
zeval memasuki kelas yang keadasnya cukup ramai, dan ia dapat menebak kalau sekarang jam kosong.
ia melirik bangku belakang, yang terdapat abi dan arkan yang tengah memainkan ponselnya dan dilihatnya dilah yang berada di pojok bangku belajang, yang tengah bernyanyi sambil berdansa dengan sapu di tanganya.
zeval duduk di bangkunya sambil menghela nafasnya, detik berikutnya ia memilih menelungkupkan kepalanya di lipatan tanganya.
tok tok, tok tok
zeval mendongakan kepalanya saat merasa ada yang mengetuk mejanya.
"abis kemane lu?" tanya dilah dengan membawa sapu di tanganya.
"kepo" jawab zeval sambil menegakan tubuhnya.
"zev kata dilah lo mau cerita sesuatu apaan?" tanya arkan.
"cerita?"
"gak usah pura pura lupa, lo harus ceritain semua masalah yang tadi itu lo" ujar dilah.
"kata dilah ini menyangkut kakak lo, cerita dong gue kepohhh nihhh" ujar abi.
"males cerita" tolak zeval.
"yahhh kok gitu" ujar mereka bertiga kompak.
"gini aja deh, nanti kita pulang sekolah ke ,base camp lo cerita di situ aja" ujar abi memberi saran.
"gimana zev?" ujar arkan.
"emang kita punya base camp dimana, sejak kapan?" tanya zeval sambil menaikan sebelah alisnya.
"lo gak tau, yaampun zeval!" jawab arkan sambil menggelengkan kepalanya.
"base camp kita itu di rumah lo, kalau gak di rumah lo di warungnya mang toto" jawab arkan dan di angguki kedua temanya.
"dari kapan rumah gue jadi base camp?"
"dari dulu!" serempam mereka bertiga.
"tapi ya kalau di pikir pikir-" ucapan arkan terpotong oleh dilah.
"emang lo punya otak pake mikir segala?" potong dilah dengan muka polos tak berdosanya.
"emang lo punya akhlak?" tanya arkan balik kedilah.
"sudah lah kawan, kita itu punya segala galanya" jawab abi dengan senyum nya.
"kaya lirik lagu?" ujar arkan bergurau.
"~ooohh tiada terkira kita punya segala galanya~" nyanyi abi.
"salah lirik sayang" ujar arkan.
"gak usah ngelawak, garing" ujar zeval yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka.
"gue mau lanjutin omongan gue tadi" ujar arkan " kalo dipikir pikir... kita lama gak kewarungnya mang toto".
"iya juga, kangen gue sama pisang gorengnya" ujar dilah.
"pisang gorengnya kok bisa seenak itu" ujar abi sambil membayangkan pisang goreng mang toto.
"dan bisa sekriukk itu" lanjut dilah, zeval yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
"oke fix no debat, kita pulang sekolah kesana, udah lama kita gak kesana kangen gue" ujar arkan menyetujui.
"udah lama banget kita gak kesana, emm kira kira kita terakhir kesana pas kita SMA" kata dilah.
"dil, sekarang kita juga masih SMA" ujar zeval pada dilah.
"iya juga ya?, yang bener sejak kapan yah kita gak kesana?" tanya dilah.
"kemaren kita pulang sekolah juga kesitu" ujar abi.
" baru juga kemaren kita ke warung mang toto, sekarang udah rindu, gimana kalau udah berminggu minggu" lanjut dilah.
"sumpah kalian garing banget" kata zeval "yaudah nanti pulang sekolah kita langsung kesana aja".
mendadak hening di antara mereka berempat, mereka cuma asik memandang satu sama lain.
dan detik berikutnya mereka langsung ke aktifitas semula, zeval yang memilih tidur dengan menelungkupkan kepalanya, abi dan arkan yang sibuk dengan ponselnya dan dilah dengan sapu di tanganya.
...****************...
sudah lebih dari lima menit yang lalu bel pulang sudah berbunyi, gedung sekolah pun sudah molai sepi, namun abi kini tengah mondar mandir di depan mobil zeval, sedangkan zeval hanya menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.
"dilah lama banget" ujar abi.
