
ddrrrt drrrt
ddrrrt drrrt
zeval yang tengah duduk di sofa kamarnya menutup laptop lalu melirik ke arah vera.
"sayang telfonya di angkat dulu berisik banget dari tadi"
"iya" vera menjawab tapi ia masih setia di atas tempat tidur sambil membaca novelnya.
drrrt drrt
ddrrt drrrt
"sayang di angkat dulu" geram zeval.
"iya iyaa" vera meletakan novelnya lalu berjalan mengambil ponsel yang berada di atas meja belajarnya.
vera mengernyit saat melihat nomor asing tanpa nama dari layar ponselnya.
"hallo" ujar vera saat mengangkat telfonya.
"hallo"
vera tampak tak asing dengan suara dari sebrang sana.
"ini siapa ya?"
terdengar suara terkekeh dari sebrang sana
"ini gue rio"
"o-oh rio"
zeval yang tengah tenggelam dengan dunia sibuknya langsung menoleh ke arah vera.
"maaf ganggu, ini nomor aku yang baru simpan ya"
"oke"
"gue boleh minta waktu lo bentar?"
"em emang mau ngapain"
"gue pengin bicara empat mata sama lo"
"kapan?"
"nanti malam bisa?"
vera melirik ke arah zeval, vera sedikit tersentak ternyata zeval juga tengah menatapnya.
"emm gue minta izin dulu, nanti gue telfon lo lagi"
"oke, gue tutup ya maaf ganggu waktu lo"
"santai aja"
panggilan itu pun di tutup oleh rio.
vera turun dari tempat tidurnya lalu menghampiri zeval yang masih setia menatapnya.
"nanti malem aku izin boleh?" tanya vera sambil duduk di sebelah zeval.
"yang telfon siapa?" tanya zeval tanpa menjawab pertanyaan vera.
"rio"
zeval meletakan laptop lalu menatap vera "mantan kamu?" tanya zeval.
"iya, dia mau bicara empat mata sama aku nanti malam, boleh gak"
zeval mendekatkan tubuhnya pada vera lalu memeluk vera dari samping "aku anter"
"jadi aku di izinin?"
zeval menyembunyikan wajahnya di cekuk leher vera "iya"
__ADS_1
"kamu gak cemburu"
"aku percaya sama kamu"
vera tersenyum karena ucapan zeval "aku janji gak macem macem"
zeval mendongak menatap vera "aku percaya sama kamu, tapi kamu gak boleh hiyanatin kepercayaan aku paham sayang" ucap zeval serius.
"iya sayang"
"nanti kalau mau pulang telfon aku, jangan mau di anter sama rio"
"iya"
...****************...
"nanti malam aja, nanti kakak anter" bujuk nawa pada reyna.
"eem oke deh"
reyna kini tengah berada di rumah nawa untuk bermain.
reyna tadi berpamitan karena kini sudah sore namun nawa melarangnya.
"mau makan?" tanya nawa yang tengah merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"kak kita baru makan tadi" ujar reyna yang tengah memainkan ponsel di sebelah nawa.
"siapa tau lo laper lagi"
"kak aku mau nanya dong"
"tanya apa?"
"menurut kakak jatuh cinta itu seperti apa"
nawa bangkit dari rebahanya, ia duduk bersila menghadap ke arah reyna.
"menurut kakak cinta itu...indah, menyenangkan, waktu di mana kedua insan yang saling memahami, saling memiliki, pokoknya menurut kakak cinta itu sangat menyenangkan namun ada dimana kita berada di titik perpisahan itu sangat menyakitkan"
"lo kenapa nanya itu? lo lagi suka sama seseorang?"
reyna tersenyum ke arah nawa "aku lagi suka sama seseorang kak" jujur nawa.
"rey, lo udah siap patah hati?" tanya nawa.
"kalau itu...reyna kayaknya belum siap"
"kalau belum siap jangan dulu membahas cinta, gue takut suatu saat lo patah hati, mungkin rasa yang saat ini lo anggap cinta itu hanya sebatas mengagumi, gue takut aja lo patah hati dan berbuat sesuatu yang bakal ngerugiin diri sendiri"
"kakak pernau patah hati?"
nawa terkekeh "belum, karna kakak belum pernah suka sama orang, selain jeje"
"kakak pernah patah hati karna kak jeje"
"eemm kalau patah hati kayaknya belum pernah, tapi kalau cemburu sering banget"
"tapi kak, sepertinya reyna itu bener bener ngerasain cinta bukan sekedar mengagumi"
"dia suka sama lo gak?" reyna menggeleng sebagai jawaban.
