
tempat yang cukup sunyi, hanya terdengar suara tetesan air yang mengenai kaleng bekas.
seorang gadis terduduk di kursi reot, tangan dan kakinya yang terikat membuat ia tidak bisa berbuat apa apa, gelap karna kain yang terikat menutupi matanya.
ia sudah berteriak namun tak ada satu pun yang merespon.
"tolong" teriaknya lagi sambil berusaha membuka ikatan di tanganya.
"siapa aja tolong"
itu hanya sia sia pikirnya.
gadis itu ketakutan sekarang, siapa yang berani menyekapnya begini?
cklekk
ketakutan itu makin menjadi saat terdengar pintu yang di buka, ia dapat mendengar kaki melangkah.
"hai manis" ujar seorang lelaki yang menyekapnya.
"maaf ya, aku tadi ada urusan sebentar, kamu pasti lama nungguin aku" lanjutnya sambil tersenyum ke arah gadis itu.
lelaki itu melangkah dengan menyeret tongkat baseball yang ia pegang dengan tangan kirinya dan sesekali ia mengetuk tongkatnya pelan di lantai.
"kamu siapa?" tanya gadis itu takut.
lelaki itu mengusap rambut gadis yang ia ikat itu dengan tangan kananya, ia menyunggingkan senyumnya namun pada detik berikutnya senyuman itu luntur dan menjadi tatapan benci.
"to-tolong lepasin" mohon gadis itu "aku salah apa" lirihnya.
"kamu yang memolai permainan dengan ku terlebih dahulu" jawab lelaki itu, dan tanganya masih setia mengelus rambut gadis itu.
"kamu siapa?"
"reyna masa kamu gak kenal sama aku" jawab lelaki itu sambil membuka ikatan kain yang menutupi mata gadis itu yaitu reyna "hai apakabar" sapanya setelah membuka kain itu.
reyna membelalakan matanya "di-dino" ujar reyna terbata.
"apakabar, lama gak ketemu" ujarnya sambil mengelus rambut reyna.
"mau kamu tuh sebenarnya apa" ujar reyna sambil berusaha menahan isak tangisnya.
"aku maunya kamu" dino kini memainkan ujung rambut reyna.
'siapa yang bisa bantu aku'
"kamu suka semua hadiah dari ku?" tanya dino namun fokusnya masih pada rambut reyna.
"hadiah" lirih reyna bingung.
"kau membaca surat surat yang kukirimkan?"
'apa jangan jangan dia yang neror aku selama ini?'
"apa kamu yang selama ini neror aku?" tanya reyna.
dino kini menatap reyna yang sudah penuh dengan air mata "bagaimana menurutmu, apakah semua isi surat itu tak berdampak apa apa pada mu, apa kau malah menganggap itu surat dari penggemar mu?" tanya dino di akhiri senyum yang cukup menakutkan bagi reyna.
"aku mohon lepasin aku" mohon reyna.
"terus lah memohon, aku suka itu" ujar dino tersenyum senang.
dino kini berbalik sambil mengangkat tongkat yang sedari tadi ia pegang "kalau aku memukulmu dengan tongkat ini sepertinya menyenangkan"
reyna terus berusaha melepaskan ikatan di tanganya, dino berbalik dan melangkah lebih dekat dengan reyna.
"tapi, aku tidak akan melakukanya" dino kini berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan reyna "bagaimana pun juga aku dulu pernah menyukaimu" dino tersenyum menatap wajah reyna.
seketika ia teringat kembali waktu dimana reyna ternyata ada berhubungan dengan temanya sendiri.
"din maafin aku" lirih reyna "jangan sakiti aku ataupun zidan" pinta reyna sambil menatap manik mata dino.
"aku bukan orang yang gampang memaafkan kesalahan orang lain, aku benci penghianat seperti kalian!" bentak dino "aku akan menyakiti siapa pun yang dekat dengan kalian"
dino bangkit dari jongkoknya "tidak seru jika aku langsung menghilangkan nyawamu, akan lebih seru jika zidan ikut bersamamu" dino melangkah menuju pintu keluar "jangan coba coba kabur, sebentar lagi aku akan mempertemukan mu dengan zidan" ujar dino tanpa menoleh.
setelah kepergian dino reyna kembali berteriak meminta tolong.
