
Sebelum membaca lebih lanjut aku mau kasih tau kalau di part ini sedikit panjang, ku tambah beberapa larik.
selamat membaca
"zeval"
vera berdiri dari duduknya, ia berlari keluar untuk mengejar zeval.
"zeval"
nawa dan nura yang berada di luar pun menoleh ke arah zeval yang melenggang pergi dan di ikuti vera di belakangnya.
"mereka kenapa?" tanya nawa pada nura.
"aku gak tau kak, kan kita disini"
nawa hendak pergi menyusul vera namun tangangan di cekal oleh nura.
"kakak mau kemana, kalo mau kejar mereka mending gak usah" cegah nura.
"biar mereka selesain masalah mereka dulu" lanjut nura.
"kak sebenernya kak zeval itu siapanya kak vera?" tanya nura.
"eemmm emang kamu mau tau banget?" nura mengangguki sebagai jawaban.
"jadi mereka itu yaaa deket"
"aku tau kak nawa mereka deket, tapi deket dalam artian apa?"
"eemmm" nawa menjentikan jari telunjuk di dagunya.
"pacar?" tanya nura "atau zeval itu adiknya? jawab dong kak"
"gimana ya jelasinya, masalahnya kakak sama vera itu temenanya baru"
"baru, maksudnya baru?"
"yaaa baru"
"baru temenan?" nawa menggeleng sebagai jawaban.
"terus baru apa?"
"baru dua puluh tahun" nawa menjawab pertanyaan nura sambil berjalan meninggalkan nura.
"iiiiiihhh kak nawa, aku nanya serius" nura berlari untuk mengejar nawa yang semakin menjauh darinya.
"kak nawa!" teriak nura sambil mensejajarkan langkahnya.
"kenapa lagi?"
"jawab dulu"
"jawab apaan, perasaan lo gak kasih soal ke gue"
"tap-"
"jeje!" teriak nawa tanpa melihat situasi dan melihat tempat kalau dia tengah berada di rumah sakit.
sedangkan nura tak melanjutkan perkataanya karena tiba tiba nawa berteriak.
nawa tersenyum lebar bahkan ia kini sudah berada di sebelah jeje.
"kok kesini ngapain?" tanya nawa sambil mendongak ke arah jeje.
"vera mana?" tanya jeje.
"dia udah balik sama zeval"
"jeje kok di sini, kalo jeje mau jenguk vera itu ke sana, kalau di sini ruanganya reyna sama zidan"
tiba tiba dilah abi dan nasa menghampiri mereka berdua dan di susul oleh nura.
"reyna keadaanya gimana?" tanya nura.
"kita belum tau keadaanya gimana, orang tua reyna lagi di ruangan dokter" jawab dilah.
"semoga dia gak papa" lirih dilah.
"ehh ngomong ngomong kalian tau dari mana kalau kita ada di-" belum sempat nawa melanjutkanya jeje langsung memotong perkataanya.
"dari ibunya vera"
"kita di suruh jemput fida, terus fida cerita sama kita" kata abi.
"sekarang fida di mana?" tanya nawa.
"udah kita anterin" ujar arkan yang entah dari mana datangnya.
"kebetulan waktu itu kita lagi cari zeval ke rumah vera, mau pinjem catatan dia" ujar dilah tanpa ada yang bertanya.
"kalau zidan keadaanya gimana?" tanya nawa.
"kita belum tau" kata nasa.
"kenapa dari awal kalian gak kasih tau kita, kita bisa bantu kalian" ujar dilah.
"kita mana ada kepikiran ke situ, kita cuma fokus gimana caranya selametin reyna" jawab nawa.
...****************...
masih dengan vera yang berusaha mengejar zeval, dengan langkah panjangnya zeval berjalan sambil mengambil kunci mobil di dalam sakunya.
zeval kini sudah di parkiran rumah sakit, dengan amarah yang masih ketara di raut wajahnya ia memasuki mobilnya.
ia menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk meredakan amarahnya, namun tiba tiba ia menoleh saat pintu mobil terbuka.
zeval memalingkan wajahnya saat tau siapa yang membuka pintu mobilnya.
