
Kyra -
"Ra! Di sini!"
Mataku pun langsung tertuju pada satu titik. Tampak Delvin sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arahku. Dia tersenyum cerah, yang membuatku jadi sedikit merasa aneh kala melihatnya. Aku mengerut kening kala menatapnya dari kejauhan.
Moodnya sedang bagus banget ya?? Batinku bertanya.
Karena senyumannya yang teramat cerah, hingga mau tak mau kubalas senyumannya itu dengan seulas senyum tipis, mengangguk, kemudian barulah melangkahkan kaki berderap mendekati letak mejanya di mana dia duduk.
Benar, entah karena ada angin apa Delvin tiba-tiba mengajakku bertemu di luar seperti ini. Padahal terakhir kali kulihat dia hendak pergi dinas dengan kopernya beberapa hari lalu. Namun kemudian, secara tiba-tiba, di hari weekdays seperti Kamis siang ini, dia membuatku meluangkan waktu sibukku untuk meninjau laporan keuangan akhir bulan dan juga mengurus packing pesanan yang mesti diantar sore ini kepada jasa pengiriman. Karena titahnya pula, aku bahkan menyerahkan pekerjaanku itu kepada Mbak Intan yang sedang hamil besar!
Huh, awas saja kalau pertemuan ini nggak penting! Aku membatin gusar.
Langkahku berhenti tepat di depan tempatnya duduk. Di atas meja kayu itu ternyata sudah tersedia sepiring kentang goreng yang sudah habis separuhnya serta ditemani oleh segelas Lemon Tea yang isinya sudah tak segelas utuh lagi. Bahkan lebih sedikit dari setengah gelas!
"Tumbenan nggak pesen roti bakar Nutella? Tumben juga tuh, minum Lemon Tea. Latte lo mana??" Tanyaku seraya menarik kursi di hadapannya.
"Gue pengin tau selera lo. Ternyata not bad-lah ya..." dia nyengir lalu memasukkan satu potong kentang berlumur sedikit saus sambal ke dalam mulutnya.
Aku mengernyit dengan senyuman canggung. Melihatnya bertingkah begini agak membuatku serba salah. Taktiknya... Apakah ini adalah bagian dari salah satu taktiknya untuk lebih mendekatkan dirinya padaku?
Aku meraba tengkuk. Entah kenapa tiba-tiba merinding sendiri. Padahal baru beberapa jam lalu aku membatin mempertanyakan tekad yang dia deklarasikan padaku. Perjuangannya untuk membuatku jatuh cinta. Tapi saat aku melihat tekad itu dengan jelas oleh mata kepalaku sendiri, kenapa aku malah merasa aneh dan gusar sendiri ya?!
"Oya, gue pesenin ya?" Tawarnya padaku, tanpa perlu menungguku menjawab dia langsung mengangkat tangan memanggil pelayan yang sedang berjaga di sisi sebelah sana. "Mau pesan lemon tea-nya satu dan french fries-nya-"
"Eh, ralat, Mas! Saya mau strawberry smoothies-nya aja satu ya," tukasku cepat yang lantas membuatnya mengernyit dan menatapku heran. Namun, dia tetap membiarkanku bicara tanpa menyelaku dengan pertanyaan yang padahal sepertinya sudah siap dia lontarkan di ujung lidahnya.
__ADS_1
"Makanannya nggak, Kak?" Tanya pelayan itu padaku.
Aku menggeleng. "Nggak dulu, Mas, nanti kalau mau tambah order saya kasih tau lagi ya. Itu aja dulu pesanan saya. Terima kasih," ucapku lalu tersenyum.
Pelayan berseragam serba hitam itu pun mengangguk, kemudian berlalu dari sisi meja kami. Sepeninggal pelayan tadi, tatapan penuh tanya darinya langsung menyambutku begitu kupalingkan pandanganku ke arahnya. Matanya fokus menatapku dengan penuh intimidasi seolah aku baru saja telah berbuat salah padanya. Aku mengernyit seketika. Bingung.
"Sejak kapan lo suka smoothies?" Alisnya terangkat tinggi, hingga membuat matanya membulat lebar. Tetap, feeling intimidasi itu tetap terpancar kuat dari matanya. Untungnya hal itu tak berhasil membuatku ciut!
