Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
selembar surat


__ADS_3

mereka berempat kini menatap apartemen di depan mereka, banyak yang keluar maupun masuk apartemen tersebut, mungkin itu para penghuni yang tinggal di apartemen tersebut.


"kita masuk?" tanya fida sambil menoleh ke arah zidan.


"gue aja yang masuk, kalian tunggu di sini" ujar zidan.


"gak bisa gitu, kita kesini mau nolongin reyna bukanya mau berdiri di sini nunggu lo keluar bawa reyna" ujar nawa.


"kita kesini sama sama, jadi kita tolongin reyna juga harus sama sama" kata fida.


zidan menatap ketiga gadis tersebut.


"kita bisa jaga diri, lo tenang aja" ujar nawa meyakinkan zidan.


"oke, yuk masuk"


mereka pun kini berjalan beriringan masuk ke dalam apartemen.


"kak" panggil fida pada vera di sela jalanya.


"kenapa?"


fida menunjukan ponselnya pada vera.


"mamah nelfon angkat aja" suruh vera setelah melihat layar ponsel adiknya.


kini mereka memasuki lift, terdapat dua orang paruh baya di dalamnya, mereka pun langsung masuk kedalam.


"kalo mamah nanya lagi di mana, aku jawab apa?"


"bilang aja kerumah sakit jenguk temenya kakak" fida pun menganggukinya.


"kenapa ma?" tanya fida pada ibunya di telfon.


"kamu sama kakak kamu kok belum pulang, ini udah malem dek"


"mah, aku sama kakak lagi jenguk temen kakak yang lagi sakit, bentar lagi pulang kok"


"jangan terlalu malem pulangnya, besok kamu sekolah dek"


"iya mah, udah dulu ya, assalamualaikum"


"waalaikumussalam" fida pun menyimpan ponselnya kedalam saku.


zidan menarik nafasnya untuk meredam emosinya saat mengingat kembali perkelahianya dengan dino.


'dino, kapan lo bakal berhenti gangguin gue sama reyna, bener bener gak habis fikir gue sama lo'


nawa melirik ke arah zidan yang tengah mengepalkan tanganya.


"jangan sampe lo kesulut emosi" peringat nawa pada zidan.


ting


pintu lift terbuka, mereka pun berjalan keluar lift.


"gue kabarin nasa sama nura dulu" nawa berhenti dari jalanya.


"entar lo nyusul" ujar vera pada nawa dan nawa menganggukinya.


vera mempercepat jalanya untuk menyusul zidan dan adiknya yang sudah cukup jauh.


dan sekarang zidan sudah berdiri di sebuah pintu yang sudah sedikit terbuka.


Brak


"dino lo dimana!" tanpa mengetuk maupun memencet bel, zidan langsung melenggang masuk kedalam.


"dek ayo" ajak vera pada adiknya untuk ikut masuk ke dalam.


"dino lo dimana!" teriak zida.


vera mengedarkan padanganya di dalam apartemen milik dino.


gelap.


itulah ke adaanya sekarang.


vera berjalan mencari saklar lampu, namun belum sempat ia mencarinya fida sudah menyalakan lampunya terlebih dahulu.


"dino lo dimana!" teriak zidan sambil memasuki setiap ruangan di apartemen tersebut.


"ikut gue" vera menarik tangan fida untuk ikut menyusuri setiap ruangan bersamanya.


"kak, itu apa" ujar fida di sela jalanya, seketika mereka berhenti di ruang makan.


vera berjalan untuk melihat sebuah kain putih di atas meja makan.


vera menatap kain tersebut, karna penasaran tanganya terangkat untuk membuka lipatan kain tersebut.


"AAAAA" teriak vera setelah melihat isi di dalam lipatan kain putih itu, vera berjalan mundur sambil menutup mulutnya dengan kedua tanganya.


"kak ada apa" fida pun berlari menghampiri vera.

__ADS_1


zidan yang tengah berada di kamar dino seketika menghampiri vera saat mendengar teriakanya.


"ada apa" zidan menatap ke arah vera yang masih menutupi mulutnya.


"i-itu" vera menunjuk kain putih di atas meja dengan tangan yang bergetar.


zidan mengikuti arah telunjuk vera, ia kini berjalan menuju kain putih yang vera tunjuk.


"brengsek" lirih zidan saat melihat kain putih yang terdapat banyak bercak darah dan sebilah pisau yang berlumuran darah.


fida mendapati selembar kertas di atas lantai yang tak sengaja di injak oleh zidan.


"kak zidan itu kertas apa?" tanya fida, zidan pun menoleh ke arah fida.


"itu di bawah kakak"


zidan menundukan kepalanya, ia mendapati selembar kertas, ia pun langsung mengambilnya.


selamat malam, makasih udah mampir ke apart gue, gue seneng banget lo bisa berkunjung ke apart temen lama lo.


sorry gue gak bisa menjamu ke hadiran lo.


emmm lo cari reyna?


tenang dia masih bernyawa, cumaa... ada ukiran ukiran indah hasil karia gue.


lo mau ketemu bidadari lo?


gue kasih waktu lima menit buat cari dia sebelum gue bener bener jadi malaikat pencabutnya buat reyna.


zidan meremas surat itu dengan emosi yang sudah memuncak.


"zidan lo mau kemana!" teriak vera saat melihat zidan bergegas pergi keluar apartemen.


"dek ayo" ajak vera untuk mengejar zidan.


nawa, nura dan nasa yang hendak masuk ke dalam apart dino di kagetkan oleh zidan yang keluar dengan mengepalkan kedua tanganya.


