Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
pergi


__ADS_3

sore ini zeval tengah mengaduk sup buntut buatanya, seharian ini ia yang mengerjakan pekerjaan rumah menggantikan vera, zeval tak mengizinkan vera mempekerjakan pekerjaan rumah hari ini.


"assalamualaikum"


"waalaikumusalam" jawab zeval.


zeval menoleh ke arah belakang terdapatlah istrinya yang tengah membawa plastik berukuran sedang dan di letakanya di atas meja.


"udah jadi?" tanya vera sambil menghampiri zeval.


"udah kayaknya" zeval mengambil sedikit kuah dengan sendok, lalu ia meniupnya perlahan.


"coba" kata zeval sambil mengarahkan sendok itu pada vera.


dengan senang hati vera menerimanya "eeemm enak"


"beneran, gak ada bumbu yang kurang?"


"gak ada, ini udah pas"


"kamu beli apa aja?" tanya zeval.


"cuma beli cemilan"


vera memang tadi sehabis dari minimarket untuk membeli stok cemilan yang sudah habis, zeval awalnya melarang vera untuk keminimarket sendirian tapi vera tetap memaksa dan akhirnya zeval pun mengizinkan.


zeval mematikan kompornya, lalu ia berjalan untuk melihat isi plastik yang vera bawa.


zeval menaikan satu alisnya saat melihat isi plastik itu "semua cemilan manis?" tanya zeval.


"aku lagi pengin banget yang manis manis" tutur vera.


molai dari biskuit, coklat, permen dan masih banyak lagi makanan manis yang vera beli.


"sayang" panggil zeval, vera pun berjalan menghampiri zeval.


"kenapa?"


"kamu mau datang bulan ya?" tanya zeval.


zeval sudah tau, kalau vera akan datang bulan pasti vera akan menginginkan sesuatu yang manis manis.


"gak tau" tutur vera.


...****************...


sehabis menikmati makan malam kedua suami istri itu kini tengah menikmati siaran tv.


"aku di suruh ke kantor papa besok" tutur zeval pada vera yang tengah duduk di atas sofa sambil menonton tv.


"jam berapa?" tanya vera tanpa memalingkan wajahnya dari layar tv.


"sembilan pagi"


"oh"


zeval hendak meraih toples yang berisi biskuit coklat yang sedari tadi vera pangku.


"eh mau ngapain" vera seketika menepis tangan zeval "ini punya aku" vera menjauhkan toplesnya dari zeval.


"aku gak minta, cuma mau naruh toplesnya di atas meja" kata zeval sambil merebahkan dirinya dan paha vera sebagai bantal.


"kirain" lirih vera.


"ke kamar aja yuk, aku ngantuk"


vera menatap zeval "kamu baru makan masa mau langsung tidur"


"sayang kamu udah sembuh?" tanya zeval mengganti topik pembicaraan.


"udah, udah gak pusing gak panas juga"


zeval memiringkan tidurnya, ia memeluk pinggang vera sambil membenamkan wajahnya di perut vera yang terbalut baju tidur.


vera sesekali mengelus surai zeval meski ia tengah fokus pada tayangan di tv.


"aku pengin es krim" kata vera.


"udah malem, besok aja" jawab zeval masih dengan posisi yang sama.


"tapi pengin"


"besok aja, ini udah malem emang kamu mau sakit lagi?"


"yaudah deh, tapi beliin ya besok"

__ADS_1


"di kulkas udah habis?"


"udah habis, kemarin tinggal satu tapi di makan kamu"


"iya besok aku beli"


"yang banyak"


"iyaaaaaa" zeval mendongakan wajahnya menatap vera "sayang aku ngantuk, ke kamar yuk" ajak zeval.


"nanti" saut vera masih fokus menatap layar tv.


zeval menyibak baju tidur vera sedikit, hingga terlihat perut vera yang masih rata.


di kecupnya perut vera, vera menoleh ke arah zeval "kamu ngapain?" tanya vera.


"gak ngapa ngapain" jawab zeval sambil menatap vera.


"yuk ke kamar" ajak vera sambil mematikan siaran tv yang tengah vera saksikan.


"ke kamarnya mau aku gendong gak?" tawar zeval sambil bangkit dari rebahanya.


"gak usah makasih" vera berjalan menuju kamar mendahului zeval.


zeval berjalan menyusul vera "sayang kalo mau tidur gosok gigi dulu" ujar zeval sedikit meninggikan suaranya agar vera dapat mendengarnya.


"iya" jawab vera yang sudah berada di dalam kamar, vera sebenarnya belum mengantuk tapi bayi besarnya sepertinya sudah mengantuk mau tidak mau vera harus menemani zeval tidur kalau tidak zeval akan terus merengek minta di temani.


vera masuk kamar mandi untuk menggosok giginya.


sedangkan zeval kini tengah duduk di meja belajar sambil memainkan ponselnya.


"zeval" panggil vera setelah keluar dari kamar mandi.


zeval menoleh ke arah vera yang tengah berjalan ke arahnya.


"kenapa?"


"bocor" lirih vera.


"bo-bocor?"


"datang bulan" lirih vera seperti bisikan.


"tuh kan, apa aku bilang" zeval kembali mengalihkan tatapanya pada ponsel.


