Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
reyna


__ADS_3

"reyna!" teriak nura saat melihat reyna tergeletak bersender pada tembok dengan keadaan tangan yang penuh luka dan sedikit berdarah di bibirnya.


"rey" nura berjongkok di depan reyna, menggoyangkan lenganya berharap reyna tersadar dan membuka matanya.


"rey bangun" dengan suara bergetar ia terus mengguncangkan lengan sahabatnya itu.


"reyna buka mata lo ini gue nura, reyna plis bangun" nura terus mengguncangkan lengan reyna "maafin gue, seharusnya pas di cafe tadi gue ikut lo, gue anterin lo ke toilet"


"kak nawa" panggil nura "reyna di sini" seketika nawa pun berlari menghampiri nura dan di ikuti nasa, fida dan vera di belakangnya.


nawa menatap tangan reyna begitu banyak luka di sana.


'maafin gue rey, gue telat kesini '


"reyna" panggil nawa, ia kini ikut berjongkok di sebelah nura.


"yaampun reyna" kaget nasa, sedangkan fida dan vera hanya bisa berdiri tertegun memandangi reyna.


"rey bangun" mata nawa kini berkaca kaca melihat reyna "ki-kita bawa ke rumah sakit" ujarnya sambil menoleh ke arah nura.


"tidak semudah itu"


semuanya kini menoleh ke sumber suara, betapa kagetnya mereka saat mendapati dino yang tengah berdiri di belakang mereka dengan senyuman yang sulit di artikan.


fida tiba tiba tersembunyi di punggung kakaknya takut saat mata dino meliriknya.


'bagaimana kondisi zidan sekarang?' batin vera.


dino berjalan melewati vera dan fida, ia hanya melirik sekilas pada kakak beradik itu, dino hendak meraih tangan reyna namun dengan cepat nawa mencekal tangan dino.


"berani lo sentuh dia gue patahin tangan lo sekarang juga" nawa menatap dino menahan emosinya.


"yaampun gue takut" dino memasang wajah takutnya "hahahaha, bahkan satu goresan pun gak akan pernah lo ukir di kulit gue" dino menatap nawa.


"sampah lagi menyemangati dirinya sendiri" bisik nawa pada dino.


amarah dino seketika meruak setelah medengarkan perkataan nawa, ia menatap gadis itu tajam sambil mengepalkan tanganya siap untuk melayangkan pukulanya.


bug


ia tersungkur di lantai dengan memegang rahangnya.


semuanya terbelalak kaget, bahkan vera cukup kaget dengan apa yang ia lihat.


"kak nawa" lirih fida sambil menutupi mulutnya.


"gue gak takut sama lo!" teriak nya "gue bukan orang lemah, bukan hanya tangan yang bakal gue patahin, nyawa lo bisa gue ambil sekarang juga!" teriak nawa.


tadi, sebelum dino melayangkan tinjunya ternyata nawa lebih dulu melayangkan bogemnya pada rahang dino cukup keras, bahkan nawa kini dapat merasakan tanganya sedikit ngilu.


dino menatap nawa dan nawa pun sama menatap dino sengit.


dino berdiri, ia kini berjalan ke arah nawa yang tengah berdiri menatapnya.

__ADS_1


'lo main main sama gue' batin dino.


"dino berhenti!" semua menoleh ke arah zidan yang berteriak, ia berjalan tertatih menghampiri mereka.


"din udah berhenti, lo belum puas selama ini?"


dino menghadap ke arah zidan yang bertanya ke arahnya "puas lo bilang" ujarnya sambil menyunggingkan senyumnya pada zidan "bahkan gue belum mulai, gue belum puas!" teriaknya.


"din, lo tuh dulu seorang pemaaf tapi sekarang-"


"lo ambil milik gue! dia yang menurut gue paling berharga kenapa lo ambil" tunjuknya pada reyna "lo hilangin kepercayaan gue sama lo, gue udah anggep lo saudara gue sendiri tapi lo hiyanatin gue, kalian orang yang paling berharga buat gue tapi kalian malah selingkuh di belakang gue" bentaknya, zidan berjalan mendekat ke arah dino.


"din-"


"gue gak bakal percaya! kalo gue gak liat sendiri" dino menundukan kepalanya mengingat kejadian itu "gue keluar negeri sengaja gak kasih tau kalian karena gue gak mau kasih alesan yang bohong ke kalian, tapi kalo gue bilang yang sejujurnya alesan gue keluar negeri waktu itu gue gak bisa" dino menatap zidan tanpa adanya kilatan emosi di wajahnya.


