Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.9 | C : Romance After Marriage's Rules


__ADS_3


Kyra -



"...Tapi, gimana coba caranya buat numbuhin perasaan itu kalau belum apa-apa jalan untuk ke sananya udah ditutup?! Bukannya hal itu malah bikin perasaan kita nggak bisa berkembang dan nantinya jadi stuck di tempat??"


Dia berkata demikian panjang lebar untuk menjelaskan padaku. Memberikan akal pikirannya yang logis yang menjadi penyebab ketidak setujuannya pada pemikiranku.


Bagaimana caranya menumbuhkan perasaan itu bila jalannya untuk tumbuh ditutup rapat-rapat??


Aku juga bertanya-tanya tentang pertanyaan itu. Menyuarakan pertanyaan yang sama dengannya, tempo hari. Ketika hatiku masih kalut untuk memutuskan segala keputusan yang sebenarnya sudah ada di depan mataku. Namun akhirnya aku berhasil mematahkan keraguanku dengan kepercayaan diri yang tinggi. Metode yang aku temukan agar kelak aku bisa jatuh cinta kepadanya adalah sudah yang paling tepat! Untuknya, aku tak akan goyah. Aku tetap pada pendirianku. Membuat garis itu, agar kami bisa sama-sama menghapusnya dengan segenap kerja keras kami. Begitu lah logikaku berpikir.


Lama kutatap dia yang sedang menatapku pula dengan tatapan tajamnya, menungguku bicara. Aku tersenyum tipis. Yang malah membuatnya mengeryit tipis, sedikit keheranan.


"Nah, karena itu, artinya... lo dan gue harus kerja lebih keras dan keras lagi!" Tandasku mantap.


Dia membalasku dengan dengusan sinisnya, tampak meremehkan kalimatku yang barusan kuucap. "Semudah itu lo ngomong. Prakteknya bisa setengah mati, tau!"


"Itu dia!" Cetusku menjentikkan jari. Kini, kerutan di dahinya berubah dalam. "Setengah mati!" Aku tersenyum lebar, sedangkan dia masih kebingungan.


"Ha? Maksud lo gimana, sih??"


Aku lantas tersenyum seraya menatapnya penuh arti. Mengetatkan pegangan pada besi bulat yang menjadi pagar pembatas balkon ini, aku pun berkata padanya. "Gini loh, Vin..." aku menjeda kalimatku sebentar. "Kalau kita setengah mati berusaha dapatin sesuatu, bukannya sesuatu itu jadi lebih berharga buat kita? Karena terlalu susah payah dapatinnya, akhirnya yang ada di pikiran cuman pertanyaan tentang bagaimana menjaganya biar dia nggak hilang dalam genggaman." Kembali, aku tersenyum penuh arti untuknya. "Bukannya begitu, Delvin??"


Delvin terdiam. Dia hanya memandangiku dengan mata selurus dengan mataku. Tatapan kami bertemu, namun kerutan tipis di dahinya membuatku sadar bahwa kini pun dia sedang berpikir keras tuk memahami segalanya. Khususnya tentang segenap perasaanku yang baru saja kututurkan padanya. Karena dia amat peka, tentu saja dia pasti mengerti maksud pikiranku ini.


"Hmm," dia menggumam, mengelus dagu bersih tanpa bulu yang tumbuh itu perlahan. "Oke. Gue ngerti maksud lo. Tapi... tetep aja, kenapa kita nggak bisa saling kontak fisik??"


Aku menghela napas panjang. Lelah, karena ternyata pembicaraan ini belum usai juga. Kenapa pula dia membuat diskusi ini menjadi alot sih?! Dengusku keras.


"Kalau gue mau ngingetin lo sesuatu, jadinya gue nggak bisa gitu nepuk-nepuk pundak lo? Jitak kepala lo kalau-kalau lo ngeyel, atau cubit pipi lo kalau lo nyebelin abis??" Lanjutnya lagi.


Mendengar penuturannya barusan, mataku pun menyipit. Menatapnya penuh peringatan. "Jadi, lo emang udah niat mau nyakitin gue abis nikah ya??"


"Nyakitin apa sih?!" Delvin melotot. Tampak tak terima karena kutuduh demikian.


"Itu, jitak-jitak kepala, nyubiiit! Itu apa namanya coba kalau bukan nyakitin?!"

__ADS_1


"Yaelah, lebay banget sih?! Kalau pun gue nyubit atau jitak juga lo nggak akan sampai masuk RS, kan??" Dia lalu geleng-geleng kepalanya seraya menatapku miris. "Kebanyakan nonton drama sih, gini nih, efeknya... lebay!" Ejeknya padaku. Menohok!


Aku terdiam oleh ejekkannya yang diam-diam kubenarkan dalam hatiku. Iya, aku pun tahu aku telah bersikap berlebihan. Mengapa? Karena sebenarnya aku tak mau terlalu serius terbawa suasana ini bersamanya. Entah mengapa, aku ingin masih ada cekcok atau pertengkaran ala teman seperti ini di antara kami.


