
"kuyy lah berangkat" ujar nawa yang tengah menenteng tasnya.
"jaket woy jangan lupa" teriak adit yang sudah menaiki motornya dengan membonceng keponakanya yang juga ingin ikut.
"beneran gak mau ikut sama gue aja?" tanya dodo yang sekian kalianya pada keponakan adit.
"enggak kak" jawab eva.
"udah lah do, ponakan gue gak mau sama lo"
"yaah kok gitu sih" dodo cemberut sambil berjalan menuju motornya.
"lo jangan mau sama dodo, gue gak setuju kalo lo sama dodo" kata adit.
"iyaaa"
"cepet dong keburu sore" kata nawa sambil menaiki motornya "nasa lo beneran gak mau sama gue aja?" tanya nawa pada nasa.
"enggak kak aku sama nura aja" jawab nasa di akhiri cengiranya.
"kalian ikut, terus reyna kalian tinggal?" tanya arkan.
"tadinya kita gak mau ikut mau nemenin reyna, tapi kita malah di suruh pergi sama reyna, reyna kan hari ini boleh pulang sama dokter" jawab nura.
zeval, dilah dan abi yang sudah berada di atas motor masing masing sama sama menatap arkan.
arkan yang merasa di tatap teman temanya pun menoleh.
"apa?" tanya arkan.
mereka bertiga melirik ke arah jok belakang motor arkan.
"kalian berduaaaa jadian?" tanya abi.
arkan menjawab dengan senyumanya "kita jadian udah lama"
"wah gila kalian, pokoknya nanti harus di jelasin kenapa kalian bisa jadian" kata dilah.
dilah benar benar merasa tidak laku pasalnya teman temanya sudah memiliki pasangan masing masing.
dilah melirik zeval, sudah pasti zeval dengan vera.
"kenapa mereka udah nikah sih, kan gue pengin jugaaa"
dilah melirik ke arah abi, dilah memutar bola matanya malas karena pasangan satu ini benar benar bucin, sempat sempatnya mereka berpelukan di saat dilah berada di sebelah mereka.
"abi sama anggun ini bener bener yaa, awas aja nanti kalau kalian putus gue sukurin"
dilah menatap horor ke arah arkan, yang baru memberi tau teman teman mereka kalau ia sudah berpacaran dengan prili seorang preman kelas, yang suka meminta uang di hari jumat apa lagi kalau bukan bendahara kelas, yang tiap jumat bawa buku sama penggaris.
"yuk berangkat" kata jeje sambil menyalakan motornya.
"santai aja kali meluknya, jejenya juga gak bakal di bawa kucing" sindir nawa pada chindi yang tengah memeluk pinggang jeje dari jok belakang.
"sabar ya na" lirih dodo.
mereka pun berangkat untuk bercamping melepas lelah mereka, menghirup udara segar di atas bukit yang rindang dengan banyaknya pepohonan.
__ADS_1
...****************...
"waahh gila sih, ini bagus banget" pekik nawa saat sampai tujuan.
nawa merentangkan tanganya membiarkan angin sore menerpa tubuhnya.
"nawa sini!" teriak vera.
nawa pun menoleh ke arah vera, nawa tersenyum saat vera tengah duduk di bebatuan, nawa pun menghampiri vera.
"nawa gue seneng banget bisa kesini" girang vera.
"gue juga, kapan lagi kita bisa ke sini"
"semuanya kita buat tenda!" teriak zeval.
"ver lo satu tenda sama gue yaa pliss" kata nawa "kapan lagi coba gue bisa tidur sama lo lagi"
"oke oke" jawab vera menyetujui.
setelah itu mereka semua pun menyiapkan tenda masing masing.
"guys butuh kayu bakar gak?" tanya nawa yang tengah menyimpan tasnya di dalam tenda.
"ya butuh lah, lo cari sana sama yang lain, gue siapin bumbu buat bakar ayam" ujar vera.
"guys cari kayu bakar yuk!" teriak nawa.
nawa berjalan menjauh dari area camping, ia pergi seorang diri untuk mencari kayu bakar.
