Resiko Menikah Dengan Bocah

Resiko Menikah Dengan Bocah
bocil dan pendek


__ADS_3

"suatu saat nanti...ada saatnya aku datang kerumah kamu, membawa semua keluarga aku" ujar rio duduk di rerumputan sambil menatap langit di taman sore hari.


"dan pada saat itu aku duduk di meja rias menanti mamah memanggil untuk ke bawah" jawab vera sambil bersender di pundak rio.


"saat kamu turun, semua memandang tak terkecuali aku, yang sudah memanti nanti kamu turun" ujar rio kemudian menatap vera, tangannya terulur menyentuh pipi vera "setelah kita duduk bersama aku mulai mengucapkan ijab qobul saat semua mengatakan sah di saat itu kehidupan kita di mulai" lanjutnya dengan senyuman hangatnya.


"saat itu juga aku menetas kan air mata kebahagiaan" jawab vera tersenyum manis sambil memandang rio.


mereka kini berpelukan sangat erat, seakan akan enggan tuk melepaskan pelukan itu.


"aku tunggu waktu itu rio" ujar vera di dada bidang rio.


"tunggu aku lulus kuliah" jawab rio sambil memejamkan matanya.


" kita tinggal di kanada?" vera kini menatap manik mata rio dengan senyumnya.


"ehmm" gumam rio sambil menganggukan kepalanya, tak lupa iyapun mengecup singkat puncuk kepala vera.


"hihihi" vera cekikikan sambil menatap rio.


"kamu kenapa?" tanya rio sambil menatap vera dengan satu alis yang di naikan.


"aku suka, bisakan tiap hari mendapatkan itu?" tanyanya sambil memeluk rio kembali.


"maksudnya... cium pucuk kepala?" tanya rio dan di angguki vera "hemm selalu, selalu"


vera tersadar dari lamunannya, ia kini tengah berada kamar apartemen, vera baru pindah sore tadi, kini vera menatap keluar jendel, niatnya hanya ingin membuka korden tetapi ingatan satu bulan yang lalu bersama rio terputar kembali.


"kalau kamu tau aku udah nikah gimana" gumamnya, iya memegang pipinya ia baru menyadari pipinya basah, apakah ia menangis? sejak kapan?


"dan bisakah aku merasakan kehangatan kecupan singkat itu lagi, setelah kamu mengetahuinya" vera kini memegang puncuk kepalanya.


"karna perningkahan bodoh ini gue sama rio jadi jarang ketemu, kapan kita bisa kaya dulu lagi?" kini vera menatap foto pernikahannya bersama zeval.


"kak makan dulu!" zeval teriak dari dapur vera yang mendengarnya langsung turun kebawah.


di lihatnya zeval tengah membersihkan peralatan yang habis ia gunakan untuk memasak.

__ADS_1


"kak apart ini jadi lebih deketkan sama kampus kakak?" tanya seval sambil berbalik menatap vera.


"hemm" vera menjawab dengan gumamnya.


"loh kakak nangis?" zeval menghampiri vera kemudian ia duduk di sebrang bangku vera "yah si pendek kok nangis kenapa?" tanya zeval.


"banyak omong lo bocil" jawab vera kemudian ia menyuapkan nasi goreng buatan zeval yang sekarang menjadi kesukaannya.


"kak belajar masak dong masa gue mulu yang tiap hari masak" ujar zeval.


"nanti" jawab vera yang masih fokus ke nasi gorengnya.


"kapan?"


"kapan kapan"


"dasar pendek, gak mau tau yah besok harus belajar masak sama gue, gak ada alesan besok kan kita libur" omel zeval.


"brani lo ngatur gue" kini vera menatap zeval dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng.


"kakak juga bisa ngomel masa gue gak?"


"makan tuh pelan biar gak berantakan" ujar zeval kini iya menatap vera yang tengah menatapnya dengan muka kaget, zeval tersenyum, menurutnya vera imut dengan ekspresinya.


"tangan lo lancang amat" ujarnya sambil menyingkirkan tangan zeval yang masih menyentuh bibirnya.


"gue udah jadi suami lo kali"


"noh cuci gue mau ngerjain tugas" vera berdiri dari duduknya.


"cuci sendiri napa, cape gue" ujar zeval tapi iya tetap mengambil piring kotor milik vera.


"kapan kapan!" teriaknya yang kini sudah melenggang ke kamar.


zeval mencuci piring sambil menggelengkan kepalanya, ia menatap cincin pernikahanya.


'di saat temen gue lagi asik sama dunia yang menurut mereka menyenangkan, gue udah punya tanggung jawab sendiri, walaupun pernikahan perjodohan, gue pengin mempertahan pernikahan ini, meski belum ada rasa di antara gue sama vera' ujarnya dalam hati.

__ADS_1


zeval yang umurnya masih terlalu muda tapi sudah bisa berpikir dewasa, meski ia terkadang mengikuti langkah temanya untuk membolos dan berakhir di BK, tapi iya bisa melakukan pekerjaan rumah, sedangkan vera yang umurnya lebih tua dari zeval kelakuannya masih seperti anak kecil, manja, dan belum bisa melalukan apa apa.


malam semakin larut zeval yang tengah menonton tv kini berdiri dari duduknya sambil merenggangkan ototnya, kini zeval berjalan menuju kamar nya hendak mengambil selimut.


"kak" ujarnya lirih sambil membuka pintu.


di lihatnya vera yang masih setia dengan laptopnya dan kacamata yang tertengger di hidungnya.


"kirain dah tidur" zeval menghampiri vera.


"belum" jawabnya sambil menatap zeval.


"tidur kak dah malem nanti sakit siapa yang repot, di sini gak ada orang selain gue" ujar zeval kini iya tengah membuka lemari.


"gue bisa kali jaga diri gue sendiri" vera masih memperhatikan zeval.


"gue mau ke kamar mandi, ikut?" tawar zeval dengan senyum jailnya.


"hihh ngapain ogah" jawab vera sambil memutar bola matanya.


"kakak pake slimut ini yah"


"iya"


"beneran nih gak mau ikut?" tanya nya sekali lagi.


"gue lempar lo pake laptop, sana!" vera geram sendiri dengan kelakuan zeval.


zeval cekikikan di dalam kamar mandi.


zeval kini keluar hanya memakai celana dan baju pendek nya.


"yang ada lo yang sakit, malem malem pakenya kaya gitu" ujar vera.


"biasanya juga gue gak pake baju biasa aja" jawabnya sambil mengambil selimut yang ada di tempat tidur.


vera terkejut dengan jawaban zeval " yaudah kalo sakit jangan cari gue"

__ADS_1


"gak akan" jawab zeval sambil menutup pintu kamarnya.


__ADS_2