
Kini keduanya tengah berbaring saling berpandangan. Namun tangan nakal Arfi masih saja memainkan dada sang istri.
"Mas Arfi hebat banget sih mainnya"
"Kamu senang? Aku belajar dari internet, di suruh Bani dan Oddy. Aku jadi curiga sama mereka, kenapa bacaan nya kayak gitu"
"Ahahahaha, jangankan bacaan, tontonan nya aja gitu"
"Ntar aku belajar lagi ya, biar kamu makin gak bisa lupain aku"
Alvi menepis tangan suaminya, ia memeluk erat Arfi. Tidak perlu seperti itu, hanya dengan bersama Arfi menghabiskan waktu bersama, Alvi tak akan melupakannya begitu saja. Kenangan indah itu, apapun yang mereka berdua lakukan, akan menjadi kenangan.
"Mas, kalau lulus nanti, Mas Arfi mau kerja atau buka usaha sendiri? Aku gak apa-apa kok kalau mau hidup secukupnya"
"Mana mungkin kayak gitu sayang. Aku punya kafe, kamu belum tau ya? Kamu pikir aku mau nikahin kamu tanpa modal?"
Arfi menceritakan pada Alvi betapa gigihnya ia mendirikan kafe itu dari nol. Maya setiap hari mengomelinya, meminta Arfi untuk bekerja lebih keras jika ingin menikah dengan Alvi. Bukan karena maksud apapun, tetapi sebagai seorang suami, sudah sepantasnya Arfi membahagiakan sang istri. Tidak mungkin Arfi meminta Alvi dari keluarganya dan diajak hidup susah, Maya sangat tak menyetujui hal itu.
"Kafe? Dimana? Kok aku gatau sih Mas?"
"A'Cafe, dekat kampusku. Itu juga aku dapat pinjaman modal dari Kakek, tapi sudah aku kembalikan kok. Sebulan sebelum kita nikah, aku buka cabang baru di dekat kampus kamu. Area kampus, sekolah, itu benar-benar menjanjikan"
"Itu punya Mas Arfi? Aku dulu sering banget kesana, kencan, nongkrong, asik banget tempatnya. Anak muda banget"
"Aku sering lihat kamu sama mantanmu. Cemburu aku lihatnya"
Alvi menatap suaminya sedih, ia tak tahu semua itu. Namun Arfi malah menggelitik istrinya agar tak memikirkan masalalu. Lagi pula kini mereka adalah sepasang suami istri.
Arfi memandangi mata istrinya yang hampir terpejam. Secepat kilat ia menggendong Alvi, menyelimuti tubuh mereka dengan selimut kemudian berlari ke kamar mandi. Untung saja rumah sedang tak ada orang selain mereka berdua. Ia mandikan istrinya agar mereka bisa melaksanakan sholat dhuhur berdua.
"Sialan kamu Mas" sentak Alvi kesal.
"Hahahah, kasar ya. Gak boleh ngomong kasar ke suami, gak baik"
Alvi menjulurkan lidahnya kesal. Ia bergegas mandi, membalut tubuhnya dengan handuk kemudian berlari menuju kamar. Arfi mengikuti nya di belakang, hampir saja Hasyim melihat semuanya. Untungnya beliau masuk kedalam rumah ketika Arfi menutup pintu kamar.
Mereka bergegas memakai pakaian dan bersikap seolah tak ada hal yang terjadi. Arfi juga mengembalikan handuknya ke kamar mandi sambil berbincang sesaat bersama sang Ayah yang kembali pergi keluar rumah.
Tak lama adzan dhuhur berkumandang. Arfi menyiapkan tempat untuk ia dan istrinya menunaikan sholat. Lagi-lagi Alvi mengeluh capek dan tak mau menuruti perkataan suaminya. Tapi Arfi tak lagi luluh, ia mengambil penggaris panjang dan menatap Alvi dengan garang. Gadis itu menggulingkan tubuhnya ke tepi tempat tidur dan bergegas memakai mukenah.
Mereka akhirnya melaksanakan sholat dengan Arfi sebagai imamnya. Selesai sholat, Arfi membaringkan tubuhnya di pangkuan sang istri. Mencium tangan Alvi berkali-kali, ia senang bisa melihat istrinya memakai hijab, cantik dan manis.
__ADS_1
Grrrooorr...
Suara perut Arfi berbunyi begitu nyaring, Alvi sampai heran dibuatnya. Padahal pemuda itu sudah sarapan tapi siang hari membuatnya lapar kembali.
"Tadi kan udah makan masakan cewek kamu itu"
"Hahaha, cantiknya aku masih aja cemburu. Masakan dia gak enak tau, Arka aja sampai mau muntah"
"Terus kenapa makan?"
"Ya gimana dong, udah dikasih. Lagian, aku gak mau kalau kamu sampai makan itu, makanya aku sama Arka yang habisin"
"Emangnya dia masak apa?"
"Nasi goreng"
Alvi membangunkan suaminya, ia melepas mukenah dan melipatnya kemudian pergi keluar kamar. Ia menuju dapur dan melihat apa saja yang ada disana. Nasi, sayuran, sosis dan telur, itu cukup untuk membuat nasi goreng.
