Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 43


__ADS_3

Semenjak di pecat dari kafe milik Arfi, ketiga remaja itu kembali pada aktivitas mereka sehari-hari. Menghabiskan waktu dengan banyak tugas menumpuk. Alvi bisa saja membuat mereka bekerja disalah satu usaha milik Tuan Salim, tapi kedua temannya tak ingin merepotkan Alvi lagi.


Selepas kuliah, Alvi berkumpul dengan para teman pria nya. Bersiap di basecamp mereka untuk balapan, beginilah cara Alvi mendapatkan banyak uang tanpa harus meminta ke keluarganya.


"Vi" sapa seorang lawan.


"Apa? Takut? Mundur gih!!"


"Loe udah nikah? Tuh cincin ditangan loe"


"Iya, kenapa emangnya?"


"Gue keduluan dong, gue pikir loe masih sama cowok brengsek itu"


Alvi tak peduli apapun yang dikatakan oleh pemuda itu. Ia berjalan menuju motornya dan bersiap untuk memulai balapan. Semua pembalap sudah bersiap di atas motor mereka masing-masing. Menunggu aba-aba dari pemandu acara yang sudah bersiap ditempatnya.


Sebelum memulai, pemandu acara balapan sekali lagi mengingatkan untuk memeriksa kelengkapan. Setelah semua beres, aba-aba penghitungan mulai terdengar.


Bbrruumm... Bbruumm...


"Satu, dua, tigaa...." bendera pun di jatuhkan sebagai awal mula balapan. Di arena balap yang luas itu, penonton mulai menggila menantikan siapa yang akan menjadi pemenang.


Terlihat begitu sengit saling salip menyalip di arena balap. Sorakan demi sorakan semakin menggila kala waktunya mendekati akhir perlombaan. Nama Alvi kian terdengar di sebut oleh banyak penonton. Hanya dalam hitungan detik, pemenang pun ditentukan, Alvi Ardi Salim.


Para lawannya hanya bisa mengeluh kesal, selalu saja gadis itu menang menjadi juara.


Alvi berjalan dengan ringan menghampiri teman-teman nya, ia merasa begitu senang bisa memenangkan perlombaan ini. Ia bertemu dengan panitia untuk membicarakan hadiah yang di dapat. Setelah cukup lama berbincang, akhirnya hadiah pun dikirim ke rekening Alvi, tiga puluh juta, itu tiga kali lipat dari biasanya.


"Vi, ada telepon nih, tapi gak ada namanya" teriak salah seorang teman Alvi.


Gadis itu berlari mendekat dan mengangkat teleponnya, "Halo, dengan siapa saya berbicara?"

__ADS_1


Hening sesaat, Alvi tengah mendengarkan lawan bicaranya menjelaskan panjang lebar. Keningnya berkerut, ada rasa gugup dalam dirinya dan juga khawatir akan sesuatu.


"Apa ini beneran ya? Atau scam? Dia bilang Arfi kecelakaan" jelas Alvi pada teman-teman nya.


"Coba loe telepon Kak Arfi" saran salah seorang teman Alvi.


"Gak diangkat"


"Telepon Kak Bani atau Oddy, siapapun yang loe kenal"


Cukup lama Alvi mencoba menelepon, namun tak ada satupun yang menjawabnya. Hati Alvi semakin tak tenang, ia pergi menuju motornya. Melaju menuju tempat yang tertera di pesan singkatnya. Tapi Alvi tak sendiri, semua temannya mengikuti dari belakang. Dengan kecepatan tinggi, Alvi melajukan motornya, meliuk-liuk dijalan raya dengan begitu lihai. Hingga teman-temannya tertinggal jauh, namun mereka masih bisa melihat Alvi di sana.


Teman-teman Alvi merasa aneh, jalanan yang mereka lewati sungguh asing. Semakin sepi diujung kota, tidak mungkin disini ada rumah sakit besar. Hanya tanah kosong yang terlihat di sekitar jalanan.


Bruuuaakkkk.....


"Alviiiiiiii" teriak para teman-teman Alvi. Ini adalah hal yang tak pernah mereka bayangkan. Mereka menjatuhkan motor mereka asal dan berlari sekencang mungkin menghampiri Alvi yang terpental bersama motornya. Sedangkan pengemudi truk itu melaju kencang pergi meninggalkan tempat kejadian.


Ini adalah tabrakan yang besar, mereka tahu benar ini di sengaja. Sebab ini pernah terjadi sebelumnya, kala Alvi duduk di bangku SMA. Ia selalu saja menjadi sasaran pesaing bisnis Tuan Salim maupun Ardi, tapi kali ini lebih ekstrim dan sudah melampaui batas.


