Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.5 | A : a Promise


__ADS_3


Delvin -



Menatap layar ponsel lama-lama nggak lantas membuat notifikasi yang aku harapkan itu kunjung muncul. Aku menghela napas sekali lagi sebelum akhirnya menyerah, memasukkannya ke dalam saku celana.


Aku lirik jam di tangan. Baru sadar ternyata sudah pukul delapan malam. Aku mendesah panjang, seharusnya aku bisa pulang lebih awal andai Ines nggak minta macam-macam sebagai salam perpisahan terakhir.


Yah, sejak sore tadi aku diajak muter-muter mengunjungi-nyaris ke semua-tempat kencan kami selama ini. Katanya dia ingin hari ini sebagai kenangan terakhir kami sebelum kami benar-benar berpisah. Entah, aku juga nggak tahu apa yang lagi dipikirkannya hingga tercetus ide aneh itu. Yang jelas mengunjungi semua tempat yang pernah kami datangi berdua nggak akan mempan untuk bikin aku goyah!


Pada akhirnya, mungkin juga karena dia lelah, Ines minta diantar pulang olehku ke depan rumahnya. Lagi-lagi sebagai simbol perpisahan kami, dan aku juga hanya mengiyakan tanpa ingin menolak. Asal masalah perasaan ini terselesaikan, toh, nggak ada ruginya juga buatku.


Langkah kakiku berderap cepat menuju mobil. Setelah berbunyi "beep" dua kali, kunci pintunya pun terbuka. Tanpa membuang waktu aku pun masuk dan duduk di belakang kemudi. Namun sebelum kunyalakan mesinnya, sekali lagi aku cek layar ponselku. Mendesau. Lagi-lagi nggak ada notifikasi yang kutunggu.


Aku berdecak, "Nggak bisakah dia ngabarin gue duluan sekaliii aja?" Lalu mendesah panjang.


Karena nggak mau terlarut, akhirnya aku putuskan untuk membuat sebuah pesan di sana.

__ADS_1


To : Kira-kira


Gimana? Tadi jadi ketemu Ezra?


Dikirim pukul 19.09 WIB


Setelah dua menit tanpa jawaban, aku langsung mengetikkan pesan selanjutnya lagi.


To : Kira-kira


Eh iya, kue bolunya udah disisihin buat gue kan? Gue udah ngiler dari siang nihh


Kakiku terus bergoyang kala menunggu balasan dari pesan-pesanku tadi. Tapi setelah hampir sepuluh menit menunggu, masih tetap nggak ada balasan apa pun darinya.


Aku mendesah panjang. Walau agak kecewa, tapi nggak masalah. Mungkin dia memang butuh waktu untuk menata hatinya.


Aku menghela napas sebelum akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang setelah mampir toilet umum-baru saja.


Berada di posisi ini tentu aku nggak bisa menuntut banyak. Berurusan dengan orang yang baru akan menyelesaikan perasaannya tentu haruslah banyak bersabar.

__ADS_1


Apalagi wanita adalah makhluk perasa sejagad raya, maka buat melupakan perasaan yang udah ada lebih dari sepuluh tahun lalu pun pasti butuh proses yang lebih panjang. Mereka nggak akan sama perasaannya dengan lelaki sepertiku ini, yang sangat mudah melupakan dan move on walau telah melalui hampir delapan tahun kebersamaan. Ya, setidaknya begitulah ungkapan yang kudengar tadi.


Aku menghela napas panjang melihat jalanan Jakarta yang nggak ada matinya dan masih saja padat. Dan untuk membunuh waktu menunggu giliran melaju lagi, aku menyalakan radio asal. Setidaknya walau hanya bisa mendengar penyiar sedang tertawa garing pun suasana mobil ini nggak akan jadi sepi-sepi banget lah!


Lampu merah akhirnya berganti kuning dan disusul hijau. Aku langsung bersiap memegang setir, namun kepadatan di depan sana harus membuatku menunggu sedikit lebih lama lagi.


Agar nggak sampai kehilangan arus dan kesempatan untuk keluar dari zona ini, pelan-pelan kuinjak pedal gas dan berjalan sesuai kesempatan yang bisa diambil.


Sampai kemudian aku benar-benar keluar dari zona kemacetan lampu merah itu barulah aku bisa bernapas lega. Namun kemudian, suara lain di mobil ini seketika menyita perhatian.


"Tririring... Tririring..."


Aku melirik layar kecil di tengah-tengah dasbor itu. Akhirnya nama yang kutunggu muncul juga di sana. Membuatku tersenyum simpul.


Nggak perlu waktu lama untuk aku yang masih sambil menyetir ini untuk menggeser tombol hijau. Panggilan itu kuangkat dan langsung saja aku aktifkan tanda loudspeaker di sana agar memudahkanku berbicara sambil menyetir.


Ucapan salam langsung mengalun sebagai pembukaan santun yang tentu saja langsung kubalas dengan nada yang sama. Lalu nggak berapa lama suara itu kembali berucap.


"Vin, boleh nggak kita teleponan sebentar?"

__ADS_1


__ADS_2