
ayah dan mama zeval sudah tiga hari berada di apartemen anaknya itu, sore ini ayah zeval tengah meminum teh buatan istrinya sambil menikmati senja di rooftop apartemen.
"pah" ujar zeval sambil menghampiri ayahnya.
"kamu baru pulang?" tanya ayahnya sambil meletakan cangkir tehnya.
"iya, akhir akhir ini lumayan sibuk persiapan buat ujian" jawab zeval sambil duduk di kursi sebelah ayahnya.
"kamu harus rajin belajar, kurangin main"
"iya pah"
berbincangan mereka terus berlanjut sampai mama zeval datang.
"seru banget anak sama ayah ini, lagi bahas apa?" ujar mama zeval ia pun bergabung bersama suami dan putranya.
"gak bahas apa apa" jawab zeval.
"kalian liat deh" ujar mama zeval tersenyum sambil menunjuk langit yang biru bercampur orange
"kita jarang jarang loh, bisa nyaksiin senja bareng bareng kaya gini, di atas apartemen"
"iya, biasanya mama sama papa sama sama sibuk di kantor jam segini, pulangnya malem" ayah zeval membenarkan ucapan istrinya.
"silahkan di nikmati" ujar vera, dan semua menoleh ke vera yang tengah tersenyum dan membawa sepiring kue "ini buatan mama sama aku"
"makasih ya nak" ujar ayah zeval vera pun tersenyum dan mengangguk.
"sini" ujar zeval menepuk tempat di sebelahnya.
"ini cuma kurang kak jeje aja" ujar zeval.
"kakak kamu pasti lagi ngelapin mobil koleksinya jam segini" ujar mama zeval.
"kak jeje dari dulu gak pernah berubah, mah mobilnya sekarang udah berapa?" tanya vera.
"gak usah di hitung bikin pusing saking banyaknya"
"papa pengin banget nikmatin senja kayak gini bareng mama, zeval, vera, jeje, nawa, dan cucu pasti sangat seru" ujar ayah zeval.
vera dan zeval saling memandang saat ayahnya mengucapkan kata cucu.
"tapi papa sama mama gak maksain kalian buat secepatnya punya anak loh yaa, tapii kalo di kasihnya cepet sih malah lebih bagus" ujar mama zeval.
"kita belum mikir kesitu ma, pa" jawab zeval.
"gak papa, kita denger kalian udah menerima dengan tulus perjodohan ini pun kita udah seneng banget" jawab ayah zeval.
"tadi papa bilang nawa, papa udah kenal" ujar vera.
"udah" jawabnya.
"nawa itu suka main ke rumah, dia bilang pacaran sama jeje, mereka cocok kok" jawab mama zeval.
"kalian gak mau tau kenapa kalian di jodohin?" tanya ayah zeval dan itu membuat vera dan zeval mengangguk antusias.
"kita dari dulu pengin nanyain itu pa" ujar zeval.
ayah zeval menatap langit dengan pandangan kosong, ia berusaha mengingat memorinya kembali saat masih SMA.
"kakek kamu" ujar ayah zeval sambil menoleh ke putranya, setelah beberapa menit iya memandang langit kembali.
"dulu kakek kamu pernah di bantu ke ekomonianya sama kakek vera, kakek vera membantu semuanya hingga mereka berdua pernah mendirikan perusahaan bersama, dan perusahaan mereka berkembang, kakek zeval sangat berterima kasih, berkat kakek vera ke ekonomian dia pun bisa setabil"
ayah zeval menarik nafasnya dan mengeluarkanya dengan pelan, vera dan zeval pun masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.
"waktu itu ia ingin membalas budi kebaikan kakek vera, tetapi ia bingung membalasnya dengan cara apa, saat itu juga kakek vera menyarankan untuk menjodohkan putrinya dengan anak kakek kamu zeval"
__ADS_1
"jadiii ayah dulu di jodohin?" tanya zeval pada ayahnya.
"iya waktu itu ayah udah SMA, ayah di jodohin sama mama vera" kini ia menarap vera yang terkejut.
"dulu ayah pernah di jodohin sama mamanya vera, saat ayah dan mama vera di kasih tau tentang perjodohan itu jelas kita menolak mentah mentah, karna ayah sudah mempunyai pacar dan berjanji akan menikahinya kelak" ayah zeval kini menatap istrinya yang tengah tersenyum ke arahnya.
"terus" ujar zeval sangat penasaran akan kelanjutanya.
"kakek kamu tetap dalam pendirianya untuk mejodohkan ayah sama mama vera, kita pun saat itu hanya bisa pasra, pacar papa udah tau kalau papa mau di jodohin tapi papa gak sanggup buat putusin pacar papa" kemudian ia menatap putranya.
"pacar papa waktu itu mama?" tanya zeval dan langsung di angguki oleh ayahnya.
"yaaa walau saat itu mama kamu sudah mengakhiri hubungan kita, tapi papa tetap ingin mempertahankan mama kamu"
ayah zeval merangkul istrinya.
"dan saat hari pernikahan tiba, mama vera tiba tiba mempunyai ide gila"
"ide apa?" tanya vera dan ayah zeval menatapnya.
"mama kamu kabur dari jendela"
"terus pernikahan batal?" tanya zeval dan ayahnya menggeleng.
"tetap berjalan, mama kamu menggantikan mama vera, tanpa sepengetahuan kakek" sambil menatap zeval.
"waktu itu, papa setuju aja sama rencananya, papa hanya berfikir papa gak mau pisah sama mama"
"jadi mama aku berhasil kaburkan?" tanya vera.
