
"Kak zeval"
Zeval menoleh saat namanya di panggil seorang gadis yang berada di sebelahnya.
"Kakak baru pulang?" Tanya reyna.
"Hmm"
Reyna menundukan kepalanya, ia sedikit gugup karena zeval di sebelahnya.
"Kakak nunggu bus" kata reyna sambil melirik ke zeval.
"Hmm"
'cuma hem doang'
"Kakak gak bawa kendaraan?"
"Gak"
Zeval hanya menatap ke depan dan berharap bus atau pun taxi ada yang melintas.
"Kakak udah jengukin zidan lagi?"
"Belum"
"Kalo Nanti kakak mau jengukin zidan aku ikut, aku juga mau liat kondisi dia sekarang gimana" reyna menatap langit yang mendung" aku juga mau minta maaf sama zidan".
hening setelah itu, hanya suara hujan yang semakin lama semakin turun dengan derasnya.
"Kak" panggil reyna sambil berbalik menghadap zeval.
Zeval menoleh ke arah reyna yang tengah tersenyum hangat padanya.
"Kakak yang rajin ya belajarnya, semangat buat ujianya reyna doa in semoga ujian kakak lancar dan dapet nilai tinggi"
"Iya".
"Kakak mau pinjem jaket aku gak" kata reyna hendak mengeluarkan jaket dari dalam tas nya.
"Gak perlu" kata zeval.
"Nih pake aja, nanti kalo kakak sakit gak bisa ikut ujian gimana?"
"Bukan urusan lo" zeval benar benar jengah dengan gadis di sebelahnya ini karena terlalu banyak bicara.
'Kak zeval kapan sih gak cuek lagi sama aku'
Reyna menatap zeval dari samping, pria yang tak sengaja menabraknya dulu, dia dingin padanya tapi reyna benar benar tertarik pada lelaki yang bernama zeval.
'Aku akan perjuangin kakak, aku mau dapetin kakak'
Reyna menatap lekat zeval dari samping, hidung yang cukup mancung, pipi yang sedikit cabi membuat kesan imut tersendiri bagi zeval, badan tegapnya, mata coklat dan bibir tipisnya, itu membuat reyna tersenyum senyum sendiri jikalau tengah membayangkan wajah zeval, sangat menggemaskan.
'aku suka kakak'
"Eh" lirih reyna saat melihat tali sepatu zeval yang tak terikat.
Zeval terkejur saat reyna tiba tiba berjongkok di sebelahnya yang hendak memperbaiki ikat tali sepatunya.
"Apaan si lo!" Zeval memundurkan langkahnya.
"Eh i-itu tadi tali sepatunya-"
"Lo kan bisa kasih tau gue!" Kata zeval sambil berjongkok membenarkan ikat sepatunya.
"Maaf" lirih reyna sambil menunduk.
...****************...
Vera mengecilka suhu AC di kamarnya, sudah berkali kali vera menelfon zeval namun selalu saja tidak aktif.
Vera berjalan menuju jendela kamarnya, masih hujan dan zeval belum pulang juga dari sekolahnya.
"Apa gue jemput aja ya" gumamnya sambil melihat jam di tanganya.
"Udah mau jam setengah enam zeval belum pulang juga"
Vera mondar mandir di dalam kamarnya sambil berfikir ia akan menjemput zeval atau tidak.
"zeval ngapain sih" gumam vera karena merasa khawatir
"Gue jemput aja deh" ujar vera ia pun bergegas keluar apartemen sambil membawa jaketnya.
...****************...
Zeval menggosokan kedua tanganya karena udara semakin dingin.
'Kak vera gimana ya, semoga dia gak nyari gue, kalo dia liat gue sama reyna bisa gawat nih'
"Kakak dingin?" tanya reyna.
"Gak"
"Eemm hujanya kayaknya makin lama makin gede, bus nya juga lama banget, gimana kalo aku minta di jemput supir ayah aku aja, kakak sekalian ikut giman" tawar reyna
"Kenapa lo gak minta jemput dari tadi"
"A-aku lupa" jawabnya
'Biar aku bisa lebih lama sama kakak di sini'
"Aku udah chat ayah aku, katanya supirnya bentar lagi kesini"
"Gue boleh pinjem ponsel lo" kata zeval pada reyna.
