada apa? Gak pernah lihat cowok ganteng?"
"Um.. nih ada banyak chat dari cewek, terus ada yang telepon juga tuh"
"Kok jutek gitu? Cemburu ya"
"Dih, ngaco banget kamu. Ngapain juga aku cemburu, gak penting. Terus kamu kenapa buka baju gitu?"
"Mau ganti baju, mau sholat dhuhur. Yuk ikut Vi"
__ADS_1
"Gak mau"
Arfi hanya terkekeh, ia membaringkan kepalanya di pangkuan Alvi. Sembari mengecek pesan masuk yang ada di ponselnya. Para wanita ini terus saja menghubungi dirinya, padahal Arfi sangat acuh dan mengabaikan pesan mereka. Arfi hanya akan membalas jika pesan itu benar-benar penting, bukan hanya sekadar basa-basi.
"Vi"
"Hm .... berat tau, sana ah"
"Vi"
"Apa sih Mas? Diem lagi aku pukul nih ya"
Arfi terkekeh melihat istrinya merasa kesal. Ia mengulurkan tangannya seraya menatap ponsel Alvi. Gadis itu menggeleng, ia mendorong Arfi dari pangkuannya dan langsung merebahkan diri di kasur.
Arfi tak habis akal, ia membaringkan diri di samping Alvi agar bisa melihat isi ponsel istrinya.
"Cowok semua ya yang chat"
"Kan teman-teman ku kebanyakan cowok. Asik tau, balapan, tinju, anggar, daripada cewek mah dandan mulu gak asik"
"Oh gitu. Hm ..... teman kamu, Ambar, dia yang rebut pacar kamu ya?"
"Mantan Mas, mantan teman, mantan pacar. Kenapa Mas tiba-tiba bahas mereka?"
Alvi memberikan ponselnya pada Arfi, sembari menatap mata suaminya sekali lagi. Ah, perasaan itu datang lagi, Alvi masih tak bisa mengartikannya.
Arfi membuka ponselnya, mencari pesan dari seseorang yang sangat mengusik dirinya. Ia meminta Alvi untuk membuka room chat itu, tak tertera sebuah nama di sana. Tapi foto profil itu, Alvi sangat mengenal wajahnya. Ia membuka begitu banyak pesan masuk dari Ambar di ponsel Arfi. Ada banyak pesan dan beberapa foto juga video.
Mata Alvi terbelalak lebar kala melihat sebuah foto yang benar-benar membuatnya merasa jijik. Entah bagaimana mungkin Alvi bisa berteman dengan perempuan seperti Ambar ini. Ia mengirimkan banyak foto seksi pada Arfi, juga video yang tak jelas. Bahkan baru saja ada kiriman foto lagi, mungkin Ambar tau jika Arfi membuka room chat dengannya.
"Wahh, Mas Arfi suka yang beginian?" Goda Alvi sambil Cikikikan.
Alvi menyarankan untuk memblokir nomor Ambar. Tapi Arfi sudah melakukannya, dan Ambar terus saja berganti nomor. Sebegitu terobsesinya Ambar pada Arfi, mengejutkan, padahal kini Ambar sudah bersama mantan kekasih Alvi.
"Mas, malam itu, aku lihat mereka lagi gituan di kamar hotel. Aku bodoh ya Mas, padahal Kakek udah bilang kalau dia bukan pria yang baik" curhat Alvi sedih.
"Lupakan, sekarang pria terbaik adalah milikmu"
"Ahahah, Mas Arfi kenapa sih percaya dirinya tingkat tinggi tau gak?"
"Karena aku tidak tau bagaimana cara membuat mu tertawa. Aku panggil sayang boleh gak Vi?"
"Terserah kamu, kamu mah bucin, ew. Mas, kita ke makam Mama yuk, kangen Mama"
"Iya nanti sore ya, aku mau ke Masjid dulu. Jangan kangen ya" ujar Arfi yang pergi setelah mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Alvi membuat gestur ingin muntah, ia melanjutkan menjahili Vita dan Tasya. Ia juga tak lupa memblokir nomor Ambar dari ponsel Arfi.