Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.1 | B : Sahabat Menikah?


__ADS_3

- Kyra -


Setelah acara sholat isya berjama'ah yang dipimpin oleh Om Aric yang baru saja selesai, aku bergegas kembali kamar setelah melipat mukena untuk kembali meletakkannya di atas bifet, tempat biasanya barang itu diletakkan dua hari ini.


Baru saja membuka pintu, aku sudah langsung disuguhi oleh penampakkan Kanaya yang sedang duduk santai di atas tempat tidur sambil ngemil cookies dan memainkan ponselnya. Dia memang sedang berhalangan, datang bulan, makanya saat kami sholat berjamaah di ruang tengah dia mengasingkan diri di kamar ini.


Memperhatikannya, aku menyipitkan mata. Biar kutebak, dia pasti lagi main games!


Kuperhatikan dia baik-baik, Kanaya tetap nggak bergeming. Tetap di tempatnya, seru sendirian. Dan tak lupa, setelah makin ditegaskan ternyata dia turut memasang 'sumpelan kuping' di telinganya. Itu lah makanya sampai aku melewatinya di depan matanya pun dia sampai tak sadar! Huh, dasar gamers!!


Setelah meletakkan mukena ini pada tempatnya semula, aku lantas mendekati Kanaya yang masih asyik sendiri sampai enggan melirik kanan-kiri. Penasaran, aku tarik saja sebelah earphone-nya itu, dan hal itu berhasil membuatnya menggeram kesal. Haha.


"Isshh... Kyra! Ngagetin gue aja sih, lo!" Serunya menggerutu. Sementara aku bersikap masa bodoh, lebih fokus pada rasa ingin tahu tentang musik apa yang sedang dia dengarkan.


"Ini terus lagunya, nggak bosen-bosen apa?" Aku mendesau saat tahu apa genre favoritnya. Musik korea, seperti biasa. Yah, harusnya aku bisa langsung menebak. Gadis ini selera musiknya memang selalu itu-itu saja sejak SMP, tak pernah berubah dari jaman Super Junior sampai Day-6! Ck.


"Selama belum bosen, lagu ini masih jadi favorit gue!" Balasnya nggak mau kalah.


Aku geleng-geleng. Meski sebenarnya aku terkadang turut terracuni olehnya, tapi kalau soal musik aku masih tak se-addict Kanaya. Daripada itu, kalau bicara soal Korea, tentu aku lebih suka dramanya!


"Nih, dipakai lagi!" Akhirnya kulepaskan saja earphone itu dari telingaku dan kupasang lagi ke telinganya.


Anehnya, bukannya menurut, Kanaya malah melepaskan earphone itu dua-duanya dari telinganya.


"Eh, Ra, sholatnya udah kelar ya?" Tanyanya.


Pertanyaan yang sangat sia-sia, padahal tanpa ditanya pun dia tentu sudah sangat tahu jawabannya! Ck.


"Menurut lo... kalau gue udah balik ke sini, udah taruh mukena lagi, itu apa artinya??" Aku melotot. Daguku sampai naik saking ngototnya aku menjawab pertanyaannya itu. Kesal!


Kanaya meringis. "Sori, gue kan nggak lihat lo taruh mukena, tadi. Hehehe..."


Aku memutar bola mata, malas, mendengar jawabannya barusan. Memang, Kanaya itu selalu banyak alasan di hidupnya. Huh.


Kami berdua lantas beranjak dari kamar. Kanaya pun meninggalkan ponselnya di sana demi untuk membantu Kak Nena yang ternyata sudah mulai memasak sebuah masakan yang entah apa di balik dapur. Ya, sedari sebelum sholat jama'ah itu dimulai, Kak Nena memang sudah berpesan pada kami berdua untuk membantunya memasak makan malam setelah itu. Yang mana itu adalah hasil belanjaan dari pemburuan mereka bertiga sekembalinya ke Villa ini.


