Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
nikah atas kertas


__ADS_3

"gue pulang dulu guys, besok jangan lupa kuliah pagi" ujar vera pada teman temanya ia pun menaiki mobilnya.


"oke, lo hati hati" ujar temanya sambil melambaikan tanganya.


vera kini melajukan mobilnya saat di jalan iya jadi teringat rio, iya adalah kekasih vera, walaupun kini vera sudah mempunyai suami iya masih berhubungan dengan kekasihnya itu, lagi pula zeval sudah mengetahuinya dan zeval tak keberatan.


"udah beberapa hari ini gue kok gak liat rio, di kampus aja gak ketemu" ujarnya sambil menyetir mobilnya.


setelah beberapa menit iya sampai di rumah orang tuanya itu.


"aku pulang" ujar vera.


"wahh anak mamah baru pulang, sana ke kamar abis itu makan" ujar bundanya, dan vera menyalami mamahnya kemudian melenggang ke kamarnya.


"besok gue buat bekel ah buat rio, semoga dia suka" ujar vera di sela jalanya.


"huaaaaa gue kangen kamar gue" ujar vera sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk kesayanganya.


vera tengah tengkurap sambil menghirup aroma bantalnya itu, tetapi ia merasa seperti ada yang menyolek lenganya, vera pun berbalik.


"lo ngapain di sini!" teriak vera kemudian ia terduduk.


"ih kak jangan kenceng kenceng, mamah tau gimana" ujar zeval sambil menutup telinganya "gue kan suami lo, kalau gak di kamar ini gue di kamar siapa, kamar fida?" lanjut zeval kemudian duduk di tepi ranjang.


vera melupakan sesuatu, kalau iya sudah bersuami, kini iya hanya menggaruk kepalanya.


"ya kali lo di kamar fida, apakata tetangga" jawab vera.


"emm kak nanti gue tidur pake selimut ini yah, kakak pake yang tadi malem gue pake aja" ujar zeval dengan cengiranya.


vera dan zeval memang tidak tidur satu ranjang, itu keinginan vera zevalmah ngikut aja.


"lo tidur sofa lagi kan?" tanya vera.


"iya" jawabnya, kemudian berdiri dari duduknya.


"lo mau kemana?" tanya vera.


"makan, belum makan gue, kakak mandi aja dulu" jawabnya tanpa menoleh.


kini vera melaju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***

__ADS_1


"kalian berdua kapan pindah ke apartemen?" tanya mamah vera, kini mereka tengah duduk di ruang tv.


"gak tau mah?" jawab vera sambil memakan cemilanya.


"harus cepet pindah dong, kan itu hadiah dari mertua kamu vera"


"iya mah, besok deh kita pinda" jawab zeval, vera hanya menganggukinya.


"nah gitu dong" ujar mamah vera.


"yaudah vera mau ke kamar dulu"


"ikut" ujar zeval kemudian mendorong vera menuju kamarnya.


"jangan di dorong, gue jatoh gimana" omel vera.


"jatoh ke bawah ini, coba keatas" jawab zeval.


brakk


"pelan ****" omel vera, karna zeval mendorong pintu kamarnya terlalu kencang.


"hehehe. kak kita mau beres beres kan?" tanya zeval.


zeval pun sudah mengambil koper untuk menata bajunya sedangkan vera kini sudah ada di alam mimpi.


pagi harinya...


"zeval bangun lo sekolah kan?" vera kini tengah membangunkan zeval yang tertidur pulas di sofa kamar.


"zeval, gue guyur lo gak bangun" geram vera.


"iya iya" gumam zeval.


"cepetan!"


"iya iya, ya Alloh"


"mandi, ganti baju, makan, cepetann!" bentak vera.


zeval tanpa menjawab langsung melenggang ke kamar mandi dengan langkah gontainya.


"gue kok kaya jadi emak dia yah, ngomel mulu tiap hari" gumam vera sambil beracak pinggang.

__ADS_1


vera kini hendak berangkat ke kampus, tetapi masih menunggu zeval.


"kak koper kakak mana, biar nanti kakak pulang kampus langsung ke apartemen" ujar zeval sambil menuturuni tangga.


"udah nanti aja pulang kampus, entar telat lagi"


"gue yang beresin sini"


"nih anak, tar lo telat gimana soang"


"ya gak usah berangkat lah, bolos enak" jawab zeval enteng.


"eeehhh ni bocah, lo itu harus giat belajar biar dapet kerja yang enak, lo itu udah jadi suami, kerjaan suami nafkahin istri, kalo lo bolos gak dapet kerja nanti gue makan apa" omel vera.


"iya deh iya ayo berangkat, lagi pula kita kan nikah atas kertas, bentar lagi juga cerai kalo mau minta nafkah noh sama rio, gue mah gak mau" jawab zeval kemudian berlalu meninggal kan vera.


vera sangat tidak menukai perceraian, ia ingin menikah cukup satu kali seumur hidup, tapi perjodohan ini yang memutuskan ia harus memilih perceraian itu, iya yang masih ingin menikmati dunianya sendiri, dan zeval yang masih terlalu bocil untuk di jadian seorang suami.


mereka tak menduga ada orang yang mendengar percakapan mereka, fida dan mamahnya.


"mereka belum sepenuhnya nerima perjodohan ini yah ma?" tanya fida keluar dari persembunyianya.


"ada waktunya sayang" jawab mamahnya sambil mengusap ramput putrinya.


"semoga mereka gak cerai deh, kan kak zeval ganteng" ujarnya di akhiri cengiran.


"kamu ini, yaudah sana makan abis itu berangkat mamah anter"


"mamah mau ke kantor papah?" tanya fida.


"iya, ayah kamu kan gak pulang, dia lembur"


kemudian mereka menuju meja makan, untuk sarapan berdua.


"kak pukang siang kan, nanti jemput oke" ujar zeval sambil mengendarai mobil.


"iya" jawabnya sambil fokus pada ponselnya.


" kak gue udah sampe" ujarnya kemudian iya turun dari mobil.


"ati ati lo" teriak vera dari dalam mobil.


"oke" jawabnya sambil melambaikan tangan, karena vera sudah melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2