"iya dia berhasil kabur, pergi kerumah papa kamu, yang waktu itu berstatus pacar" jawabnya sambil menatap vera.
"mereka udah lama pacaran semenjak kelas dua SMP" lanjutnya.
"pernikahanya gimana?" tanya zeval.
"kakek waktu itu gimana?" tanya vera.
"kakek kamu langsung di bawa kerumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh" papa zeval menunduk karena merasa bersalah.
"maafin papa, ini semua karna papa egois" ayah zeval meminta maaf pada vera, mama zeval pun mengelus pundak suaminya.
"itu udah jalan tuhan, itu bukan salah papa, jangan salahin papa" jawab vera sambil tersenyum.
"makasih vera, kamu maafin kejadian papa dulu"
"sekarang perusahaanya gimana?" tanya zeval.
"kakek kamu langsung menjual perusahaan itu, dan sesuai permintaan kakek vera, sebagian dari uang hasil penjualan ia sumbangkan ke panti asuhan, panti jompo, sama buat orang orang yang hidup di jalan"
"mama aku saat tau kakek di bawa kerumah sakit gimana?" tanya vera.
"mama kamu langsung pergi kerumah sakit dengan papa kamu".
"mama vera minta maaf saat itu juga, dan kakek kamu juga minta maaf karena memaksakan anaknya, karna mama vera menyesal telah membuat kakek masuk rumah sakit ia berjanji, kelak kalau mereka punya anak akan di jodohkan" ujar ayah zeval sambil menatap vera dan zeval.
"ooh karna itu kita di jodohin" ujar zeval, papa zeval mengangguk.
"setelah beberapa minggu di rumah sakit, keadaan kakek kamu semakin memburuk, dan yaahh kakek kamu meninggal di rumah sakit".
"tapi sebenarnya vera akan di jodohkan dengan jeje" ujar mama zeval.
"tapi kenapa jadinya sama aku?" ujar zeval sambil merangkul pinggang vera.
"tanya aja sama papa" jawab mama zeval, vera dan zeval pun menatap ayah zeval.
"saat vera dan jeje sudah satu tahun, tiba tiba papa vera di pindah tugaskan dari kerjanya keluar kota, mereka pun pindah, dan sampai beberapa bulan kita hubungin selalu di luar jangkauan, kita jadi putus kontak gitu aja, sampai kita lupa dengan janjinya dulu untuk menjodohkan anak kita, di tambah lagi kita jadi sibuk kerja"
__ADS_1
papa zeval meneguk tehnya yang tinggal setengah.
"sampai mama mengandung zeval, kita jadi benar benar lupa akan masa lalu kita, kita lebih fokus untuk masa depan kita, setelah zeval di lahirkan mama zeval jadi sering mimpi buruk, setiap malam zeval menangis padahal zeval tidak demam".
"sampai akhirnya mama zeval memimpikan kakek vera, saat itu kita teringat janji kita yang dulu, kita akhirnya mencari mereka dan ternyata mereka berada di kalimantan, mereka pun ternyata lupa perjanjian itu juga"
"terus?"
"terus kita sepakat jodohin vera sama jeje, tapiii pas kita liat interaksi antara vera dan zeval begitu lucu, vera yang selalu meciumi zeval kecil, dan itu membuat zeval tertawa terbahak bahak, membuat kita berpikir ulang, akhirnya kita menjodohkan zeval dan vera, kalian memang berbeda umur cukup jauh tapi kalian tetap pasangan paling serasi"
zeval dan vera saling memandang.
" kak berarti kakak yang cium aku duluan, bukan aku" ujar zeval dengan cengiranya.
"zev dulu sama sekarang beda"
"sama"
"beda"
"sama sama cium kak"
"udah udah" ujar mama zeval "tuh liat burung burung aja udah pada pulang, kita juga masuk udah mau malem" ujar mama zeval sambil pergi membawa piring berisi kue.
"mah papa belum makan kue nya"
"di dalem pa!" ujranya sambil berteriak "oh ya mama baru inget papa hari ini banyak bicara, mama suka!" lanjut mama zeval.
papa zeval pun pergi menghampiri istrinya dan meninggalkan vera dan zeval.
"kak"
"hmm"
"seandainya kakak sama jeje, aku gimana ya?" vera kini menoleh ke arah zeval.
" ya gak gimana gimana, kamu mungkin lebih bahagia, karena gak mikirin perjodohan"
"tapiii aku mau jujur kak"
"jujur apa?"
zeval medekatkan wajahnya ke arah vera, nafasnya menayapu kulit wajah vera, dan itu membuat vera gugup sendiri.
vera menatap manik wajah zeval dan sedikit lagi hidung mereka dapat bersentuhan.
bola mata itu, mata coklat itu kini mengunci pandangam vera, ingin vera mengalihkan pandanganya karna jantungnya sudah berdetak sangat cepat.
"kak" lirih zeval.
"hmm" vera hanya bisa menjawab dengan gumamnya.
"aku bahagia setelah sama kakak, aku jadi gak mementingkan diri sendiri, kakak mau gak selamanya sama aku".
"hm"
"zeval cinta vera" ujar zeval sangat pelan.
hidung mereka kini bersentuhan, daann...
"woyy lagi ngapain woy!"
teriakan jeje yang entah dari kapan berdiri sambil menyender tembok, membuat mereka berdua langsung menjauh satu sama lain.
"kak" ujar zeval sambil menahan emosinya.
"yaampun gue salah ya, seharusnya biarin kalian lanjut dulu hahah"
__ADS_1
"lo sama nawa sama aja!" teriak zeval sambil berlalu meninggalakan jeje sambil menggandeng tangan vera yang menunduk malu.