"tolong, siapapun tolongin reyna!" teriaknya di akhiri isak tangisnya.
seketika ia teringat nawa dan vera, ia sangat butuh pertolonganya sekarang.
"aku harus telfon kak nawa, ponsel aku dimana ya" reyna mengingat ingat dimana ia menyimpan telfonya "di saku clana" reyna berusaha mengambil ponselnya dengan tangan terikatnya.
...****************...
vera dan fida sore ini pergi ke rumah nawa dengan mengendarai sepeda mereka.
"kak inget dulu gak?" tanya fida sambil menggoes sepeda hitamnya.
__ADS_1
"yang mana" jawab vera yang tengah menikmati udara sore hari dengan sepeda putihnya.
"dulu, waktu kita sering jalan jalan pake sepeda, yang waktu kakak di kejar kejar sama orang gila itu loh hahahaha" fida tertawa saat mengingat kembali masa masa dulu dengan kakaknya.
"itu semua tuh gara gara kamu, ngapain waktu itu manggil manggil tuh orang gila, kalo gak di panggil juga dia gak bakalan ngejar"
"seru banget hahaha, yang manggil siapa yang di kejar siapa"
mereka terus menggoes sepeda yang mereka naiki, hingga sekarang mereka sudah sampai di rumah nawa.
"kak nawa nya ada gak" tanya fida pada pembantu di rumah nawa yang tengah berada di teras.
"non nawa ada di dalam"
"kita masuk ya bi" kata vera.
"iya, silahkan"
mereka berdua kini berjalan beriringan menuju dalam rumah.
"jangan bohong"
vera yang hendak membuka pintu ia urungkan saat mendengar nawa yang sepertinya tengah berbicara pada orang lain.
"tadi kita lagi di cafe hiks" terdengar suara perempuan yang tengah menangis.
fida menyenggol lengan kakaknya "didalem ada siapa?" tanya fida.
"kita masuk aja" vera membuka pintu ia masuk kedalam dengan langkah hati hati.
"kak mereka siapa?" tanya fida saat melihat dua gadis yang tengah menangis di ruang tamu, dan mereka cukup asing bagi fida.
"kakak juga gak tau, kita samperin aja" ujar vera, kini ia melangkah menghampiri nawa.
"na, siapa?" tanya vera pada nawa.
nawa mendongak, dilihatnya vera dan fida "mereka nasa sama nura, temanya reyna" jawab nawa atas pertanyaan vera.
fida dan vera kini ikut bergabung duduk di ruang tamu.
"jadi gini ver" kata nawa molai bercerita dengan wajah yang serius.
"kata mereka reyna di bawa sama orang pake mobil, pas mereka lagi di cafe"
"kok bisa" kaget vera "coba kalian ngomong yang jelas"
flashback
"rey ponsel lo bunyi terus, jawab dulu gih, siapa tau penting" ujar nasa sambil meminum jus jeruknya.
reyna melirik ponselnya.
"gak penting kok" jawab reyna.
nasa menghembuskan nafasnya, lalu ia langsung mengambil ponsel nasa yang berada di atas meja.
nasa mengangkat satu alisnya saat melihat siapa yang menelfon "lo punya penggemar rahasia?" tanya nasa dan reyna menjawab dengan gelengan.
"kenapa emang?" tanya nura.
"nih nomor gak ada namanya" tunjuknya pada ponsel reyna.
"dia nelfon terus, angkat aja" ujar nura.
"mungkin dia orang yang suka neror aku" kata reyna.
"neror?" tanya mereka.
"aku tuh udah lama di teror sama orang, dan aku gak tau siapa"
"lo ngajak kita kumpul, mau ngomongin ini?" tanya nasa sambil meletakan ponsel reyna di atas meja dan reyna mengangguki pertanyaan nasa.
"aku tuh dari kemarin kaya di buntutin sama orang terus, dia suka ngancem ngancem gitu"
"kok lo bisa di teror, emang lo pernah ada masalah sama orang" kata nura.
"setau aku sih gak ada, cumaaan"
"cuma kenapa?"
"kalian tau dino kan?" tanya reyna.
"mantan lo itu, yang pernah lo ceritain kekita?" dan di angguki reyna.