Saat berjalan mendekati dapur, aku melirik ke arah ruang keluarga, tempat di mana kami berkumpul sore tadi. Di sana masih ada Om Aric yang mengobrol seru dengan Delvin entah apa. Tapi saat melihat dari raut wajah mereka aku merasa bahwa obrolan mereka itu lebih serius dari yang aku kira.


"Kyra!"


Panggilan dari Kanaya lantas membuatku menoleh. Aku mengangkat alis, isyarat tanya apa alasan dari panggilannya yang barusan itu.


"Bantuin gue kupas kentang ini, sini, buru!" Serunya lagi. Membuatku menghampirinya secepat kilat dan melupakan rasa ingin tahuku tentang obrolan serius Om Aric dan Delvin yang entah kenapa sempat membuatku penasaran.

__ADS_1


Tapi sekarang, aku memilih mengabaikannya.


***


Steak Ayam handmade ala Kak Nena.


Begitulah menu makan malam kami hari ini. Yang tampak menggiurkan karena tampilannya yang cantik dan aromanya yang begitu nikmat dirasakan.


Ah! Sejak tadi aku memang selalu penasaran akan saus yang kala mencium wanginya saja bisa membuat lapar seketika.


"Kak Nena jago masak yaa, ternyata. Kayaknya aku harus berguru nih sama Kakak!" Seruku sambil tersenyum manis kepadanya yang duduk tepat berhadapan denganku, di sebelah Om Aric.


Kak Nena tertawa renyah. "Kyra, kamu aja belum icip-icip masakannya, tapi udah bilang enak duluan? Makan dulu, hayo, baru boleh komentar!" Ucapnya malah memperingatiku.


"Nggak apa, Kak. Tanpa dicobain, meski cium aromanya aja udah kelihatan kok kalau masakan Kak Nena emang enak!" Seruku, lalu mengerlingkan mata padanya. Yang langsung membuat Kak Nena tertawa. Begitu pula Om Aric.


"Tapi benaran loh. Emang enak kok. Enak banget malah!" Imbuh Delvin yang duduk di sebelah kananku. Ternyata dia sudah mencoba saus Steak itu dengan kentang.


Kak Nena tersenyum. "Terima kasih adik-adik... kalau kalian suka makanannya harus habis bersih ya?!"


"Beres!"


"Siap!" Ujarku berbarengan dengan Kanaya yang duduk di sebelah kiriku. Dan nyaris berbarengan dengan suara Delvin yang memang menyahut lebih dulu dari kami.


Dan ternyata... surga dunia... saus Steak ini benar-bebar lezaaaat!!


Ahhh... aku suka sekaliii!!!!


"Ya Allah, Kak Nena... ini enak banget asli!" Seruku dengan hebohnya, seperti biasa kalau sedang menemukan hal baru yang menakjubkan. Hehe.


Kak Nena tersenyum. Sementara Om Aric yang duduk di sebelahnya hanya tertawa sembari menikmati steak di piringnya.


"Kak, mau nggak joinan sama aku? Kita buat bisnis Steak yuk?!" Aku yakin mataku sekarang pasti sedang berbinar-binar saking antusiasnya. Menemukan hal baru untuk jadi lahan bisnis adalah satu hal yang paling kusuka di hidup ini!


"Aku yakin, kita pasti bisa sukses sama resep Steak buatan Kak Nena ini. Yakin, 100 persen, deh, serius!!" Lanjutku dengan nada menggebu-gebu.


Kak Nena yang tadinya tertawa-tawa kecil pun mengangguk. "Iya, boleh-boleh. Tapi kamu harus ngajarin aku bisnis dulu loh ya, Ra, aku kan buta banget sama dunia bisnis."


"Siap itu, beres!" Seruku.


Namun tiba-tiba, Kak Nena menoleh ke samping dengan mata yang melebar dan alis yang terangkat. Ekspresi setengah kaget karena terlupa akan sesuatu. "Eh, tapi boleh kan, Yang?!" Tanyanya pada Om Aric.


Om Aric pun mengangguk dengan gaya super kalemnya. Dan hal itu tentu langsung membuatku tersenyum senang seketika.

