
- Kyra -
Bahkan suara bisik-bisik dari orang-orang yang baru kulewati itu tak mampu kudengar jelas. Jiwaku terguncang, tidak, hatiku terguncang mendengar segala ucapan Delvin pada kru wanita itu.
Aku terdiam. Hanya mampu memandang tangannya yang menyeret tanganku, keluar dari area itu dengan langkah tegas tanpa ingin menoleh ke belakang. Keputusan bulatnya adalah membawaku pergi dari tempat itu yang entah ke mana tujuannya. Yang jelas, di sini aku hanya mampu bergerak melangkah mengikutinya dalam diam dan tanpa penolakan.
Sesungguhnya, aku masih kalut. Antara ngenes dan bingung setelah mendapatkan serangan mendadak dari salah satu kru syuting yang tak kukenali siapa dia.
Sempat tadi, mataku berkaca-kaca. Perasaan sesak menyesak dada kala mendengar suara sentakan gahar kru itu yang sungguh terdengar begitu sadis di telinga. Namun, perasaan sesak itu seketika lenyap digantikan dengan ketidakpahamanku akan apa yang Delvin ungkapkan di hadapan semua orang beberapa menit lalu.
Aku bingung. Tak mengerti. Terkejut... sampai aku tak bisa berkata-kata!
"Duduk,"
Delvin menyeruku duduk di atas kursi panjang sebuah taman yang sepi pengunjung, atau hanya ada segelintir orang saja yang berlalu lalang. Walau bibirku terdiam membisu, mataku tetap berkelana menyusuri tiap sudut area di mana Delvin membawaku. Atau menarikku paksa, tepatnya!
"Huh," kudengar helaan napas dari sebelahku. Keras. Tepat saat Delvin memutuskan duduk di sampingku.
"Vin,"
"Hm." Hanya gumaman singkat yang kudengar darinya. Ya, itu memang ciri khas Delvin Adinata.
"Kenapa lo... tadi bilang gitu?" Tanyaku akhirnya. Mataku melirik Delvin dari samping, menunggu jawabannya.
Namun, bukannya segera menjawab Delvin malah melebarkan pupil matanya seolah terkejut akan pertanyaanku ini.
"Ha - oh?!"
"Kenapa lo bela gue sampai kayak gitu?" Kurubah posisi dudukku agar lebih menyerong menghadapnya. Tentu, aku harus melihat ekspresi wajahnya itu dengan jelas! "Kenapa... kenapa--"
"Kenapa apa?!" Selanya, nggak sabar.
"Kenapa ngomongnya harus bawa-bawa istri segala siiiihhhh?!!" Nada suaraku meningkat seketika. Melengking, nyaring. Dan, aku... bodo amat!
"Yeee, udah gue bela juga! Masih ngomel aj--"
"Vin, lo ngerti gak sih? Kalau di sana tadi ada banyak orang yang lihat yang dengar? Omongan lo meyakinkan begitu, jelas orang-orang pasti langsung salah paham! Gue pasti dikira istri lo beneran! Huwaaaaa.... NGGAK MAUUU!!" Teriakku sembari menangis dibuat-buat. Karena memang air mataku ini entah kenapa nggak bisa keluar. Padahal hanya memikirkan Bang Ezra yang bisa cemburu karena kejadian ini, sungguh bikin aku bersedih! Tapi mengapa air mataku nggak keluar sih?!!
"Ish! Gak usah pake nangis! Lo makin jelek tau, nggak?!" Ledek Delvin yang langsung membuatku kesal seketika.
Tanpa tedeng aling-aling, kupukul saja lengannya. Keras-keras, sampai dia berteriak mengaduh kesakitan. Haha, memang enak!
"Bilang, 'makasih' kek udah ditolongin! Ini bukannya dapet makasih, malah dapet bogeman mentah! Tangan lo ringan banget sih emang. Saking ringannya sampai bisa bunuh sapi nih!"
Aku menghela napas kasar. Ucapannya barusan yang terlalu hiperbolis memang sangat lebai diterima nalar. Untung saja diriku ini sudah biasa. Maklum!
"Setengah makasih, setengah nggak!" Kataku.
Kontan, Delvin tak terima. Alis tebal hitamnya itu langsung menukik tajam bersamaan dengan matanya yang menyipit. "Apa-apaan tuh kayak gitu?! Ketara banget nggak tulusnya, padahal gue aja nolongnya tulus!"
Pamrih. Itu adalah sifat Delvin sekali!
"Ya habis, suruh siapa lo bohong kayak gitu? Hah?!" Ganti aku yang mendelik marah padanya. "Segala pakai ngaku-ngaku jadi suami gue. Bilang, tiap pria pasti nggak akan terima kalau wanitanya diperlakukan kasar. Hoekss!" aku meniru gaya bicaranya, dan langsung pura-pura muntah!
