
Di rumah Arfi..
Alvi, Zahra dan Niza tengah berada di kamar Arfi. Mereka tengah bercanda tawa disana, sembari menunggu para suami yang tengah bersiap untuk sholat Jum'at.
Ceklek....
"Stop" teriak Alvi. Ia berjalan menghampiri pintu sebab Kakak iparnya sedang tidak memakai cadar.
"Maaf sayang aku lupa, tolong ambilkan leptop ku diatas meja" pinta Arfi.
"Buat apa? Kan kamu mau ke Masjid" kata Alvi seraya memberikan leptop pada suaminya.
"Iya, karyawan ku menelepon, aku akan mengeceknya sebentar. Kunci pintunya ya"
Alvi kembali berbaring diatas kasur sambil menggoda ponakannya. Tak lama adzan dhuhur berkumandang, Arfi dan Bani berpamitan pergi ke Masjid. Mereka juga mewanti-wanti agar mengunci pintu rumah serta tak membukakan nya untuk sembarang orang.
Ada banyak hal yang ingin Alvi ketahui tentang hubungan suami-istri. Ia bertanya ini dan itu pada Zahra, hingga pertanyaan sesepele apapun, Alvi tak ingat mengecewakan sang suami nantinya.
"Kak, apa tidak apa-apa jika aku menggodanya?"
"Tentu saja, disaat seperti ini seorang istri harus agresif. Tapi melihatmu, seperti kau malu jika hanya berdua bersama suamimu"
"Aaahh Kakak ipar, bukan begitu. Aku hanya tak ingin nanti Arfi mikir macem-macem terus malah ngecap aku jadi cewek nakal atau apalah itu"
"Hei, justru itu yang disukai para suami. Kakak mu malah, hm, kau tau sendiri kan bagaimana sifatnya. Hahahaha"
Zahra dan Alvi begitu asik membagi cerita tentang hubungan cinta mereka. Cukup lama mereka terus mengobrol hingga tanpa sadar Niza tertidur.
Ttok... Ttok....
Suara ketukan pintu terdengar, Alvi meminta Zahra untuk tidak keluar kamar. Ia berjalan ke arah pintu dan mengintip lewat jendela lebih dulu. Terlihat Aisya berdiri disana dan menggedor pintu dengan keras.
"Iya sebentar, Aisya ada apa? Apa ada..."
Plakkkk....
Satu tamparan yang menimbulkan bunyi begitu nyaring. Aisya mendorong Alvi hingga terjatuh dengan amarah yang menggebu. Ia bahkan melempar vas yang ada diatas meja ke arah Alvi. Untungnya Alvi mengelak dan hanya terluka terkena serpihan kaca. Ia sungguh tak mengerti kenapa Aisya menjadi se marah ini.
__ADS_1
"Alvi ada apa?" Teriak Zahra panik.
"Tidak ada apa-apa, Kakak kunci pintu saja. Jangan keluar!!!"
Alvi berdiri dan mencoba menenangkan Aisya, ia takut terjadi sesuatu dengan anak Aisya nantinya. Tapi seolah hati Aisya terlah beku dan terselimuti rasa kebencian yang amat dalam.
Aisya kembali mencoba menyakiti Alvi, sedangkan Alvi hanya berusaha untuk menahannya. Ia tak mau melukai Aisya terlebih kala wanita itu tengah hamil besar.
"Tenang Aisya, jangan seperti ini, nanti anakmu terluka. Ada apa?"
"ADA APA LOE BILANG? Semua yang terjadi itu gara-gara loe, loe harusnya gak pernah hidup lagi. Kalau sampai ada apa-apa dengan anak gue, itu semua salah loe"
"A..apa? Gu .. gue ....."
"Puas loe, gue benci sama loe yang bisa miliki segalanya. Apa loe tau gue tersiksa dengan semua ini, loe tuh cuma benalu untuk semua orang"
"Saya, kita bisa bicara baik-baik"
"Dan apa loe percaya, Arfi gak pernah nyentuh gue sedangkan pernikahan kami hampir satu tahun? Itu lebih lama dari pernikahan kalian"
Kata demi kata yang Aisya lontarkan, membuat hati Alvi kembali melemah. Kembali dadanya terasa sesak dengan air mata yang menetes. Kenapa semua orang selalu membenci dirinya? Bukankah Alvi juga berhak bahagia? Apa mereka hanya melihat sisi bahagia seorang Alvi tanpa tau semua penderitaan yang juga dialaminya?
"Aaahh aahh, Auh sakit" erang Aisya.
"Kakakkkk" teriak Alvi panik. Ia berusaha menopang tubuh Aisya yang hampir terjatuh. Walau beberapakali Aisya mencoba menjauhkan Alvi darinya, tapi Alvi bersikukuh untuk menolongnya.
