
"saya minta maaf sekali lagi" ujar pak ridwan pada vera.
"saya juga" ujar pak zaki.
"udah lah pak, saya sudah memaafkan, jangan minta maaf terus" jawab vera di akhiri senyumnya.
sudah satu jam mereka berada di ruang guru membicarakan perihal masalah zeval, hari ini vera lega masalah kemarin sudah di selesaikan.
kini vera hanya tinggal meminta maaf pada zeval yang kini masih marah terhadapnya.
"yasudah pak saya permisi" ujar vera sambil berdiri dari duduknya.
"saya juga sepertinya harus keruangan saya pak" ujar pak ridwan.
"yasudah silahkan" ujar pak zaki.
vera berjalan menuju pintu keluar bersama pak ridwan.
"mau mampir dulu keruangan saya" ujar pak ridwan menawarkan.
"gak usah pak saya masih ada urusan, lagian saya gak mau ganggu waktu kerja bapak" jawab vera sambil tersenyum.
"yasudah kalo gitu" jawabnya.
"pak!" sapa dilah yang tengah melewati ruang guru "ada siswi baru ya pak?" tanya dilah.
"siswi baru?" tanya pak ridwan bingung.
"hai gue dilah" dilah memperkenalkan dirinya pada vera tanpa menjawab pertanyaan pak ridwan.
"hah?" bingung vera.
"masuk kelas mana, kelas berapa, baru daftar ya, besok berangkat gak, pindahan dari mana?" tanya dilah di akhiri senyumnya.
"kamu ini ngomong apa?" ujar pak ridwan "dia kakaknya zeval masa gak tau"
"hah!" kaget dilah "sejak kapan zeval punya kakak cewek?" tanya dilah tak percaya.
"sudah lah kamu gak perlu tau mending kekelas sana udah masuk" ujar pak ridwan "mba vera saya permisi" lanjutnya dan di jawan senyuman oleh vera.
'gue di kira masih SMA, iyalah kan gue imut dan cantik'
"kakak beneran kakaknya zeval?" tanya dilah lagi pada vera "kakak keponakan atau apa?".
"gue ituuu, eh gue mau nanya dulu lo temenya zeval?"
"iya gue temen deketnya zeval"
'duh gue mesti jawab apa nih'
"kalo kakak kandung gak mungkin kan, karna zeval itu cuma punya satu kakak dan dia cowo" ujar dilah.
"gu-gue itu, emmm i-istrinya" jawab vera gugup.
"hah apa!" dilah mengerjapkan matanya tak percaya.
"aduh gue kayaknya harus pergi, udah dulu ya"
"eh entar dulu" ujar dilah melarang vera pergi "lo istri kak jeje?" tanya dilah.
'gimana nih'
"kak dilah ngapain disini?" tanya reyna yang sepertinya dari perpustakaan karena membawa beberapa buku di tanganya.
"gak ngapa ngapain, lo habis dari mana?"
"perpus" jawab reyna.
"gu-gue pergi dulu" ujar vera.
"eeehh tunggu" dilah mencekal lengan vera yang hendak pergi.
"lo istri kak jeje beneran?" tanya dilah lalu ia melepas tanganya dari lengan vera.
'gila kak jeje udah nikah!, kenapa gak ngundang ngundang gue, tapi masa iya ini cewek udah nikah keliatanya seumuran sama gue?'.
vera menggigit bibir bawahnya gelisah.
"ada apa sih?" tanya reyna.
" bukan apa apa kok rey, mending lo kekelas aja apaaa lo mau ketemu zeval?"
seketika vera membelalakan matanya.
__ADS_1
"dari tadi aku cari kak zeval tapi gak ketemu"
"lo ada hubungan apa sama zeval?" tanya vera.
"aku adik kelas kak zeval" jawabnya sambil tersenyum.
"bukan cuma adik kelas tapi calon pacarnya zeval" jawab dilah tersenyum menggoda reyna.
'calon pacar, dia mau selingkuhin gue, zeval tega banget sama gue'.
"gue istrinya kakak jeje" ujar vera.
dilah masih tak percaya, sedangkan reyna hanya tersenyum pada vera.
", lo beneran istrinya jeje kakaknya zevalkan?" tanya dilah memastikan.
"iya gue istrinya jeje kakak dari zeval raihan" jawab vera.
"ngapain disini?" vera di kagetkan oleh suara di belakangnya, kemudian ia pun berbalik.
"zeval" ujar vera.
zeval menatap vera datar, dengan tangan yang ia masukan ke dalan saku clananya.
"pulang" ujar zeval datar.
"zev emang bener kakak ini suaminya kakak lo?" tanya dilah.
zeval melirik vera yang berada di depanya.
"gak" jawab zeval cepat.
"ini yang bener yang mana, dia istri kakak lo apa bukan" dilah tampak bingung karna jawaban zeval.
"pulang" ujar zeval sambil menggandeng tangan vera untuk mengajaknya pergi.
