
cuaca cukup mendung pagi ini, dan rintikan hujan kini mulai deras, mungkin langit tengah ikut merasakan sedih, untuk menemani seorang gadis yang tengah duduk di tempat tidur sambil memandang keluar jendela.
"sayang sarapan dulu yuk" ujar seorang perempuan paruh baya sambil memasuki kamar anaknya "liatin apa hm, tumben bangun tidur gak langsung turun"
ia mengabaikan perkataan ibunya, jarinya menyentuh kaca jendela saat satu tetes air hujan mendarat di kaca itu.
"sayang" ibunya menyentuh surai anaknya.
"sakit" lirihnya.
wajah ibunya yang awalnya tersenyum kini berubah panik "apanya, apanya yang sakit tatap mama, apanya yang sakit" ibunya memegang pundak anaknya.
"dada reyna sakit "reyna menangis sambil memeluk ibunya.
"ssstt sakit kenapa" ibunya membalas pelukanya.
"dia udah nikah mah"
"dia? dia siapa?"
"zeval"
"zeval siapa?"
"cowok yang tiap hari aku ceritain, rasanya sakit mah hiks"
"ssstt sayang banyak laki laki lain di luar sana"
"tapi reyna mau kak zeval"
"sayang jangan gitu, kalo reyna beneran cinta dan sayang, reyna harus relain dia bahagia sama yang lain, oke sayang" ibunya melepaskan pelukanya lalu menghapus jejak air mata di pipi anaknya.
"tapi kak zeval beda, aku gak rela mah, kenapa kak vera sama kak nawa bohongin reyna, kalo dari awal gak bohongin reyna, reyna gak mungkin suka kak zeval sampai sekarang"
"sayang udah jangan gini"
ting tong ting tong~~
"sayang ada tamu, kamu di sini aja ya, udah ya jangan nangis, mama nanti kesini lagi" ibunya mengecup dahi anaknya sebelum melenggang keluar kamar.
...****************...
ibu reyna tersenyum saat membuka pintu.
"selamat pagi tante"
"selamat pagi juga, ternyata kalian"
"reyna udah bangun tante?"
"udah dong sayang, kalian habis dari mana, atau emang niat mau ke sini"
"kita habis lari pagi, terus mampir ke sini"
"yaudah yuk masuk, kalian langsung ke kamar reyna aja"
nura dan nasa teman dari reyna, pagi ini mereka sempatkan untuk menjenguk temanya sehabis lari pagi.
"selamat pagi!" tanpa mengetuk pintu nura langsung masuk ke kamar reyna dengan suara lengkinganya.
"yaampun ngagetin aja" ujar reyna "kenapa gak ketok pintu dulu?"
"hehehe maap, soalnya pintunya udah kebuka lebar" ujar nura di akhiri cengiranya.
"maklumin aja lah rey" ujar nasa, sambil berjalan ke arah tempat tidur reyna dan duduk di sisi tempat tidur.
"mata lo sembab, lo habis nangis?" tanya nasa.
__ADS_1
"eh iya, mata lo sembab, lo nangis kenapa curhat sama kita" timpal nura.
reyna menarik nafas lalu mengeluarkanya perlahan sebelum mulai bercerita "kalian tau, kalo gue suka sama kak zeval dari awal gue ketemu dia?"
kedua temanya mengangguk sebagai jawaban "rasa suka gue ke dia makin hari makin besar, dan gue gak tau itu penyebabnya apa, meskipun dia cuek ke gue rasa suka gue gak berkurang"
reyna menundukan kepalanya "gue selalu ngerasa kangen sama dia, meskipun baru beberapa menit ketemu"
reyna mendongak menatap kedua temanya "tapi tadi malem pas gue telfon kak zeval yang ngangkat kak vera, dia bilang kalo dia istrinya dan kak jeje itu pacarnya kak nawa"
"gue sakit banget pas tau itu, mereka rahasiain ini dari gue, kalo tau dari awal gue bakal lupain kak zeval"
nasa melempar tatapanya pada nura, nura pun balik menatap nasa.
"kita udah tau" ujar nasa sambil menatap reyna.
"kalian juga rahasiain ini dari gue?" tanya reyna sambil menatap kedua temanya tak percaya.