__ADS_1


"Makan dulu, oi, makan dulu. Ngomongin bisnisnya nanti lagi!" Seru Delvin tiba-tiba mengintrupsi.


Aku langsung melirik ke arahnya dengan kilatan mata tajam. Huh, dia itu kadang memperingatinya memang tak tahu situasi dan kondisi yaa! Dasar, nggak peka!!


"Iya, betul, ayo kita makan dulu baru habis itu lanjut ngobrol serius lagi," ujar Om Aric mendukung ucapan Delvin. Yang lantas membuatku mau tak mau menuruti, karena memang aku sudah kalah suara.


"Coba lihat Kanaya tuh!" Seruan Om Aric itu membuatku menoleh ke samping kiriku. "Saking menikmatinya, dia sampai duduk manis dan anteng kayak gitu loh!" Lanjut Om Aric lalu terkekeh.


Kanaya yang sadar jadi bahan pembicaraan di meja makan ini pun akhirnya menoleh dengan sebuah senyum manis sembari menatap kami satu per satu. Hahaha. Dasar Kanaya, memang akan selalu anteng kalau sudah berhadapan langsung dengan makanan!


Saat aku konsentrasi mengiris daging ayam ini, tiba-tiba muncul garpu yang membawa wortel ke atas piringku. Aku mengernyit, dan segera mengikuti asal muasal tangan yang memanjang sampai ke atas piringku itu. Ya, kini, Delvin sedang menukar wortelnya dengan buncisku.


"Daripada mubadzir nggak dimakan," katanya.


Aku membenarkannya dalam hatiku. Lebih baik ditukar begini kan, daripada terbuang sia-sia. Tak dimakan. Toh kondisi kita saling menguntungkan, aku tak suka buncis sementara Delvin tak suka wortel. Jadi, sama-sama untung, deh. Hehe.


"Eh, apa-apaan itu?!" Tanya Kanaya dengan mata melotot. "Gila sih, Delvin emang sweet abis yaa? Rela-relanya dia kasih wortel itu buat si Ratu Kelinci!"


Aku langsung mengernyit tak terima dengan kalimat Kanaya barusan. "Bukan rela yaa! Kita itu sama-sama simbiosis mutualisme, tahu! Delvin tuh favoritnya buncis dan nggak suka wortel, kabalikan sama gue. Yeee!" Cerocosku panjang lebar.


Namun, bukannya lamgsung paham, Kanaya malah mencebikkan bibirnya itu seakan memang ingin menggodaku.


"Masa??" Tanyanya ngeselin, yang langsung membuatku mendesis kesal.


"Tapi mencurigakan loh, kalau Kyra kasih penjelasannya sampai ngotot gitu..." sekarang Om Aric pun jadi ikut-ikut.


"Iya, ya? Kayak emang benar ada sesuatu gitu di antara mereka. Ya kan, Yang?" Imbuh Kak Nena yang turut urun suara.


Astagfirullah... orang-orang ini, kenapa sih hari ini sepertinya senang banget godain aku sama Delvin?! HUH.


Beda ekspresi. Saat melirik Delvin di sebelahku, dia malah kelihatan santai saja menikmati potongan Steaknya. Berbanding terbalik sekali denganku yang seperti orang kebaran jenggot saking nggak terimanya. Ada apa dengan ekspresinya itu? Kenapa dia nggak mau kompak sama aku, sih?!


"Duk!"


Aku menyeringai saat berhasil mengenai tulang keringnya dan seketika membuat Delvin meringis nyeri. Dengan mata mendelik murka dia lantas menoleh ke arahku. Tak terima dengan tendanganku yang tiba-tiba.


"Apaan sih?!" Tanyanya setengah berbisik.


Aku menggerakkan kepala, membuat kode agar dia membantuku menyelesaikan masalah ini segera. Namun bukannya setuju, dia malah memutar bola matanya jengah.


Aku mendengus. Sepertinya Delvin memang sengaja membuatku kesal begini!


Manusia ini yaa... memang dasar!!

__ADS_1



__ADS_2