
Delvin -
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Pak Gin, Bu Gin... Mas, Mbak..." ucapku yang tersenyum pada mereka selagi menegakkan kaki untuk berdiri dari tempatku duduk.
Pak Gin berikut juga yang lain nggak terkecuali Kyra lekas ikut berdiri dari duduk mereka, mengikuti. Aku mulai berjalan mendekat pada pintu utama rumah ini yang jaraknya amat dekat dari letakku berdiri tadi. Begitu pula mereka yang langsung mengikutiku mendekat ke arah pintu. Aku tersenyum tipis. Bahkan saat pulang, aku diantar dengan hangat begini. Perlakuan ini jelas amat berbeda dari yang kudapatkan biasanya.
Ya, mungkin karena saat ini aku datang kemari dengan tujuan jelas, bukannya hanya main-main seperti yang sudah-sudah.
"Buat kelanjutannya... nanti kamu boleh kabari Kyra atau langsung ke saya juga nggak masalah." Pesan Pak Gin kepadaku tepat saat kamu udah berada do depan pintu.
Sekali lagi aku tersenyum padanya. Aku mengangguk. "Pasti, Pak. Siap!" Seruku dengan nada penuh semangat, yang langsung membuat Bapak dan Ibu Gin ini tertawa kecil.
"Yaudah, hati-hati pulangnya yaa, Vin..." kini ganti Bu Gin yang berujar. Seketika membuatku jadi tertawa mendengarnya. Ya, padahal aku ini kan hanya tinggal di sebelah rumah aja tetapi Bu Gin tetap memperingatiku agar hati-hati. Haha, agak lucu sih sebenarnya...
"Ibuk!" Tiba-tiba suara Kyra mengintrupsi, tentu aja aku langsung melihat ke arahnya karena dia udah menarik perhatian. "Delvin rumahnya kan, cuman di sebelah rumah aja loh... ngapain pakai ngucapin hati-hati segala sih?!"
Mendengar pertanyaan polosnya itu seketika membuat aku mendengus. Kyra... benaran ya, dia memang perusak suasana!
"Apa sih, Mbak Intan? Kenapa nyenggol-nyenggol??" Kyra mengernyit pada Kakak Iparnya yang memang berdiri di sebelahnya itu. Lalu setelahnya, aku melihat mereka berdua malah sibuk berbisik bersama. Yah, tentu aja aku jadi nggak bisa dengar apa yang mereka bicarakan itu.
"Kyra memang gitu... dia itu suka nggak peka dengan keadaan. Kamu bisa maklum kan, Delvin?" Bu Gin tersenyum canggung padaku.
Aku mengangguk. "Saya malah udah paham banget kok, Bu. Tenang aja..."
Bu Gin mengangguki ucapanku sebelum akhirnya aku sungguh-sungguh pergi dari rumah itu, yang otomatis membuat mereka kembali masuk ke dalam.
"Cklek."
Itu adalah suara tanda kunci pagar yang udah tertutup lagi. Aku menghela napas panjang. Bersorak dalam hati. Merayakan pencapaianku di hari ini. Aku tersenyum sendiri. Ternyata, bisa berhasil meraih restu rasanya bisa sehebat ini ya! Haha.
"Hei, Vin!" Sapaan itu lekas membuatku menoleh ke arah sumber suara tadi berada. "Ada berita baik apa? Kenapa lo senyam-senyum sendirian begitu??"
Langkahku pun berhenti seketika. Dalam jarak yang sekian meter aku menghadap ke arahnya. Dia, Ezra. Orang yang beberapa minggu ini nggak pernah kulihat batang hidungnya.
"Suatu hal bagus..." kataku memberikan pesan tersirat padanya. Sementara dia tersenyum.
Lalu, selanglah demi selangkah dia menghampiriku. Menipiskan jarak yang membentang di antara kami. Membuatku mengangkat sebelah alis tepat saat dia bertanya, "Lo habis dari rumah Pak Gin?"
__ADS_1
Tanpa ingin menimbulkan curiga, aku langsung menganggukinya. Mengiyakan. Namun lagi-lagi dia bertanya.
"Habis main? Sama Kyra atau Mas Kamil?!" Tanyanya layak introgasi polisi.
Entah kenapa, kali ini aku merasa jengah karena rasa ingin tahunya itu. Yang padahal sebelum-sebelumnya nggak pernah terjadi padaku. Ini agak aneh, kan? Aku juga nggak paham, kenapa!
"Ya, begitu lah." Jawabku sekenanya. Aku angkat bahu.
Sedetik kemudian, aku memerhatikannya. Memerhatikan setelan serampangan yang dia kenakan hari ini. Mataku menyipit, "Lo nggak syuting?"
Ezra menggeleng, masih dengan wajah ramahnya yang super tahan lama itu. Nggak pernah aku melihat wajahnya tanpa senyum tipis kecuali dalam keadaan tertentu. Ya, keadaan genting misalnya... atau juga, saat dia sedang putus cinta!
"Projek film gue baru aja selesai kemarin. Jadi, mulai hari ini sampai beberapa waktu gue libur." Jawabnya, sedangkan aku hanya mengangguk-angguk aja.
"Kalau gitu... selamat liburan deh, ya." Kuputuskan buat mengakhiri basa-basi ini lebih dulu. Karena aku harus cepat mengurus hal yang perlu kuurus. Tentunya, jauh lebih penting daripada hanya ngobrol receh dengan Ezra! "Sori, gue duluan. Ada hal yang mau gue urus hari ini, soalnya."
