
Maya menyambut kedatangan menantunya, ia begitu senang melihat Alvi datang ke rumahnya setelah sekian lama.
"Sayang, mau Bunda masakin sesuatu?"
"Masih kenyang Bund, Ayah kemana? Oh iya, aku kan belum lihat adiknya Arfi, dia juga kemana?"
"Ayah Arfi sedang kerja, pulangnya malam. Sedangkan Arka, dia belum pulang sekolah, pulangnya sore."
Walau sudah mendengar jawaban Maya, mata Alvi masih mencari seseorang disana. Maya yang mengerti akan hal itu, berkata jika Aisya tinggal dirumah orangtuanya. Sebab banyak warga yang mulai bergunjing akan sikap Aisya. Terlebih saat Arfi tidak dirumah mereka kerap melihat Aisya dengan seorang pria. Awalnya mereka tak berpikir macam-macam, namun setelah berita ini menyebar, semua warga mulai menduga dan menerka.
Arfi membawa istrinya masuk kedalam kamarnya. Kamar Arfi yang hanya boleh dimasuki oleh Alvi. Disana banyak sekali foto mereka berdua, Arfi memang sangat menyayangi Alvi. Bahkan Aisya tak ia perbolehkan masuk, Aisya akhirnya menempati kamar tamu setelah menjadi menantu Maya. Beberapa kali Maya maupun Hasyim melihat Arfi masuk kesana saat mampir, tapi mereka tak mengira jika keduanya tak pernah melakukan apapun. Arfi selalu menyelinap pergi dan tidur bersama dengan Arka.
"Vi, boleh aku tidur dipangkuanmu?" Tanya Arfi dengan wajah lesuhnya.
"Tidak, kemarilah" jawab Alvi lalu menarik Arfi dalam pelukannya.
"Jika aku menangis, jangan bilang kalau aku cengeng ya. Seorang pria juga bisa menangis"
"Kamu tau aku hanya ingin jawaban yang jujur, itu saja. Ceritakan tentang kebenaran Aisya!!"
Arfi menghela napasnya perlahan, ia mendorong tubuh Alvi agar terjatuh ke atas tempat tidur. Sejenak Arfi terdiam dan memainkan tangan istrinya, sebelum ia mengambil ponsel miliknya. Menunjukkan sebuah video yang selama ini ia simpan. Tak ada satupun orang yang tau tentang video ini selain Arfi. Sebab ia pikir ini adalah sebuah aib besar.
"Dia? Pria tua ini siapa?"
"Ayah tiri Aisya"
Alvi menatap Arfi dengan ketakutan, ia mendadak memperhatikan sekeliling kamarnya. Jelas terlihat jika Alvi mengingat sesuatu yang membuatnya ketakutan.
"Dia guru SMP kan?"
"Iya dulu sekali, tapi aku dengar jika beliau telah berhenti dan bekerja serabutan. Kau mengenalnya?"
"Dia guru di SMP ku. Apa kau tau alasan dia berhenti? Aku tidak tahu pasti, tapi aku pernah melihatnya memegang da da dan pan tat teman wanitaku. Dan sekarang dia juga melecehkan putri tirinya?"
"Apa kau yakin sayang? Melecehkan putri tirinya? Aku pikir Aisya menikmatinya, lihat saja wajahnya. Dia selalu pergi kerumahnya setiap pekan"
__ADS_1
Kening Alvi berkerut memikirkan apa yang Arfi katakan. Ia memukul mulut suaminya yang berkata kasar. Alvi melontarkan amarah sebab Arfi menilai seseorang hanya dengan sekali melihat. Mungkin saja Aisya terpaksa menuruti kemauan Ayahnya karena diancam. Hanya saja Alvi tak mengerti, kenapa Aisya tetap bungkam? Dan apakah Ibu Aisya tak menyadari hal ini? Walau sibuk bekerja, bukankah seorang Ibu harusnya tau jika ada gelagat aneh dengan putrinya.
Setelah merenung cukup lama, Alvi kembali bercerita jika ia juga hampir saja menjadi korban Ayah Aisya. Namun untungnya pada hari dimana Ayah Aisya mencari Alvi, gadis itu tidak masuk sekolah sebab sakit demam yang tiba-tiba. Dan saat Alvi masuk sekolah, ia mendengar jika Ayah Aisya sudah tidak lagi mengajar disana.
"Sayang, apa temanmu yang mengalami pelecehan tidak melaporkannya pada guru? Kenapa kau juga tidak..."
Mencoba? Alvi sudah berulang kali mencoba membantu teman-teman nya. Lima orang wanita ia temui, tiga orang memakinya, satu orang tak peduli padanya dan terakhir ia malah ditampar. Sejak saat itu Alvi menutup mata walau melihat hal yang tak ia sukai. Ia hanya tak ingin memukul wanita, karena Levia bilang hal itu tidak baik.
"Tau gak kenapa aku suka banget sama kamu?"
"Karena aku cucu Tuan Salim?"
"Bukan"
"Karena aku cantik?"
"Memang kamu cantik. Tapi aku menyukai tatapanmu yang penuh amarah saat menatapku. Kau menentang untuk disuruh demi membela temanmu yang susah, itu mengesankan. Tapi ternyata Alvi yang dulu sangat lemah, satu tamparan membuatnya putus asa"
Alvi tersipu malu, ia memukul jidat Arfi dan mendorongnya menjauh. Ia berjalan keluar kamar menemui Maya yang hendak keluar rumah. Alvi merasa bosan dan ingin ikut bersama dengannya. Tapi tentu saja Arfi tak meninggalkan ia sendiri, Arfi mengikuti kedua wanitanya.