Setelah ambulans datang, mereka mengikuti ambulans itu menuju rumah sakit. Sembari terus berdoa Alvi akan baik-baik saja. Air mata mereka bahkan mengalir melihat sahabat baiknya terkapar tak berdaya. Sesampainya dirumah sakit, Alvi segera di bawa keruang ICU. Sekali lagi teman-teman Alvi sibuk menghubungi semua kerabat Alvi.


Tuan Salim yang berada di luar kota segera mengambil penerbangan tercepat ke Surabaya. Begitu juga dengan Ardi yang masih berada di Jakarta langsung kembali ke Surabaya. Bani, Oddy, Arfi, mertua Alvi bahkan kedua orang tua Oddy pergi kerumah sakit secepat yang mereka bisa. Beberapa teman Alvi juga datang kesana hingga membuat rumah sakit di padati pengunjung.


"Alvi kenapa? Dika, Erik, Rian, Irfan, Denta!!" sentak Bani khawatir.


Kelima pemuda itu hanya diam memandangi ruang ICu dengan tangisnya. Mereka tak bisa berkata apapun dan hanya menunjukkan lima video yang terekam di kamera motor mereka. Seketika ketiga pemuda yang baru datang itu terduduk lemas tak berdaya. Arfi berlari untuk mengambil wudhu dan Al-Qur'an. Ia menggelar sajadah dan membacanya di depan ruang ICU, berharap Alvi akan mendengarnya. Air matanya juga mengalir deras.


Tak berselang lama, kedua orangtua Arfi dan Pak Kyai tiba. Pak Kyai meminta teman-teman Alvi untuk pulang agar tak memenuhi rumah sakit. Beliau mengatakan akan mengabari mereka semua jika Alvi telah sadar nanti.


Irfan dan Denta, membubarkan teman-teman Alvi. Sedangkan Erik, Dika dan Rian harus berhadapan dengan Pak Kyai.

__ADS_1


"Apa ini sama seperti dulu?" Tanya Pak Kyai tanpa basa-basi.


"Kami tidak tahu Pak, tadi Alvi dapat telepon katanya Kak Arfi kecelakaan. Dia sempat ragu, tapi akhirnya pergi ke alamat yang diberikan. Kami mengikutinya dan truk itu melaju sangat kencang ke arah Alvi. Sepertinya ini sama seperti dulu Pak" jelas Rian.


Pak Kyai mengangguk, beliau meminta ketiga pemuda itu serta Irfan dan Denta untuk menemui dokter. Kejadian mengerikan untuk anak remaja, beliau takut akan mempengaruhi mental mereka. Apalagi ini bukan pertama kalinya bagi Erik, Dika dan Rian yang memang merupakan teman Alvi sejak SMA.


Beberapa jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang ICU. Beliau menghampiri Pak Kyai dan juga kedua orangtua Arfi.


"Kondisinya sangat kritis, kami sudah melakukan yang terbaik. Kita tunggu saja, semoga Alvi cepat sadar" jelas dokter itu kemudian pergi meninggalkan keluarga Alvi.


"Bunda, apa istriku akan baik-baik saja? Aku harus apa Bunda?" Tanya Arfi begitu linglung. Bani dan Oddy bahkan sudah tak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan air matanya.


"Tentu saja Arfi, cucuku akan baik-baik saja. Dia adalah cucu perempuan Tuan Salim yang kuat" jawab Tuan Salim yang baru saja tiba. Ia bersama dengan beberapa pengacara dan polisi.


"Alvi lagi korbannya Salim. Ada apa ini sebenarnya?"


"Pak Kyai, aku tahu ini salahku. Aku tidak akan memaafkan mereka kali ini. Bahkan jika aku bisa, akan aku habisi mereka semua"


"Saliim!!!"


"Apa salahku Pak Kyai? Aku sudah mencoba merubah diri, tapi musuh selalu saja datang menguji kesabaranku. Alvi selalu terluka karena aku"


Pak Kyai menepuk pundak Salim, beliau berpamitan pergi dan akan mengadakan pengajian di pesantren untuk kesembuhan Alvi. Salim mengajak kelima teman Alvi yang menjadi saksi untuk bertemu pengacara dan polisi, didampingi oleh Hasyim.


Sebelum pergi, Tuan Salim meminta ketiga cucu lelakinya untuk kembali ke tempat KKN mereka.


"Tapi Kek, aku mau jagain Alvi" kata Bani.


"Alvi akan sedih jika kalian menghabiskan waktu lebih lama disana. Pergi dan selesaikan tugas kalian lalu kembalilah"


"Tuan Salim benar, pergilah. Bunda akan menjaga Alvi disini" bujuk Maya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Keputusan terakhir, mereka semua setuju untuk kembali. Tapi sebelum pergi, Arfi menatap istrinya yang terbaring diatas kasur dengan banyak alat bantu. Dengan lirih ia berkata, "Aku akan selalu menunggumu kembali sayang. Aku sangat mencintaimu Alvi"


__ADS_2