Lagi, Ezra mengangguk. "It's okay."
Dan, tanpa basa-basi lagi aku pun langsung berbalik badan. Berjalan cepat menuju rumah Mama berada. Iya, rumah Mama karena memang itu miliknya sedangkan diriku ini masih menumpang. Ck! Tapi tenang aja, sebentar lagi pun aku akan punya sendiri. Hehe.
"Aa... Vin!" Ezra memanggilku sekali lagi, namun kali ini agak terdengar lagi di telingaku.
"Apa Kyra ada di rumah?"
"Kenapa?" Tanyaku balik padanya alih-alih menjawab pertanyaannya.
Lalu, dia tertawa seolah sedang salah tingkah. Aku mengernyit. "Ya... pengin tau aja. Soalnya gue nggak lihat dia buka balkon sama sekali semalam."
Aku mengangguk. "Iya, itu karena katanya, dia lagi fokus bikin projek baru sama temannya."
"Projek baru?"
Aku mengangguk.
"Projek apa?"
"Sepatu kulit. Katanya dia produksi dari pengrajin Bandung, makanya sibuk ngurus ke sana." Jelasku.
Dia mengangguk-angguk, paham. "Oh gitu, ya..."
"Iya." Aku menghela napas sekali dengan cepat, sebelum aku bertanya padanya. Yang kali ini, karena aku penasaran! "Kenapa lo tanya soal Kyra? Bukannya sekarang lo udah mulai hubungan baru sama si aktris itu?"
__ADS_1
Ezra malah mengernyit. Dia bertanya, "Siapa?"
"Ya masa lo lupa sama pacar lo sendiri?!" Aku mengangkat sebelah alisku tinggi. Jelas aneh kalau dia nggak hapal siapa nama pacarnya!
"Pacar? Gue nggak punya tuh!" Balasnya, yang langsung membuatku mendengus.
"Heh, Zra! Semua media sosial, situs berita dan acara seleb-seleb itu juga udah beritain kalian. Kabar kalau lo cinlok sama lawan main film lo itu udah nyebar seantero Indonesia sejak minggu lalu. Masa lo nggak tau, sih?! Padahal berita lo heboh begitu,"
"Oh, itu..." tiba-tiba wajahnya berubah lesu. Gelagat yang amat mencurigakan. Aku mengernyit. Dia kenapa??
"Gue dan Mia nggak punya hubungan apa-apa. Toh, dia juga udah punya pacar. Itu cuman gosip aja, yang dibuat sama para paparazi."
"Hah?!" Aku terkejut bukan main mendengarnya. Pengakuan Ezra ini sungguh di luar dugaan!
"Terus kenapa lo diam aja kalau emang berita lo itu enggak benar?!" Aku juga nggak habis pikir dengan Ezra yang selama ini hanya diam-diam aja. Padahal bukannya arti dari diam itu adalah kebenaran? "Kenapa lo nggak ngelak dan bantah?!"
"Itu wewenang manajemen dan pihak produksi. Gue juga maunya semua langsung clear. Gue nggak mau terlibat skandal. Tapi enggak tahu kenapa, manajemen dan produksi punya pendapat lain tentang berita itu. Mungkin karena fans kami banyak yang suka berita itu, dan mendukung ke arah positif... makanya, mereka mengambil tindakan itu. Hanya diam dan memantau."
Aku mendesah panjang setelah mendengar penjelasannya barusan. Lalu, kupandangi Ezra untuk beberapa saat. Hal yang paling nggak kusuka dari dunia hiburan selain nggak punya privasi adalah hal yang seperti ini. Kehidupan palsu yang terusik!
"Tapi kata mereka. Mereka pasti akan buat penjelasan tepat setelah proyek film ini selesai. Makanya, gue harus bersabar untuk nggak bilang sembarangan ke media. Dan, itu lah kenapa gue lebih pilih diam." Lanjutnya lagi. Membuatku menghela napas panjang.
"Tapi... lo... baik-baik aja, kan?" Tanyaku. Mendadak aku jadi prihatin padanya.
Dia tersenyum, lalu mengangguk. "Lo nggak perlu khawatir. Itu udah resiko gue, karena gue pilih berkarir di jalan ini." Ujarnya yang malah terdengar seperti untuk memberikan kekuatan padanya dirinya sendiri.
Jelas aku tahu, karena dari raut wajah di balik senyumnya itu sudah lah tertulis jelas bahwa dia pun terusik dengan adanya berita itu.
Akhirnya aku mengangguk aja. Karena aku juga nggak bisa membuat kalimat semangat apalagi untuk sesama lelaki. Hah... mungkin kalau Ezra itu perempuan akan lebih baik.
Sekarang aku tahu, kenapa Ezra mencari Kyra. Tentu! Karena memang hanya Kyra yang mampu menghibur Ezra dikala terberatnya seperti halnya kali ini.
Namun, aku nggak suka mengetahuinya. Mengetahui fakta bahwa Ezra begitu tergantung pada Kyra!
Tapi, kenapa...
Apa karena sekarang aku sudah melamarnya? Yang lantas menjadikan dirinya terikat denganku...
Akh! Aku juga... nggak tahu!
__ADS_1