Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
Prioritas


__ADS_3

nawa berjalan di koridor rumah sakit yang cukup ramai malam ini, ia hendak kekantin untuk membeli minum, setelah kejadian di apartemen beberapa jam yang lalu mereka langsung pergi ke rumah sakit tempat zidan di rawat sebelumnya.


dan bagaimana keadaan reyna dan vera?


mereka pingsan dan sekarang sedang di tangani oleh dokter.


"berapa?" tanya nawa pada mba kantin sambil menunjukan minuman yang ia ambil.


"sepuluh ribu mba"


setelah nawa menyerahkan uangnya ia pun langsung melenggang meninggalkan area kantin.


dddrrrt ddrrrt


nawa menghentikan jalanya saat ponselnya bergetar.


"zeval?" lirihnya, semenit setelahnya ia langsung membulatkan matanya "yaampun gue harus jawab apa nih kalo dia nanyain vera"


nawa bingung akan menjawab panggilan itu atau tidak, karna mungkin zeval sekarang tengah khawatir dengan vera ia pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut.


"halo adik ipar kenapa?" tanya nawa dengan nada cerianya.


"kak, kalian belum pulang?"


"belum emang kenapa zev"


"ini udah malem, mendingan kalian pulang aku udah di rumah kak nawa"


"apa!" kaget nawa.


"aku kerumah sakit aja, jemput vera sekalian mau jenguk zidan"


"ga-gak usah zev, kita mau pulang kok, zi-zidan juga udah gak boleh di jenguk udah malem"


"oh gitu, yaudah zeval gak jenguk zidan tapi mau jemput vera aja"


"eemm sebenernya gini zev" nawa hendak menceritakan kejadian tadi, namun sebuah panggilan mengurungkan niat nawa.


"kak nawa!" panggil nura dari arah belakang nawa.


nawa menoleh ke nura yang memanggilnya "kak vera udah sadar"


"sekarang dia di mana?" tanya nawa.


"masih di dalem ruangan sama dokter"


nawa pun berjalan tergesa gesa untuk menemui temanya itu.


"halo kak nawa kak vera kenapa?"


"halo kak, kak nawa!"


terdengar nada panik dari zeval.


"halo kak nawa"

__ADS_1


nawa sama sekali tidak mendengar perkataan zeval karna ponselnya sudah ia masukan ke dalam sakunya, ia bahkan lupa kalau tadi ia tengah berbicara pada zeval di telfon.


"emang boleh masuk" ujar nawa pada nura, ia kini sudah berada di pintu ruangan tempat vera berada.


"masuk aja" nura langsung memegang gagang pintu dan membukanya pelan.


dilihatnya vera yang tengah duduk di ranjangnya dengan dokter di sebelahnya.


"dia gak papa kan dok, gak ada sesuatu yang serius kan dok?" tanya nawa.


dokter itu tersenyum ke arah nawa "tenang saja, gak ada yang serius kok"


"tapi kalo nanti dia kenapa napa gimana, vera kan sempat pingsan"


" dia cuma kaget karena pukulan itu, mba nya tenang aja gak ada yang serius kok"


nawa berjalan menghampiri vera "lo gak papa?"


"gak papa" jawab vera dengan senyumnya.


"kalo gitu saya permisi, malam ini juga mba vera boleh pulang"


setelah kepergian dokter itu semua pun terdiam.


"zidan sama reyna sekarang gimana?" tanya vera memecah keheningan.


"mereka masih di tangani sama dokter, mama sama papa reyna juga kesini mereka sekarang lagi sama nasa" jawab nura.


"zidan belum sembuh, bahkan belum keluar dari rumah sakit tapi sekarang malah di tambah lagi" lirih vera "itu mungkin karna kita"


"na gue minta tolong sama lo, lo bisa kan gak kasih tau ke orang tua gue tentang ini, terutama zeval"


nawa menoleh ke arah vera, seketika nawa teringat akan suatu hal.


nawa langsung mengambil ponsel yang berada di sakunya "aduh" nawa menepuk jidatnya.


"kakak kenapa?" tanya nura.


"tadi... pas nura kasih tau ke gue kalo lo udah sadar... gue itu lagi angkat telfon zeval, gue takut dia denger" nawa melihat vera yang hanya diam saja.