Arfi datang dan langsung memeluk istrinya dari belakang. Ia bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan sang istri. Lagipula, Arfi sebenarnya masih tak yakin jika istrinya bisa memasak.
"Duduk sana, aku masakin nasi goreng"
"Curang banget kamu ya, kalau sama aku ngomongnya frontal"
"Habisnya kalau kamu ngambek itu lucu banget, jadi makin sayang"
Arfi melangkah duduk di meja makan, ia kembali teringat masalalu. Ia ceritakan pada istrinya, betapa senangnya Arfi kala membuat Alvi marah saat itu. Ketika wajah jutek dan omelan panjang keluar bak kereta api yang melintas tanpa hambatan. Pemandangan yang paling Arfi sukai, ketika semua itu ada dihadapannya. Gadisnya memang sangat lucu dan menggemaskan.
Baru saja kenangan masalalu itu menghilang, Alvi sudah berada di depan Arfi dengan sepiring nasi goreng. Aroma masakan itu sungguh nikmat, Arfi lalu berdoa dan mulai menyantapnya. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan, ia tak bisa berhenti memakannya. Istrinya benar-benar bisa memasak, tentu tak bisa dibandingkan dengan masakan Aisya.
"Enak sayang, kamu bisa masak ya ternyata. Aku pikir bohong"
"Dasar cowok nyebelin. Mamaku itu Mama terbaik tau, dia mengajarkan aku semuanya. Walau aku sering nakal, aku mendengarkan ajaran Mama dengan baik"
"Sering-sering ya masakin aku. Udah cantik, baik, pinter masak, apalagi di atas ranjang, the best kamu"
"Ih Mas Arfi, mulutnya, kalau ada yang dengar gimana? Nakal banget"
Arfi tertawa dan terus melahap nasi gorengnya. Ia juga sesekali menyuapi Alvi yang menatapnya dengan senyuman.
Selepas makan, mereka mulai mengemasi pakaian. Mereka akan kembali sore ini, menyedihkan memang, tapi mereka harus kembali melakukan kegiatan mereka. Sambil menunggu semua orang kembali ke rumah, Arfi mengajak istrinya berkeliling kampung menggunakan sepeda. Melihat-lihat sawah yang luas dan pergi berkeliling kampung menyapa para tetangga.
__ADS_1
Ketika tengah asik jalan-jalan, terlihat Rama yang tengah berkumpul dengan para pemuda di pos ronda dekat pintu masuk kampung. Mereka sepertinya tengah membahas hal serius bersama dengan para pria disana. Bahkan Hasyim dan Pak RT juga terlihat ikut berkumpul.
"Assalamualaikum" ucap Arfi.
"Waalaikumsalam" jawab para warga bersamaan.
"Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul disini?"
"Fi, kalian darimana? Ini ada begal, anak-anak cewek jadi korban" jelas Hasyim.
"Begal? Siapa yang dibegal? Apa begalnya sudah tertangkap?"
"Kabur Fi, begal payu dara. Kemarin gue juga dengar dari warga kampung sebelah, eh sekarang kampung kita juga. Noh, anak-anak cewek pada ketakutan di rumah Pak RT" sahut Rama.
"Ha? Begal apa? Maksudnya gimana Mas?" Sela Alvi kebingungan. Ia tak pernah mendengar begal seperti itu, yang ia tau hanyalah begal motor.
"Begal itu memegang dada wanita tanpa ijin kemudian kabur" jawab Arif yang ikut bergabung.
"Apa? Itu namanya pelecahan. Jika dia berani menyentuh ku akan aku patahkan lehernya tanpa ampun"
Para pria disana menelan ludah mendengarkan penuturan Alvi yang terdengar amat sangat meyakinkan itu. Mereka meminta Alvi untuk menahan emosi sebab para warga pasti akan memperketat keamanan kampung.
Ditengah pembahasan mereka, mata Arif tak pernah lepas dari Alvi. Ia masih terus memandangi gadis itu walau beberapa warga memergoki kelakuannya. Sedangkan Alvi, ia mendengar pembicaraan para warga dengan seksama hingga tak menyadarinya.
Setelah pembahasan mereka usai, para warga berpamitan pergi. Sedangkan para pemuda tetap tinggal di pos ronda untuk sekadar nongkrong dan berbincang sambil memandangi setiap orang yang lalu lalang masuk ke area rumah mereka.
"Fi, dia ngelihatin..." belum sempat Rama selesai berbicara, Arfi mengangguk mengerti. Sebab Arfi juga melihat semuanya, Arif sepertinya masih tak rela melepaskan Alvi yang bukan siapa-siapanya.
"Bukan kalian kan pelakunya?" Tuduh Alvi menyelidiki.
Dengan cepat para pemuda itu menyangkalnya. Mereka tentu tak akan melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Habisnya wajah kalian juga kayak orang mesum sih" jelas Alvi sambil cengengesan.
"Waah nih cewek mulutnya"
"Kalau bukan istri Arfi, udah gue jorokin ke sawah"
"Kejam ya Nyonya Arfi"
"Sakit tapi tak berdarah"
__ADS_1