Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
penyelamatan


__ADS_3

nawa kini berjalan santai menyusuri rumah sakit hendak kembali ke ruang rawat zidan.


"eehh" nawa menghentikan langkahnya saat penglihatanya terkunci pada sesuatu yang menurutnya mencurigakan.


'dia siapa ya, sedikit mencurigakan'


nawa terus memperhatikan seorang lelaki yang memakai jaket dan topi hitam yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


"apa dia dino" tebaknya.


lelaki itu kini berjalan melewati nawa.


"gue ikutin dia aja"


nawa pun memilih menguntit lelaki tersebut, hingga lelaki tersebut ternyata berjalan menuju toilet.


"tapi muka dia ketutup topi, gimana caranya gue tau dia dino apa bukan" gumamnya sambil bersender di tembok "eehh gue gimana sih, gue juga kan gak tau muka si dino kaya apa" nawa menepuk jidatnya.


nawa mengambil ponselnya di dalam kantong bajunya, dan ia molai mencari kontak vera.


"halo ver"


"kenapa lo telfon gue?"


"gue abis ketoilet"


"terus, lo lupa jalan keruangan zidan?"


"bukan, tapi..."


"apa?"


"gue kan tadi mau balik ke ruangan zidan, tapi gue liat seseorang yang mencurigakan, takutnya itu dino"


"terus?"


"masalahnya gue gak tau muka dino kaya apa"


"gue juga gak tau, gue coba minta foto dino sama zidan, nanti gue kirim ke lo"


"oke cepetan gak pake lama"


nawa menoleh kekanan dan kekiri sambil menunggu lelaki yang menurutnya mecurigakan itu yang masih belum keluar toilet.


"tuh orang lama banget di toilet" gumamnya.


nawa yang merasa ponselnya bergetar langsung melihat layar ponselnya.


"mukanya kaya gini yang namanya dino" ujarnya sambil melihat foto dino yang vera kirim.


"yaampun tuh orang di toilet lama banget sih berak kali ya" nawa kembali menyenderkan tubuhnya.


setelah beberapa menit orang itu pun keluar dari toilet.


"itu orangnya" gumam nawa, orang itu kini berjalan melewati nawa yang tengah berpura pura mengangkat telefon.


setelah orang itu sedikit menjauh nawa langsung berjalan mengikutinya.


nawa terus berjalan mengikutinya sampai mereka kini menaiki lift.


'dia curiga sama gue gak yah?"


semua yang menumpangi lift kini sudah keluar namun lelaki itu tidak turun, hingga di lift kini tersisa nawa dan lelaki tersebut.


'gimana caranya biar gue liat muka nih orang'


nawa terus memperhatikan lelaki yang berada di sebelahnya itu.


'gue coba tanya aja'


"permisi mau tanya boleh?" tanya nawa namun tak ada respon dari lelaki tersebut.


"mas, mau nanya" lelaki itu hanya diam.


"mas mau nanya boleh" nawa sedikit meninggikan suaranya.


'waahh kebangetan gue di cuekin'


"mas" nawa memanggil sambil menepuk pundak lelaki tersebut.


"eh kenapa?" lelaki yang baru menyadari namanya di panggil menoleh ke arah nawa dan mencabut handset yang sedari tadi menyumpal telinganya.


'pake handset ternyata'

__ADS_1


"mau nanya boleh" ulang nawa.


"apa?"


'mukanya masih gak keliatan gue harus gimana dong'


"eemm" nawa menggaruk lehernya karena merasa bingung.


'mau nanya apa nih gue bingung banget'


nawa melirik ke topi yang lelaki itu kenakan.


"mau nanya, to-topi nya beli di mana" nawa bertanya di akhiri senyumnya.


'naaaa lo nanya apaan sih, tapi gak papa lah'


"topi ini" ujarnya sambil menunjuk topinya.


"iya"


"di mall banyak" jawabnya.


"gue boleh pinjem bentar?" lelaki itu mengangguk ragu, ia pun melepas topi yang ia kenakan.


nawa tersenyum lebar saat lelaki itu menganggukinya.


"nih" lelaki itu memberikanya pada nawa.


nawa kini dapat dengan mudah mengetahui wajah lelaki tersebut.


'bukan dino'


nawa menghela nafasnya saat tebakanya ternyata salah.


"eemm gak jadi pijem, makasih mas" ujar nawa tak berniat mengambil topinya.


"nih buat lo aja" lelaki itu mengenakan topinya pada nawa "keliatanya lo suka sama topi gue"


nawa di buat terkejut olehnya " hehehe makasih mas" ucap nawa di akhiri cengiranya.