"zev, aku minta maaf" ujarnya lagi dengan nafas yang masih memburu.
"aku tau aku salah, aku minta maaf, bukanya aku gak percaya sama kamu tapi-"
"stop!" bentak zeval.
"gue lagi gak mau denger ocehan kakak!"
zeval langsung menjalankan mobilnya, sedangkan vera ia hanya menundukan kepalanya.
__ADS_1
kini hening, di mobil itu hening hanya deru mobil zeval yang menerobos keramaian jalan raya di malam hari.
vera menoleh ke arah zeval setelahnya ia langsung menatap ke arah jendela yang berada di sampingnya.
air matanya turun saat mengingat ucapan zeval di rumah sakit tadi.
'kita hidup masing masing aja'
itulah perkataan zeval yang selalu berputar putar di memori otaknya.
vera menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya.
'ini salah gue seharusnya gue gak bohong, sekarang gue harus minta maaf kaya gimana lagi'
tak terasa mobil mereka sudah terparkir di pekarangan rumah orang tua vera.
tanpa sepatah katapun zeval langsung keluar dari mobil dan meninggalkan vera, di saat itulah vera langsung mengeluarkan isakanya, ia menangis di dalam mobil sambil mengepalkan kedua tanganya erat.
zeval yang masih di ambang pintu rumah menoleh ke arah mobilnya di mana vera masih ada di sana, ia hanya menghembuskan nafasnya dan berlalu masuk ke dalam rumah.
"yasudah mama sama papa maafin kamu, jangan ulangi lagi sayang"
"sekali lagi maafin fida"
zeval melewati ruang tamu, di sana ada kedua mertuanya dan fida.
zeval memilih menghampiri mereka dan menjabat tangan kedua mertuanya.
"kok kamu sendirian veranya mana?" tanya ibu mertuanya.
"masih di mobil"
"kak zeval" panggil fida.
zeval menoleh ke arah fida yang sudah berdiri di sampingnya dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.
"ma-maafin fida" lirihnya sambil memegang lengan kakak iparnya itu.
"iya kakak maafin, tapi jangan bohong kaya gitu lagi oke, nanti kalo kamu kenapa napak gimana" zeval berujar lirih sambil tersenyum, ia mengusap air mata adiknya itu yang jatuh membasahi pipi cabinya.
"sayang kamu tidur yah, ini udah larut, besok kamu izin dulu yah, mamah yang izinin deh ke wali kelas kamu"
"iya mah"
seperginya fida dari ruang tamu, vera memasuki rumahnya, dengan kedua mata yang terlihat sembab ia menatap kedua orang tuanya dan zeval.
"zeval ke kamar dulu" pamit zeval, tanpa memperdulikan keberadaan vera ia langsung melenggang meninggalkan vera.
"mah" lirih vera.
"kamu ke kamar jelasin ke zeval" ujar ibunya lembut.
...****************...
nawa dan yang lainya kini duduk di kursi tunggu, mereka masih menunggu kabar dari zidan dan reyna.
'mereka gak akan kenapa napakan? kenapa dokter sangat lama berada di ruangan zidan, dan kedua orang tua reyna belum juga keluar dari ruang dokter, gue takut mereka kenapa napa'
nawa menunduk, ia melihat tanganya.
'kenapa lo berani mukul dino kaya gitu? lo dapet kekuatan dari mana na? kenapa waktu itu...gue gak habisin dino aja'
nawa menggigit bibir bawahnya kenapa ada perasaan takut dan khawatir pada dirinya.
nawa memilih mengambil ponselnya, ia tiba tiba teringat temanya, apa sebaiknya dia menelfon vera dan menanyakan keadaanya?
"kakak kenapa?" tanya dilah yang duduk di sebelah nawa.
nawa mendongak melirik ke arah dilah.
"gak papa?" jawab nawa dengan senyumnya.
