Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
pertanyaan


__ADS_3

setelah menerima jam pertama, vera dan nawa kini tengah asik bercerita di dalam kelas.


"jadi sekarang keadaan mama lo gimana, udah baikan?" tanya vera pada nawa.


"sekarang dia udah baikan"


"lo gak ada niatan pulang, mama lo kan lagi sakit?"


"gue baru beberapa hari di sini masa mau balik lagi".


hening, mereka kini malah asik dengan dunia mereka sendiri.


"eemmm ver"


"hhmm" vera yang tengah memainkan ponselnya hanya menjawab dengan gumamnya.


"lo tau gak?"


"apa?" kini vera menoleh ke arah nawa.


"kalo." nawa tidak melanjutkan kalimatnya.


"kalo apa"


"kalo rio udah punya anak"


tak ada reaksi apapun dari vera "terus, maksud lo ngasih tau ke gue apa"


"lo gak iri apa"


"iri, ngapain harus iri?"


"ya ampun vera" nawa menepuk jidatnya "lo bayangin aja, mantan lo aja sekarang udah punya anak, nah lo gak mau punya anak juga?"


"ver lo udah punya suami beda sama gue, andaikan aja jeje suami gue mungkin gue udah minta anak secepatnya, tapi kan gue sama jeje masih berstatus pacar, itu pun gue yang nganggep dia pacar sedangkan dia gak tau anggep gue apaan " nawa menopang dagunya dengan tangan kanan nya.


"curhat bu?" tanya vera.


"ihh vera gue serius, lo gak mau punya anak?"


vera menghela nafasnya atas pertanyaan nawa.


"na, gue sekarang gak lagi mikirin itu, lo tau kan zeval masih sekolah dan gue masih kuliah, gue masih mempersilahkan zeval menikmati masa mudanya tanpa mikirin anak, dan zeva juga gak mau buru buru punya anak"


nawa memegang kedua tangan vera.


"jadi, lo gak bisa buat ponakan secepatnya buat gue?"


vera menjawab dengan gelenganya.


"padahal gue udah bayangin betapa imutnya anak lo" nawa kini memperlihatkan raut kecewanya.


"lo tunggu aja, mungkin benerapa tahun lagi"


"masih lama"


"yaudah gak usah di tungguin" nawa hanya menghela nafasnya.


"ver gue mau nanya?" raut wajah nawa kini berubah sangat serius.


"apa?"


"rencana buat nangkep peneror itu gimana?" tanya nawa dengan suara yang ia pelankan.


"belum punya ide, emang lo berani tangkep tuh peneror?"


"gue sih berani berani aja"


"tapi na, kalau nanti misalnya tuh peneror jadinya neror kita gimana?"


"jangan mikirin itu, pikirin aja cara nangkep tuh peneror dulu". vera mengangguki perkataan nawa.


"reyna jadi tidur di rumah lo?"


"belum tau gue".


"ver kenapa pas kemarin kita ketemu reyna sikap lo kaya aneh gitu ke dia?" tanya nawa.


"aneh gimana maksud lo?"


"kaya gak suka sama dia"


"gue emang gak suka dia" jawab vera jujur.


"kenapa?"

__ADS_1


"dia suka sama zeval, masa lo gak tau pas dia nanyain zeval, padahal keliatan banget tuh anak suka"


"oohh gitu pantesan, tapi na kenapa lo gak kasih tau dia kalau lo istrinya atau lo ngaku pacarnya"


"karena pas gue dulu di undang ke sekolah zeval, gue itu pura pura jadi kakaknya dia, dan gue juga ngaku jadi..."


"jadi apa?"


"eemm jadi, gue jadi-"


"iihh jadi apa cepetan"


"gue ngaku jadi istrinya jeje" seketika nawa membuka mulutnya tak percaya "na lo jangan marah ya"


"lo ngaku jadi istrinya jeje?"


"maafin gue, lo jangan marah gue bisa jelasin"


"kenapa lo baru kasih tau ke gue?"


"jadi tuh gini, para guru tuh udah pada tau kalau zeval cuma punya satu kakak laki laki yaitu jeje, masa gue ngaku istrinya zeval atau istri keduanya papa mertua gue, jadiii gue ngakunya kalau gue istrinya jeje"


"jeje udah tau?"


"belum"


"ver kenapa sih lo baru ngasih tau?"


"gue lupa hehe" jawabnya di akhiri cengiranya.


...****************...


"lo mau keruma gue kan ver?" tanya nawa yang tengah berjalan menuju mobilnya.


mereka kini hendak pulang karena matakuliah mereka hari ini sudah selesai.


"iya gue kerumah lo"


"reyna katanya udah di rumah gue"


"lo yang kasih tau alamatnya?"


"iya, katanya dia udah agak lama di rumah gue"


"yaudah yuk cepetan, kasian anak orang nungguin"


setelah berkendara cukup lama akhirnya mereka sampai di rumah nawa, setelah memarkirkan mobil vera dan nawa langsung masuk kedalam rumah untuk menemui reyna.


