
Malam tiba...
Arfi dan Alvi hanya berdua dirumah Ardi. Sebab Bi Inah hanya datang saat pagi dan pulang setelah memasak makan malam. Sedangkan Ardi dan Bani masih betah tinggal di rumah Tuan Salim, bertemu kangen dengan sanak keluarga lainnya.
Alvi tangah duduk di meja belajarnya, berkutik dengan leptop mengerjakan tugas kuliah. Sembari melakukan video call dengan Tasya dan Vita, saling berbagi informasi mengenai tugas mereka. Tak jarang sesekali pembicaraan mereka malah teralihkan pada gosip yang beredar di kampus mengenai Ambar tentunya.
Tasya : "Vi, besok loe bawa mobil kan? Jemput dong, lagi bokek nih"
Vita : "Gue juga, sekalian anterin nyokap ke taman ya buat jualan"
Alvi : "Iya iya, nyokap loe kok gak datang sih ke nikahan gue? Pasti gue di getok pakai sendok sayur lagi nih besok, hahah"
Usai mengerjakan tugasnya, Alvi dan kedua teman wanitanya mengobrol banyak hal. Mereka juga mengundang teman laki-laki Alvi yang lain. Selain mengucapkan selamat, mereka malah ingin mengajak Alvi ikut balapan karena sebentar lagi akan ada pertandingan dengan hadiah yang besar.
Hadiah itu membuat Alvi tergiur, padahal uang yang didapat tak seberapa dibanding pemberian Tuan Salim. Tapi Alvi memang menyukainya, kegiatan balapan yang membuatnya merasa tertantang.
"Sayang" sela seseorang seraya memberikan selimut untuk menutupi tubuh Alvi yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Ia mencium pipi Alvi begitu saja, hingga membuat yang melihat tertegun merasa malu karenanya.
"Kamu mau kemana?"
"Ke bawah bentar, ada anak-anak dibawah. Kamu kalau mau turun, pakai baju ya, kalau ada apa-apa teriak aja, oke?"
"Iya oke"
Arfi menepuk kepala Alvi pelan, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk inframe dalam video call istrinya.
"Jangan coba-coba ya!!" Ujar Arfi dengan senyuman.
"I..iya, maaf Kak Arfi" jawab salah seorang teman Alvi yang mengajaknya balapan.
Alvi tertawa kecil, ia memukul pelan suaminya dan meminta Arfi untuk segera turun kebawah. Suaminya itu sukses membuat para teman lelaki Alvi bungkam seribu bahasa. Berbeda dengan Tasya dan Vita yang malah bahagia bisa melihat Arfi tentunya.
Tasya : "Vi, gue harap dapat suami 11 12 kayak Kak Arfi. Ganteng banget suami loe, iri deh"
Alvi : "Hahah Massa sih? Kak Brian juga ganteng, eh kalian kenal Arif kan? Dia juga ganteng tuh"
Vita : "Beda Vi, Kak Arfi itu gantengnya gak ada yang nandingin"
__ADS_1
Karena topik pembicaraan berubah, para teman lelaki mereka memilih mengakhiri video call. Terlebih setelah Arfi memperingatkan mereka, suasananya menjadi tak nyaman dan menyebalkan. Tapi para gadis itu tak peduli dan melanjutkan obrolan mereka hingga larut malam.
Jam sudah menunjukkan pukul 23:00...
"Vita, Tasya, udah malem. Ngobrolnya dilanjut besok ya" celetuk Arfi yang tiba-tiba sudah berada di belakang Alvi.
"Ah tapi Mas, masih mau ngobrol" rengek Alvi.
"Iya Kak Arfi, kita tidur dulu ya. Selamat malam" ucap Vita diikuti oleh Tasya.
Alvi memanyunkan bibirnya kesal, ia masih ingin berbincang dengan dua sahabatnya. Biasanya mereka bisa melakukan video call hingga pukul satu dini hari. Arfi menyebalkan, Alvi menutup leptopnya dan melengos pergi ke atas kasur. Ia menutupi dirinya dengan selimut tanpa mengucapkan apapun.
"Besok mau aku anter ke kampus?"