"aw aw" pekik nawa saat kayu yang berduri menusuk telapak tanganya "sakit" lirih nawa.
saat tangan mungilnya menggaruk pipinya matanya tak sengaja melihat sesuatu yang menarik indra penglihatanya, dan itu cukup membuatnya penasaran.
nawa berjalan untuk melihatnya lebih dekat.
"Waaahh" mata nawa seketika berbinar, ia melihat danau yang sangat indah di depan mata.
"gue harus kasih tau vera, ini bagus banget" nawa membalikan tubuhnya ia berjalan lebih cepat dengan tangan yang membawa kayu bakar.
vera yang tengah duduk sendirian terlihat sangat fokus pada bumbu bumbu yang ia siapkan, angin sore yang cukup kencang berhasil menerpa rambut vera dan berhasil menutupi wajahnya.
teriakan teman temanya membuat vera tersenyum, ia menikmati camping ini, nawa mendongak menoleh ke arah teman temanya berada, vera menggelengkan kepalanya tak percaya karena melihat mereka tengah berkejar kejaran.
"seperti anak kecil saja" lirih vera, kemudian ia fokus kembali kepada kegiatan awalnya.
fokusnya teralihkan saat sebuah tangah yang cukup besar tiba tiba merangkulnya.
"sendirian aja neng"
vera mendongak, vera tersenyum memperlihatkan deretan giginya ke arah zeval.
"mau abang temenin?" tawar zeval.
"pergi sana jangan ganggu" kata vera sambil menyingkirkan lengan zeval.
"mau nemenin gak boleh" lirih zeval sambil membenarkan rambut vera yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
vera tak menjawab perkataan zeval ia kembali fokus pada kegiatanya membiarkan zeval yang kini memandanginya.
hening cukup lama, vera merasa risih karena zeval tak pernah memalingkan wajahnya dari nya.
"kenapa?" tanya vera sambil menatap zeval.
"cantik" lirih zeval tapi perkataanya itu membuat pipi vera tiba tiba memerah.
"jangan ganggu, pergi sana" usir vera.
"aku gak ganggu dari tadi kan aku diem"
"jangan liatin mulu"
"masa istri sendiri gak boleh di liatin"
"risih tau"
"istrinya cantik mubazir gak di liatin"
"udah lah pergi aja sana"
zeval tak menjawab, zeval hanya tersenyum sambil memandang vera, vera yang terus di tatap oleh zeval kini juga ikut menatapnya, tatapan mereka saling beradu saling mengagumi pahatan wajah yang tuhan ciptakan, makin lama tatapan itu makin mendalam saling menyampaikan pesan cinta melalui mata masing masing.
entah dorongan dari mana tangan kiri vera kini terangkat menyingkirkan rambut zeval yang menutupi mata coklatnya, zeval menginginkan lebih, ia melirik bibir ranum vera yang sudah lama tak pernah ia rasakan, ia terlalu sibuk untuk melakukan hal hal yang seperti itu.
zeval mendekatkan wajahnya pada wajah vera, vera tak menolak jujur vera merindukan zeval yang hangat padanya.
nafas zeval kini menerpa wajah vera hidung mereka kini sudah bersentuhan, senja pun kini ikut menyaksikan dua insan yang tengah bermesraan itu.
vera memejamkan matanya.
dan.....
"lama amat"
zeval dan vera tersentak mereka saling menjauh satu sama lain.
"kalian" ujar vera dan zeval bersamaan.
"nawa lo sih, bentar lagi padahal tuh" omel adit.
vera menunduk malu, wajahnya bagaikan kepiting rebus sekarang, ia di pergoki teman temanya, sungguh memalukan.
"gue udah cape nunggu, kalau mau cium langsung aja gak usah di hayatin dulu, kalau gue jadi authornya langsung aja cium lama amat"
"gara gara lo nawa, kita jadi gagal liat drama" omel dodo.
zeval menatap teman temanya yang tengah berdebat sambil duduk sila dengan berjajar, dia merasa seperti tontonan sekarang.
"apaan sih kalian ganggu aja" omel zeval.
"cie yang gak jadi cium" goda dilah.
"gue baru liat zeval kaya gitu" sambung abi.
"apaan sih kalian" vera berdiri dari duduknya, ia pergi karena merasa malu.
__ADS_1
"vera tunggu" panggil zeval sambil mengejar vera.