
Di rumah Tuan Salim...
Alvi dan Arfi masuk ke kamar mereka. Karena hari sudah sore, mereka bergegas mandi sebab akan pergi ke makam Mama Alvi.
"Vi, mandi bareng ya"
"Apa? Gila kamu Mas"
"Kenapa? Aku kan suamimu, ayo sayang"
"Hahaha, ogah banget. Aaaaaaaaa" teriak Alvi langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia segera mengunci pintu kamar mandi, membiarkan Arfi yang terus menggedor pintunya.
"Aku suamimu Vi, buka dong sayang"
"Mas Arfi ngapain sih? Salah makan ya? Gak mau Mas, aku gak mau"
"Kamu malu ya? Gak apa-apa, aku gak akan komentar kok"
"Aahhhh, Mas Arfi mesum"
Setelah itu tak terdengar lagi ketukan pintu maupun teriakan dari Arfi. Alvi bergegas menyelesaikan mandinya dan langsung berganti pakaian. Lalu ia turun ke ruang tamu, menghampiri sang Papa yang tengah berkutik dengan leptopnya. Gadis itu langsung saja tidur di pangkuan Ardi, mengganggu pekerjaan Ardi disana.
"Anak nakal" gumam Ardi seraya mencubit pipi putrinya.
"Pa, apa pernikahan tanpa cinta itu akan berjalan dengan baik?"
"Tanpa cinta? Apa maksudmu? Kau lupa, dulu hanya Papa yang mencintai Mamamu, tapi seiring berjalannya waktu, Mamamu lebih mencintai Papa daripada rasa cinta Papa padanya"
Ah, Alvi kembali teringat cerita masalalu kedua orangtuanya. Papa dan Mama Alvi dulu tak saling mencintai. Hanya Ardi yang begitu jatuh cinta pada sosok wanita Solehah, yaitu Mama Alvi. Mereka di pertemukan secara tak sengaja di acara pengajian yang diadakan oleh Pak Kyai di pondok pesantrennya.
Darisanalah, Papa Alvi mulai merasakan debar jantung yang kencang kala menatap Mama Alvi yang tengah berjalan seorang diri dari kamar mandi. Beliau yang memang nakal dan begitu percaya diri seperti Alvi, langsung saja menghampiri Mama Alvi dan menanyakan nama juga nomor teleponnya.
Tapi Mama Alvi bukanlah wanita yang membuka diri pada orang lain, terlebih jika itu seorang pria. Beliau bahkan tak menatap Papa Arfi sama sekali, hanya tertunduk dan berlalu pergi. Selepas pertemuan itu, Ardi berusaha keras mencari siapa wanita yang sukses mencuri hatinya. Kesana kemari ia mencari sang wanita, hingga Pak Kyai kembali mempertemukan Ardi pada Mama Alvi.
Pertemuan tak sengaja itu sekali lagi membuat Ardi timbul harapan. Di depan Pak Kyai, ia menyatakan cintanya pada Mama Alvi. Tanpa basa-basi, Pak Kyai memukulnya dengan sorban. Bisa-bisanya brandal seperti Ardi berani menyatakan cintanya pada wanita idaman para pria itu.
__ADS_1
Walau begitu, Ardi mendapatkan alamat rumah dan nama Mama Alvi, Levia. Setelah itu, Ardi terus saja mengikuti kemanapun Levia pergi. Ke tempat mengajar mengaji, ke kampus, ke Masjid, ia selalu ingin memastikan jika Levia baik-baik saja. Hingga hari itu pun tiba, hari dimana Levia mengajak Ardi berbicara untuk pertama kalinya.
"Berhenti mengganggu ku, aku terusik dengan kehadiranmu" ujar Levia.
"Oh Nona, akhirnya kau mengajakku berbicara. Aku ingin menjadi kekasihmu, itu saja, sungguh"
"Aku tidak mau, tolong menjauh"
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau menerimaku?"
"Datang pada Ayahku, dan minta aku untuk menjadi istrimu. Itu cara terbaik, sekarang pergilah dan jangan mengganggu ku lagi, kumohon" ucap Levia dalam kekesalan. Ia begitu terusik dengan kehadiran Ardi saat itu.
