Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
BK


__ADS_3

"Tapi pak saya-"


"Diam kamu zeval!" Pak ridwan, seorang guru BK kini tengah menatap zeval marah.


"Sudah merasa hebat kamu!" Bentaknya pada zeval "mau jadi apa kamu!"


"Tapi pak sa-"


"Gak habis fikir saya sama kamu, kamu udah kelas tiga seharusnya jadi contoh yang baik kenapa malah tawuran kaya tadi!"


Zeval hanya bisa menunduk sambil mendengarkan pak ridwan memarahinya, lagian percuma ia membela diri kalau ucapanya selalu di potong.


"Ternyata anak yang keliatanya baik kaya kamu cuma baik di depanya doang"


"Pak saya bisa jelasin" ujar zeval.


"Jelaskan apa, sudah jelas anak anak brandalan tadi mengakui kamu ketua geng mereka"


"Pak saya gak kenal mereka" elak zeval.


"Kamu tau tidak!, karena ulah kamu sekolah kita bisa tercemar, seorang anak yang jadi kebanggaan malah tawuran"


Zeval mengela nafasnya kasar, ia  dapat merasakan perih di bagian bibirnya yang sedikit sobek karena bekas tonjokan.


"Kamu liat, karna ulah kamu ada yang di bawa kerumah sakit, kalau dia gak bangun lagi gimana!" Bentak pak ridwan.


"Pak biar saya jelaskan dulu!" Ujar zeval dengan amarahnya yang sedari tadi ia tahan.


"Nanti kamu jelas kan, sekarang panggil orang tua kamu dulu" ujar pak ridwan.


"Pak apa gak bisa kita bicarain berdua aja"


"Gak bisa, orang tua kamu harus kesini"


Zeval berfikir sebentar, bagai mana mungkin ia mengganggu orang tuanya yang sedang bekerja pasti mereka sibuk, apa mungkin ia harus memberi tahu vera?


"Emm pak kalo is-maksud saya kalo kakak saya gimana?" Ujar zeval.


Pak ridwan tampak berfikir.


"Mama sama papa saya lagi sibuk pak" ujar zeval.


"Yasudah, cepetan di telfon" ujar pak ridwan menyetujuinya.


Zeval pun menelfon vera, ada suara sambungan dari sana, setelah beberapa menit panggilan pun di anggat.


"Halo kak"


"Halo ada apa?"


"Emm lagi sibuk gak?"


"Gak"


"Gak ada tugas berarti"


"Ada cuma lusa baru kumpulin, kenapa?"


"Bisa bantu aku gak?"


"Bantu apa?"


"Kesekolah aku, nanti aku jelasin di sini aja"


"Emm oke tunggu"


Panggilan pun di akhiri oleh vera, zeval tampak ragu untuk memberi tahu vera tentang masalahnya ini, ia takut veranya akan marah, tapi harus gimana lagi.


"Gimana?" Tanya pak ridwan memecahkan lamunan zeval.


"Sebentar lagi kesini pak"

__ADS_1


...****************...


Tok tok


"Masuk" ujar pak ridwan.


Vera pun masuk keruang bk yang zeval beritahu lewat chat.


"Ada apa ya?" Tanya vera pada pak ridwan.


"Mba duduk dulu"


Vera pun duduk di sebelah zeval yang tengah menatapnya.


"Mba, kakaknya zeval?" Tanya pak ridwan.


"Hah" kaget vera "aaaa iya saya kakaknya" ujar vera bohong, mana mungkin ia akan berkata ia istrinya.


"Setau saya kakaknya zeval cowok, apaaa kamu istrinya"


Tebak pak ridwan, dan itu membuat vera dan zeval terkejut, kini vera dan zeval saling memandang.


"I-iya saya istri kakaknya zeval" jawab vera gugup sambil tersenyum.


"Eemm oke balik ke intinya saya mengundang anda".


"Jadi gini dengan mbaaa"


"Oh ya saya vera" ujar  vera.


"Oke, saya pak ridwan guru bk" ujar pak ridwan "jadi gini,  zeval itu terlibat tawuran pas jam kedua didepan gedung sekolah".


Vera kaget dengan penuturan pak ridwan


"Gak mungkin pak"


"Memang seperti itu adanya, itu bukan aduan anak lain yang melihat zeval tetapi saya sendiri yang melihatnya"


"Gini aja kita dengar pembelaan zeval dulu" ujar vera


FLASHBACK


Zeval kini tengah mengendarai sepeda motor milik temanya, setelah ia meminta izin untuk pulang sebentar mengambil buku paket yang ia tinggalakan di apartemennya.


Saat ia membelokan motornya ia kaget karena sudah banyak  pemuda dengan pakaian bebas dan wajah yang sangat asing baginya.


"Ada yang bawa senjata tajam" gumamnya.