Zahra keluar bersama dengan Niza di gendongannya. Hanya ada mereka disana, Alvi berlari mengambil kunci mobil Arfi dan membantu Zahra membawa Aisya masuk kedalam rumah.
"Vi, aku gak bisa nyetir mobil" ucap Zahra.
"Gue masih inget kok Kak, kalian pegangan ya. Aisya tahan ya, gue bakal bawa loe ke rumah sakit secepat mungkin" janji Alvi begitu yakin. Mobil tak pernah terlihat asing dimatanya, seolah ia tak pernah sekalipun tak menaiki mobil setiap hari. Tangannya begitu handal memasukkan alamat rumah sakit terdekat di GPS. Ia pun melajukan mobilnya dengan kencang menuju alamat tujuan.
Jalanan tampak sepi kala banyak pengendara yang berhenti dan melaksanakan sholat Jum'at. Alvi kembali menjadi dirinya yang sangat percaya diri kala di jalanan. Hanya butuh lima belas menit, akhirnya Alvi tiba dirumah sakit. Ia memanggil para suster dan dokter disana, meminta mereka segera menghampirinya lalu membawa Aisya masuk kedalam.
Zahra yang menggendong Niza, berusaha menghubungi Bani. Sedangkan Alvi mengisi formulir yang dibutuhkan.
"Vi, kamu juga harus dirawat, tubuhmu banyak luka" pinta Zahra.
__ADS_1
"Gue gak apa-apa Kak, kalau Aisya sudah baik-baik saja gue akan mengobatinya"
"Yang lain dalam perjalanan kemari. Jangan buat mereka lebih khawatir karena melihat keadaan mu"
Belum saja Alvi menjawab, dokter keluar ruangan. Terlihat Aisya yang masih meraung kesakitan, dokter ini Alvi segera membayar administrasi untuk mengoperasi Aisya. Sepertinya kandungan Aisya akan lahir sebelum waktunya tiba.
"Apapun, tolong lakukan yang terbaik" pinta Alvi. Ia pun kembali menghampiri meja administrasi, membayar semua tagihan. Untung saja Ardi memberikan uang dan semua rekening Alvi hari ini.
Ya Allah, maaf jika aku meminta disaat seperti ini. Tapi tolong selamatkan dia dan bayinya..
Untuk pertama kalinya, Alvi berdoa setelah ia bangun dari tidur panjangnya. Ia memang tak pernah meminta, karena berpikir jika dirinya tak pantas meminta apapun. Itu adalah pemikiran yang salah, tapi Alvi memang semakin jauh dari Allah semenjak ia kehilangan sang Mama tercinta.
Baru saja Alvi memutar tubuhnya, tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita.
Dua jam berlalu...
Alvi membuka matanya, ia melihat Arfi yang gelisah duduk disampingnya. Setiap kali mata Alvi terbuka, yang ia lihat adalah tangisan Arfi, selalu saja seperti ini. Mata mereka saling bertemu, namun tak ada kata yang terucap diantara keduanya.
Bani yang melihat adiknya tersadar, ia bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Alvi.
"Apa Aisya dan putranya baik-baik saja?" Tanya Alvi seraya mencoba untuk duduk.
"Dia sudah melahirkan, tapi seorang putri. Dan itu bukan anak Arfi, melainkan anak Ayah tirinya. Ayah tiri Aisya sekarang ada dikantor polisi" jelas Bani. Ia menceritakan apa yang terjadi sebelum Aisya mendatangi rumah Arfi sambil marah-marah.
Rupanya, kala Maya dan dua orang lainnya hendak mengantarkan makanan ke rumah Aisya. Mereka melihat semuanya, kelakuan bejat Ayah tiri Aisya dan putrinya. Karena ketahuan oleh warga, Ayah Aisya melarikan diri sejauh yang beliau bisa. Sedangkan Aisya malah menyalahkan Alvi atas apa yang terjadi.
Arfi hanya terdiam menatap Alvi dari kejauhan.
"Mas" panggil Alvi.
"Kenapa kamu egois? Apa kamu pikir aku tidak terluka? Aku hanya tak ingin terlihat lemah dihadapan istriku. Apa semua yang aku lakukan tak berarti apapun bagimu?"
"Ada apa Mas?"
"Kau mengigau, mengatakan akan merelakan aku untuk Aisya. Apa hanya sebesar itu rasa cintamu untukku? Bagaimana denganku? Aku akan terluka jika jauh darimu, aku hanya ingin bersamamu"
"Maafkan aku, tapi Aisya, dia lebih membutuhkan mu. Aku... bukan aku tidak mencintai Mas Arfi, aku tidak tega melihatnya terluka"
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganku?"