"kalau lo beneran cinta sama dia, silahkan perjuangkan, tapi lo harus siap dengan apa yang di sebut patah hati maupun sakit hati" nawa kembali merebahkan badanya.
reyna tersenyum "kakak dukung aku kan buat dapetin dia?"
"ya pasti, gue dukung"
"kalau dia udah punya pacar menurut kakak aku mundur atau tetap memperjuangkan dia?"
"terus perjuangkan, masa karna dia udah punya pacar lo mundur, kecuali dia udah nikah"
'tapi sayangnya kak zeval udah nikah'
"misalkan dia udah nikah, apa reyna harus mundur?"
"ya lo harus mundur lah, berarti dia bukan jodoh lo"
__ADS_1
"tapi kan ada yang namanya perceraian, semisalnya cerai berarti mereka gak jodoh"
nawa tersenyum "menurut kakak, mereka itu berjodoh tapi karna perjuangan merekanya aja yang kurang dalam menghadapi masalah, menghadapi rintangan dalam suatu ikatan pernikahan, jadi harus berakhir perceraian"
nawa meraih tangan reyna "jangan pernah lo berfikir menjadi orang ketiga dalam sebuah rumah tangga, oke"
reyna mengangguk kaku
...****************...
zeval memasuki mobil dan di susul vera di sebelahnya.
"udah siap?" tanya zeval sambil menoleh ke arah vera.
"udah"
zeval menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen menuju kesebuah restoran.
zeval yang tengah fokus pada jalan raya merasakan elusan di kepalanya.
"sayang rambu kamu gak mau di potong?" tanya vera sambil menyingkirkan poni yang menutupi dahi sang suami.
"kalau rambutnya aku jadiin gondrong boleh gak?"
"no aku gak suka"
"tapi rambut yang sekarang gak terlalu panjang kan?"
"enggak sih"
"potongnya kapan kapan aja"
"terserah"
hening setelah itu, vera mengambil lipstik yang berada di dalam tasnya, ia mengoleskanya karena ia belum mengenakan lipstik.
zeval melirik ke arah vera "sayang gak usah pake make up, kamu mau ketemu mantan bukan mau jalan sama suami kamu ini"
"siapa yang pake make up aku cuma pakai lipstik biar gak pucet"
"jangan kemerahan, nanti dikira abis makan daging mentah"
"enggak sayaaaaang, liat nih gak terlaku merah" geran vera.
zeval meghetikan mobilnya saat berada di lampu merah.
"sayang nanti jemputnya jangan kelamaan oke" ujar vera sambil menepuk paha zeval lalu mengelusnya perlahan.
zeval terkekeh karena perbuatan vera "ngapain?" tanya zeval sambil kembali menjalankan mobilnya.
"ngapain apa?" tanya vera bingung.
"tangan kamu" jawab zeval dengan tatapan yang fokus pada jalan raya.
vera seketika mengalihkan tatapanya ke arah tanganya, seketika vera membulatkan matanya, vera menarik tangan yang sedari tadi berada di paha zeval.
"aku mau nunggu kamu di cafe sebelah restoran itu aja, nanti pas pulang kamu kabarin aja nanti aku langsung jemput" vera pun menjawab dengan gumamnya.
"sayang" panggil zeval, vera pun menoleh ke arah zeval.
vera mengernyit heran saat zeval menyunggingkan senyumnya namun fokusnya masih pada jalan raya.
"nanti lanjut di apart aja"
"lanjut apa?" bingung vera.
zeval menoleh ke arah vera sekilas lalu fokus kembali pada jalan raya.
"kalo mau elus elus paha aku di apart aja jangan di sini bahaya, takut ada yang bangun"
hening beberapa menit, di dalam mobil tidak ada yang bersuara sedikit pun, namun...
"AAAAA" zeval berteriak saat merasakan cengkraman yang kuat menyerang rambutnya "sayang aku lagi bawa mobil, aku tadi cuma becandaaaaa"
sekarang zeval suka godain istrinya yaa
🙂😋😏😂🤗😋😑🤔😣😚
__ADS_1