Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
nyaman


__ADS_3

vera kini sudah duduk di salah satu meja restoran, ia dan rio juga sudah memesan minuman, namun sekarang ia tengah sendiri karena rio pamit karna ada panggilan alam.


"maaf ya lama" ujar rio, ia kini kembali duduk di bangkunya.


"gak papa" mereka duduk berhadap hadapan.


rio meminum jus miliknya sebelum mulai pembicaran.


"lama ya kita gak ketemu"


"iya lama"


vera dan rio merasa canggung secara bersamaan.


"l-lo apakabar?"


"baik" jawab vera "lo nyuruh gue kesini ada apa?"


rio menyenderkan tubuhnya "lo tau kan ver, dari dulu cuma lo di antara nawa, jeje, dodo dan adit yang selalu buat gue nyaman" jeda beberapa detik "dan setelah kejadian itu hubungan kita jadi renggang"


"ver lo jangan salah paham, maksud dari nyaman gue disini, gue nyaman aja curhat apapun itu masalah gue ke lo, gue percaya sama lo kalau lo gak bakal umbar semua rahasia yang udah gue bicarain sama lo"


"mungkin dulu nyaman gue di sertai rasa suka gue sama lo, tapi sekarang udah enggak karena... di hati kita masing masing udah ada orang lain"


vera masih bungkam ia masih mendengarkan semua perkataan rio.


dulu saat mereka masih kumpul berlima, memang vera lah yang selalu menjadi sandaran dan tempat curhat bagi ke empat temanya, entah awalnya seperti apa vera menyimpan rasa pada rio, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu perasaanya pada rio.


"kalo lo cuma memendam perasaan lo, rio gak bakal tau isi hati lo yang sebenarnya"


perkataan dari nawa lah yang membuat vera memutuskan memberi tahu perasaanya itu.


hingga di waktu sore hari, di sebuah persimpangan jalan menuju taman kota vera mengungkapkanya.


"rio, lo pernah suka seseorang?" kata vera yang tengah berjalan setelah pulang bekerja kelompok.


"pernah, bahkan sampai sekarang masih"


"siapa?"


"ibu sama bapak gue lah"


"maksud gue cewek, maksudnya lo tertarik sama cewek selain ibu lo"


vera menunggu jawaban rio sambil mendongak menatap rio yang tengah menatap jalan yang ia tengah lewati.

__ADS_1


vera memerosotkan bahunya karna rio hanya menjawab dengan kedikan bahu di sertai senyumanya.


vera menatap punggung rio yang kini berjalan mendahuluinya, vera berhenti dari langkahnya, ia menarik nafas lalu menghembuskanya.


vera meniup poni yang menutupi matanya "rio gue suka sama lo!"


vera gugup saat rio berhenti dari jalanya, rio menoleh ke arah vera.


"g-gue suka sama lo" ulang vera.


mereka sama sama terdiam, seakan waktu telah berhenti.


"maaf" vera menunduk saat rio meminta maaf padanya, sudah di pastikan bahwa rio tidak memiliki perasaan suka padanya.


"maaf in gue vera" vera dapat mendengar langkah kaki melangkah, namun ia tak berani mendongak "maaf gue juga suka sama lo"


vera tersenyum saat mengingat itu.


"ver lo mau dengerin curhatan gue lagi gak?" tanya rio.


vera terkekeh "jadi lo mau ketemu gue, lo mau curhat"


rio mengangguk "gue bingung mau curhat sama siapa, kalau gue curhat sama nawa gak ada serius seriusnya"


"jadi... gini eemm, i-is-istri guee hamil"


vera tersenyum mendengarnya "wah selamat" vera tampak senang namun raut wajah rio memperlihatkan sebaliknya.


"emang kenapa, kok lo kaya gak seneng?"


rio menunduk "istri gue udah hamil empat bulan"


"lo bentar lagi punya dua anak, tapi kenapa wajah lo murung gitu"


"dia minta cerai" jawab rio lirih.


"what!" vera berteriak karena kaget.


"ssstt jangan berisik"


"maaf maaf"


...****************...


"ia pah siap"

__ADS_1


zeval mematikan sambungan telfon dari ayahnya.


ddrrt ddrrt


"udah?"


"udah"


"aku jemput sekarang"


"iya aku tunggu"


zeval mematikan sambungan telfon dari vera, zeval pun melangkah meninggalkan cafe setelah ia membayar jus yang ia pesan.


hanya butuh beberapa menit mobil zeval sudah terparkir di depan sebuah restoran.


"aku lama gak?" tanya zeval pada vera yang baru memasuki mobil.


"enggak kok"


zeval menjalankan mobilnya setelah melihat vera sudah mengenakan sabuk pengamanya.


"sayang tadi papa aku telfon"


"terus?"


"dia ada kerjaan di luar kota selama dua bulan dan mama ada acara juga satu bulan"


"jadi mereka berdua pergi?"


"iya perginya besok pagi, kita di suruh tinggal di rumah mama papa dulu"


"bukanya ada kak jeje ya di rumah?"


"kata papa dia sendirian kasian, kalo di rumah sendirian dia mana mau makan di rumah"


"di rumah ada bibi kan?"


"ada, jadi gimana mau ya tidur di rumah mama papa"


"kapan?"


"besok"


"oke"

__ADS_1


__ADS_2