Selepas perbincangan singkat itu, Ardi tak lagi terlihat. Levia sedikit senang dan tenang, namun tak bisa ia pungkiri jika kehadiran Ardi mengisi waktunya beberapa hari terakhir. Ia mulai merasa bosan dan mencari sosok Ardi. Tapi ia tak senekat Ardi, Levia hanya menunggu dan berusaha melupakannya.
Hingga suatu saat, Ardi muncul di rumahnya. Ayah Levia memberikan sebuah Al-Qur'an untuk Ardi baca saat itu juga. Ardi yang memang terkenal nakal, tak bisa membacanya dengan benar. Bacaan nya masih tak fasih serta terputus.
"Nak Ardi, saya tak mencari menantu kaya dan tampan. Saya mencari menantu yang bisa bertanggungjawab dan membimbing putri tunggal saya"
"Baiklah Pak, saya pamit. Saya akan kembali lagi, Assalamualaikum"
Ayah Levia meminta putrinya untuk duduk di hadapannya. Beliau memperhatikan Levia dengan seksama. Sebagai seorang Ayah, beliau tau apa yang putrinya rasakan. Sebab sudah bertahun-tahun mereka hanya hidup berdua.
"Kau menyukai pemuda itu?"
"Maafkan aku Ayah"
"Tidak apa, harusnya Ayah tahu sejak awal. Tapi Levia, Ayah harus memastikan kau mendapatkan pemuda yang tepat. Kau percaya padanya?"
Tanpa sadar Levia mengangguk. Perasaan itu sudah mulai tumbuh, sejak Ardi terus hadir dalam hari-hari Levia. Gadis muda itu hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu.
Satu tahun berlalu sudah, kini Levia sudah lulus kuliah. Ia menjadi guru mengaji dan membuat usaha kecil-kecilan, pembuatan mukenah dan jilbab. Banyak sekali pemuda yang datang menemui Levia, tapi tak satupun dari mereka yang mampu menggoyahkan hati gadis itu.
Hingga suatu saat...
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Levia dengan ramah. Ia terdiam kala menatap pemuda yang sangat ia kenal wajahnya.
"Boleh saya bertemu dengan Ayahmu?"
"Mas Ardi? Silahkan masuk Mas, saya akan panggilkan Ayah" ucap Levia. Ia hendak masuk kedalam, namun Ardi memanggilnya.
"Nona Levia, kau masih mengingat namaku? Apa kau menungguku selama ini?"
Levia yang malau tak menjawab apapun, ia berlari masuk dan memanggil Ayahnya. Ayah Levia menatap Ardi dengan wajah datarnya. Tak ada basa-basi, beliau langsung membukakan Al-Qur'an dan meminta Ardi membacanya saat itu juga.
Kini, orang yang sama dengan keahlian yang berbeda. Suara merdu Ardi terdengar indah saat mengaji, bahkan tajwidnya pun membuat Ayah Levia tersenyum dengan lebar.
"Shadaqallahul-'adzim"
"Kau membuat putriku menunggu terlalu lama Nak Ardi" ucap Ayah Levia dengan senyuman megahnya. Ia memeluk Ardi dan menyambutnya dengan bangga.
"Maafkan saya Pak, saya butuh keberanian untuk datang kemari lagi"
"Baiklah, besok bawa orangtuamu kemari ya"
"Kenapa harus menunggu besok, aku sudah ada disini" ujar Tuan Salim.
"Salim? Dia putramu? Jadi Pak Kyai kita ini yang mengajarinya mengaji? Pantas saja tak mengecewakan" puji Ayah Levia seraya memeluk satu persatu sahabatnya.
Kejutan ini, tak pernah bisa Levia pahami. Jika saja Ardi mengatakan lebih cepat jika ia adalah putra Tuan Salim. Mungkin sang Ayah akan menerimanya tanpa harus menunggu selama itu.
Kisah itu selalu Levia ceritakan pada Alvi saat putrinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan kini, Alvi percaya jika cinta itu datang karena dua orang yang saling terbiasa menghabiskan waktu bersama.
"Papa, aku penasaran, kenapa Papa tidak mengatakan jika Papa anak Tuan Salim?"
"Karena Papa sangat mencintai Mamamu. Papa ingin Mama mu tahu jika Papa akan berjuang untuk mendapatkan nya"
"Aaaahhh, Papa so sweet banget sih. Aku sayang Papa"
"Papa juga sayang kamu. Tuh Arfi udah nungguin" ucap Ardi seraya menggerakkan dagunya ke arah depan.
__ADS_1