"Mereka tawuran?" Tanya zeval entah kesiap.


Zeval menjalankan motornya perlahan, ia tidak ingin ikut campur tetapi masalahnya ia bingung untuk lewat karna mereka menghalangi pintu gerbang sekolahnya.


"Permisi mas" ujar zeval di balik helemnya pada salah satu pemuda.


"Lo komplotan mereka juga, yang nyamar jadi murid atau gimana" ujar anak itu sambil menyeringai menatap zeval.


"Maaf saya cuma numpang lewat, saya mau masuk"


"Banyak omong serang!" Teriakan dari arah depan dan itu membuat zeval kaget sendiri, ia bingung harus apa.


Bug


Tiba tiba ada yang memukul zeval dengan kayu dari belakang.


"Aaahh" ringis zeval ia pun kini membuka helemnya, sangat riuh di hadapanya.


Bugg


"Lo gila ya, ngapain lo nyerang gue!" Teriak zeval karena ia kena tonjokan juga di pipinya.


"Lo ada di sini berarti lo ikut tawuran juga sama kita" ujarnya.

__ADS_1


Zeval tak teriam, ia pun melayangkan tinjunya, namun sebelum tanganya mengenai salah saru bagian mukanya anak itu sudah lebih dulu terkapar karena pisau yang menancap di perutnya.


Zeval pun berbalik siapa yang melakukanya, ia tak bisa melihat orangnya karena di belakang sangat riuh.


"Gue bantu" ujar zeval pada lelaki yang terkapar tadi, ia berusaha mencabut pisau yang berada di perut sebelah kanan pemuda itu.


"Berhentii!" Teriakan seseorang membuat mereka berhenti melakukan adu jotosnya.


"Pak ridwan" gumam zeval.


"Kalian sedang apa, mau saya laporkan!"


Mata pak ridwan teralihkan dengan siswa berbaju putih abu abu lengkap yang tengah berjongok dan memegang pisau yang sudah berlumur darah, bahkan baju zeval pun terkena darah tersebut.


"Zeval!" Teriak pak ridwan menahan amarahnya saat melihat anak murid yang berada di sekolahnya ikut dalam tawuran itu.


"Pak saya"


Ujar zeval sambil berdiri dari duduknya dan menjatuhkan pisau itu.


"Kamu ikut tawuran ini!"


"Pak-"


"Dia ketua gengnya pak" celetuk salah satu pemuda berperawakan kurus dan gondrong, itu membuat pak ridwan sangat marah apa lagi ia melihat anak yang terkapar di depan zeval.


FLASHBACK OFF


"Yang ketusuk gimana?" Tanya vera.


"Sudah di bawa kerumah sakit, oleh saya" jawab pak ridwan.


"Pak itu bukan salah saya kan" ujar zeval.


"Belum ada bukti, kalau kamu beneran bersalah bapak secores kamu"


zeval hanya menunduk saat mendengarkan ucapan pak ridwan.


...****************...


Zeval berjalan di koridor yang sepi, dengan menyembunyikan amarah di muka datarnya itu.


Sudah lelah di marahi di BK di tambah lagi vera yang terus memarahinya padahal ia sudah menjelaskanya.


Ia langsung melengos pergi saat vera memarahinya di depan pintu masuk BK, ia jadi tak ada semangat untuk belajar di tambah lagi bajunya yang terkena darah.


"Zeval mau kemana?" Zeval rasanya ingin mengumpat saat itu juga, ia sudah lelah hari ini dan sekarang di tambah lagi suara yang tak asing memanggilnya siapa lagi kalau bukan reyna.


Tanpa menjawab ia terus berjalan keluar gerbang.


"Gue ikut dong" ujarnya dan zeval langsung berbalik menghadap gadis itu.


"Jangan ikutin gue" kata zeval dengan penuh penekanan.


"Yaampun" kaget reyna saat melihat darah di baju zeval "kamu kenapa?".


reyna hendak menyentuh baju yang terkena darah itu dengan cepat zeval menepis tangan reyna.


"Kenapa?" Tanya reyna.


"Jangan sentuh gue"


Zeval langsung melenggang pergi meninggalkan reyna yang tengah menatap zeval dari belakang.


Zeval kini tengah mendinginkan kepalanya di sebuah cafe, ia lebih asik menjelajahi aplikasi di ponselnya dan tak peduli di sekelilingnya.


"Jam berapa si" ujar zeval lirih, di lihatnya jam yang sudah menunjukan pukul tiga sore, lama juga zeval di dalam cafe ini.


Tapi zeval tak perduli ia malah asik memainkan ponselnya lagi dan meminum jus yang sudah ia pesan beberapa jam yang lalu.


"orang yang ketusuk kondisinya gimana ya?"

__ADS_1


__ADS_2