"Biarin! Kayak gini juga lo minta gue jadi istri lo, kan?!" Balasku tanpa berpikir, yang malah membuatku ingin menyumpal mulutku sendiri pakai kaus kakiku, kalau perlu!


ARGH!! Kenapa bisa aku malah berbicara sembarangan begitu? Memancing di air keruh!


Ih, Kyra bodooohh!


Delvin hanya diam di tempatnya dengan mata yang sudah dialihkannya tuk fokus pada kertas di tangannya itu lagi, mengabaikanku. Mataku pun menyipit memerhatikannya. Entah kenapa aku malah menangkap gerak mencurigakan darinya. Seolah dia sedang salah tingkah sekarang(?)


Aku mendengus, menertawakan pikiranku sendiri. Aneh! Lagi pula, mana mungkin Delvin bisa salah tingkah hanya karena kalimat itu, kan?!


"Jadi, keputusannya adalah..." kini, dia mulai menatapku kembali.


"Tetap nggak ada kontak fisik! FIX!!" Aku menyilangkan tangan membentuk huruf X di depan dada seraya menggelengkan kepala. Menegaskan kalimatku dengan gerakan.


Dia mendengus. "Terus gue harus jaga jarak berapa jauh biar lo aman?"


Aku mengernyit. "Kok jadi jaga jarak sih??" Aku benar-benar tak paham arah pembicaraannya ini.


"Ih, lebay banget!" Balasku. Aku tahu sekarang, kalau sebenarnya dia hanya ingin menyindirku dengan kalimatnya barusan. Dasar Raja Sindir!!


"Ya, enggak gitu juga lah! Maksud gue itu kontak fisik yang semacam kiss and hug, gitu loh... selebihnya atau kecuali dua hal itu nggak masalah." Kataku menjelaskan.


"Berarti... kalau abis akad nanti lo disuruh cium punggung tangan gue itu juga nggak boleh??"


"Pengecualian. Momen itu pengecualian, biar nggak mengundang curiga orang-orang, kan?!"


Delvin menyipitkan matanya. "Beneran, boleh begitu?"


Aku mengangguk. "Iya, boleh. Tapi cuman berlaku pas momen itu ya, selebihnya harus balik ke peraturan awal!"


Dia manggut-manggut. Bagus, kalau paham!


"Nah, terus..." lagi-lagi dia bertanya. Sepertinya pertanyaan tak habis-habis diproduksi di otaknya ya? Huh.


"Apa lagi??"

__ADS_1


"Ada yang masih belum jelas nih soal peraturannya."


"Yang mana?"


Selurus, kami saling bertatapan. Delvin terdiam sebentar tuk membasahi bibirnya sekilas. Lalu barulah dia bicara, "Semisal, salah satu dari kita ada yang jatuh cinta duluan, gimana?"


"Ya, kasih tau aja. Terus terang." Jawabku, yang kontan membuatnya melotot.


"Meski itu elo, elo bakal bilang terus terang kalau lo jatuh cinta sama gue, gitu??" Raut wajahnya itu kentara sekali kalau dia tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan ini.


Mengabaikan keraguan yang tercetak jelas di wajahnya itu, aku pun mengangguk. Mengiyakan. "Ya! Harus kayak gitu, biar lo bisa berusaha lebih keras lagi buat jatuh cinta balik sama gue! Jadi, gue nggak akan berjuang sendirian lagi. Ya, kan? Apalagi, misi loudah berhasil!"


Entah kenapa dia malah diam saja. Terpaku dengan pemandangan sudut taman di bawah sana yang tampak gelap gulita. Dan, tingkahnya itu membuatku mengernyit. "Heh, gimana? Setuju, nggak nih??"


Sedetik setelahku bicara, barulah dia kembali memandang wajahku. Dia tersenyum miring. Lagi-lagi dengan senyumannya itu dia terlihat keren di mataku, entah kenapa.


Huh, sepertinya mulai sekarang aku harus membiasakan diri melihat silaunya senyuman miringnya itu, deh.


"Gue pastiin, lo yang bakal jatuh cinta duluan sama gue! Liat aja!!" Katanya penuh percaya diri.


Aku berdecih membalasnya. "Coba aja! Yang ada malah elo kali yang jatuh cinta duluan sama gue," aku tak bisa mengalah padanya. Sungguh.


Bibirnya mencebik, meremehkanku. "Liat aja nanti, siapa yang bakal menang!" Katanya bernada optimis.


Aku memutar mata, jengah. Kadang, Delvin memang bisa sepercaya diri itu. Tapi tentu saja aku tak boleh meremehkannya. Karena yang kutahu, bila dia sudah bertekad bulat suatu saat apa yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan juga. Yang bisa jadi...


Malah hatiku yang bertekuk lutut lebih dulu untuknya.



____________________


P.S:


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN & VOTE NYAA~ YANG BANYAK YHAA BIAR KUSEMANGAAT #IHIWW


XOXO,


ICHA♡

__ADS_1


__ADS_2