"Nih kakak pake aja" ujar reyna sambil mengulurkan ponselnya.
Zeval memgambil ponsel reyna untuk menelfon vera.
__ADS_1
"Halo"
"Halo, siapa?"
"Zeval"
"Kamu di mana di hubungin kok gak aktif"
"Ponsel aku mati"
"Kamu dimana"
"Masih di sekolah"
"Gerbangnya udah di gembok, kamu ke kunci di dalem?"
"Apa!" gaket zeval " ka-kakak lagi di mana?"
"Sekolah kamu, kamu dimana?"
Tiba tiba mobil putih berhenti di depan zeval.
'itu kak vera bukan yah?' tanya zeval dalam hati.
dan seseorang keluar dari dalam mobil.
"Non ayo pulang"
dugaan zeval kalau vera yang ada di dalamnya terjawab sudah, zeval bisa bernafas lega, karna yang keluar dari dalam mobil adalah supir dari ayahnya reyna.
"Kak zeval ikut kan?" Tanya reyna.
"Emm gue-"
"halo jepal, kamu lagi ngomong sama siapa sih, kok suara cewek?"
tanya vera dari sebrang sana.
"Bukan siapa siapa" jawab zeval cepat.
"Kak zeval gimana, mau ikut aku gak?" tanya reyna lagi.
"Gue-"
"Zeval!"
Zeval menoleh ke sumber suara, seorang lelaki memakai setelan jaz keluar dari dalam mobil berwarna hitam, kini lelaki tersebut menghampiri zeval.
"Ngapain lo disini" ujarnya lalu ia melirik gadis di sebelah zeval yang tengah menatapnya "pacar lo?" tanya dia.
"Adik kelas" jawab zeval.
"Lo pacarnya zeval?" ujar lelaki itu pada reyna.
"Apaan sih kak" jawab zeval.
zeva menatap lelaki itu tak suka.
"Gue kakaknya zeval, gue jeje" kata jeje sambil tersenyum ke arah reyna.
'Jadi ini kakaknya zeval, ternyata gak kalah gantengnya sama kak zeval hehehe'
"Kak zeval jadi ikut aku gak, apa mau bareng kak jeje?"
"Gue saranin lo bareng pacar eh maksudnya adek kelas lo aja" ujar jeje sambil tersenyum ke arah zeval.
"halo, zeval lo dimana?" tanya vera di telefon dengan nada yang lebih tinggi.
'Aduh gawat, kak vera kayak nya denger kak jeje tadi deh, pasti dia marah'
"Kk-kak aku pulang sama kak jeje, kakak pulang duluan aja" ujar zeval lalu mematikan sambunganya.
zeval memberikan ponsel reyna dan di terima reyna dengan senang hati.
"yaudah kalo kak zeval mau bareng sama kak jeje aku duluan, daahh" ujarnya dengan melambaikan tangan.
"Yah pacar lo pergi tu" kata jeje sambil menatap mobil yang reyna naiki sudah molai menjauh.
Bug
"Aww, napa lo nendang gue!" Teriak jeje pada zeval yang menendang bokongnya.
"Kalo vera marah abis lo sama gue" kata zeval lalu ia berjalan terlebih dahulu memasuki mobil kakaknya.
"adik durhaka lo, tapi itu emang tujuan gue biar vera marah" gumam jeje sambil mengusap bokongnya yang berdenyut.
...***************...
'zeval kok gitu sama gue, tadi di telfon beneran pacarnya zeval?'
'sebenernya tadi ke perpus apa pacaran sih hiks nyebelin, pokok nya gue marah sama dia'
'kalo bener dia pacaran gue gak bakal ngomong sama dia satu tahun'
vera tertegus di dalam mobilnya, ia melirik gerbang sekolah yang sudah di gembok.
dddddrrrt dddrrrtt
vera melihat layar ponselnya saat ada yang menelfonya.
"kak di suruh kerumah mama sekarang" ujar fida adik vera.
"iya kakak langsung kesana" jawab vera tak bersemangat.
"kak zev-"
vera langsung menutup telfonya sebelum fida menyelesaikan perkataanya.
dengan hati yang masih kesal vera langsung melajukan mobil ke rumah mama nya.