"kakak gak pulang, kak nawa...pasti cape"
"gue gak papa"
"nura, nasa kalian mending pulang udah malem" ujar dilah.
"kita mau temenin reyna, kita juga udah izin kok, kakak aja yang pulang kakak kan besok ujian" jawab nasa.
"eh iya juga" abi dan arkan yang tengah memainkan game baru teringat kalau besok ujian.
"gue pulang dulu" ujar arkan beranjak dari duduknya dan di ikuti abi.
"gue ikut sama lo" ujar abi.
"gue disini aja" kata dilah.
"kak je lo gimana?" tanya abi pada jeje.
"gue pulang"
"kak nawa beneran gak mau pulang, mau di anterin kak jeje tuh" ujar dilah namun nawa sepertinya tak mendengarnya, ia masih bergelut dengan fikiranya sendiri.
"kak nawa" panggil nura.
"kak nawa" nura menepuk pundak nawa.
"kenapa?" tanya nawa.
"mau pulang gak, tuh di anterin kak jeje"
nawa menoleh ke arah jeje yang hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya.
nawa menghembuskan nafasnya.
'percuma juga gue pulang di rumah sepi, dan kalau gue pulang pasti kepikiran keadaan reyna sama zidan'
"gue di sini aja"
jeje menoleh ke arah nawa.
"yakin" kata jeje dan nawa hanya menjawab dengan anggukan.
"yaudah gue duluan" ujar abi.
"gue juga" ujar arkan.
jeje masih setia duduk dan memandang nawa, tak biasanya jeje melihat nawa melamun, jeje berjalan mendekati nawa.
__ADS_1
"ikut gue bentar" ujar jeje.
mereka kini duduk di bangku taman rumah sakit, karna malam udara pun sangat dingin.
"lo tunggu bentar"
setelah mengatakan itu jeje pergi meninggalkan nawa, gadis itu kini mengusap kedua tanganya karena dingin, ia meniup tanganya agar ke hangatan bisa ia rasakan.
"nih"
"nawa mendongak"
"kopi?" tanya nawa.
"buat lo" tanpa fikir lama nawa pun menerimanya.
hangat, itu yang ia rasakan.
"lo kenapa?"
nawa yang hendak meminum kopinya ia urungkan.
jeje bertanya padanya?
cowok yang selama ini jutek, tak peduli ke hadiran nawa, dingin padanya, bertanya seperti itu padanya, nawa mengerutkan keningnya.
"na" panggil jeje.
"a-aku gak papa" jawabnya.
"gue liat lo nglamun aja di dalem, lo cemas sama ke adaan mereka?"
"enggak papa je, cemas itu wajar saat ada orang dekatnya yang masuk rumah sakit" ujar nawa di akhiri senyumnya.
nawa meminum kopi yang jeje berikan "sejak pertama kali aku kenal reyna, aku anggep dia adik aku sendiri, apa lagi pas dia bilang mau menginap di rumah aku, jujur aku seneng banget"
"lo tenang aja dia pasti baik baik aja" nawa menganggukinya.
nawa mendongak menatap langit yang penuh bintang malam ini.
"benar benar hari yang melelahkan" lirih nawa sambil tersenyum "sudah berakhir sekarang"
"lo hebat na"
ucapan jeje barusan membuat fokusnya teralihkan, ia kini menatap jeje.
"gue denger denger lo nonjok di-di siapa gue lupa"
nawa tersenyum saat jeje memujinya " jeje tau gak, nawa nonjon dino pake tangan aku sendiri sampe dia jatuh je bayangin aja dia jatuh, aku aja gak tau kenapa aku bisa kaya gitu, biasanya kalo nawa marah juga gak kaya gitu, nawa aja penasaran dapet kekuatan dari mana, tapi abis mukul dino tangan nawa sakit liat nih" nawa menujuk tanganya.
