
"minum dulu" ujar nawa sambil mengulurkan air minum pada gadis yang hampir ia tabrak.
"makasih kak"
mereka kini tengah duduk di dalam warung bakso yang berada di pinggir jalan.
"maafin kita ya, mungkin tadi gue gak terlalu perhatiin jalan"
"bukan salah kakak kok, aku yang nyebrangnya gak hati hati"
"lo sampe ketakutan gitu, beneran lo gak papa?" tanya nawa lagi.
"gak papa kak. Eemm aku boleh minta tolong sama kakak"
" minta tolong apa?" tanya vera yang sedari tadi hanya diam.
"kak dari kemarin aku itu selalu di teror gak tau sama siapa" jawabnya.
"gimana na?" tanya vera berbisik pada nawa.
"lo kenal sama dia?" bisik nawa sambil melirik gadis tersebut.
"dia reyna adik kelas zeval" jawab vera dan nawa menjawab dengan anggukan.
"jadi kita bantu gak?" tanya nawa pada vera.
"kasian dia, kita bantu aja"
'gue sih males banget sama nih cewek, tapi kasian juga'
"eemm oke kita bantu" jawab nawa.
"beneran?" tanya reyna.
"iya" jawab vera, reyna pun tampak sangat senang.
"jadi kita bantu apa?"
"kakak bantuin aku cari siap yang teror aku, dari kemarin aku udah di teror, kalo dia gak nelfon atau chat aku pasti dia ikutin aku, kadang juga dia ngasih paket"
"kalo boleh tau isinya apa?"
__ADS_1
"boneka, coklat dan paling buruk bangkai hewan dan setiap paket yang dia kirim pasti ada surat yang nyuruh aku buat hati hati sama dia"
"kita usahain bantu lo, lo tenang aja jangan takut, ada kita" jawab nawa sambil menepuk pundak reyna pelan.
"emang tadi kakak mau kemana?" tanya reyna.
"kita mau kepasar, kamu mau ikut?" tawar nawa.
"boleh?"
"boleh aja"
"reyna ikut ya"
"iya"
"kalian berdua udah temenan lama?" tanya reyna.
"udah cukup lama" jawab nawa "oh ya kenalin gue nawa" ujar nawa memperkenalkan diri.
"aku reyna" jawabnya sambil tersenyum manis, setelahnya reyna beralih menatap vera yang hanya mendengarkan mereka "kak vera, kak jeje apa kabar?"
"baik"
'nih anak, emang apa urusanya sama lo tanya tanya kabar zeval segala'
"baik" jawab vera.
'kalo gue tega gue juga gak bakal mau nolong lo, untung gue baik hati, awas aja lo coba coba deketin zeval detik itu juga gue bakal kasih tau ke lo kalo gue istrinya'
nawa memperhatikan wajah vera yang sepertinya tidak suka pada pertanyaan yang reyna tanyakan, itu dapat terlihat dari wajahnya.
" reyna baju kamu kotor banget emang dari mana sih?" tanya nawa.
"tadinya aku habis main kerumah temen, terus aku pulang naik bus tiba tiba ada yang nelfon aku tapi nomor gak di kenal, karna aku kira penting aku angkat, ternyata telfon teror lagi"
"dia bilang apa?" tanya nawa.
"dia bilang, kalo dia itu lagi satu bus sama aku dan dia kasih pesan sama aku katanya suruh aku jaga diri, dia bakal nunggu waktu yang tepat buat bunuh aku" jawab reyna dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya "setelah itu aku milih turun dari bus, karna takut di ikutin aku lari jadi aku sempet jatuh, dan pas aku mau nyebrang jalan aku gak liat kanan kiri"
"karna itu lo hampir ketabrak kita?" tanya vera.
__ADS_1
"iya, waktu itu aku gak liat kanan kiri maaf ya kak"
"yaudah gak papa" nawa menghapus jejak air mata di pipi reyna " kamu tenang aja, kita bantu kamu, kalo ada apa apa jangan sungkan buat hubungin kita, aku kasih nomor ponsel aku ke kamu ya" nawa mengangguki perkataan nawa.
"lo di rumah sama siapa?" tanya vera.
"mama sama papa"
"lo udah kasih tau dia kalo kamu di teror?"
"udah"
"bagus kalo gitu"
"kak vera, kalo aku main ke apartemen kakak boleh gak, soalnya aku takut tiap mama papa pergi kerja, aku sendirian di rumah"
nawa memperhatikan wajah vera yang terlihat datar.
"eemm gimana kalo kamu kerumah kakak aja" tawar nawa.
"emang boleh?"
"boleh banget, kebetulan kakak sendirian, cuma ada pembantu sama satpam, kalo kamu mau kamu boleh tidur di rumah kakak"
"beneran?"
"iya kalo kamu mau"
"kalo kak nawa gak keberatan aku mau"
"izin sama orang tua kamu dulu ya" ujar nawa dengan tersenyum senang.
"pasti" reyna tersenyum ke arah nawa.
"yaampun nanti keburu sore, ver jadi kepasar gak"
"yaudah ayo"
"reyna ikut yuk?" ajak nawa dan di angguki reyna.
mereka pun berjalan menuju mobil nawa untuk menuju pasar.
__ADS_1