"lo mau kemana" cegah nawa sambil mencekal lengan zidan.


zidan menoleh ke arah nawa yang lebih pendek darinya "kita harus cari reyna, waktunya cuma lima menit!"


"reyna gak ada di dalem?" tanya nawa.


"gak ada"


setelah mendengar penuturan zidan, mereka langsung berpencar mencari reyna.


...****************...


suara ponsel itu sontak membuat zeval yang tertidur di meja belajar terbangun.


ia menguap sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, tanpa melihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubunginya ia langsung mengangkatnga.


"hallo zev"


"..."


"zev, zeval!"


"..."


"lo idup gak sih, penting ini"


zeval melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa penelfon tersebut, ternyata arkan.


"zeval"


"apa?"


"gue lagi di rumah nenek gue, dan gue mau nginep di sini"


"terus?"


"gue belum belajar, gue lupa bawa buku gue"


"terus?"


"sebagai sahabat lo harus tolongin gue"


"gue kirimin file buat lo belajar"


"gak bukan gitu, ini udah terlalu malem gue males belajar hehehe, nyontek aja ya besok"


"gak"


"tap-"


"yaudah kalo gak mau gue kirimin file buat besok, terserah lo"


"eehh zev-"


zeval menghela nafasnya, ia langsung mematikan panggilanya tanpa harus mendengar perkataan arkan.

__ADS_1


zeval melihat jam di ponselnya, sudah jam delapan malam tapi vera belum juga mengirimkan pesan untuk menyuruhnya menjemput.


"gue coba telfon aja deh" gumamnya.


zeval mengetuk ngetukan jarinya di meja belajar sembari menunggu vera menjawab telfonya.


"kok sibuk, lagi telfon siapa sih" zeval menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke jam dinding.


PRANG


zeval di kaget kan oleh suara benda jatuh, zeval pun langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya.


"mah" panggil zeval sambil berjalan ke arah ruang keluarga, ke adaan rumah sangat sepi sekarang hanya terdengar suara tv yang tidak bertuan di sana.


"mah"


"kenapa zev" mertuanya itu kini menjawab dengan berteriak dari arah dapur, dan zeval pun kini berjalan bergegas menghampiri mertuanya.


"mah ada apa?" tanya zeval saat melihat mertuanya tengah mengambil sendok yang berserakan.


"aduh maafin mama ya ganggu kamu belajar, mama tadi lagi mau cuci piring sama sendok tapi pas mama lagi bawa sendok mamah ke pleset jadi jatuh semua sendok nya"


"yaampun mama gak papa kan, biar zeval aja yang kerjain, mama duduk aja" zeval menuntun mertuanya itu untuk duduk di kursi meja makan.


"aduh mama ngrepotin kamu jadinya" ia kini tersenyum ke arah zeval.


"gak papa kok" zeval tersenyum ke arah mertuanya "papa mana ma?" tanya zeval sambil mengambil piring di atas meja.


"belum pulang, ehh mama baru inget vera sama fida belum pulang juga?" ia kini berbalik menghadap zeval.


"belum mah"


"kamu susulin aja"


" iya mah, aku mau telfon dulu"


...****************...


vera memasuki lift untuk menuju fooftop, ia terengah engah setelah berlari larian, ia melihat jam tanganya.


"saru menit lagi" gumamnya.


ddrrrt


ponselnya bergetar saat nawa menelfonya.


"lo dimana?" tanya vera setelah mengangkat panggilan nawa.


"gue di halaman parkir, lo di mana?"


"di lift mau ke rooftop"


"gue susul"


tepat saat nawa mematikan telfonya pintu lift pun terbuka, dengan langkah cepat vera berjalan keluar.


vera mengedarkan pandanganya, tidak ada siapapun di sini.


"hai cantik"


vera seketika menoleh ke belakang


"lo cari reyna?" tanya dino "atau gue?"


vera menarap dino yang berjalan ke arahnya "mana reyna"


"kalo gue kasih tau lo mau apa?"


"mana reyna" ucap vera dengan menekan setiap katanya.


"gu-"


"dino!" belum sempat dino menyelesaikan perkataanya tiba tiba zidan, nawa, nasa dan nura berlari ke arahnya.


dino melirik jam di tanganya "pas lima menit" ujarnya sambil tersenyum.


"mana reyna" ujar dino.


"dia sama gue lo tenang aja, dia masih bernyawa" dino kini berjalan mendekati dino "lo cemen banget, bawanya betina" dino melirik ke arah nawa, vera, nura dan nasa "gue kira lo bakal kesini sendirian dan lo bakal ngelarang mereka buat ikut, gak nyangka nyali lo..." dino menepuk pundak zidan "nyali lo sebatas remukan krupuk"


zidan mengepalkan tanganya "mana reyna" ulangnya dengan menahan emosinya.


"mana reyna mana reyna mana reyna, lo tenang aja khawatir banget kaya nya"


bug


dino tersungkur di lantai karena pukulan yang di layangkan zidan dengan tiba tiba.


"di mana reyna!" teriak zidan, ia kini sudah menarik kerah baju dino.


"kita cari reyna" kata vera pada nawa, nura, nasa dan fida.


"tapi mereka" tunjuk nasa pada zidan dan dino yang tengah saling menatap kebencian.

__ADS_1


"dia biar jadi urusan gue kalian cari reyna" teriak zidan tanpa mengalihkan tatapanya pada dino.


"ayo" ujar nawa, mereka pun langsung berpencar mencari reyna.


__ADS_2