"kalo dia kesini gimana?" tanya nawa.


vera menundukan kepalanya "gue harus jujur sama dia"


"ngapain juga sih lo ver gak kasih tau dari awal ke zeval kalo lo mau tolongin reyna" omel nawa sambil duduk di ranjang yang vera duduki.


"kalo gue jujur nanti dia khawatir, lo tau kan dia lagi ujian, gue gak mau ganggu dia makanya gue gak kasih tau dari awal"


"tapi ver, lo seharusnya kasih tau aja, gue tau zeval masih bocah tapi dia itu kan su-"


nawa tak lagi melanjutkan perkataanya, saat ia menyadari di ruangan itu bukan hanya mereka berdua melainkan ada nura di sana.


vera diam diam mencubit pinggang nawa, bisa bisa rahasianya terbongkar kalau nawa terus melanjutkan perkataanya.


"Aw aw aw" nawa berdiri dari duduknya, ia mengusap pinggangnya bekas cubitan vera "sakit" lirihnya pada vera.

__ADS_1


tok tok tok


ketiga gadis itu menoleh ke arah pintu.


"kak" ternyata orang yang mengetuk pintu tersebut adalah fida, ia kini hanya berdiri di depan pintu


"fida" lirih vera.


"kak, ada kak zeval" ujarnya lirih.


nawa dan vera sama sama membulatkan matanya.


'yaampun gue takut zeval marah' batin vera.


'kak zeval sama kak vera sebenarnya ada hubungan apa sih, pacaran? ah gak mungkin, apaaaa kak vera kakaknya zeval?' nura yang sedari tadi mendengarkan merek hanya bisa bertanya tanya dalam hati.


fida hanya dapat memperhatikan kakaknya dari pintu dan berharap tidak akan terjadi apa apa pada kakaknya, selain itu ia juga merasa takut kalau ibu dan ayahnya akan memarahinya karena ia telah berbohong pada mereka.


"dek kakak boleh masuk?" fida membalikan tubuhnya, ia meneguk ludahnya kasar saat melihat zeval dengan wajah dan rambut yang acak acakan.


"bo-boleh" fida menggeser tubuhnya memberi jalan untuk zeval.


zeval pun melangkah masuk.


vera meneguk ludahnya kasar saat zeval berjalan ke arahnya dengan sorot matanya yang dingin.


"kalian bisa keluar sebentar?" tanya zeval sambil menoleh ke arah nawa dan nura.


...****************...


setelah nawa dan nura pergi keluar sekarang tinggalah vera dan zeval diruangan itu.


'vera lo harus jujur, lo harus jelasin semua'


vera mendongak menatap zeval yang hanya memainkan ponselnya sambil bersender di tembok.


"udah mau jelasin?" tanya zeval tanpa menoleh ke arah vera.


"maaf" lirih vera "zeval maafin aku, aku udah bohong"


"aku udah tau dari fida, dia udah jelasin semua" kata zeval, ia kini melangkah mendekati vera.


"kenapa gak kasih tau?"


vera menggigit bibir dalamnya "alasan pertama aku gak kasih tau kamu, aku takut bikin kamu khawatir, yang kedua aku takut ganggu belajar kamu"


"kamu itu prioritas aku, kakak gak usah takut atau merasa gak enak sama aku, seharusnya kamu kasih tau ke aku jujur ke aku dari awal, aku pasti bakal bantu kakak selamatin reyna!" bentak zeval.


"kalo di pikiran kakak kayak gitu, berarti kakak masih nganggep aku orang lain, aku suami kakak aku harus tau apa yang di lakuin kakak"


zeval memalingkan wajahnya, ia melihat jam di dinding rumah sakit, sudah cukup malam.


"kakak kira dengan kakak gak kasih tau ke aku gak bikin aku khawatir?" tanya zeval lembut "dan kakak tau, mama itu khawatir sama kamu dan fida, kakak itu bagian terpenting buat aku, aku gak takut kalo aku gak ikut ujin atau gak bisa jawab soal ujian, aku takutnya kalau Kakak kenapa napa"


zeval berjalan menuju pintu

__ADS_1


"kalo kakak masih gak mau terbuka, gak mau jujur sama aku mending kita hidup masing masing aja" lirih zeval tanpa menoleh ke arah vera, ia membuka pintu dan langsung pergi meninggalan vera.


__ADS_2