"Apa-apa? Mas? Panggil lagi dong!!" Rengek Arfi.
"Anak Bunda kenapa sih? Padahal dulu Arfi yang aku kenal gak gitu loh Bund"
"Anak Bunda? Dia kan suamimu. Cuma di depan kamu dia kayak gitu"
Arfi mendengus kesal karena kedua wanita di depannya tak ingin mengakui dirinya. Para tetangga begitu ramah menyapa Alvi dan memberinya beberapa makanan. Maya terus mengucapkan terimakasih kepada para warga yang begitu baik pada menantunya ini.
Maya, Arfi dan Alvi berhenti di sebuah warung. Memang niat Maya hanya untuk membeli minyak goreng yang habis. Tapi menantunya ingin ikut sebab merasa bosan di rumah. Di warung itu ada beberapa ibu-ibu yang tengah berbincang ria. Topik terhangat yang menyelimuti desa, Ayah dibalik anak Aisya.
"Maya, apa kau tau semua orang pikir anak Aisya adalah anak Ayah tirinya" celetuk salah seorang wanita.
"Itu hanya rumor, jangan membicarakannya seperti itu. Bagaimanapun dia juga menantuku" jawab Maya dengan senyuman kaku. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap, walau pada nyatanya hatinya sedikit curiga.
"Lihatlah, karena sibuk bekerja dia jadi tidak tau kelakuan bejat suami dan putrinya" sahut salah seorang wanita lain kala melihat seseorang mendekat.
__ADS_1
Alvi yang penasaran, menoleh ke arah belakang. Ia melihat wajah familiar yang tengah berjalan mendekati dirinya.
"Bu Titin? Anda tinggal disini?" Tanya Alvi dengan polosnya.
"Maaf, anda siapa?"
"Alvi, anaknya Mama Levia. Waktu itu kita bertemu di rumah sakit, sepuluh tahun yang lalu"
"Oh nak Alvi, sudah besar ya sekarang. Kabar Mama kamu gimana? Saya sangat berhutang Budi pada kalian, sekarang putri saya juga sudah besar dan sehat. Kenapa kamu disini?"
"Mama sudah lama meninggal. Aku lagi beli minyak sama Bunda, ini suamiku, Arfi"
Seseorang bernama Titin itu terdiam, ia menatap Arfi dan Maya bergantian. Alvi? Jadi ini adalah Alvi menantu pertama Maya dan Hasyim? Titin merasa tegang dan tak nyaman berdiri disana. Ia bergegas pergi setelah berpamitan pada Alvi.
Kini para warga berganti menanyakan banyak hal pada cucu perempuan Tuan Salim. Bagaimana ia bisa mengenal Titin dan apa yang terjadi diantara mereka sepuluh tahun yang lalu?
Alvi dan Titin bertemu sepuluh tahun yang lalu ketika dirinya serta Levia berada dirumah sakit untuk berobat. Alvi yang masih kecil terus berlarian kesana-kemari, hingga membuat Levia harus mencarinya. Tak sengaja Alvi kecil menghampiri seorang wanita yang menangis. Dengan polosnya ia bertanya alasan wanita itu menangis.
"Ibu, kenapa menangis? Jangan menangis, aku juga ikut sedih" Tanya Alvi yang sudah meneteskan air matanya.
"Tidak apa-apa nak, mana orang tuamu? Kenapa kamu disini sendiri?"
"Alviiii, anak nakal ini. Mama bilang jangan berlarian" teriak Levia seraya menjewer telinga Alvi. Tapi ia terkejut melihat Alvi menangis. Levia meminta maaf dan mencium kedua pipi putri kecilnya.
"Mama, Ibu ini menangis, katakan padanya jika menangis itu tidak baik"
Mendengar ucapan Alvi, Levia mendongakkan kepalanya menatap wanita yang duduk di depan ruang UGD. Beliau menanyakan alasan wanita itu bersedih sambil menggendong Alvi dipangkuannya. Titin, hari itu adalah pertama kalinya mereka bertemu. Titin khawatir jika putrinya tak selamat karena usus buntu. Ia tak memiliki uang sepeser pun namun dokter menyarankan agar segera di operasi.
"Mama, aku punya banyak uang ditabunganku. Berikan padanya, aku juga punya ini, kalung pemberian Papa"
Orang tua mana yang tak terharu melihat putrinya memikirkan orang lain di usia muda. Levia menuruti permintaan Alvi, semua uang tabungan Alvi dan kalung kesayangan Alvi pun ia berikan pada Titin. Levia juga menambahi kekurangan dengan uang miliknya.
Walau pada akhirnya, Alvi dihukum oleh Ardi karena sembarang membantu orang yang tak dikenal. Ardi pikir putrinya telah di jambret saat itu, hampir saja dirinya lapor ke polisi.
Kenangan itu, Alvi tak pernah melupakannya. Sebab Levia bilang, jika kita sering membantu orang yang kesusahan hidup kita akan bahagia dan damai. Kalimat itu yang selalu Alvi ingat hingga sekarang.
__ADS_1