"masih ngilu tauuuu, dan jeje tau gak pas di rumah sakit ada yang ngasih topi ke nawa" nawa langsung melepas topi yang sedaritadi ia kenakan "dia cowok jeje cemburu gak?" nawa terus bercerita sedangkan jeje hanya tersenyum melihat tingkan nawa.
'maaf ya na, gue gak suka sama lo, lo tetap sahabat gue, gue sayang lo sebagai sahabat'
...****************...
vera membuka pintu kamarnya, terlihatlah zeval yang tengah duduk di meja belajarnya, vera ingin mendekatinya namun sedikit ragu.
ia masih di ambang pintu, ia menatap zeval yang tengah berkutat dengan laptopnya.
vera melangkah memasuki kamarnya, ia terlebih dahulu menutup pintu sebelum menghampiri zeval.
"zev aku harus kaya gimana lagi biar kamu maafin aku" vera kini berdiri di sebelah zeval.
"aku salah, aku emang salah kamu boleh hukum aku lakuin apa aja tapi jangan kaya gini"
"dan-dan aku gak mau kita pisah, aku sayang sama zeval, maafin aku hiks" vera kembali terisak.
"kak sebelum aku tambah marah mending kakak jangan ganggu aku, aku lagi belajar" lirih zeval yang tengah fokus dengan laptopnya.
"kita selesain sekarang, aku gak mau masalah ini berlarut larut"
"aku lagi gak mau denger kata kata dari kakak, plis kakak jangan ganggu aku"
"tap-"
"kak!" bentak zeval sambil menggebrak mejanya "aku lagi gak mau di ganggu, aku lagi belajar, ngertiin aku, kita bisa bicara baik baik besok gak sekarang vera!"
"tapi zev aku gak tenang kalo kaya gini"
"kamu bilang gak tenang, bayangin kalau kakak jadi aku yang gak tenang nunggu kakak, kakak tutupi semuanya, sampai kakak di bawa rumah sakit apa aku tenang, kakak hargai aku sebagai suami gak sih?"
"kak aku takut kehilangan kakak" lirih zeval, matanya memerah menahan tangisnya "aku khawatir kakak kenapa napa, jangan bohong sama aku kaya tadi, aku gak suka"
zeval menarik vera dalam pelukanya, ia menangis sambil memeluk erat veranya, ia sungguh tak mau kehilangan vera, zeval menduselkan wajahnya di cekuk leher vera.
"maafin aku udah bentak kakak, udah buat kakak nangis, aku marah sama kakak karena aku khawatir sama kakak, maafin zeval"
"maafin aku juga zev, aku awalnya mau kasih tau kamu, tapi aku takut akan berpengaruh sama belajar kamu"
zeval melepas peluknya.
"kalau ada apa apa jangan sungkan mau kasih tau ke aku" lirih zeval sambil mengusap air mata vera.
"zeval jangan tinggalin aku, aku gak mau hidup masing masing"
"enggak aku gak akan tinggalin kakak, perkataan aku yang di rumah sakit cuma becanda" zeval tersenyum ke arah vera.
"aku gak suka, becandanya gak lucu huuaaaa" vera kembali menangis, zeval terkekeh melihatnya.
"jangan ketawa hiks"
"siapa yang ke tawa" senyum zeval tambah lebar.
"tuhkan kamu ketawa huaa" vera berlari meninghalkan zeval, vera masuk ke dalam kamar mandi.
"kak mau ngapain, jangan nangis di kamar mandi"
tok tok tok
zeval mengetuk pintu kamar mandi yang vera kunci dari dalam.
"kakak kalo mau mandi ya mandi jangan nangis, kata papa kalo perempuan nangis di kamar mandi tengah malem nanti ada yang datengin, orangnya pake baju putih rambutnya pancang ompong dan dia nanti minta gendong"
brakk
"zevaaaaal" vera membuka pintu dengan tidak santai, ia menubruk tubuh zeval, zeval yang tidak siap dengan terjangan vera pun tak dapat menjaga keseimbanganya hingga ia terjatuh dengan vera di atasnya
"aaw" ringis zeval
__ADS_1
END