Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
bertemu kembali


__ADS_3

hari ini setelah pulang sekolah zeval menyempatkan diri untuk menjenguk zidan di rumah sakit.


zeval berjalan menuju kamar zidan sambil membawa Paper Bag.


"selamat siang" ujar zeval sambil tersenyum pada ibu zidan yang tengah berbicara pada suster di depan kamar zidan.


"nak zeval" ujarnya sambil berjalan menghampiri zeval.


"zidan udah pindah ke kamar rawat, saya ikut senang" kata zeval, lalu ia menyalami tangan ibu zeval.


"alhamdulillah ibu juga sangat bersyukur" jawabnya sambil tersenyum.


"zidan udah sadar kan bu?" tanya zeval.


"dia sadar tadi pagi" jawabnya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


"emm ibu udah makan, aku bawa makanan buat ibu" .


zeval menyerahkan Paper Bag yang ia bawa pada ibu zidan.


"ya ampun nak zeval seharusnya gak usah repot repot"


"udah gak papa ambil aja"


"ya sudah trima kasih nak zeval" ujarnya sambil mengambil Paper Bag yang zeval ulurkan.


"itu juga ada buah buat zidan"


"terima kasih nak zeval" zeval mengangguk sebagai jawaban.


"boleh jenguk zidan gak bu?" tanya zeval.


"ohh boleh kok silahkan, ibu pergi dulu ada urusan sama dokter sebentar" ucapnya.


"yasudah saya masuk dulu".


zeval melangkahkan kakinya menuju ruang rawat zidan "assalamualaikum" ucap zeval sambil membuka pintu.


zeval melihat zidan yang tengah terbaring, lalu ia melangkahkan kakinya untuk lebih dekat ke tempat tidur zidan.


Zeval menatap zidan yang tengah tertidur, lalu ia menatap perut zidan yang tertutup baju rumah sakit.


'apa masih sakit?'


"lo siapa?"


zeval di kagetkan oleh suara zidan, zeval menatap zidan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"h-hai" sapa zeval canggung.


"hmm" gumam zidan sebagai jawaban.


"gue zeval" ujar zeval sambil berjalan menuju sofa.


"zeval?" tanya zidan dengan satu alis yang di naikan.


"lo gak genal?" tanya zeval sambil menyenderkan kepalanya pada sofa.


"gak"


"orang yang lo tonjok pas tawuran".


"emm yang pake seragam?"


"hmm"


"ada apa"


"jenguk"


"gak perlu" ujarnya sambil menatap keluar jendela.


setelah itu hening tidak ada yang di bicarakan, zeval lebih fokus pada game di ponselnya.


"maaf" zeval menatap zidan bingung karena ucapan zidan.


"maaf?" tanya zeval.


"gue dulu mukul lo, padahal lo gak tau apa apa, ibu gue udah cerita semua".


"gak masalah" zeval melangkah mendekat pada zidan "jaga diri lo, ibu lo khawatir pas lo di ICU" ujar zeval sambil menepuk lengan zidan pelan.


"hmm"


"masih sakit?" tanya zeval sambil melihat perut zidan.


"namanya luka pasti sakit, luka gores aja sakit apa lagi luka tusuk"


tok tok


zidan dan zeval menoleh ke arah pintu.


"ibu masuk yaa" ujar ibu zidan yang sudah membuka pintu kamar rawat dengan lebar.


"zeval ayok duduk sini" ujar ibu zidan tersenyum sambil mengajak zeval duduk di sofa.


"gak usah, lagian aku mau pamit"


"loh kok cuma sebentar?" tanya ibu zidan.


"besok kesini lagi"


"gak usah" ujar zidan cepat.


"zidan gak boleh kaya gitu, nak zeval itu baik" ujarnya sambil menghampiri zidan dan zeval.


"kalo cari teman kaya nak zeval" ujarnya sambil mengelus rambut putranya.

__ADS_1


"aku pamit ya bu, besok kesini lagi"


"yasudah hati hati" ujat ibu zidan sambil menyalami zeval.


"lo, cepet sembuh" ujar zeval pada zidan "aku pamit, assalamulaikum"


"waalaikumussalam"


...****************...


zeval kini mengendarai mobilnya menuju apartemen.


drrrtt drrtt


ponselnya bergetar karna ada panggilan masuk, dengan cepat ia menepikan kendaraanya agar ia bisa menerima panggilan.


ia mengambil ponsel di saku bajunya "ini kontak siapa?" ujarnya, karena kontak itu tak bernama.


zeval tak memperdulikan panggilan itu, ia melempar ponselnya ke bangku sebelahnya, kemudian ia melanjutkan kembali mengendarai mobilnya.


zeval menghela nafasnya karena ponselnya terus bergetar, ia pun akhirnya memilih mengangkat telfon tersebut.