"zeval"


"zeval hadap sini dulu"


"kenapa siiiih" zeval pun kembali menatap ke arah vera.


"beliin pembalut dong"


"habis?" vera pun mengangguk pertanyaan zeval.


zeval menghela nafasnya lalu ia beranjak dari duduknya, ia mengambil jaket lalu berjalan keluar kamar.


"jangan kemana mana, aku cuma sebentar" peringat zeval.


"siap my sayang" kata vera di akhiri cengiranya.


setelah zeval menghilang dari balik pintu vera pun berjalan duduk di kursi yang tadi zeval duduki, vera mengambil ponsel zeval yang tergeletak di atas meja.


"tampan" kata vera saat melihat wallpaper yang terpampang wajah zeval.


karena merasa tenggorokanya kering ia pun memilih turun dari kamar untuk mengambil minum di dapur.


ddrrt ddrrt


saat vera hendak meletakan ponsel zebal di atas meja belajar, pergerakanya terhenti saat ponsel itu bergetar.


dilihatnya layar ponsel itu "reyna?"


vera mengeryit saat melihat nama penelfon itu, tanpa pikir panjang ia pun mengangkatnya.


"halo assalamualaikum kak zeval, akhirnya di angkat juga, tadi pagi aku telfon gak di angkat maaf ya kalo reyna ganggu hehehe" ujar reyna ceria dari sebrang sana.


sedangkan vera hanya dapat mematung di tempat sambil mengepalkan tanganya.


"kak zeval, reyna udah pulang loh, apartemen kita kan deket kak zeval boleh kok berkunjung ke sini"


vera menahan diri untuk tidak marah sekarang, meski hatinya kini tengah panas.


"reyna titip ucapan makasih ya buat kak vera, berkat kak vera aku selamat" vera hanya fiam mendengarkan ocehan reyna.

__ADS_1


"kak?"


"kenapa lo gak telfon gue langsung, kalo mau ngucapin makasih?" tanya vera.


"loh ka-kak vera? ini kakak yang ngangkat?"


"iya"


"ha-hai kak vera hehe, maaf gak telfon kak vera langsung takut ganggu waktunya kan ini udah malem, mungkin kakak lagi istirahat"


"kak zevalnya mana kak?"


"lagi pergi"


"kemana?"


"keluar"


"kak vera lagi di apartemen zeval ya, kak jeje apakabar?"


"kenapa lo tanya jeje ke gue, tanya ke nawa lah"


"ke-kenapa harus tanya kak nawa, istri kak jeje kan kak vera?"


"tanya nawa, kak jeje itu pacarnya nawa!" vera menjawab dengan nada tingginya "gue minta lo jangan telfon zeval lagi"


"lo-loh kak vera reyna kok bingung jadinya?"


"intinya lo jangan gangguin zeval lagi, lo perlu tau dan catat ini, zeval raihan adalah suami dari vera latika, gue mohon jangan gangguin suami orang ngerti!"


"kakak ngomong apa sih reyna bingung"


"lo pikir sendiri"


vera mematikan panggilanya, lalu meletakan ponsel itu di atas meja.


"vera" panggil seseorang sambil membuka pintu kamar "aku beli yang ini bener gak?"


seketika vera menoleh ke arah sumber suara "zeval" kata vera, orang yang di panggil pun sedikit bingung akan raut wajah istrinya.


"kamu kenapa?"


"kenapa nomor reyna kamu simpen, aku gak suka" tutur vera dengan wajah merah menahan marahnya.


"aku mana tau kalau aku gak boleh simpen nomor dia"


"iiiih zeval kok gitu, gak ada inisiatif sendiri buat gak nyimpen kontak dia, sebel aku sama kamu!"


"yaudah tinggal kamu hapus aja apa susahnya"


vera menatap zeval yang menganggap itu masalah sepele "malam ini jangan tidur sama aku!"


zeval melebarkan bola matanya "kok gitu"


"aku marah sama kamu!"


"sayang dengerin dulu, aku gak pernah balas chat dia atau telfon dari dia sumpah"


"tapi tetep aja aku gak suka, karna kamu simpen kontak reyna, kamu pergi dari sini!" kata vera sambil menujuk arah pintu kamar.


" sayang "


"aku gak mau liat kamu"


"say-


"zeval pergi dari kamar aku sekarang, atau pergi dari apart ini dan jangan balik lagi"


"kamu ngusir aku dari apartemen aku?"


"sejak kapan ini apart kamu, dulu iya sekarang aku yang punya"


"aku gak mau tidur sendiri, aku minta maaf deh"


"kaamu tidur sendiri titik!"


"dari pada aku tidur sendiri mending aku pergi ke rumah mamah"


"jadi kamu milih pergi dari rumah? oooh aku tau jangan jangan diem diem kamu mau ke apart reyna kan"


"iya aku mau ke apart reyna, dan tinggal di sana gak balik ke sini lagi biar kamu puas" jawab zeval dengan wajah datarnya, zeval benar benar melangkah keluar kamar.


vera tambah cemberut saat zeval pergi "yaudah sana pergi!" teriaknya.


vera dapat mendengar suara mobil zeval yang menyala "zeval beneran pergi?" lirihnya.

__ADS_1


vera mengintip di jendela kamarnya, mobil zeval sudah terparkir di halaman.


"zeval beneran pergi?"


__ADS_2