Reaksinya pun tak jauh berbeda dariku. Dia ikut kegelian mendengar ucapanku. Lalu, berteriak frustasi. "Aaakkkkhh!! Jangan diulang-ulang, please! Gue juga geliiii!! Astagaaaa!!"
Delvin bergidik. Begitu juga aku!
Sungguh, mendengar kalimat manis yang seperti itu sama sekali nggak pernah kubayangan akan kudengar dari mulut Delvin. Ouch! Dia telah merusak khayalan indahku bersama Bang Ezra yang selalu kusimpan rapih selama ini. Huh, kesal!!
"Untung aja, Bang Ezra nggak ada di sana. Coba kalau ada..." aku geleng-geleng. Mengenyahkan pikiran buruk itu seketika. Sementara di sebelahku, Delvin menatapku dengan tatapan anehnya.
"Emang kalau ada Ezra kenapa?"
__ADS_1
Lagi, aku geleng-geleng. "Nggak, nggak boleh! Karena... gue takut Bang Ezra salah paham sama kita." Itu adalah kemungkin terburuk yang telah kupikirkan. Lekas, kutatap Delvin tajam. "Makanya! Gue sebel banget sama kalimat pembelaan lo tadi, tahu nggak sih?! Ughh!!"
Ingin rasanya kuperas dia sampai kusut! Saking aku sebalnya!!
Delvin terdiam, hanya menatapku lewat gerak-gerik matanya. Dia tak bicara apa-apa, dan hanya mengulas sebuah senyum simpul yang membuatku mengerut kening.
"Tapi,"
Setelah beberapa saat hening akhirnya Delvin mulai bicara lagi. Aku mengerut kening. Menatapnya, "Apa?"
"Lo ngapain sih, ngambilin foto Ezra sampai segitunya? Di rumah juga udah ketemu, masa nggak puas sih?!" Rutuk Delvin di sebelahku.
Aku meringis. Akhirnya topik itu diangkat juga ke permukaan.
Takut-takut, aku melirik Delvin. "Yaa... abis, ini kan baru pertama kalinya gue lihat Bang Ezra syuting secara langsung, Vin,"
Delvin memutar bola matanya, jengah. Mungkin baginya alasanku terlalu klasik untuk dia dengar. Setelahnya, tak kuperhatikan Delvin lagi. Perhatianku teralihkan pada ponselku yang masih berada di tangannya.
"Hape gue, dong," pintaku.
Dengan cuma-cuma Delvin pun menyerahkannya ke tanganku. Setelah ponsel itu terambil alih, aku lantas menatapnya nanar. Mengingat foto-foto yang kuambil dengan susah payah itu telah dihapus Delvin membuatku menghela napas berat.
"Kenapa lagi manyun-manyun gitu?!" Ujar Delvin saat aku sedang menatap nanar layar ponsel di tangan.
Aku lantas meliriknya sinis. Karena dia, foto Bang Ezra jadi hilang. Lenyap!
"Apa?!" Delvin mengedikkan dagu. Bingung, karena aku tatap sinis, sepertinya.
Meski aku tahu dia melakukan hal itu demi membelaku tapi... kenapa harus menghapus foto Bang Ezra sih? Kenapa nggak disisakan setidaknya satu saja untukku simpan?!
"Kenapa sih?!" Tanya Delvin, jengah akibat aku tatap sinis terlalu lama.
"Fotonya..." cicitku berusaha menjelaskan. Namun entah mengapa suaraku terasa tertahan di kerongkongan.
"Fotonya lo hapus semua..." ungkapku bersedih hati. Semua foto Bang Ezra yang telah kuambil susah payah itu kini telah...
"Selow!"
Eh?
Kepalaku pun terputar otomatis ke arahnya. Delvin dengan santainya mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana dan mengotak-atiknya entah apa yang sedang dia lakukan.
Senyuman yang ditarik Delvin di wajahnya secara tak wajar makin membuatku penasaran. Apa sih maksudnya itu?
"Jeng, jeng!!" Delvin nyengir selebar kuda, menunjukkan gambar dari layar ponsel hitamnya.
Aku yang masih nggak paham lantas mengamati layar itu hati-hati. Mencoba memahami akan apa yang dia sedang tunjukkan kepadaku.
Dan saat memahami apa itu, kontan, mataku mendelik. Aku pun langsung menutup mulutku yang terbuka. "Ini kan?!"
"Yoi!" Delvin tertawa kecil dengan alis yang naik-turun.
"Whoaaaa~ Delvin!!" Teriakku gembira, yang langsung membuatku refleks menepuki lengannya berkali-kali.
"Aishh! Sakit tau!!" Selanya sembari menjauhkan dirinya dariku.