__ADS_1
sedangkan fida sendiri sedang memaki maki kakaknya karena telfonya di matikan sebelum ia menyelesaikan ucapanya.
"mah kak vera lagi kesini!" teriak fida dari ruang tamu.
"zeval juga kan?" tanya mamanya yang tengah berada di dapur.
"gak tau, aku belum selesai ngomong aja udah di matiin"
"hubungin kak zevalnya langsung aja" saran mamanya.
"iya ini mau di telfon" jawab fida yang sudah berada di sebelah mamanya.
"nanti panggilin papa kamu yang ada di halaman belakang" ujar mamanya yang tengah memotong sayuran dan mendapat anggukan dari fida.
"mah, ponsel kak zeval gak aktif"
"eemm yaudah lah nanti telfon lagi, sekarang panggil papa kamu dulu"
"iya" jawabnya dan langsung berjalan menuju halaman belakang.
papa dan mama vera juga suka sekali berkebun, hingga di belakang rumah mereka terdapat beberapa tanaman.
"pah di suruh masuk sama mama" kata fida.
ayahnya yang tengah memindahkan pot bunga pun menghentikan aktifitasnya.
"nanti ya, papa mau mindahin ini dulu"
" kan bisa besok lagi, hujanya baru reda papa malah berkebun nanti kepleset gimana, kalo papa besok meeting tapi malah encok gimana?" omel fida pada ayahnya.
"cerewet banget sih anak papa ini" ujar nya sambil mencubit pipi fida.
"iiihh tanganya kotor"
"hahahahaha udah ayo masuk nanti mama marah kita kelamaan" fida pun menganggukinya "sekalian bawain ini" suruh papa nya.
"tadi papa mau mindahin bunga ke pot yang baru?" tanya fida sambil membawa beberapa pot yang belum di tanami bunga.
"iya, ada beberapa yang harus di ganti".
mereka pun berjalan beriringan menuju ke dalam rumah.
"mama" sapa ayah fida ke istrinya yang tengah memasak.
"cuci tangan, cuci kaki abis itu duduk di meja makan"
"oke oke"
kini vera sudah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah orang tuanya, setelah pak silo membukakan gerbang untuknya.
"lama banget aku gak kesini, jadi kangen" lirihnya sambil berjalan memasuki rumah.
"assalamualaikum!" teriak vera sambil memasuki rumahnya.
"waalaikumusalam, yaampun anak papa gimana kabarnya" ayahnya memeluk vera melepaskan kerinduanya.
"huuaaa vera kangen" ujar vera di pelukan ayahnya.
"kenapa gak pernah main kesini?" tanya ayahnya setelah melepaskan peluknya.
"gak sempet pah, kan aku kuliah"
"kalo libur sempet sempetin kesini fida kesepian tuh biasanya ada kamu"
"iya pah aku sempetin deh"
ayahnya melihat kekanan dan kekiri seperti mencari sesuatu.
"cari apa pa?"
" menantu papa mana?"
vera seketika menghembuskan nafasnya.
"di apartemen mungkin, biarin aja" jawabnya kemudian vera berlalu meninggalkan ayah nya.
"vera seharusnya zeval kamu ajak, diakan sekarang anak papa juga" ujar nya sambil berjalan menyusul putri tertuanya.
sedangkan vera hanya menghiraukan ucapa ayahnya ia lebih memilih menuju dapur.
"assalamualaikum maaaa" sapa vera sambil memeluk mama nya dari belakang.
"waalaikumusalam cantik" jawab nya kemudian ia berbalik untuk menatap putrinya.
"veraaa mama kangen" ujar mamanya dan kembali memeluk putrinya "vera suami kamu mana?" tanya mamanya.
"katanya di apartemen ma" jawab ayah vera yang tengah membuka kulkas.
"gak kamu ajak?"
"fida gak ngomong ma" jawab vera.
"kata fida dia belum selesai ngomong, tapi udah kamu tutup"
"aku kira fida udah selesai ngomong"
"telfon suami kamu sana, suruh kesini" ujar ayah nya.
"ia nanti"
"sekarang vera"
"ponselnya mati"
"mama gak mau tau zeval harus kesini"
"ma tap-"
"pake telfon rumah sana" suruh mamanya.
__ADS_1
"iya deh iya"