"Sejak..." sekarang, aku lebih santai menghadapinya. Toh, sudah biasa juga. Keningku pun berkerut dalam. Mulai mengingat-ingat, namun hasilnya nihil. Aku juga tak ingat sejak kapan aku mulai menyukai jenis minuman itu. Tapi yang jelas, aku mulai menyukainya akhir-akhir ini. "Dua bulan lalu? Tiga bulan lalu?" Jawabku tak yakin. Aku meringis, "Gue juga lupa sejak kapan gue suka smoothies.. hehehe,"
Alisnya bertaut rapat, pandangan anehnya langsung menyorot wajahku seketika. "Aneh, aneh!" Dia geleng-geleng.
Tak berapa lama kemudian, pelayan tadi pun kembali mendekati meja kami. Menyerahkan segelas minuman berwarna pink pastel itu padaku. Aku lantas tersenyum, mengucapkan kata "terima kasih" padanya, yang dibalas senyum ramah juga anggukan sekilas.
"Kayaknya, kalau sama gue jarang-jarang deh lo senyum kayak gitu?!" Celetuknya tiba-tiba membuatku menatapnya seketika.
Padahal saat baru masuk bangunan ini tadi, aku disambut senyuman manisnya. Tapi kemanakah senyuman itu sekarang? Kenapa yang tersisa hanya tatapan intimidasi atau mata yang menyipit tajam bak elang dengan alisnya yang bertaut rapat??
Delvin mencebik. "Lo tuh ya, kalau di depan gue sukanya kalau nggak marah-marah, ngedumel, ketus, jutek, ngeseliiiinn!!" Tangannya bahkan sampai mengepal erat ke depan wajahku, geregetan. Nyaris mengenai wajahku sungguhan andai lebih dekat seinchi lagi. Membuatku sampai tak bisa berkata apa-apa lagi selain mendengus keras tersebab ulahnya.
"Iya tau, iya! Terus kenapa lo malah ngelamar orang yang ngeselin ini, heh?!!" Aku melotot sebal padanya. Kesal.
Kenapa dia selalu jago memanaskan suasana hati ini, sih? Haruskah aku berpikir ulang untuk menikah dengan manusia menyebalkan ini ya?? Aku menghela napas panjang. Memang sepertinya tak ada jalan lain selain kesabaran untuk menghadapi Delvin Adinata!
"Yaa... biar gue tau aja." Jawabnya asal. Dasar! Apa-apaan jawabannya itu!!
"Tau apa??"
"Ya, pokoknya cukup tau aja deh."
Aku lantas menatapnya jengah. "Manusia nggak jelas." Rutukku padanya, yang malah membuatnya mengeluarkan cengiran konyol.
__ADS_1
"Jangan sampai lo bikin gue nyesal, mau diajak nikah sama lo, deh, Vin!" Dengusku. Masih kesal dengan kelakuan anehnya itu.
Dia malah tertawa kecil seolah menyepelekan ucapanku barusan. Apa-apaan itu!!
"Gue pastikan, lo nggak akan menyesal udah memutuskan nikah sama gue. Malah sebaliknya. Lo bakalan bahagia selalu..." balasnya berbangga diri.
Aku langsung berdecih. "Cih! Gila ya, pede banget!"
"Ya, lo liat aja deh, buktinya nanti." Katanya enteng.
Aku yang duduk di hadapannya ini hanya mampu menyipitkan mata penuh sesal padanya. Sungguhan, aku pun tak tahu akan seperti apa kehidupan pernikahan kami nantinya... astaga!
"So, ada apa lo minta kita ketemu di sini?" Tanyaku langsung tanpa ingin banyak berbasa-basi lagi.
Delvin yang tadinya hanya diam menatapku ini pun tersenyum tipis seketika. "Gue cuman mau bilang..." dia menggantungkan kalimatnya hingga membuatku mengernyit, menatapnya lebih serius. Penasaran akan kalimat lanjutan yang hendak dia katakan. "Ayo kita maju ke langkah awal!"
Aku makin mengerutkan keningku dalam. Tak paham apa maksud perkataannya barusan.
"Untuk pernikahan kita, sebulan lagi!"
"HAH?!?!" Aku melotot. Syok! Sementara dia tersenyum dengan tenang.
Beristigfar dalam hati. Aku bertanya-tanya. Dia ini nggak lagi bercanda, kan?!!
___________________
P.S :
Masih dalam usaha ngumpulin imajinasi nih. Tunggu yaa, semoga bisa CRAZY UPDATE gak lama lagi. Ehehehehe✌🏻
__ADS_1