Seolah tak peduli akan apa yang dia katakan, aku malah lebih terfokus pada ponselnya itu yang kini telah kurebut paksa dari tangannya.
Aku tersenyum lebar melihat gambar-gambar Bang Ezra dari galerinya. Ya, ya, ternyata Delvin mengirim semua foto itu sebelum menghapusnya!
Aku tahu Delvin memang berotak pintar, tapi aku baru tahu kalau otaknya bisa se-brilian ini!
"Seneng??"
__ADS_1
Aku langsung mengangguk-angguk, tanpa mau repot menoleh. Lebih fokus untuk mengirim kembali semua foto itu ke ponselku.
Dan begitu selesai, aku pun menoleh padanya. Membuat cengiran, dan berkata, "Makasih, Delvin!!"
Begitu saja aku sudah senang setengah mati. Dasar aku!
***
Usai memindahkan foto-foto yang sempat menjadi biang masalah itu, aku dan Delvin segera kembali ke tempat semula. Lokasi syuting itu berada. Hari yang semakin sore membuat semua kru lelah dan memutuskan untuk berhenti sejenak, kira-kira begitulah yang kudengar dari jawaban salah seorang kru yang Delvin tanya barusan.
"Vin, lagi break nih, Bang Ezra pasti lapar kan yaa?"
"Hem,"
"Kalau gue samperin bawain sushi buatan gue, dia pasti makan kan?!"
"Heemmm..."
"Bang Ezra pasti habisin semuanya kan? Sushi gue tadi enak kan, Vin?!"
"Heeemmmmm!"
Aku mengernyit, menatapnya tajam. Tiga kali berturut-turut kudapatkan jawaban yang sama, hanya gumaman! Tidak lebih dan tidak kurang! Aih, ngeselin!
"Kenapa sih, jawabannya kayak nggak niat gitu?!" Kataku kesal.
Dia malah berdecak. "Lagian nanyain hal yang udah pasti! Jangan buang waktu, cepet sana bawain sushi lo tuh ke Ezra! Keburu break-nya kelar!"
Aku manggut-manggut. Apa yang Delvin bilang ada benarnya. Aku harus bergegas. Tak boleh mengulur waktu lagi!
"Vin, ayo balik mobil!" Seruku yang langsung membuatnya menghela napas jengah. Meski begitu dia tetap menemaniku kembali ke parkiran di mana mobilnya berada.
Setelah totebag itu kubawa, aku segera pamit undur diri pada Delvin demi mencari Bang Ezra.
Suasana lokasi yang luas dan ramai membuatku agak kesulitan mencari di mana Pangeran Hatiku itu berada. Sembari mencari ke sana ke mari, aku merapalkan mantra yang membuat hatiku makin mantap untuk menyerahkan bekal buatanku ini untuknya.
Bang Ezra suka sushi.
Bang Ezra pasti nggak akan nolak.
Bang Ezra akan memberiku senyuman tampan rupawannya padaku.
Aku hanya mampu tersenyum-senyum membayangkannya. Apalagi saat membayangkan senyuman manis Bang Ezra untukku, pasti hatiku meleleh dibuatnya!
"Bang Ezra di mana, sih?" Gumamku, menolehkan kepala ke segala arah.
Selangkah, dua langkah... terus dan terus melangkah. Dan, akhirnya kutemui juga dia yang ternyata sedang duduk di atas kursi lipat bertuliskan "Ezra Ravian" di belakangnya. Jaraknya yang tak begitu jauh dariku membuatku ingin langsung berlari ke arahnya dan menghampirinya dalam sekejap!
Namun saat tinggal kurang dari lima langkah lagi mendekat, langkahku terhenti di tempat. Begitu juga senyumanku yang memudar dengan pasti. Hatiku berkedut. Agak nyeri, melihat kedekatan mereka.
Mereka...
Maksudku, Bang Ezra, yang kini duduk berdekatan sambil bercanda dengan seorang gadis berrambut panjang dan berwajah indah.
Siapa dia? Otakku bertanya-tanya.
Mereka berbisik-bisik. Sesekali tertawa, mengundang cemburu hatiku yang teramat sangat.
Aku masih berdiam di tempatku yang sama. Belum pindah sejengkal pun. Masih memperhatikan mereka yang kini bertukar pandang.
Sekali lagi hatiku berkedut nyeri. Melihat dia, orang yang kukagumi sedang memandang kagum dengan begitu dalam seperti itu. Mereka saling tersenyum, sampai akhirnya si gadis mempersembahkan sekotak makanan yang langsung diterima senang hati olehnya. Sungguh, pemandangan indah yang tragisnya memupuskan harapan cintaku seketika.
Kini hati kecilku pun bertanya, apakah masih ada kesempatan untukku sekarang?
__ADS_1