"zev nanti lo harus jelasin ke gue!" teriak dilah pada zeval yang sudah berjalan menjauh.
"gue kira tadi anak pindahan" gumam dilah.
"aku duluan kak" ujar reyna dan di angguki dilah.
...****************...
"ngapain ngaku ngaku istrinya kak jeje ke dilah" ujar zeval dingin.
"dia kan nanya gue istrinya jeje bukan, ya gue jawab gue istrinya lah"
"kenapa gak jawab istri gue"
"nanti temen lo tau"
"biarin aja mereka tau, lagian dari dulu gue gak masalah mereka tau".
"zev, kan kita udah sepakat mau rahasiain hubungan kita, sama siapa pun kecuali keluarga kita".
"kak lama kelamaan mereka juga nanti tau, lagian mereka itu temen temen aku, seharusnya aku kasih tau"
"tapi zev"
"kak, kak nawa itu temen kakak kan, dia aja tau, biarin lah temen aku tau"
"nawa bisa jaga rahasia zev"
"temen temen gue juga bisa jaga rahasia"
hening, keduanya saling diam, vera tengah memikirkan apakah tidak apa apa kalau teman zeval mengetahuinya.
"percaya sama gue, mereka bisa jaga rahasia" ujar zeval dan vera hanya bisa menatap zeval.
"sebenernya gue itu gak suka kak" ujar zeval sambil meraih tangan vera "gue gak suka waktu kakak bilang didepan pak guru kalau kakak istrinya kak jeje".
"zev-"
"itu di depan guru itu gak masalah, tapi aku gak suka kakak ngaku ngaku istri kak jeje di depan temen aku, aku gak suka".
vera menatap kedua tanganya yang di genggaman zeval, dan vera dapat merasakan genggaman zeval semakin erat di tanganya.
"saat kakak bilang kalau kakak istri kak jeje, aku tuh ngerasa kalau aku gak ada di hati kakak" ujar zeval lirih sambil menundukan kepalanya.
"lo ngomong apa sih, lo taukan itu cuma sandiwara" ujarnya sambil menekan kalimat terakhir.
"gue gak suka!"
__ADS_1
"zev, di hati gue cuma ada lo, gak ada yang lain, jangankan jeje rio aja udah gak ada".
zeval menatap vera yang tengah tersenyum ke arahnya, zeval mengeratkan genggamanya, ia sungguh tak ingin kehilangan veranya.
"jangan pernah lo mikir gue bakal ninggalin lo cuma karna gue bilang keorang lain gue istrinya jeje"
zeval menarik tangan vera, zeval memeluk vera dengan hatinya yang berdebar.
"lo cemburu?" tanya vera di dekapan zeval.
"gak!" tolak zeval cepat.
"gitu aja cemburu" ujar vera sambil tersenyum.
"gue gak cemburu!" ujar zeval sambil melepaskan peluknya.
"cieee cuma gitu aja cemburu"
"apan si lo"
"yaudah deh kamu gak cemburu" ujar vera sambil tersenyum "aku minta maaf ya soal kemarin"
zeval menatap vera.
"gak!"
"kok gitu, jangan marah mulu dong gak kangen apa sama aku".
"cium dulu baru aku maafin" ujar zeval sambil tersenyum.
"gak, lo itu udah dapet tadi pagi, jadi gak ada cium cium lagi"
"yaudah gak aku maafin"
vera memutar bola matanya malas.
"yaudah terserah lo!, gak papa gue gak di maafin, gue pulang bye!" vera melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah.
"kak kok gitu" zeval mengejar vera yang sudah menjauh.
"gue lupa satu hal" vera menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap zeval di belakangnya.
"cewek tadi yang bawa buku siapa?" tanya vera.
"yang mana"
"yang tadi sama temen lo"
"oh dia reyna".
"lo mau selingkuh kan sama dia" tuduh vera sambil menunjuk zeval.
"hah?"
"udah gak usah pura pura, temen lo sendiri yang bilang kalo tuh cewek calon pacar lo"
"dilah cuma bercanda"
vera tidak percaya dengan jawaban zeval, ia menatap zeval dengan menyipitkan matanya curiga.
"jangan jangan lo udah pacaran sama dia" tuduh vera.
"gak"
"apa jangan jangan lo udah ada rencana mau nikah sama dia"
"gak"
" lo mah jawabnya cuma gak gak gak"
"terus gue harus bilang apa, bilang iya"
"tuhkan lo bilang iya, berarti lo beneran udah pacaran sama dia!"
"gak usah mikir aneh aneh, gue gak mungkin kaya gitu"
zeval mendekat satu langkah lebih dekat pada vera.
"pulang sana" ujar zeval.
"lo ngusir gue, aaahh apa jangan jangan lo mau ketemuan sama tuh cewek, oohh lo gitu sekarang"
"gue gak habis pikir sama lo, kenapa sih mikirnya kaya gitu"
__ADS_1
"terserah lo, gue mau pulang" vera berjalan meninggalkan zeval yang hanya menggelengkan kepalanya.