"ad-"


"tolong!"


"ini siapa"


"kak tolongin aku, aku lagi di kejar orang gak di kenal, hiks"


"ini siapa"


"aku reyna! tolong kak"


"lo dimana!"


"aku di-di jalan deket sekolah, kak tolongin reyna- hiks".


zeval mematikan telfonya, ia melajukan mobilnya dengan cepat.


...****************...


"aku mohon semoga kak zeval cepet dateng" gumam reyna.


reyna berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, seorang pria yang mengikuti reyna hanya berjalan santai sambil mengikuti kemana arah reyna berlari.


"gue mohon-hiks, siapa aja bantuin aku" reyna benoleh kekanan dan kirinya, tak ada orang sedikit pun di jalan yang ia lewati.


reyna berhenti karena ia sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan langkahnya.


reyna menoleh ke belakang "gak ada?".


reyna dapat bernafas lega orang itu tidak mengikutinya lagi.


"mungkin gue salah, orang itu mungkin gak ngikutin gue" ujarnya sambil mengelap keringat didahinya dengan punggung tanganya.


"kenapa ngehindar"


"ka-kamu siapa, kenapa ikutin aku?" tanya reyna takut dengan suara yang bergetar.


"lo gak inget gue?"


reyna menggelengkan kepalanya dengan cepat, reyna tampak ketakutan apalagi saat orang itu tersenyum menyeringai ke arah reyna.


"lo gak kangen gue?" ujarnya sambil membelai rambut reyna.


"aku gak kenal" ujar reyna sambil memundurkan langkahnya, reyna sungguh sangat ketakutan sekarang, reyna butuh bantuan sekarang.


"kenapa udah sore masih di sini hmm" lelaki itu kembali memajukan langkahnya "gue anter pulang" lelaki itu mencekal pergelangan tangan reyna.


"tolong!" teriak reyna sambil berusaha melepaskan tanganya.


"ssttt kenapa teriak, gue gak nyakitin lo gue cuma mau anter lo pulang" ujarnya lirih.


"to-tolong lepasin aku, aku gak kenal sama kamu hiks" reyna kini sudah molai terisak.


"kenapa nangis?" lelaki itu menghapus jejak air mata di wajah reyna "gue kangen sama lo, lo gak kangen sama gue?" lelaki itu mendekat ke arah reyna.


"reyna lo beneran gak kenal gue, padahal dulu kita saling sayang" reyna menatap lelaki di depanya "hingga di suatu hari" lanjut lelaki tersebut.


lelaki itu mendekatkan wajahnya pada reyna.


'siapa pun tolongin aku'


lelaki itu membelai pipi reyna dengan senyum menyeringai pada reyna.


"hingga di suatu hari, sayang lo sama gue luntur karna lo lebih memilih sahabat gue, dan lo tega selingkuhin gue!" bentaknya.


reyna membulatkan matanya "hiks, ka-kamu, kamu dino"


"hai, kita bertemu lagi" ujarnya sambil berbisik di telingan reyna.


"woy ngapain lo" ujar seseorang dari arah belakang reyna.


"gak usah ikut campur" ujar lelaki yang bernama dino.


"kak zeval tolongin aku" ujar reyna setelah mengetahui kalau itu zeval.


zeval berdiri di belakang reyna dengan memasukan tanganya kekantong clana.


"owwh lo kenal dia?" kata dino.


"plis din lepasin aku" ujar reyna sambil berusaha melepaskan tanganya dari tangan dino.


zeval memperhatikan pria yang bernama dino lekat 'gue kaya pernah liat orang ini '.


"gue udah susah payah nemuin lo, dan gue bakal lepasin lo gitu aja? gak bakal" ujar dino pada reyna "dan lo" ujar dino sambil menunjuk zeval

__ADS_1


" gue gak peduli sama lo, mau lo pacarnya reyna sekali pun, lo gak usah ikut campur urusan gue sama reyna" dino menarik reyna untuk ikut bersamanya.


"woy lepasin dia!" teriak zeval, lalu ia berjalan ke arah dino dan reyna.


"dino plis lepasin, kita udah gak ada hubungan apa apa"


"lo nurut sama gue atau gue bakal bikin zidan lo lumpuh" ujar dino mengancam reyna.


'zidan?' batin zeval 'gue sekarang inget dino ini siapa?'