"sama sama, gue duluan" lelaki itu kini melangkah meninggalkan nawa di dalam lift.


...****************...


"gue udah baik baik aja"


"kak" panggil fida pada vera.


"kenapa?"


"kak zeval chat aku, katanya dia telfon kakak tapi gak aktif"


vera menepuk jidatnya "ponsel kakak lupa di aktifin" vera kini merogoh saku clananya untuk mencari ponselnya.


"kakak kedepan dulu ya" ujar vera pada fida dan zidan dan mendapat anggukan dari mereka.


ruangan itu kini sangatlah sunyi, fida yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dan zidan yang tengah tiduran di ranjangnya dan ibu zidan yang izin keluar sebentar.


sedangkan vera kini tengah berbicara di telfon dengan suaminya di depan ruang rawat zidan.


"jangan kelamaan pulangnya"


"iya, bentar lagi juga aku pulang"


"aku jemput sekarang aja ya"


"jangan, nanti aja"


"udah mau malem sayang"


"aku tau ini udah mau malem, tapi kamu jemputnya nanti aja"


"nanti pas aku telfon gak aktif lagi"


"nanti aku yang telfon, sekarang kamu fokus belajar aja"


"aku udah belajar"


"belajar lagi biar tambah pinter"


"nanti belajar lagi, tapi kalo sekarang gak bisa"


"loh, kok gak bisa emang kamu lagi ngapain?"

__ADS_1


"lagi kangen sama istri yang pergi gak ngajak suami, giliran mau di jemput bilangnya nanti, pas di telfon juga gak aktif, istrinya gak peka banget kalo suaminya lagi kangen"


vera tersenyum mendengar jawaban zeval.


"oohh gitu, istrinya tega banget ya?"


"selain tega dia gak peka"


"kalo boleh tau siapa nama istri bapak"


"aduh saya lupa"


"kenapa bisa lupa sama nama istri sendiri?"


"karna rasa rindu sang suami sudah di level waspada"


"hahahaha zeval hari ini kamu makan apa sih, tumben ngomong panjang lebar ples gak jelas gini"


"karena faktor permasalahanya hanya satu yaitu zeval rindu dengan vera"


"hahahah, nanti juga ketemu sekarang kamu makan aja sana"


"nanti aja sama kamu"


"makan duluan aja"


vera yang masih asik berbicara dengan zeval tak sengaja melihat nawa yang berjalan ke arahnya.


"eemm zeval udah dulu ya, kamu makan dulu aja, nanti kalo aku mau pulang aku bakal telfon, dadahh"


tanpa menunggu zeval menjawabnya ia langsung mematikan sambunganya.


"gimana?" tanya vera pada nawa yang sudah berada di hadapanya.


"orangnya bukan dia, yang gue curigai ternyata bukan dino" jawabnya sambil mengambil topi yang berada di kepalanya.


"itu topi siapa?"


"dia ngasih ke gue. Kita kedalem yuk" ajak nawa.


...****************...


nawa yang tengah duduk di sofa rumah sakit sedikit merasa gelisah.


"lo kenapa?" tanya vera.


"gue ngerasa gak yakin kalo dino bakalan langsung masuk ke ruangan ini, pasti ada rencana lain"


"apa jangan jangan dia udah kesini, tapi pas liat kita dia pergi" tebak fida.


"apa mungkin dia nanti bakal nyamar, contohnya dokter" lanjutnya.


nawa menyenderkan tubuhnya "terus kita mau apa sekarang?"


"kalian pulang aja" ujar zidan yang sedari tadi hanya mendengarkan "gue bisa habisin dia sendirian, lebih baik kalian pulang"


"gak bisa" tolak nawa cepat.


"kalian itu cewek, bukanya nolongin nanti malah ngrepotin"


"lo ngremehin kita" nawa berdiri dari duduknya merasa tak terima dengan ucapan zidan.


zidan menghela nafasnya "terserah kalian deh, tapi nanti kalo ada apa apa gue gak mau tanggung jawab"


"kita tuh niat nolongin lo"


"tapi gue gak butuh bantuan kalian"


"udah na" kata vera menengahi.


nawa menarap zidan tidak suka sambil kembali duduk di sofa yang tadi ia duduki.


nawa merogoh ponsel di sakunya untuk mencari informasi tentang reyna.


niat awal ingin menelfon nasa ternyata nasa terlebih dulu menelfonya.


"halo nas-"


"reyna gak ada!"


nawa seketika langsung bangkit dari duduknya "gak ada gimana?" tanya nawa dan membuat yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.


"kita udah di tempat reyna di sekap, tapi reyna udah gak ada cuma ada ponsel dia"

__ADS_1


__ADS_2