"Gak"
"Marah lagi nih? Minta dicium ya?"
Mendengar perkataan Arfi, Alvi membalikkan badannya, menatap Arfi dengan dalam. Ia bangun dari tidurnya dan duduk tepat dihadapan Arfi yang tengah bersender di kasur. Berbeda dengan perkataan nya, Arfi kembali gugup dan tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya tersenyum kaku memandangi istrinya.
Alvi semakin mendekatkan jarak mereka, ia mengelus pipi Arfi dengan lembut. Perlahan ia mencium hidung suaminya, lalu turun menuju bibir Arfi. Mengawali ciuman pertama mereka, hanya sepersekian detik sebelum Alvi menarik dirinya menjauh. Sebab Arfi hanya diam dan tak membalas ciumannya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang...
Alvi tengah berdandan di depan meja riasnya. Memoleskan make up dengan sederhana namun terlihat menyegarkan di wajahnya.
"Sayang"
"Hm..."
"Anu .. semalam, em... apa bisa mengulangi nya? A..aku akan melakukannya dengan lebih baik"
"Gak bisa, udah gak tertarik lagi sama kamu. Aku berangkat dulu ya"
Arfi menarik tangan Alvi yang hendak pergi keluar kamar. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Sekali lagi aja, aku bisa kok"
"Aku terlambat, harus pergi"
"Alvi..."
"I love you" ucap Alvi dengan tawanya.
Arfi kembali dibuat terdiam dengan perlakuan manis istrinya. Detik kemudian ia baru tersadar dari lamunan dan mengejar Alvi. Rupanya gadis itu sudah berangkat pergi, Arfi menyalahkan kebodohannya. Ia benar-benar tak bisa berkutik bila Alvi terlihat begitu manis.
Bani memandangi Arfi yang masuk dengan lesuh. Ia pikir mereka tak bertengkar sebab Alvi berangkat dengan raut wajah senang. Tapi setelah melihat Arfi yang murung, ia rasa ada masalah disini.
"Kalian bertengkar lagi?"
"Gak kok, tapi tadi si Alvi bilang I love you ke gue Ban. Gue mimpi atau apa ya? Jantung gue kayak mau copot nih"
"Bauahahah, loe bisa bucin juga ya Fi. Gue pikir cowok kayak loe bodo amat mikirin perasaan cewek"
"Dia kan istri gue. Dia belum sarapan Ban, gimana dong? Apa gue anterin aja makanan ke kampusnya?"
Bani menepuk jidatnya, Arfi sangat berlebihan. Ia mencoba menenangkan Arfi, adiknya itu bisa mengurus makanan nya dengan baik. Tapi karena khawatir, Arfi tak bisa berpikir dengan jernih. Ia bahkan terlihat melamun beberapa kali dan tak fokus saat Bani mengajaknya berbincang.
Disisi lain, Alvi tengah melajukan mobilnya menuju taman setelah menjemput Vita dan Tasya.
"Ibu kenapa gak datang ke nikahan aku?"
"Ibu harus pergi ke rumah Kakek Vita yang lagi sakit. Maaf ya, Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk kamu"
"Hahaha, lain kali aku kenalin suamiku ke Ibu ya. Sekarang dia lagi sibuk mau KKN"
"Iya Vi, Ibu sudah lihat foto nya, ganteng banget suamimu. Menantu idaman"
Alvi tertawa lebar mendengar pujian untuk suaminya dari Ibu Vita. Sebenarnya memang sudah biasa ia mendengar pujian itu, suaminya selalu saja meninggalkan kesan untuk para wanita. Tapi butuh waktu lama bagi Alvi untuk menyadari pesona itu. Walau nyatanya ia sudah tertarik kepada Arfi karena sikap manis suaminya yang tampan.
Selama perjalanan, beberapa kali ponsel Alvi berdering. Ada panggilan masuk dari suaminya. Tapi karena sedang menyetir, Alvi membiarkan panggilan masuk itu begitu saja.
KETOS Annoying calling....
__ADS_1
Alvi memang tak pernah merubah nama kontak Arfi sejak masih SMA. Ia bahkan tak ingat menyimpan nomor Arfi di ponselnya.