"gue disana berjuang mati matian buat sembuhin penyakit gue" lirih dino.


zidan tersentak karena penuturan dino, dia punya penyakit? bahkan zidan tak mengetahui itu, padahal dino adalah sahabat kecilnya, bahkan selama ini ia tak dapat melihat tanda tanda kalau dino sakit, dino menutupinya?


"gue sempat menyerah waktu itu, gue sempat koma beberapa hari, gue bener bener mau nyerah, tapi bayangan lo, bayangan reyna, bayangan semua orang yang gue sayang seakan berputar putar di memori otak gue, gue pun memilih berusaha sembuhin penyakit gue"


" dengan waktu yang cukup lama gue bisa sembuhin penyakit gue, gue pulang ke indonesia tanpa beban apapun" dino masih menatap zidan namun dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"namun saat di taman kota, gue liat kalian berdua"


"din-"


"lo selingkuh sama reyna, lo gak mikirin perasaan sahabat lo sendiri!" bentaknya "lo waktu itu liat gue tapi kalian cuma bilang maaf, apa itu perlu gue maafin? enggak zidan!" dino mengepalkan kedua tanganya.


"gue bisa maafin ke salahan apapun, tapi yang lo buat bener bener gak bisa gue maafin" dino melangkah lebih dekat ke arah zidan.


bug


dino memukul zidan lagi, namun zidan tak melawan ia hanya menerima pukulan itu.


"AAAA" teriak fida saat melihat dino yang memukuli zidan dengan brutal.


nasa yang melihat ke adaan makin memanas pun tanpa berpikir panjang langsung menelfon polisi.


"kak hentiin itu, nanti kak zidan kenapa napa" fida mengguncang lengan kakaknya.


"tapi kakak harus apa"


"kak zidan" pekik fida saat melihat zidan jatuh tersungkur dengan darah yang sudah keluar dari mulutnya.


"zidan" lirih nawa, ia yang melihat zidan tersungkur pun hendak menghampirinya namun sebuah panggilan mengurungkan niatnya.


"kak nawa"


nawa sontak menoleh ke arah reyna.


"reyna lo bangun" nawa langsung berjongkok.

__ADS_1


"kak, sa-sakit" lirih reyna dengan air mata yang lolos mengalir di pipinya.


"reyna tahan sebentar, kita kerumah sakit"


"reyna" panggil nura dan nasa saat menyadari sahabatnya itu telah bangun.


"da-dada rey sakit" ucap reyna terbata.


"kak vera!" sebuah teriakan dari fida membuat nawa, nasa dan nura menoleh.


vera tersungkur jatuh di samping zidan.


vera yang tadinya tak tega melihat zidan yang sudah hampir kehilangan ke sadaranya langsung menghampirinya saat sebuah pukulan akan dino layangkan ke arah zidan.


bug


"kak vera!"


pukulan itu mengenai perut vera yang berada di depan dino, vera terjatuh karena pukulan itu.


"lo kenapa tolongin gue bodoh" lirih zidan sebelum ia kehilangan ke sadaranya.


vera meringis sambil memegangi perutnya.


"kak vera" fida berlari menghampiri vera "kak" panggil fida sambil berjongkok.


dino hanya melihat vera yang terkena pukulanya, dino melirik ke arah zidan yang sudah tergeletak kemudian ia menoleh ke arah reyna.


"gue belum puas" lirihnya, ia berjalan menghampiri zidan, namun baru satu langkan ia berjalan matanya terbelalak ketika ada beberapa polisi di sana.


"angkat tangan!" ujar salah satu polisi sambil menyodorkan senjatanya.


dino menghela nafasnya, satu detik kemudian ia pun mengangkat tanganya.


"bawa dia"


...****************...


"mah gak di angkat" zeval mondar mandir di depan tv merasa cemas karena vera tak mengangkat telfonya.


"coba telfon fida"


"udah, sama gak di angkat, aku juga udah telfon kak nawa dia juga gak angkat"


"mama takut mereka kenapa napa"


zeval menggigit bibir bawahnya " aku mau kerumah kak nawa"


"mama ikut"


"mama di sini aja, nanti zeval kabarin kalo udah sampe rumah kak nawa"


"yasudah"

__ADS_1


zeval pun menyalami tangan mertuanya itu, setelah itu ia melenggang pergi untuk ke rumah nawa.


__ADS_2