"bisa jadi itu dia" kata nasa.
"tapi aku gak mau nuduh, mungkin bukan dia, mungkin aja ada orang lain yang benci sama aku"
nura dan nasa hanya menatap reyna.
__ADS_1
"aku juga udah minta bantuan sama kak vera dan kak nawa, buat bantu aku cari tau siapa dia dan kenapa dia neror aku"
"tunggu, kak siapa tadi?" tanya nasa.
"kak vera, dia itu kakak nya kak zeval, kalau kak nawa temenya kak vera"
"kenapa lo bisa minta bantuan ke mereka, kenapa gak lapor polisi aja"
"aku takut mau lapor polisi karna peneror itu selalu awasin aku, dan kenapa aku bisa minta bantuan mereka karna waktu itu aku gak sengaja mau di tabrak sama mobil kak nawa, dari situ aku minta bantuan mereka"
"lo mau gak, kita ikut bantuin lo buat nangkep tuh peneror" tawar nura.
"kalian mau bantuin aku?"
"lo kok pake nanya, ya kita mau lah, kitakan temen meski baru beberapa bulan lo kan tetep temen kita" jawab nasa.
"makasih" jawab reyna sambil tersenyum pada kedua temanya.
"aku boleh minta kontak kakak yang lo bilang tadi gak" ujar nasa.
"boleh" jawabnya sambil meraih ponselnya "aku udah kirim ke kamu tuh, aku kebelet mau ke kamar mandi dulu"
setelah kepergian reyna, nura dan nasa hanya menikmati makanan dan minuman mereka.
"gue pengin pulang" kata nura "semoga reyna gak lama di kamar mandi"
nasa tiba tiba beranjak dari duduknya dan langsung berjalan meninggalkan nura.
"lo mau kemana?" tanya nura sambil mengikuti nasa.
"seharusnya gue tadi temenin dia, gue takut dia kenapa napa" jawabnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
mereka berdua kini sudah memasuki kamar mandi wanita.
"rey lo di dalem" ujar nasa "rey jawab gue"
nura keluar dari kamar mandi untuk mencari reyna mungkin saja dia sudah keluar dari kamar mandi.
nura berjalan kemejanya tadi, siapa tau reyna sudah ada di sana.
"dia belum kesini" lirihnya " terus dia kema-" nura tidak melanjutkan ucapanya saat melihat keluar jendel, ia melihat pria yang tengah menggendong seorang perempuan yang sepertinya pingsan.
nura terus memperhatikan sampai ia menyadari kalau sepatu yang di pakai perempuan itu mirip dengan sepatu yang di pakai reyna.
"itu reyna" ujarnya sambil berlari mengejar lelaki itu.
"nura lo mau kemana" teriak nasa yang awalnya ingin menghampiri nura.
nura terus saja berlari mengejar lelaki itu, hingga ia melihat lelaki itu memasukan reyna kedalam mobil.
"dia reyna" lirih nura "reyna!" teriak nura sambil berlari, namun sayangnya mobil itu sudah melaju.
nura berhenti dari larinya, ia terus menatap mobil itu, sambil menghafal plat mobil tersebut.
"guee inget" ujarnya sambil berlari menuju mobilnya.
"nura lo mau kemana!" teriak nasa sambil menghampiri sahabatnya itu yang hendak memasuki mobilnya.
"reyna di bawa sama laki laki masuk kedalam mobil" jawabnya.
"apa!"
"cepetan masuk, sebelum ketinggalan jejak"
flashback off
"kita kejar mobil itu, tapi kita kehilangan jejak, setelah itu nasa telfon kak nawa" jawab nura.
"kita harus cari" kata vera.
"tapi kemana?"
nawa yang menyadari ponselnya bergetar pun langsung mengambil dari saku bajunya.
"reyna telfon!" teriaknya, dan semua pun langsung menoleh ke arah nawa.
"angkat" ujar vera.
"halo lo dimana" ujar nawa setelah mengangkat telfonya.
"kak tolongin aku hiks"
"iya, sekarang lo di mana"
"aku gak tau, tapi ini tempatnya di gudang kosong dan di luar banyak pohon"
"lo tenang aja gue bakal cari lo"
😗😗
__ADS_1