"dino, plis jangan sakiti zidan, aku juga udah gak ada apa apa sama dia, biarin dia jangan usik kehidupan dia lagi" mohon reyna.


"eemmm, gue pertimbangkan" jawab dino sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"lo orang yang ikut tawuran kan?" tanya zeval pada dino "lo, yang nuduh gue ketua geng"


"ooohh lo, hai kita bertemu kembali" ujar dino sambil tersenyum ke arah zeval.


"lepasin dia" kata zeval.


"apa hak lo"


zeval berjalan santai ke arah dino dan-


BUG BUG BUG


"itu buat lo!" teriak zeval setelah memukul dino yang kini sudah jatuh terkapar.


"ikut gue" ujar zeval pada reyna dingin sambil berlalu menuju mobilnya.


reyna kini di antar oleh zeval menuju apartemenya, dan benar saja apartemen reyna tidak jauh dengan apartemenya.


"kak makasih" ujar reyna saat mobil zeval berhenti di depan apartemenya.


"ada hubungan apa lo sama dia?" tanya zeval tanpa menatap lawan bicaranya.


"eemm, aku dulu pernah pacaran sama dino" jawab reyna sambil menunduk "tapi dino lama gak ada kabar, waktu itu aku kesepian butuh temen buat curhat, terus zidan dateng dia selalu nemenin aku, dan akhirnya aku jadian sama zidan" reyna kembali menangis dan menyesal karena perbuatanya dulu.


"terus dino tiba tiba nemuin aku, pas dia denger aku pacaran sama zidan dia marah, aku tau zidan temenya dino, tapi zidan gak tau kalau aku pacarnya dino, mereka musuhan mereka jadi suka berantem karena kesalahan aku, tapi lama kelamaan mereka malah bikin geng masing masing, dan mereka jadi sering tawuran"


"jauhi dino dia bisa berbuat nekat sama lo"


"aku sekarang harus giana kak"


"buat sekarang lo jauhi dulu dino, tapi lo harus selesain masalah yang lo buat sendiri"


jujur, reyna ingin segera menyelesaikan masalah tersebut, namun reyna merasa takut.


"kakak kenal zidan?"


"hmm"


"aku titip salam ya kak buat zidan kalau kakak ketemu dia, buat sekarang aku belum bisa temuin zidan"


reyna menghela nafasnya lalu ia tersenyum sambil menatap zeval.


"sekali lagi makasih kak, aku turun kakak hati hati" ujar reyna sambil membuka pintu mobil.


setelah reyna turun zeval langsung melajukan mobilnya tanpa menghiraukan reyna yang tengah melambaikan tanganya ke arah mobil zeval.


"aku seneng, hari ini kak zeval gak terlalu irit ngomong" kata reyna sambil tersenyum.


...****************...


setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan masuk ke apartemenya.


"loh kak baru pulang?"


zeval bertanya pada vera yang tiba tiba merangkul lenganya dari samping.


"hooh baru aja pulang, kamu juga baru pulang?"


"tadi abis ke rumah sakit, jengukin zidan"


"dia keadaanya gimana?"


"udah mendingan"


mereka berjalan beriringan sambil bercerita apa yang mereka lalui hari ini.


"hey hey, kalian berduaan aja"


suara itu berhasil membuat zeval dan vera berhenti berbicara dan menoleh ke sumber suara.


seorang perempuan tengah bersander di tembok, sambil mengunyah permen karet.


"gue tau password apart kalian, tapi gue tau kalian belum pulang jadi gue gak masuk"


zeval dan vera menatap perempuan di hadapan mereka dari bawah sampai atas.


ia memakai jaket kulit hitam, clana levis sobek sobek, dan rambut panjang yang di cat berwarna kuning mencolok.


"abis dari planet mana lo?" tanya vera.


"gue habis pulang kampung, gak kangen apa lo sama gue" ujarnya.


"ngapain pulang kesini lagi, gak ada yang harepin lo, gak ada yang kangen sama lo"


"tega banget lo sama gue, padahal gue disana mikirin lo" ujarnya sambil menyerahkan Paper Bag yang ia bawa.


"apaan?" tanya vera, sambil mengambil Paper Bag nya.


"oleh oleh buat lo"


vera membuka Paper Bag tersebut.


"nawa lo ngaku ngaku orang LA, tapi lo cuma bawain gue oleh oleh jaket" vera menggelengkan kepalanya ambil menatap nawa.

__ADS_1


"gila aja lo, lo bilang cuman jaket, itu limited edition, gue harus keliling ibu kota dulu tau gak!" ujar nawa tak terima.


NAWA COMEBACK


__ADS_2