
jam sebelas malam, kediaman orang tua vera yang awalnya sangat ramai kini terlihat sepi, semua teman vera maupun zeval baru beberapa menit yang lalu pamit untuk pulang.
vera menghela nafasnya lelah sambil duduk di atas sofa.
"cape ya?" tanya zeval sambil mengambil duduk di sebelah vera.
vera menoleh ke arah zeval "lumayan cape"
"kalo aku minta izin ke kamu di izinin gak?" tanya zeval.
"izin kemana dulu" jawab vera.
"ada kerjaan di luar kota, jadi aku minta izin sama kamu"
"ke mana?"
"surabaya, nanti aku ke sana sama kak jeje"
"berapa hari?"
"cuma tiga hari, mungkin abis camping aku sama kak jeje langsung berangkat"
"ya udah aku izinin" vera merebahkan kepalanya di paha zeval "pulang bawa oleh oleh yang banyak ya"
"siap"
vera tersenyum sambil memainkan dagu zeval, zeval membiarkanya saja, ia hanya fokus pada tayangan di layar tv.
"zeval kok imut sih" lirih vera.
"imutan juga kamu" jawab zeval tanpa mengalihkan tatapanya pada layar tv.
"zeval kok ganteng" zeval menunduk menatap vera.
"kan aku suami vera ya ganteng lah" vera tersenyum karena ucapan zeval.
"ver" panggil zeval.
"kenapa?"
"kayaknya habis lulus aku bakal sibuk banget"
"sibuk?"
"iya sibuk, sibuk sama perusahaan"
"kan ada kak jeje, kalian bisa saling bantu, kamu fokusnya jangan sama perusahaan aja, kamu juga harus tetep belajar buat lanjut kuliah"
"eemmm kayaknya aku mau fokus sama perusahaan aja deh, aku gak lanjut kuliah"
vera bangun dari tiduranya, ia langsung duduk sila di atas sofa sambil menghadap ke arah zeval.
"kamu gak mau lanjut kuliah?" tanya vera tak percaya.
"aku udah fikirin itu, dan aku mutusin gak lanjut kuliah" jawab zeval di akhiri senyumanya.
"alesanya?"
"karna aku udah punya kehidupan aku sendiri, aku udah punya kamu, jadi aku harus nafkahin kamu"
"tapi zev, kamu harus tetep kuliah, kamu harus tetep kejar cita cita kamu"
"cita cita aku itu ngebahagiain kamu"
"jangan karena kebahagiaan aku kamu kubur cita cita kamu, aku gak mau"
"tidur gih dah malem" ujar zeval sambil mengelus pipi vera.
__ADS_1
"kamu jangan alihin pembicaraan, zeval aku pengin kamu kuliah, biar kita bisa berangkat kuliah sama sama, sebelum nikah sama aku pasti kamu punya impian iya kan"
"kita bahas besok" zeval beranjak dari duduknya "aku ke kamar dulu"
vera menatap punggung zeval yang menjauh.
...****************...
zeval menutup pintu kamarnya, kemudian ia berjalan menuju meja belajar.
zeval mengambil buku di salah satu tumpukan buku.
"iya, gue punya impian" lirih zeval sambil memandang foto yang terselip di lipatan buku.
zeval tersenyum memandang foto itu, zeval memgambil foto itu lalu membuangnya ke tong sampah.
vera yang berada di ambang pintu terdiam saat melihat zeval membuang foto ke dalam tong sampah.
"zeval buang apa?" tanya vera, ia melangkah menghampiri zeval yang terkejut karena kedatangan vera.
"bukan apa apa"
vera menatap zeval, jarak mereka kini cukup dekat "kita tidur yuk udah malem" ajak zeval.
vera menghela nafasnya, ia melangkah menuju tong sampah.
"mau cari apa" cegah zeval sambil mencekal lengan vera.
"kamu tadi buang apa?" tanya vera.
"cuma kertas, mending kita tidur"
"tunggu bentar" vera kembali melanjutkan langkahnya.
vera mencari benda yang zeval buang, hingga sebuah foto yang tadi zeval buang kini sudah berada di tangan vera.
"itu bukan apa apa, kita tidur aja, fotonya biar aku buang" vera menyembunyikan fotonya di belakang punggung saat zeval hendak mengambilnya.
"siapa?" tanya vera.
zeval menggigit bibir bawahnya "bu-bukan siapa siapa"
"dia siapa?"
zeval menghela nafasnya, ia menunduk tak lagi menatap vera.