"tunggu aja" ujar zeval yang tengah fokus pada ponselnya.
"gue tuh nanti masih ada janji sama orang lain"
zeval memilih mengabaikan abi.
"udah dateng belum?" tanya arkan sehabis dari kamar mandi.
"belum" jawab abi.
"kenapa kita gak duluan aja, lagian warungnya deket" ujar zeval.
"gak seru kalo sendiri sendiri"
"tumben tuh anak piket lama, biasanya juga gak pernah"
__ADS_1
zeval yang tengah bermain game pun terhenti karena ada telfon masuk.
"gue angkat telfon dulu" ujar zeval sambil menjauh dari teman temanya.
"biasanya juga kalau ada yang telfon langsung di angkat, tumben tuh anak ada telfon ngejauh gitu" ujar arkan pada abi.
"lo itu ngerti yang namanya privasi gak?" tanya abi.
"ya ngerti lah"
"zeval juga punya privasi, gimana sih"
"cuma gak biasanya aja"
zeval kini tengah mengobrol dengan orang yang menelfonya.
"maaf ya" ujar zeval pada orang yang tengah menelfonya.
"yaudah gak papa"
"lain kali ikut deh"
"hemm, kamu jaga kesehatan jangan sampai sakit, jagain vera"
"iya aku tutup, assalamukaikum"
" waalaikumussalam"
setelah mematikan telfonya, kemudian zeval kembali mengotak atik ponselnya mencari kontak vera.
setelah menemukanya zeval menelfon vera, terdengar nada sambungan.
"halo jepal kenapa?"
"kak aku hari ini mau kumpul sama temen temen, jadi pulangnya sedikit telat"
"yaudah sana, aku juga masih di kampus"
"kakak nanti pulangnya hati hati"
"kamu juga hati hati"
"iya"
"jepal inget jaga hati kan udah ada aku"
"kamu juga harus jaga hati, sama satu lagi jangan senyum ke orang lain apa lagi cowo"
"kita tuh harus ramah, jadi gak papa dong aku senyum ke orang lain"
"gak boleh"
"yaudah deh iya iya, tapi sama dosen boleh kan?"
"gak boleh, kalo dosenya cewek gak masalah tapi kalo cowo masalah"
"eh tunggu dulu, tadi papa telfon aku"
"papa siapa?"
"papa aku, mertua kamu, kakek dari anak kita nanti, katanya aku disuruh ikut meeting sama papa hari ini, tapi aku tolak"
"kenapa di tolak?"
"gak papa kan masih ada kak jeje, tenang aja"
"yaudah teerserah kamu, jepal aku tutup ya assalamulaikum"
"waalaikumussalam"
setelah mematikan telfonya, zeval berjalan menuju teman temanya, dilihatnya dilah sudah berada di sana.
"yuk langsung aja" ujar zeval.
"kalian bawa mobil?" tanya arkan pada teman temanya.
"iya" jawab mereka bebarengan.
"kalian duluan aja, gue bawa motor soalnya"
"yaudah yuk" ujar abi, mereka pun menaiki kendaraan masing masing menuju warung mang toto.
...****************...
arkan, abi, dilah dan zeval kini sudah berada di depan warung mang toto.
"masuk" ajak zeval.
mereka pun semuanya memasuki warung mang toto yang cukup ramai.
"mang!" panggil dilah di sela duduknya.
mang toto yang merasa namanya di panggil pun mencari orang yang memanggilnya.
"disini mang!" ujar dilah.
mang toto tersenyum saat melihat dilah yang memanggilnya.
"wah wahh kalian mau pesan apa ini" ujar mang toto pada keempat pria di depannya.
"pisang goreng aja sama es teh manis" ujar dilah.
"udah itu aja?"
__ADS_1
"iya, mang yang bayar dilah" ujar abi sambil melirik dilah.
"eh kok gue"
"gak papa lah sekali kali"
"yaudah deh" dilah pun akhirnya menetujui teman temanya.
"makasih dilah, gue tau lo lagi banyak duit hari ini" kata abi sambil tersenyum dan dilah hanya mengabaikan ucapan abi.
dilah menatap zeval yang duduk di depanya, setelah itu ia menatap abi yang berada di sebelah dilah, lalu ia berganti melirik arkan yang berada di sebelahnya, mereka semua fokus dengan ponsel.