"selamat sore kak" sapa reyna ramah yang tengah duduk di ruang tamu, saat melihat vera dan nawa menghampirinya.


"sore juga" sapa nawa sambil duduk dan di ikuti vera.


"cape ya kak?"


"lumayan" jawab nawa "lo udah lama?"


"lumayan"


"maaf yah lo jadi nunggu"


"gak papa kok kak"


"kita kekamar aku aja yuk" ajak nawa.


mereka kini melangkah menuju kamar nawa.


pertama kali reyna masuk kedalam kamar nawa ia di buat kagum dengan nuansa di dalamnya.


terdapat beberapa lukisan yang terpajang, tempat tidur yang cukup besar berwarna putih dan terdapat tempat tidur lebih kecil di bawahnya, di tambah lagi kaca dengan ukiran ukiran indah di tepianya, warna tembok kamar yang gelap dan banyak lampu berwarna warni untuk menambah kesan cantiknya.


"kak ini kamar kakak?" tanya reyna dan di angguki nawa.


"ini bagus banget"


"gue buat kamar ini semirip mungkin seperti kamar gue yang ada di LA" jujur nawa sambil duduk di tepian tempat tidurnya.


"kakak dari LA?"


"iya"


"ini bagus banget sih" kata nawa sambil berjalan dan melihat lihat lukisan yang terpajang.


"kak vera mana kak?" tanya reyna.


"eemm gak tau, coba kakak cari dulu" nawa beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"aku ikut kak"


"gak mau di sini aja?"


"aku ikut aja"


setelah di angguki nawa mereka kini berjalan keluar kamar.


nawa berjalan ke arah ruang makan, mungkin saja vera berada di sana.


dan benar saja vera kini tengah duduk sambil berbincang bincang dengan pembantu di rumah nawa.


"tuh vera" tunjuknya ke arah vera.


"ngapain lo di sini" kata nawa pada vera.


"gue laper, gue lagi minta di buatin mie, lo ngapain di sini katanya mau kekamar"


"gue nyariin lo" jawab nawa " bi sekalian buat makan malem aja" ujar nawa.


"iya non"


"buatin minuman sekalian ya bi, tiga"


"siap non"


"gue gak bisa lama lama di sini, nanti gue di cariin" tutur vera.


"emang lo belum izin sama suami lo?"


"udah tapi gak boleh ke lamaan"


"eemm ngomong ngomong kak zeval apakabar kak?" tanya reyna.


"baik" jawab vera.


"kapan kapan reyna boleh gak main ke rumah kakak?"


"boleh boleh aja"


"kak, kalo misalnya reyna suka sama kak zeval boleh gak?" tanya reyna sambil tersenyum ke arah vera.


'gue sih gak masalah lo suka sama zeval, yang penting zevalnya jangan sampe suka sama lo'


"itu masalah hati jadi gue gak bisa ngelarang lo buat suka sama zeval" reyna tersenyum mendengar jawaban dari vera.


"kakak mau gak bantu aku biar bisa deket sama adik kakak?"


'coba aja lo tau kalo zeval suami gue, masih berani lo tanya kaya gitu ke gue!'


nawa hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan mereka, tak ingin mengeluarkan suaranya.


"maaf yah rey, zevalnya harus fokus dulu sama pendidikanya jangan mikirin cinta cinta dulu" jawabnya di akhiri senyuman namun itu hanya sebentar dan setelahnya ia menunjukan wajah dinginya lagi pada reyna.


"ohh gitu yaudah gak papa"


"ini non minumanya"


"makasih bi" jawab nawa sambil meletakan minuman yang bibinya bawa di atas meja.


"kak vera" panggil reyna " kalo di lihat lihat kak jeje ganteng yah, gak kalah sama adiknya" pujinya.


"oh ya pasti, jeje tuh ganteng banget malah" jawab nawa sambil tersenyum senyum sendiri.


nawa melirik ke arah reyna yang menatapnya "kenapa liat gue kaya gitu, tapi emang ia kan jeje itu ganteng yakan ver?" nawa menyikut lengan vera pelan.


"iya" jawab vera males.


"kak jeje sama kak nawa kapan mau punya baby?"


nawa menyemburkan minuman yang ia minum.


"yaampun kak nawa kenapa?" tanya reyna.


"gak papa" jawab nawa.


vera kini menatap reyna tidak suka "ngapain lo nanya nanya, apa hubunganya sama lo terserah lah mau punya anak apa enggak itu urusan gue" vera sudah sangat malas meladeni pertanyaan dari reyna.


'kak vera kenapa, kok jadi judes gini?'


"rey, maklumin aja dia lagi pms, kalau lagi pms emang suka gitu" ujar nawa berbohong.


"maaf ya kak" ujar reyna pada vera.


'sebel lama lama gue sama dia'

__ADS_1


nawa belirik ke arah vera lalu beralih pada reyna.


'mereka tuh kayak lagi merebutkan satu laki laki yang sama'


__ADS_2