"rey bukan gitu, kita gak bermaksud rahasiain ini, kita aja tau mereka udah nikah waktu kita ikut camping"
"tapi itu udah lama, kenapa kalian gak kasih tau gue"
"maaf rey, kita gak tega buat ngomong ke lo"
"kalian bilang gak tega sama gue! dengan kalian nutupin ini kalian itu tega sama gue"
"rey maafin kita" ujar nura.
reyna mengalihkan tatapanya, ia lebih tertarik menarap keluar jendela "kak vera baik sama gue, tapi sesuatu yang gue suka harus jadi milik gue, meskipun itu udah punya orang lain dia tetap milik gue, maafin gue kak vera aku udah terlanjur terlalu suka sama suami kakak" lirih reyna dengan air mata yang kembali menetes.
...****************...
vera menguap lalu mengerjapkan matanya beberapa kali, ia baru menyelesaikan tugas yang dosenya kasih.
ia belum mandi, bahkan ia masih mengenakan baju tidurnya, dilihatnya jam di atas meja belajarnya, ternyata sudah jam sepuluh siang.
"suami lagi apa" ujar vera pada zeval sambil duduk di sebelahnya.
"kerja" jawab zeval tanpa menoleh ke arah vera.
"gak jadi kerumah papa?"
"nanti"
"kamu hari ini gak ke kantor"
"kamunya sendirian"
"suami" panggil vera, ia menggeserkan duduknya agar lebih dekat ke arah zeval "aku laper"
"makan"
"makan apa?"
"makan yang bisa di makan"
"kalo aku lagi ngomong tuh hadap sini, jangan liatin laptop mulu"
zeval mendenggus lalu ia menoleh ke arah vera "kenapa?" tanya zeval.
"aku laper"
"makan"
"makan apa?"
"yang bisa di makan"
__ADS_1
"tapi apa?"
"nasi" lalu zeval kembali menatap laptopnya.
"nasi doang?"
"kalo laper kamu mending ke dapur buat makanan, jangan ganggu aku"
"kamu laper gak?" tanya vera.
"gak"
"kok gak laper, seharusnya laper biar kita makan di luar"
"mending kamu makan cemilan kamu aja sana" suruh zeval.
"zeval, kamu beneran gak laper?"
"sayang" zeval menatap vera "aku lagi sibuk jangan ganggu aku dan aku belum laper"
suasana kembali tenang seperti semula, tak ada vera yang bertanya pada zeval ataupun suara zeval yang menjawab pertanyaan vera.
zeval menoleh ke arah vera yang tengah duduk diam sambil bersandar di pundaknya.
"gak makan, katanya laper?" tanya zeval.
"nanti nunggu kamu laper" jawab vera.
"zeval kerjanya udah?" tanya vera sambil menatap zeval.
"belum" jawab zeval, ia kembali menatap laptopnya.
"zeval, kalo rambut di acak terus sakit karena apa?"
"karna ngacaknya sambil jambak" jawab zeval masih fokus dengan laptop.
"bukan, tapi rambut dia yang zeval acak hati vera yang berantakan" vera terkekeh setelah mengatakan itu "sakit banget kan?" vera beralih bersender di sofa.
zeval menggelengkan kepalanya atas ucapan vera.
"zeval ily singkatan dari apa?" tanya vera
"i love you" jawab zeval.
"i love you too" jawab vera sambil memeluk zeval dari samping.
"zeval gantian gombalin vera dong"
"gak bisa"
"coba dong sekali"
zeval melirik ke arah vera setelah menutup laptopnya, kalau di ganggu oleh vera ia pasti tidak akan fokus dalam menyelesaikan pekerjaanya.
"kamu wibu kan?" tanya zeval dengan wajah datarnya.
"wi-wibu, bukan"
"jujur aja kamu wibukan"
"bukan zeval"
zeval mencondongkan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah vera "kamu itu wibu, calon wibu dari anak anak ku" lirihnya di akhiri senyumanya.
"zevaaal, ibu bukan wibu!" vera menggeser kan tubuhnya memperjarak dengan zeval.
hai semua, reyna akan kembali dengan sebuah drama yang bakal dia buat nih.
__ADS_1