"zev, jelasin sekarang aja" ujar dilah.
zeval pun melirik dilah yang berada di depanya.
"oke, tapi pas gue ngomong jangan ada yang motong omongan gue sebelum gue selesai ngomong"
"siap" jawab arkan.
"jadi gue sa-"
"ini pesananya" zeval pun tidak jadi melanjutkan ucapanya karena mang toto sudah membawa pesanan mereka.
"kalian rajin rajin ya kesini, biar tambah rame juga hehe" ujar mang toto.
"siap mang" jawab abi.
"saya tinggal dulu, banyak pesanan" setelah mengucapkan itu mang toto melenggang pergi.
"lanjut" ucap arkan padaa zeval.
"jadi kakak yang tadi bukan istri kakak gue, melainkan istri gue"
mereka pertiga menatap zeval terkejut, tak ada yang bersuara, mereka hanya menatap zeval dengan mulut yang terbuka sempurna.
"gue sama vera nikah karena di jodohin, gue gak bisa bilang kekalian karena ini permintaan vera"
"lo gak lagi bohongin kita kan?" tanya arkan.
"enggak lah ngapain bohong"
"tapi kenapa dia bilang istri kakak lo?" tanya dilah.
"karna dia gak mau ada orang lain yang tau"
"zeval yang dingin, anti cewek ternyata udah punya istri, kerenn" kata dilah sambil memberikan dua jempol ke zeval.
"gue gak percaya lo udah punya istri" ujar arkan masih tak percaya.
"percaya atau enggak itu urusan kalian, yang penting gue udah ngasih tau, tapi kalian bisa jaga rahasia kan?" tanya zeval.
"bisa!" jawab mereka bertiga.
"tapi reyna gimana, dia kayaknya suka sama lo" ujar abi sambil memakan pisang goreng.
"bener juga, kalau gitu reyna sama gue aja" ujar dilah dan berhasil mendapat pukulan di lenganya.
"sakit" ujar dilah pada arkan sambil mengusap lenganya.
"reyna gitu gitu juga seleranya tinggi, gak mungkin dia mau sama lo maunya sama gue"
"wuuu halu aja lo".
"gila pisang gorengnya bikin nagih" ujar abi yang sudah habis empat pisang goreng.
"apa lagi pas di makan pas lagi hujan lebih mantep" arkan menimpali.
mereka pun memilih mengisi perut mereka dengan pidang goreng di sore hari ini.
...****************...
zeval memasuki apartemen yang cukup sepi, ia berjalan sambil memainkan kunci mobil di tanganya.
"kakak lagi ngapain?" tanya zeval lirih saat melihat tv yang menyala tak bertuan.
zeval berjalan menuju dapur siapa tau veranya berada di dapur.
zeval tersenyum saat melihat vera tengah memasak sambil bernyanyi mengikuti irama musik yang ia putar di ponselnya.
dengan langkahnya yang pelan ia berjalan menuju vera.
saat sudah berdiri tepat di belakang vera zeval langsung memeluk vera dari belakang.
"assakamulaikum, selamat soree" bisik zeval pada vera.
"waalaikumussalam" jawab vera sambil tersenyum manis pada zeval.
"aaaaaa" ujar vera pada zeval untuk mencicipi masakanya, dan dengan senang hati zeval membuka mulut untuk mencicipinya.
"aku sengaja buat ayam geprek buat kamu"
"emm enak" ujar zeval "kakak udah mandi, wangi banget"
"udah lah, kamu mandi sana terus makan"
'huuuhhh untung gue gak terlalu banyak makan pisang goreng tadi'
" kak aku udah bilang ke temen temen kalau kakak istri aku" kata zeval sambil melepaskan peluknya.
vera berbalik menghadap ke arah zeval "mereka gimana?"
"gak gimana gimana, mereka bisa jaga rahasia, percaya deh sama aku"
__ADS_1
"iya aku percaya, sana kamu mandi"
"emm" jawab zeval dengan gumam dan anggukan kepalanya.