"pacar kamu?"
"aku jelasin"
"silahkan" vera berjalan meninggalkan zeval.
zeval mendongak saat vera meninggalkanya, zeval berjalan menghampiri vera yang tengah duduk di atas tempat tidur.
"dia siapa?" ulang vera sambil meletakan selembar foto di hadapan zeval.
zeval menatap foto dirinya sendiri dengan seorang perempuan di sebelahnya, perempuan yang cukup cantik dengan rambut panjang dan berponi, menggandeng tangan zeval cukup mesra di langit malam prancis, di tambah pemandangan menara eiffel yang menjadi malam itu lebih romantis.
zeval tersenyum mengingat kejadian masa lalunya.
"impian aku ingin menjadi dokter" lirih zeval sambil menatap vera.
vera memutar bola matanya malas "aku gak nanya itu, yang aku tanya dia itu siapa?"
"saat aku kelas satu SMA, cita cita aku pengin jadi dokter, alasanya pengin banget nyembuhin penyakit dia"
"dia lauren, dia temen aku, kita berteman semenjak kecil, tapi pas SMA dia harus ke prancis untuk pengobatan penyakitnya itu, hingga gue berjanji mau nyembuhin dia, tiap libur sekolah aku sempetin ke sana, keluarga kita juga cukup dekat"
__ADS_1
zeval mengambil selembar foto itu "dia cinta pertama aku" zeval menatap vera.
"ini foto kita setelah beberapa menit kita jadian, hubungan kita berjalan baik selama lima bulan tanpa satupun orang yang tau kalau kita pacaran"
"aku juga berusaha belajar dengan giat, biar cita cita aku tercapai, tapi sebaik apapun aku sama lauren sembunyiin hubungan kita, akhirnya kebongkar juga, kak jeje tau hubungan kita dan dia ngasih tau papa sama mama, gak tau alesanya apa mereka suruh aku putus sama lauren"
vera menatap zeval, entah mengapa ia merasa sedih dengan cerita zeval.
"tapi aku gak putusin lauren, karna kita berjanji seperti apapun rintanganya aku sama lauren gak bakal putus, saat aku kelas dua SMA keadaan lauren makin memburuk, hingga akhirnya lauren pergi ninggalin aku"
"sejak lauren ninggalin aku semuanya gelap, aku cuma hidup mengikuti alur, biarin semuanya mengalir, hingga kamu datang menjadi penerang"
"emang gue bohlam" lirih vera.
"tapi tenang, kalau sekarang hati zeval hanya untuk vera seorang" ujar zeval di akhiri senyumanya.
"jadii kamu mau jadi dokter karna lauren?"
"awalnya iya pengin nyembuhin dia, tapii setelah dia pergi aku pengin nyembuhin semua orang"
"kejar cita cita kamu"
"enggak, sekarang aku udah gak minat"
"zeva-"
cup
"tidur" lirih zeval setelah mencium kening istrinya.
"kamu udah gak suka lauren kan?"
zeval yang tengah menyamankan posisi tidurnya langsung menatap vera "gak ada lauren, adanga veraaa istri ku tercinta"
vera ikut merebahkan dirinya "sayang" rengek vera sambil memeluk zeval.
"kenapa?" zeval membalas pelukan vera.
"kamu kuliah yaa, kamu juga harus ngerasain pusingnya seorang mahasiswa, kuliah yaaaa plisss"
"hhmm"
"kok hmmm, jawab zeval"
"iyaa aku kuliah" vera tersenyum karena ucapan zeval.
"beneran kan?"
"iyaa sayang ku"
"gitu dongg" vera mengeratkan pelukanya, menyamankan kepalanya di dada zeval.
"habis camping kita pulang ke apart ya?" tanya zeval dan di angguki vera.
"apart mungkin berdebu, kita bersihin bareng bareng ya?" vera mengangguki perkataan zeval.
"nanti belanja kebutuhan dapur aku temenin ya?" vera lagi lagi mengangguk atas pertanyaan zeval.
"nanti pas di apart kita buat adek ya?" vera mengangguki ucapan zeval.
zeval tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"yess" lirih zeval.
"nanti kit-" zeval tak melanjutkan perkataanya saat mendengar dengkuran halus dari vera.
"selamat malam" lirih zeval di akhiri kecupan di kening vera.
__ADS_1